
"Bersabarlah sayang. Pelangi yang jauh lebih indah sudah menunggu kita. Kita hanya perlu lebih bersabar lagi" Ucapnya sambil membelai lembut rambut Mala
Sudah seperti biasa. Mala akan selalu merasa sangat tenang setiap ada dalam dekapan Bima. Sebuah dekapan yang Mala dapatkan selama ini.
Semenjak pertemuannya dengan Bima. Mala selalu merasa ada yang berbeda dari pada saat sedang bersama dengan Devan dulu. Bima benar-benar pria yang sangat berbeda.
"Sekarang kamu tidur ya sayang, Hari sudah hampir pagi. Kamu harus banyak istirahat. Aku janji besok akan membawa kamu untuk bertemu dengan mereka" Ucap Bima sambil melepaskan dekapannya.
Wanita itu mengangguk. Setelah hatinya merasa cukup tenang, Mala mengajak Bima untuk masuk ke dalam kamar mereka kembali.
"Mau gendong my boy" Ujar Mala yang terdengar sangatlah manja
Bima yang mendengar perkataan Mala langsung mengulum bibir. Akhirnya pria itu bisa mendengar nada manja itu lagi. Dengan senang hati Bima mendekat lalu mengangkat tubuh Mala ala bridal.
Pria itu merasa begitu bahagia saat melihat Mala sudah mulai manja-manja lagi seperti dulu. Mala mengalungkan kedua tangannya pada leher Bima.
"Aku sayang kamu my boy" Ucap Mala sambil mencium pipi kiri Bima dengan penuh cinta.
"Aku juga sangat menyayangimu sayang. Kamu adalah segalanya" Ucap Bima sambil menatap Mala dalam
Setelah itu, Bima membaringkan tubuh Mala di atas ranjang kamar mereka. Kemudian Bima menyelimuti tubuh Mala dengan selimut tebal itu.
"Istirahatlah sayang. Aku masih ada urusan sebentar ya.Cup" Ucap Bima sambil mencium lembut kening Mala
"Ada urusan apa my boy? Jangan tidur terlalu pagi, Kesehatan kamu juga harus di utamakan"
"Iya sayang. Aku gak lama kok, Sebentar saja ya. Kamu istirahat dulu ya sayang"
"Iya my boy"
Setelah itu, Bima keluar saat sudah memastikan jika Mala sudah benar-benar tertidur. Pria itu menemui Sifa dan juga Leon yang sudah menunggu di ruang tengah.
Melihat kedatangan Bima membuat Leon melirik ke arah pria itu"Kenapa kamu lama sekali Bim. Masih ngapain memang? Astaga"
"Iya maaf maaf. Tadi aku masih memastikan Mala untuk tidur"
"Memastikan Mala tidur apa kamu masih tidur bersamanya. Kamu kam suka mencari kesempatan dalam kesempitan"
"Apapun itu. Terserah aku kali Leon. Mala kan sudah sah jadi istriku, Apapun yang akan aku lakukan bersamanya tidak akan dosa"
"Bener-bener suami payah. Yang disini menunggu sampai mau jamuran" Ucap Leon sambil menatap Bima
Sifa yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sejak dulu Bima dan Leon memang selalu seperti itu. Seperti anak kecil yang berdebat hanya karna masalah sepele.
"Sudah kak. Kalau berdebat terus kapan mulai diskusinya" Ucap Sifa yang sudah mulai merasa kesal dengan mereka berdua
"Iya iya. Kita mulai sekarang"
"Benarkah. Kapan kamu yang lakukan itu Sifa?" Tanya Bima yang terlihat begitu penasaran setelah mendengar perkataan Sifa
Sifa tak langsung menjawab. Wanita itu masih menatap Leon dan Bima secara bergantian. Ingatan Sifa kembali pada saat sedang di rumah sakit.
Flashback rumah sakit
Sifa yang sudah mendengar pembicaraan Devan dan Nadia malam tadi. Pagi-pagi sekali Sifa sudah stay di depan gerbang dan menunggu Nadia keluar.
Tepat seperti apa yang Sifa duga. Ternyata Nadia benar-benar keluar sendiri. Karna kedua bayi itu sudah pasti di jaga oleh Devan.
Sifa melajukan mobilnya saat melihat mobil yang mengantar Nadia sudah keluar. Entah kenapa saat mendengar Devan akan melakukan tes DNA membuat Sifa langsung teringat akan penyakit yang saat ini sedang Bima derita.
Mengingat akan hal itu membuat Sifa ikut merasakan sedih. Karna mau bagaimana pun, Sifa sudah tau bagaimana perjuangan Bima untuk mendapatkan Mala. Hingga Bima rela mengakui bayi yang bukan darah dagingnya sendiri.Sifa masih mengingat jelas perkataan Bima tempo hari.
Aku tidak perduli biarpun mereka berdua bukan darah dagingku. Tapi yang pasti aku menyanyi Mala dan kedua anaknya seperti anakku sendiri. Aku tidak tau bagaimana hidupku tanpa mereka, Karna tanpa aku sadari, Mala dan juga anaknya sudah menjadi separuh dari duniaku
Tiba-tiba saja perkataan Bima itu terngiang pada Indra pendengaran Sifa"Aku tidak bisa membiarkan hasil tes DNA yang sebenarnya keluar. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi bagaimana" Ucap Sifa sambil mencari cari yang tepat.
Tiba-tiba saja wanita itu melihat seorang perempuan dengan membawa anak kecil dalam gendongannya. Melihat itu membuat Sifa menepikan mobilnya dan langsung turun untuk meminta sehelai rambut anaknya.
"Assalamualaikum bu. Selamat pagi"
"Waalaikumsalam. Ada apa mbk, Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya orang itu
"Iya bu. Apa saya boleh minta sehelai rambut anak ibu. Ini urgen sekali"
"Untuk apa, Maaf ya mbk, Saya tidak bisa memberikan rambut anak saya pada siapapun"
"Saya mohon bu, 1 saja. Ini penting. Soalnya ini menyangkut hidup dan mati saya bu. Jadi begini. Anak saya mau di tes DNA oleh ayahnya. Dan jika hasilnya positif, Maka mantan suami saya akan membawa anak saya dan tidak akan pernah mengijinkan saya untuk bertemu kembali" Ucap Sifa berbohong
"Kalau sampai hal itu terjadi. Saya tidak tau harus bagai mana bu. Karna saya sudah tidak bisa memiliki anak lagi. Saya mohon bantu saya bu" Ucap Nadia yang terdengar begitu lirih
Mendengar cerita Sifa membuat ibu-ibu merasa sangat iba. Dan akhirnya dia memberikan rambut anaknya pada Sifa karna merasa sangat kasian dengan cerita Sifa
"Terimakasih bu. Ibu sudah sangat membantu saya. Ini buat ibu" Ucap Sifa dan memberikan ibu itu beberapa lembar uang kertas berwarna merah
1 Jam kemudian. Mobil Sifa sudah tiba di rumah sakit BERLIAN. Rumah sakit tempatnya bekerja. Wanita itu bisa melihat jelas saat Nadia memberikan sempel rambut atas nama Langit dan bintang yang akan di tes dengan Devan adiwijaya.
Setelah memastikan Nadia pergi dari sana. Sifa keluar dari tempat persembunyiannya. "Sus. Maaf tadi sempel atas nama langit dan bintang salah. Ini yang benar, Kebetulan Devan adiwijaya itu kakak saya" Ucap Sifa tersenyum sambil memberikan sempel yang palsu
"Baiklah dokter Sifa"
"Terimakasih ya sus" Ucap Sifa sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Maafkan aku kak Devan. Maafkan aku yang sudah tega menukar sempel rambut mereka berdua. Aku lakukan ini demi kebaikan semuanya. Karna biar bagaimanapun, Kak Bima lebih membutuhkan mereka" Ucap Sifa dalam batinnya