Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Kamu bukan pembawa sial!


"Kenapa mimpi buruk ini harus terjadi lagi" Ucap Mala yang terdengar sangat lirih


Bima semakin mengeratkan dekapannya. Pria itu juga ikut merasakan apa yang saat ini Mala rasakan. "Sudah sayang, Aku tau ini berat buat kamu. Tapi ini sudah jalannya. Kamu harus kuat. Kamu harus bisa" Ucap Bima sambil membelai lembut rambut Mala


"Tapi semua ini terjadi karna aku Bim. Seandainya saja tadi siang aku tidak meminta bunda buat masakin makanan kesukaan aku dan mengantarnya kesini. Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi Bima. Aku menyesal sudah meminta itu pada bunda" Seru Mala di sela isak tangisnya


"Ini bukan salah kamu sayang. Hanya saja jalan nya memang sudah 1harus seperti ini. Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri"Ucap Bima lembut


Di saat seperti ini membuat Mala teringat akan kejadian siang tadi. Dimana saat sang bunda menelponnya dan Mala meminta di masakin makanan kesukaannya


Flashback tadi siang


Di saat ruangan Bintang sudah sepi hanya ada Mala dan Bima. tiba-tiba saja ponsel Mala berdering. Ada sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Alundra, Bundanya.


Melihat nama itu membuat Mala dengan cepat menjawab telpon Alundra. Karna memang semenjak tiba di jakarta. Mala hanya sekali menghubungi bundanya.


πŸ“ž:Halo bunda. Ada apa. Maaf ya bunda Mala belum sempat ke rumah bunda, Mala sekarang sedang ada di rumah sakit


πŸ“ž:Di rumah sakit. Siapa yang sakit sayang


πŸ“ž:Bintang Bunda. Tadi pagi tiba-tiba saja badan Bintang mendadak panas dan setelah Mala bawa ke rumah sakit. Ternyata Bintang terkena DBD. Maaf ya bunda Mala belum bisa ke sana


πŸ“ž:Tapi sekarang Bintang sudah tidak papa kan sayang?


πŸ“ž:Alhamdulillah keadaan Bintang sudah membaik bunda. Tapi dokter masih menyarankan agar Bintang di rawat dulu di sini. Biar Bintang bisa mendapatkan penanganan secara eksklusif. Mala kangen sama masakan bunda


πŸ“ž:Ikuti apapun yang dokter saran kan ya sayang. Memangnya kangen sama masakan bunda yang mana sayang?


πŸ“ž:Sup iga Bunda. Mala pengen sup iga buatan bunda. bunda mau kan buatkan untuk Mala dan antar ke sini. Mala juga kangen sama bunda dan Ayah


πŸ“ž:Boleh sayang. Ya sudah nanti malam bunda ke sana sama ayah ya


πŸ“ž:Makasih bunda. Love you bunda


πŸ“ž:Love you too sayang. Jaga diri kamu baik-baik ya. Harus kuat


πŸ“ž:Oke bunda, Pasti


"Sayang" Panggil Bima dan langsung mampu membuat Mala tersadar dari bayangan siang tadi.


Mendengar itu membuat Mala mengangkat wajahnya. Kedua matanya sudah benar-benar basah oleh keringat.


"Ayo kita turun. Kita tunggu bunda di bawah. Kata kak Andra sekarang jenazah ayah dan bunda sedang di jalan menuju rumah sakit ini" Terang Bima pada Mala


"Lalu bintang bagaimana?"


"Kalai soal Bintang, Nanti aku akan meminta Leon untuk datang kesini dan menjaga Bintang. Sebelum Leon datang, Biar aku titipkan pada suster di sini"


"Baiklah"


Mala berjalan dengan mala yang terus saja menangis. Air kata itu benar-benar tidak bisa Mala bendung. Dadanya terasa sangat sesak. Malam ini, Mala kembali harus merasakan kepiluan seperti satu tahun yang lalu.


Bahkan Mala baru teringat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 24 tahun. Hari yang seharusnya menjadi hari spesial justru malah menjadi hari yang paling menyakitkan. Kehilangan orang-orang yang dia sayangi tepat di hari spesial itu.


"Kenapa aku harus kehilangan orang-orang yang berharga dalam hidup aku selalu tepat di ulang tahun ku. Hari yang seharusnya bahagia harus terganti dengan rasa duka" Ucap Mala di sela langkahnya


Bima yang mendengar itu hanya terdiam. Dia jadi teringat akan hadiah yang baru saja Bima ambil dari rumah kakek Lustama. Karna sebenarnya tadi Bima pulang bukan hanya sekedar mengambil barang-barang Bintang juga Mala. Namun Bima juga mengambil hadiah buat hari ulang tahun Mala yang sudah dia siapkan dari jauh-jauh hari.


"Sepertinya ini bukan waktu yang pas untuk aku memberikan hadiah itu untuk Mala. Saat ini Mala sedang berduka. lebih baik aku simpan saja dulu" Ucap Bima dalam batinnya


Setelah tiba di Lobi, Bima membawa Mala duduk di kursi tunggu. Dan tak berselang lama, Mobil ambulan yang membawa kedua orang tua Mala sudah tiba di sana.


Melihat itu membuat Mala bangun dari duduknya dan langsung berlari ke mobil ambulan yang membawa kedua orang tuanya. Dunia Mala seakan berhenti berputar saat melihat kondisi jenazah kedua orang tuanya yang sangat memperihatinkan.


"Ayah, Bunda" Ucap Mala yang terdengar sangat lirih


Mala mendekat pada kedua orang tuanya. Namun seketika Nara yang melihat kedatangan Mala langsung mendorong tubuhnya hingga terjatuh"Pergi kamu! Gara-gara kamu Bunda sama ayah kecelakaan dan meninggal. Pergi kamu Mala. Pergi!" Ucap Nara dengan penuh penekanan sambil melirik tajam ke arah Mala yang sudah benar-benar terisak.


"Tapi gara-gara bunda mau mengantar makanan buat dia, Bunda dan ayah jadi seperti ini mas. Semua ini gara-gara dia!" Ucap Nara lagi


Bima yang mendengar itu ikut merasakan apa yang Mala rasakan saat ini. Bima membangunkan Mala dan memeluknya"Sudah sayang, Jangan dengarkan apa yang kak Nara katakan. Semua ini sudah takdir. Tidak ada yang perlu di salahkan" Ucap Bima lembut sambil mendekap Mala


Setelah jenazah kedua orang tuanya udah di bawa ke dalam. Mala dan Nara mengikuti di belakangnya. Melihat Mala ada di sampingnya membuat Nara melirik tajam.


Hatinya sudah benar-benar merasa sangat benci atas keberadaan adiknya di sana. Buat Nara semua ini terjadi karna Mala, Iya karna Mala yang selalu menjadi pembawa sial.


****


Jenazah kedua orang tuanya sudah selesai di makam kan. Saat ini Mala dan Nara masih ada di pemakaman. Tidak ada hentinya Mala menangisi kepergian kedua orang tuanya.


"Kenapa ayah dan bunda harus ikut ninggalin Mala. Kenapa kalian tega meninggalkan Mala ayah, Bunda" Ujar Mala sambil menatap nisan ayah dan bundanya secara bergantian.


"Mungkin memang benar apa yang di katakan oleh kak Nara. Aku adalah penyebab kematian kalian. Maafkan Mala bunda. Mala menyesal. Jika Mala tau semuanya akan seperti ini, Mala tidak akan meminta bunda mengantarkan makanan itu pada Mala" Ucap Mala lirih


"Ini semua memang gara-gara kamu Mala. Karna kamu ayah dan bunda udah gak ada. Sejak lahir kamu memang selalu membawa sial. Asal kamu tau, Dulu bunda hampir kehilangan nyawanya karna kamu. Mama dan papa juga meninggal karna kamu. Semua karna kamu yang pembawa sial"


Mendengar perkataan Nara Membuat Mala menoleh pada sang kakak"Apa maksud kak Nara. Kenapa kakak bisa mengatakan mama dan papa meninggal karna aku?" Tanya Mala sambil menatap Nara


"Memang, Aku sudah tau semuanya Mala. Papa sama mama meninggal karna ingin memberikan kejutan ulang tahun pada kamu yang saat itu sedang asik bersenang-senang dengan teman-teman mu itu. Semua itu gara-gara kamu. Aku benci sama kamu Mala!"


Deg!


Ucapan Nara benar-benar membuat jantung Mala seakan berhenti berdetak. Selama ini Mala memang tidak tau jika malam itu kedua orang tuanya kecelakaan karna ingin memberikan kejutan untuk Mala yang ulang tahun ke 23.


"Apa! Kakak tau dari siapa?"


"Tidak penting aku tau dari siapa. Tapi yang pasti, Kamu yang sudah menyebabkan orang-orang yang aku sayang pergi" Ucap Nara dan langsung berlalu dari sana meninggalkan Mala yang sudah terdiam.


Kenyataan ini membuat Mala benar-benar shock. Tidak pernah menyangka jika penyebab kepergian papa dan mamanya adalah Mala sendiri.


Mala terdiam dengan tatapan kosong serta air mata yang terus mengalir dan semakin deras."Maafkan Mala mama, papa, Bunda, Ayah. Maafkan Mala yang terlahir dengan membawa sial" Ucap Mala sangat lirih


Bima yang melihat Mala seperti itu ikut menjatuhkan air matanya. Dadanya juga terasa sangat sesak. Tidak bisa di pungkiri jika hatinya merasa sangat sakit melihat wanitanya menangis.


"Kita pulang ya sayang" Ucapnya lembut


Mala menggeleng" Biarkan aku disini Bim. Biarkan aku menemani mereka" Jawabnya yang masih terus menumpahkan air matanya


"Tapi ini sudah sangat malam sayang. Kamu bisa masuk angin jika terus-terusan di sini. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan"


"Aku tidak perduli Bim. Mau aku sakit bahkan mati sekalipun, Aku sudah tidak perduli. Aku hanyalah pembawa sial"


"Jangan bicara seperti itu sayang. Kamu bukan pembawa sial. Kamu adalah anugrah buat mereka. Anugrah yang sangat indah"


Mala yang mendengar itu mendongak dan menatap Bima"Ha anugrah apa yang sudah membuat kedua orang tuanya tiada Bim. Bahkan mereka pergi tepat di hari ulang tahun ku. Benar apa kata kak Nara, Aku hanyalah anak pembawa sial"


"Sayang, Tolong jangan bicara seperti itu. Apa yang kakak kamu katakan itu tidak benar. Semua anak di dunia ini tidak ada yang pembawa sial, Termasuk juga kamu"


"Tapi apa kenyataannya Bim. Aku yang selalu menjadi penyebab mereka tiada" Ucap Mala disela isaknya


Tangis Mala benar-benar pecah. Hingga air mata itu sudah tidak bisa keluar lagi. "Aku hanyalah pembawa sial. Lebih baik sekarang kamu pergi tinggalkan aku sendiri Bim. Aku juga takut kamu terkena sial karna ku"


"Aku mohon berhenti mengatakan hal itu sayang. Kamu bukan pembawa sial. dan kamu bukan penyebab kepergian mereka" Ujar Bima sangat lembut sambil mendekap Mala


Hingga tak lama kemudian hujan benar-benar turun membasahi alam semesta. Seakan menjadi saksi rasa sedih hati Mala saat ini. "Ayo kita pergi dari sini sayang. Kamu bukan pembawa sial"


"BIARKAN AKU DI SINI BIM. KAMU PERGI SAJA. TIDAK USAH PERDULIKAN PEMBAWA SIAL SEPERTIKU" Ucap Mala lagi


Plaaaaaakk


Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kanan Mala"Sudah aku katakan. Hentikan! Karna kamu bukan pembawa sial. Ingat, Jangan egois. Aku serta Langit dan juga Bintang masih sangat membutuhkan mu. Jadi berhenti mengatakan hal itu karna KAMU BUKAN PEMBAWA SIAL"