
"Apa benar kamu sudah melupakan aku Mala? Tapi kenapa rasanya aku begitu sulit untuk sekedar melupakan kamu. Kamu masih menjadi satu-satunya ratu di hatiku" Ucap Devan sendu
Pria itu menatap ke arah luar jendela. dan ternyata di luar gerimis sedang membasahi kota jakarta. Semesta seakan paham dengan apa yang Devan rasakan saat ini.
Tak lama kemudian. mati lampu secara tiba-tiba di perusahaan Adiwijaya Group. dan hal itu membuat Devan kembali mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. kejadian dimana Mala baru pertama kali kerja di tempatnya.
"Seandainya pernikahan konyol itu tidak pernah terjadi, apa kamu masih tetap di sini bersamaku Mala" Ucapnya sendu
Bayangan Mala kembali datang. Apa lagi hujan beserta mati lampu seperti saat ini. Semua sudut ruangan Devan mengingatkannya pada Mala.
"Kamu benar-benar sudah menjadi separuh duniaku Mala"
Tanpa terasa jam di tangan Devan sudah menunjukkan pukul 22:00. Namun pria itu masih tetap stay di kantornya. Karna sedang merindukan Mala, Oleh karena itu Devan memutuskan untuk tidak pulang malam ini. Devan akan bermalam di kantornya. Karna memang begitu banyak kenangan yang terjalin dengan Mala di dalam ruangannya. Terlebih lagi di dalam kamar tersembunyi yang ada di ruangan pria itu.
Devan masuk ke dalam kamar itu. Setelah Devan merebahkan tubuhnya. Pria itu kembali terbayang saat di mana dirinya dan Mala belum melangsungkan pernikahan.
Kala itu Devan pernah terkunci berdua dengan Mala di dalam kamar ini. Entah kenapa melupakan jika kuncinya tertinggal di atas meja kerjanya dan membuatnya dengan terpaksa harus bermalam bersama dengan Mala.
Flashback Awal Mala menjadi sekertaris
Kala itu saat Devan dan Mala sedang mengerjakan yang akan di gunakan untuk Meeting. Tiba-tiba saja Mala mengatakan jika kebelet pipis dan akan turun ke bawah buat ke toilet.
Namun, Devan melarangnya dan menyuruh Mala untuk ke Kamar mandi yang ada di dalam ruangannya.
"Maaf pak. Saya izin dulu mau kebawah. Tiba-tiba saya kebelet pipis" Ucap Mala pada Devan yang sedang fokus pada berkas yang ada di hadapannya
"Kalau kamu turun ke bawah, Yang ada nanti malam kelamaan, sudah kamu pakai kamar mandi di ruangan ini saja" Ucap Devan sambil terus menatap ke arah berkas-berkas itu
Mendengar ucapan Devan membuat Mala melirik ke seluruh ruangan Devan. "Perasaaan di sini tidak ada kamar mandi deh pak" Ujar Mala sambil terus melihat ke sekeliling
Devan mengangkat wajahnya dan memperhatikan wajah Mala yang sudah terlihat menahan pipis. Pria itu bangkit dan berjalan ke arah rak buku yang ada di sebelah meja kerjanya.
Tak lama kemudian Devan memencet tombol yang ada di antara buku-buku itu. Hingga menampilkan sebuah kamar tersembunyi. Tidak ada siapa pun yang mengetahui hal ini. Kecuali orang kepercayaan Devan.
"Kamu bisa pakai kamar mandi yang ada di kamar ini" Ucapnya.
Mala yang begitu kebelet langsung masuk begitu saja. hingga saat Mala sudah ada di dalam kamar mandi. Tiba-tiba hujan turun beserta petir yang terdengar begitu keras dan Mati lampu saat itu juga.
Mala yang memang begitu takut akan suara petir dan kegelapan langsung berteriak dari dalam kamar mandi.
"Aaaaaaa. Tolong pak Devan" Teriak Mala dari dalam kamar mandi
Mendengar itu membuat Devan langsung masuk ke dalam kamar hingga tak sadar mendorong pintu itu sampai terkunci dari arah luar.
"Jangan berisik Mala. Disini ada saya. kamu tidak perlu takut"
"Sa..aya takut pak" Ucap Mala setelah keluar dari dalam kamar mandi
Di saat Devan mau membuka pintu, tiba-tiba pintu itu tidak bisa di buka. Hal itu membuat Mala membulatkan kedua matanya.
"Mala. Ini kok pintunya gak bisa di buka ya"
"Gak bisa di buka bagaimana pak. Bapak jangan bercanda"
"Siapa yang bercanda. saya baru ingat jika pintu kamar ini memang sering macet dan terkunci dengan sendirinya"
"A...pa, Jadi maksud nya kita akan terkunci disini begitu?"
"Aduuh pak. saya tidak mau berduaan dengan bapak di dalam kamar ini"
"Memangnya kamu pikir saya mau"
Devan mencoba menghubungi penjaga keamanan kantor. Namun tidak ada yang bisa di hubungi satu pun.
"Tidak ada yang bisa di hubungi" Ucap Devan
"Aduh bagaimana ini pak?"
"Ya bagaimana. Tinggal tidur saja"
"Tapi bapak jangan apa-apakan saya ya"
"Hii Najis. jangan terlalu kepedean"
"Ya siapa tau bapak mau ambil kesempatan dalam kesempitan. Secara bapak kan mesum"
"Sekali lagi kami bilang saya cowok mesum. Saya pecat kamu"
Mendengar itu membuat Mala bungkam dan tak lagi berceloteh pada Devan.
Flashback Off
Mengingat akan hal itu membuat Devan mengangkat kedua sudut bibirnya. Devan ingin merasakan kembali masa-masa itu. "Aku merindukan masa itu Mala" Ucapnya
Di tempat lain
π: Sekarang saatnya untuk membuat Nyonya Yasmine celaka. Di rumah itu sedang tidak ada siapapun kecuali dirinya sendiri
π: Benar kah? Kalau begitu kita lakukan semuanya sesuai dengan rencana
π: 10 Menit lagi saya akan ke sana. Pastikan gerbang rumahnya tidak di kunci agar saya bisa masuk dengan mudah
π: Baik tuan
Setelah sambungan telpon terputus. Bili langsung melajukan motornya bersama dengan kedua anak buahnya yang sudah dia bayar untuk ikut serta dalam rencana yang sudah dia buat bersama dengan Adelia.
Kali ini Bili dan Adelia sudah merencanakan dengan sangat matang. Mereka menunggu kediaman Adiwijaya sepi tanpa ada orang lain kecuali Yasmine. Terlebih lagi ada orang dalam yang ikut membantu memuluskan rencana mereka.
10 Menit kemudian. Bili dan kedua komplotannya sudah tiba di kediaman Adiwijaya. Karna memang ada orang dalam yang membantu mereka. Tidak butuh waktu lama mereka bisa langsung masuk ke dalam rumah itu.
Tidak biasanya Yasmine tidur di jam segini. Entah apa yang membuat dirinya malam ini merasa begitu mengantuk hingga tidur sebelum Devan pulang. Biasanya Yasmine selalu tidur setelah Devan pulang dari kantor.
"Siram semua bensin nya ke setiap sudut. jangan sampai ada yang terlewat" Ucap Bili pada kedua anak buahnya
"Baik tuan"
Setelah setiap sudut sudah di siram oleh bensin. Bili melemparkan korek api kayu pada bagian belakang dan samping rumah itu. Bili membiarkan bagian depan agar tidak ada orang yang mencurigai. Yang paling mereka utamakan bagian yang dekat dengan letak kamar Yasmine.
Sebelum pergi. Billi masih menyempatkan diri untuk mengambil sebuah Video dan langsung di kirimkan pada Adelia. Wanita yang menjadi otak semua kejadian malam ini.
30 Menit kemudian. Seorang petugas keamanan komplek sedang mengitari kediaman Adiwijaya. Pria itu terkejut saat melihat api besar di kediaman Adiwijaya.
"Astaga kebakaran" Ucapnya panik