Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Kamu jahat Bim!


"Tapi bagaimana aku bisa yakin untuk hal itu Leon. Sedangkan hingga saat ini belum ada satupun ginjal yang cocok untukku. Bukan kah kamu juga pernah mengatakan jika aku bisa sembuh hanya dengan transplantasi ginjal" Ucap Bima yang terdengar begitu lirih


Melihat Bima seperti itu membuat Leon memeluk tubuh sahabatnya dan memberikan Bima kekuatan. Bukankah ini bukan akhir dari segalanya. Selama masih ada kesempatan. Kenapa tidak di pergunakan dengan baik.


"Bim. Jangan putus asa seperti itu, Kamu pasti bisa sembuh Bim. Jangan lupa rutin minum obat yang aku berikan serta cuci darah setiap seminggu sekali. Percayalah padaku. Semua yang kamu lakukan akan berbuah manis pada waktunya. Masa itu pasti akan datang Bim" Ucap Leon sambil menatap Bima


"Aku tidak putus asa Leon. Hanya saja aku sedikit ragu. Karna hingga detik ini. Penyakit yang aku derita semakin hari semakin membuatku terluka.Bahkan obat-obatan yang kamu berikan hanya mengurangi rasa sakit ku untuk sementara"


"Harus sampai kapan aku bertahan dengan obat-obatan serta cuci darah yang selama ini aku jalani dengan rutin. Harus sampai kapan!" Ucap Bima lagi sambil terus memejamkan kedua matanya yang sudah mulai terasa sangat panas.


Bima mengusap dadanya yang terasa begitu sakit. Rasa sesak itu sudah tidak bisa lagi Bima tahan. Hingga akhirnya buliran bening itu berhasil lolos kembali begitu saja.


Bima merasa sangat terluka saat mengingat keadaannya sendiri. Terluka bukan karna rasa sakit yang dia derita, Tapi karna rasa berat untuk meninggalkan Mala dan juga kedua orang tuanya.


Karna mau bagaimanapun. Bima adalah anak satu-satu dan pewaris utama keluarga Sunder. Pria itu tidak bisa membayangkan apa yang akan di rasakan oleh Mala juga kedua orang tuanya.


Itulah salah satu alasan kenapa Bima merasa belum siap untuk menerima semua kenyataan pahit ini. "Jangan seperti ini Bim. Kamu kuat, Kamu pasti bisa. Aku percaya itu Bim. come on Bima. Fighting untuk dirimu sendiri. Bukan hanya untuk dirinya, Tapi juga untuk mereka yang masih begitu membutuhkan mu" Ucap Leon lagi.


"Sebenarnya aku sudah tidak kuat Leon. Setiap minggu aku harus menjalankan cuci darah. Setiap hari aku harus minum obat. Rasanya aku bertahan hidup hanya karna semua itu. Kenapa semua ini harus terjadi padaku Leon! Kenapa?"


"Aku merasa hidupku tidak adil. Waktu kecil aku harus dipaksa dewasa oleh keadaan. Dan sekarang aku harus belajar menguatkan diriku sendiri. Kenapa hanya aku Leon" Ucap Bima di sela isak tangisnya.


Bima menangis dalam pelukan Leon. Ini pertama kalinya Bima merasa begitu down sekaligus bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa hanya Bima yang harus merasakan semua ini. Kenapa harus Bima.


Kenapa semua ini terjadi di saat Bima sudah punya keinginan untuk sembuh. Bahkan pria itu sudah melakukan semua saran yang sudah di berikan oleh Leon. Tapi tetap saja, Semakin hari Bima merasa tubuhnya semakin melemah. Pria itu sudah tidak seperti dulu lagi.


"Jangan berkata seperti itu Bim. Kamu harus ingat, Masih banyak orang yang membutuhkan kamu. Apa kamu tidak kasian akan Mala juga kedua orang tuamu. Mereka semua masih sangat membutuhkan mu Bim" Ucap Leon pelan


"Coba kamu pandang Mala. Dia sudah sangat menggantungkan hidup nya terhadap kamu Bim. Asal kamu tau, Waktu kamu tidak ada. Aku liat sendiri Mala hampir di bawa ombak karna terlalu sedih dengan kepergian kamu kamu Bim" Ucap Leon lagi


Mendengar perkataan itu membuat Bima terdiam sejenak. Pria itu menatap Mala dengan tatapan sendunya. Bahkan Bima membiarkan air mata itu membasahi kedua pipi putihnya.


Mala menggeliat karna mendengar suara bising dari pembicaraan Leon dan Bima. Wanita itu mengerjab dan menoleh ke arah Bima yang sudah sangat terisak. "Ada apa dengan Bima" Batinnya


Di saat Mala ingin menanyakan apa yang sudah menyebabkan Bima seperti itu. Tiba-tiba wanita itu bisa mendengar jelas kenapa alasan Bima sampai terisak seperti itu.


"Harus bagaimana? Kamu hanya perlu bersabar dan terus berusaha Bim. Percayalah, Kami pasti bisa sembuh dan bahagia bersama dengan Mala juga kedua anak kalian. Seperti apa yang kamu harapkan Bim. Semangat Bim, Kamu pasti bisa" Ucap Leon sambil menepuk pundak Bima


"Iya Leon. Aku harus bisa semangat sembuh untuk mereka. Biarpun Langit dan Bintang bukan darah dagingku. Tapi aku begitu menyayangi mereka seperti anakku sendiri. Aku masih ingin melihat mereka tumbuh dewasa dan bisa menggantikan posisi ku menjaga Mala"


"Nanti aku akan mengajarkan banyak hal pada Mala"


Mendengar perkataan Bima membuat Leon mengerutkan keningnya"Mengajarkan banyak hal bagaimana?"Tanya Leon sambil menatap Bima


"Iya, Aky ingin mengajarkan ilmu bela diri serta ilmu bisnis yang aku ketahui. Mala suga harus bisa menguasai itu semua. Karna aku ingin Mala berjaga-jaga jika kemungkinan hal yang tidak dinginkan itu terjadi" Ucap Leon sambil menundukkan wajahnya


"Kalau kamu mau aku mempelajari semua itu. Itu artinya kamu mau aku untuk tidak bergantung lagi padamu Bim. Itu artinya kamu ingin aku menyiapkan diri untuk diriku sendiri" Ucap Mala tiba-tiba


"Kamu jahat Bim! Kamu pria yang sangat jahat. Aku tidak percaya kamu mengatakan seperti itu. Semenjak kamu kembali. Aku seperti tidak melihat Bima yang dulu, Bima yang begitu antusias dan memiliki keinginan sembuh yang sangat besar"


"Setelah kamu kembali, Aku seperti melihat sosok orang lain dati diri kamu Bim. dan aku kecewa akan hal itu. Kamu begitu jauh dengan sosok karakter Bima yang dulu. Bima yang dulu selalu terlihat bersemangat" Ucap Mala lagi


Bima dan Leon yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Mala yang saat ini sedang menatap tajam Bima tanpa terlihat ada senyuman di sana.


"Sayang. Kamu sudah bangun, Sejak kapan kamu bangun sayang? Bukan kah tadi kamu sudah begitu lelap" Ucap Bima sambil menghadap ke arah Mala


"Jangan pernah panggil aku sayang jika kamu masih ingin aku melakukan semua itu. Aku benci sama kamu kamu Bim. Aku benci!" Ucap Mala sambil memalingkan wajahnya ke lain arah


"Sayang, Jangan seperti ini. Lihat aku, Aku ingin kamu melakukan semua itu hanya karna untuk menjaga-jaga sayang. Aku tidak ingin kamu di perlakukan tidak adil oleh mereka. Bukan kah kamu pernah bilang jika ingin mengambil kembali perusahaan papa dan mama mu. Kamu harus bisa menguasai apa yang aku bisa. Karna dunia bisnis itu kejam sayang. Aku tidak selamanya bisa ada untuk mu" Ucap Bima sambil mendekap Mala yang sudah berkaca-kaca