Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Luka hati rendi


Karna hari sudah malam, tak mungkin jika mereka berdua masih melanjutkan rencana untuk makan di luar.


Akhirnya devan pun keluar kamar untuk mengambilkan makanan serta camilan lainnya.


15 menit kemudian devan kembali membawa nampan dan yang berisi makanan serta buah dan juga camilan. namun wajahnya tak se bahagia tadi, wajahnya nampak kesal.


Masih terngiang ucapan kedua orang tuanya yang menggoda devan habis-habisan, bahkan di depan semua pekerja di rumahnya. sebab mereka semua masih asik menonton acara sepak bola.


" Kamu kenapa mas, wajahnya kok kayak kesel gitu" Tanya mala penasaran.


Devan mendekat dan meletakkan semua makanannya di atas meja yang ada di dalam kamar devan.


" Kamu makan dulu ya sayang. nanti aku ceritain"


Mala mengangguk patuh, wanita itu memakan semua makanan yang di bawakan oleh suaminya, Sampai semua makanan itu habis tak tersisa, Hanya tersisa buah yang sama sekali tidak mala sentuh


" Makasih ya mas, aku udah kenyang" ucap mala lembut


" Iya sayang, sama-sama, apa kita bisa lanjutkan lagi" ucap devan dengan tenang


" Issss, mas devan, dasar suami mesum. belum juga 1 jam kita selesai, masak mau main lagi,"


" Bukan lanjutkan yang itu sayang, tapi lanjut cerita"


Blusss seketika wajah mala merona, merasa malu karna sudah berasumsi yang tidak-tidak


" Pasti otak kamu sudah melalang buana kemana-mana, iya kan sayang"


Malu, itu yang mala rasakan, sangat teramat malu, wajahnya memerah seperti tomat busuk.


" Mas, kirain, kamu kan mesum, udah ayo ceritain. kenapa wajah kamu tadi terlihat kesal begitu?"


Devan memandang mala, lalu mengambil nafas panjang.


Lalu pria itu mulai menceritakan kejadian 30 menit yang lalu di ruang tamu.


30 menit yang lalu


*saat devan keluar kamar untuk mengambil makanan. untuk mala, matanya fokus pada sekumpulan manusia di ruang tamu,


disana ada kedua orang tuanya dan juga semua pekerja di rumah utama adiwijaya, mereka semua tengah asik menonton acara sepak bola bersama,


yasmine yang melihat kedatangan anaknya pun sontak langsung memanggil devan untuk mendekat ke arahnya.


Mendengar namanya di sebut, akhirnya devan mendekat ke arah ruang tamu.


" wah, pengantin baru jam 8 udah dikamar, keluar-keluar sudah merah semua" semua pekerja pun menoleh ke arah devan, memperhatikan leher devan yang ada beberapa bekas kissmarks* '


*devan sendiri belum menyadari jika di area lehernya penuh dengan tanda kepemilikan. Semua yang ada disana saling lempar senyuman.


" Apaan sih ma, orang devan sama mala gak ngapa-ngapain kok" elak devan, padahal wajahnya sudah memerah menahan rasa malu.


" Ngapa-ngapain juga gak papa kok van, gak perlu malu, iya gak pa"


wijaya hanya mengangguk-angguk sambil menahan senyum melihat ekspresi sang anak.


" Ternyata mala ganas juga ya van"


wajah devan semakin memerah, dia semakin ingin beranjak dari tempat itu, namun kakinya seakan berat untuk melangkah.


" ma jangan godain devan terus, kasian dia ma, liat tuh wajah devan sudah merah, seperti tomat busuk, hahhahaha"


" kayaknya sebentar lagi kita bakal punya cucu deh pa" sambung mama yasmine.


Mendengar tawa kedua orang tuanya dan juga para pelayan yang disana, membuat rasa kesal devan semakin besar. devan pergi dan menuju ke arah dapur,


setelah semua yang dia butuhkan terasa cukup, devan keluar dengan membawa nampan di tangannya. wajahnya masih tetap terlihat kesal.


" liat tuh ma, anaknya bawa makanan, sepertinya menantu kita sampai kelaparan setelah di gempur habis-habisan sama anak kita" Ucap wijaya lagi


" Mama papa kompak banget ngeledekin devan" teriak devan geram,


" hahhahahahhahahh" Yasmine dan wijaya tertawa mendengar nada kesal devan


" Sudah sana pergi, kasian menantu mama kalau harus menunggu lama, JANGAN LUPA BUAT CUCU YANG BANYAK BUAT MAMA DAN PAPA YA VAN,"


"Liat deh sayang, banyak berkas kissmarks buatan kamu,"


ucap devan sambil memperlihatkan beberapa bercak merah karna ulahnya yang ada di bagian lehernya.


Mala yang baru menyadari itu pun langsung menutup wajahnya, ikut merasakan rasa malu yang tadi di rasakan oleh sang suami,


" bagaimana ini mas, aku malu, aku gak bakal keluar kamar,"


" sudah sayang, gak perlu malu, lagian kita gak papa melakukan hal itu, ibadah buat pasangan suami istri."


...Ditempat lain, di kediaman orang tua rendi...


" Rendi, kemana istri kamu, sudah beberapa hari mama gak liat keberadaannya." tanya sandra mamanya rendi


" rendi juga gak tau mah. di hubungi juga gak bisa"


memang semenjak kejadian tempo hari adelia belum pulang ke rumah, wanita itu masih sibuk dengan semua rencana yang dia buat untuk mengambil devan kembali.


" Dasar wanita tak tau di untung," ucap sandra murka


" Sudah ma, jangan emosi" Balas grahama papa dari rendi.


" Rendi kekamar dulu ma, pa" ucapnya sendu dan penuh dengan rasa penyesalan


Rendi berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang melihat nanar kepergian anaknya. karna yang mereka tau rendi sangat mencintai adelia.


setibanya di kamar rendi mengacak rambutnya frustasi.


" Aaaakggggghhh" rendi mengusap wajahnya kasar.


" Dimana kamu adelia, maafkan aku sayang, bukan maksudku mau kasar. tapi aku tidak suka kamu menyebutkan nama laki-laki lain di depanku" ucap rendi penuh dengan penyesalan.


masih terngiang saat adelia menyebutkan nama devan hingga berujung pertengkaran di tengah jalan, bahkan melayangkan beberapa pukulan pada adelia.


ya, waktu itu rendi dan adelia bertengkar karna wanita itu beberapa kali menyebutkan nama devan. Ingatan rendi berputar pada kejadian tempo hari.


" *sayang, sebelum pulang nanti kita berhenti makan dulu ya di restoran persimpangan depan sana" Ucap rendi lembut, namun adelia tak menggubris perkataan sang suami,


mereka berdua dari kediaman orang tua adelia, rendi sangat mencintai istrinya, pria itu merasa sangat bahagia saat mengetahui orang tuanya akan menikahkan dia dengan anak dari orang yang tidak bisa membayar hutang-hutangnya. intinya adelia menjadi pelunas hutang kedua orangtuanya 3tahun yang lalu.


Setelah acara pernikahan, rendi selalu memperlakukan adelia bak ratu, semua dia siapkan, apapun yang di inginkan adelia rendi turuti, bahkan membiayai kuliah adelia dengan mengambil jurusan kedokteran.


hingga 3 tahun berlalu, namun mereka belum juga di karunia keturunan, karna adelia selalu mengkonsumsi obat kontrasepsi (KB) tanpa sepengetahuan rendi.


hingga suatu hari kedua orang tua rendi meminta mereka untuk periksa kesehatan, karena mala yang sudah menjadi dokter disana, dengan sengaja wanita itu memberi hasil palsu, dengan menyatakan jika rendi ada masalah, di dalam hasil lab itu dinyatakan jika rendi mandul,


" Kenapa sih kamu merusak kebahagiaanku, kenapa keluargamu merusak semuanya, aku dan devan bahkan mau menikah di hari itu juga" ucap adelia keras


" gara-gara kamu. aku kehilangan devan, laki-laki yang sampai saat ini aku cintai, semua kebahagiaanku hancur gara-gara kamu rendi"


deg...!!


hati rendi berdenyut nyeri, begitu terluka saat mendengar istri yang begitu dia cintai malah mencintai laki-laki lain.


" Cukup adelia, jangan pernah menyebutkan nama laki-laki itu di hadapanku" pungkas rendi marah


" Itu memang faktanya rendi, hubunganku dengan devan hancur gara-gara kamu. dan sekarang aku sudah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan devan kembali"


Plak..... satu tamparan mendarat tepat di pipi kanan adelia,


" pukul saja terus, itu semua tidak akan pernah merubah kenyataan jika rasa cintaku hanya untuk devan"


mendengar itu, rendi semakin geram, pria itu membawa adelia turun dari mobilnya, memberi beberapa pukulan pada wajah dan tubuh adelia,


karna hatinya terlalu sakit saat mendengar beberapa kali adelia menyebutkan jika cintanya hanya untuk devan,


hingga tak lama ada mobil sport mewah berhenti tak jauh dari tempat rendi dan adelia bertengkar,


Tak lama kemudian ada pria tampan yang datang dan menyerang rendi. terlebih lagi pria itu juga mengatakan jika dirinya masih menyayangi sanga istri. ya pria itu adalah devan,


mendengar pernyataan devan hati rendi semakin sakit, setelah beberapa kali berkelahi, akhirnya rendi memilih untuk pergi dari tempat itu, pergi dengan membawa seribu luka dalam hatinya*.