
Melihat Devan yang memandang Mala tanpa berkedip membuat Adelia menundukkan wajahnya, Hatinya terlalu sakit menyaksikan semua itu. Karna selama enam bulan menikah, Adelia tidak pernah mendapatkan tatapan seperti devan menatap hangat wanita yang sedang bersama Bima, Jangankan di tatap. Melirik saja Devan sudah tidak sudi, Padahal dulu Devan selalu memperlakukan Adelia seperti ratu. Tapi itu dulu sebelum Adelia pergi Tepat di hari pernikahan mereka beberapa tahun yang lalu.
" Kenapa kamu begitu dalam menatap wanita yang hanya memiliki wajah mirip dengannya Van, padahal kamu tau dia istri sepupumu sendiri. Aku juga ingin mendapat tatapan hangat seperti itu van" batin Adelia sangat pilu
" Tante ikut jalan-jalan sama kalian ya" ucap yasmine yang membuat Mala membulatkan kedua matanya.
Dengan cepat wanita itu memberi kode pada Bima agar tidak mengijinkan Yasmine untuk ikut bersama mereka, Untungnya Bima langsung paham dengan kode yang Mala berikan," Maaf ya tante, Kalau mau ikut lain kali aja ya, untuk hari ini Bima mau Me-time berdua sama istri Bima, gak papa ya tente" Ucap Bima lembut.
Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Bima, Entah kenapa Yasmine merasa sangat sedih. Wanita itu menundukkan wajahnya serta langsung duduk kembali tanpa menjawab ucapan Bima lagi. " Maaf ya tante, Besok deh tante bisa ikut jalan-jalan sama Bima juga Delisa.
" Yang bener ya Bim. Besok tante boleh ikut jalan sama kalian" Ucapnya dengan raut wajah yang seketika berubah bahagia setelah mendapatkan janji dari Bima.
" Iya tante, Bima janji. sekarang Bima sama Delisa pergi dulu, ayo sayang, Assalamualaikum" pungkas Bima dan langsung menggandeng tangan Mala erat.
Setelah kepergian Bima dan Mala, Devan bangkit dari duduknya, pria itu berjalan cepat ke arah mobil tanpa menjawab pertanyaan kedua orang tuanya. Apalagi Adelia. Devan memang tidak pernah menganggap keberadaan Adelia di sekitarnya.
Melihat kepergian Devan, Adelia mengambil nafas berat. Lagi-lagi batinnya terluka karna ulah laki-laki yang amat di cintainya. Namun meskipun selalu mendapatkan luka yang teramat sakit. Wanita itu masih terus mencintai Devan yang sudah tidak mencintainya lagi.
Rasa menyesal kadang terbesit dari hati Adelia, Jika saja dia tidak menjebak Devan waktu itu. mungkin saat ini Devan masih bersikap baik padanya. dan Rendi tentu masih meratukan dirinya seperti yang sudah berlalu,
" Devan mau kemana ya pa, kenapa gak pamit sama kita?"
" Mana papa tau ma, Orang devan juga gak pamit sama papa"
Meninggalkan kediaman kakek lustama, Saat ini Bima dan Mala sedang menuju kearah pemakaman kedua orang tua angkatnya yang ada di pemakaman umum jakarta selatan, Namun sebelum ke makam papa dan mamanya Mala lebih dulu mengajak Bima untuk berhenti di sebuah pemakaman yang letaknya tidak terlalu jauh dari makam kedua orang tuanya. Mungkin hanya berjarak beberapa meter saja,
" Bim, nanti kita Berhenti dulu di di pemakaman di depan sana ya"
" Iya sayang."
Mala memandang wajah Bima dari samping, Dilihat seperti itu sudah terlihat jelas jika wajah Bima sangatlah tampan, Tampan sekali. " Kamu begitu tampan Bim, tapi kenapa rasanya aku begitu sulit untuk sekedar memberikan rasa cinta untukmu, rasa cinta yang belum juga tumbuh setelah kebersamaan kita selama ini, Terimakasih sudah menjadikan aku ratu dalam hidupmu. aku akan terus berusaha menumbuhkan rasa itu untuk kamu Bim," Lirih mala dalam batinnya.
Tanpa sadar Mala mengambil tangan Bima dan di genggamnya erat, " Terimakasih untuk semuanya my Boy "
Mendengar ucapan Mala membuat Bima menghentikan laju mobilnya, Jantungnya terdetak cepat saat mendapatkan panggilan seperti itu, Bima menatap mala yang saat ini juga menatapnya, "My Boy?" ujar Bima lembut
Bima begitu terharu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Mala, Meskipun bukan ungkapan cinta. tapi itu sudah membuat hatinya terasa begitu hangat. " My boy, aku suka panggilan itu sayang, Terimakasih sudah mau memberikan panggilan khusus buat aku" pungkas Bima sambil menggenggam erat tangan Mala.
" Iya sama-sama my boy. Ayo kita lanjutkan lagi, sedikit lagi sampai"
Bima kembali melajukan mobilnya dengan perasaan yang teramat bahagia, Senyum merekah terukir jelas dari kedua sudut bibirnya, Hak itu semakin membuat Bima terlihat lebih tampan, "SEMPURNA" Iya kata itu yang sangat pas buat Bima.
Biarpun ada beberapa orang yang mengetakan jika Bima bukan hanya Mafia. tapi juga Psikopat si raja tega. Namun Bima hanya akan melakukan kekerasan pada orang yang sudah berusaha mengusik ketenangan hidup keluarganya.
Perlu di ketahui, Albima adalah seorang yang tegas serta juga memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Bima juga orang yang lembut namun akan berubah menjadi singa jahat jika ada yang ingin bermain-main dengannya.
•
•
•
•
Sepuluh menit kemudian. Mobil Bima sudah tiba di pemakaman Aluna, ya, Mala memang akan berziarah ke makam Aluna, Wanita yang sudah membuatnya bertahan hidup sampai detik ini. Wanita yang sudah memberikan jantungnya untuk Mala. dan Mala tidak akan pernah melupakan semua itu.
Mala turun dari mobil Bima dengan membawa buket bunga di tangannya. " Selamat siang kak Aluna, maaf ya Mala baru datang lagi kesini, aku ada kabar baik buat kakak, Saat ini aku datang bersama suami juga Anak yang ada dalam kandunganku,"
Bima hanya melihat mala sambil berdiri di belakangnya. Terbesit dalam benaknya rasa ingin tau, Namun Bima selalu mengurungkan niatnya untuk menanyakan hal itu,
" Ayo my boy kita pergi dari sini, Kita langsung ke makam papa dan mamaku ya,Di pemakaman umum tak jauh dari ini, hanya berjarak beberapa meter saja." Bima hanya mengangguk patuh sambil menautkan jarinya dengan jemari lentik Mala.
Tanpa mereka sadari, ternyata ada devan di balik pohon yang memperhatikan dua orang itu, Devan mencoba mengingat makam siapa yang di datangi oleh Mala dan Bima. " Kenapa Istrinya Bima ke makam itu, itu kan-" ucapan Devan terpotong karna masih mengingat siapa pemilik makan itu. " Itu kan makam Aluna. makam yang dulu juga pernah di kunjungi Mala beberapa bulan yang lalu, Apa jangan-jangan wanita itu memang benar-benar Mala.?"
Mala menyadari adanya devan di balik pohon dekat makam Aluna, hingga akhirnya wanita itu memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi ziarah ke makam kedua orang tua angkatnya, Karna jika sampai hal itu terjadi, Maka penyamarannya sebagai Delisa akan terbongkar saat itu juga. Untungnya tadi saat berbicara di makam Aluna tidak terlalu keras, Sehingga Devan tidak dapat mendengar apa yang dia ucapkan.
" Sejak kapan dia gemar jadi penguntit. sembunyi di balik pohon lagi" ucap Mala dalam batinnya