
" Ada hal penting yang mau aku kasih tau sama kamu"
Mendengar ucapan Rendi, membuat Sifa mengangkat kedua sudut bibirnya. Entah kenapa wanita itu merasa bahagia saat mengetahui jika Rendi sudah mulai terbuka dengannya.
" Terimakasih sudah mau mempercayaiku Rendi" ujar Sifa pelan.
Satu jam kemudian, mobil Rendi sudah tiba di basement Apartemen Lavender city. pria itu turun dan berjalan menyusuri basement yang diikuti Sifa dari belakang.
" Buat apa kesini dokter Rendi?" tanya Sifa yang penasaran
" Kita akan menemui seseorang" ucap Rendi di sela langkahnya.
Rendi membawa Sifa untuk masuk lift agar segera tiba tiba apartemen miliknya.
Tidak ada obrolan di antara Rendi dan Sifa, hingga lift itu berhenti setelah tiba di lantai sembilan.
Rendi dan Sifa kembali melangkahkan kakinya sampai di unit Apartemen nomor 30, Sifa masih bingung siapa yang akan Rendi temui di Apartemen ini, tak lama pintu Apartemen terbuka, karna Rendi ternyata memiliki akses Apartemennya.
" Ayo masuk" ajak Rendi pada Sifa
Setelah masuk ke dalam Apartemen, Sifa mendengar suara tangisan bayi dari kamar utama Apartemennya. hal itu membuat Sifa menjadi semakin penasaran di buatnya.
" Dokter Bella, tilong bawa Tania kesini ya"
Lagi-lagi Rendi membuat Sifa menumbuhkan beberapa pertanyaan yang terbesit dalam benaknya. hingga tak lama ada seorang perempuan muda keluar dengan membawa bayi kecil dalam gendongannya.
Hal itu membuat Sifa sempat terkejut. " Siapa mereka?" ucap Sifa dalam batinnya.
" Sifa, silahkan duduk dulu. nanti akan aku jelaskan hal penting apa yang mau aku bicarakan"
Sifa duduk setelah mendengar suara rendi menerpa indra pendengarannya.
" Mungkin, kamu bertanya-tanya siapa anak ini?"
" Iya, aku penasaran. siapa bayi kecil ini. apa dia anak kamu?" tanya Sifa setelah dari tadi dia pendam, akhirnya satu pertanyaan itu berhasil lolos dari mulut Sifa.
" Dia adalah anak Adelia"
ucapan Rendi sempat membuat Sifa mengerutkan keningnya, fakta apa ini? " A..apa maksud kamu Rendi? bukankah anak Adelia sudah tiada?"
Rendi mengambil nafas berat. sebelum melanjutkan kembali fakta yang sudah Rendi sembunyikan dari semua orang,
" Tidak, anak Adelia masih hidup, dan kemungkinan besar anak ini adalah anakku"
Mendengar itu. Sifa kembali di buat terkejut oleh perkataan Rendi. karna memang selama ini Sifa tidak pernah tau jika Adelia dalam mantan istri Rendi.
memang waktu pertama kali Sifa bekerja di rumah sakit milik keluarga Rendi, wanita itu pernah bertemu Adelia, namun ternyata Sifa tidak mendengar saat Rendi menyebut Adelia mantan istri.
tujuh bulan yang lalu Sifa memang menggantikan posisi Adelia sebagai dokter umum sekaligus sekertaris di rumah sakit Berlian.
" A...anak kamu. maksudnya?"
" Iya anakku, mungkin selama ini kamu belum tau, jika Adelia adalah mantan istriku."
" Aku menceraikannya disaat kemungkinan besar Adelia sedang mengandung anakku, karna sebelumnya aku belum tau tentang hal ini"
" Adelia sudah membohongiku tentang suatu hal"
" Suatu hal, maksudnya?"
" Suatu hal tentang hasil kesehatanku, waktu itu Adelia memberikan hasil tes yang mengatakan jika aku mandul"
" Apa, terus?"
" Akhirnya aku tau tentang kebenarannya, hasil sebenarnya jika sebenarnya aku sehat."
" Apa kamu sudah melakukan tes DNA terhadap bayi ini?"
" Sudah. dan hasilnya akan keluar tiga hari lagi'
" Lalu Bella?"
" Oh, Dokter Bella adalah sahabatku. dia yang sudah membantu aku membawa bayi ini"
" Dokter Bella juga yang sudah membantu aku mengurus Tania selama tiga hari ini"
" Dan mulai sekarang. aku mau kamu juga ikut membantu aku mengurus Tania. karna dokter Bella sedang ada urusan di luar Negri" terang Rendi lagi
" Baiklah, dengan senang hati aku akan menjaga rahasia ini. dan akan membantu merawan anak ini" ucap Sifa sambil mengambil alih Tania dari gendongan Sifa.
" Salam kenal ya dokter Sifa. mulai besok saya ada urusan di luar negeri, oleh karena itu saya meminta Rendi untuk mengajak orang yang dia percaya buat membantu mengurus bayi ini" ucap dokter Bella pada Sifa
" Salam kenal juga dokter Bella, terimakasih ya, selama ini sudah membantu Rendi mengurus Tania"
" Iya sama-sama dokter Sifa"
Di tempat lain, saat ini Mala bersama ketiga sahabatnya sudah selesai makan siang, Mereka ber-empat keluar dari restoran itu dan langsung menuju ke Bioskop untuk menonton film yang berganre romantis.
Tak lama kemudian ternyata Vino memanggil Sindy dari arah belakang, karna memang dadi tadi sebenarnya Vino dan Devan juga ada di Restoran itu, mereka sedang ada meeting bersama klien disana.
Langkah Sindy dan yang lain terhenti saat mendengar suara yang memanggil nama Sindy.
" Kak Vino"
Deg! Di saat Mala juga ikut membalikkan tubuhnya, tiba-tiba wanita itu di kejutkan dengan adanya Devan di sana,
Begitu juga dengan Devan yang tak kalah terkejut saat menyadari adanya Mala di tengah- tengah mereka.
" Eh, ada ayang juga" ucap Vino sambil melirik Mega.
Mendengar itu, membuat Mega merona menahan rasa malu. bisa-bisanya Vino seperti itu di depan sahabatnya.
" Duuuuh yang bucin mulai deh" ucap Sindy
" Bilang aja iri" balas Vino yang membuat Sindy mengangkat sudut bibirnya.
" Eh, kalian mau kemana, boleh gabung gak?" tanya Vino
" Kita mau nonton, ya kalau mau ikut ya ikut aja. asal beliin kita semua tiket masuk, gimana?" jawab Sindy dengan suara cemprengnya.
" Boleh. memangnya mau nonton film apa nih?"
" Film Cinta tak harus memiliki. itu loh kak, yang baru tayang"
" Oke deh. yuklah, kamu ikut kan Van?" tanya Vino pada Devan, namun pria yang do sebut namanya belum juga menjawab pertanyaan Vino.
" Van, elo ikut apa nggk?"
" Ikut" Sahut Devan singkat, padat dan jelas.
Sepuluh menit kemudian. Mereka semua sudah duduk di kursi bioskop. karna lampu dari tadi beluk menyala, Mala tidak menyadari jika dirinya duduk berdampingan dengan Devan, sedangkan Mega berdampingan dengan Vino, begitu juga Sindy berdampingan dengan Doni.
Film pun sudah mulai di putar, Mala juga Devan begitu menikmati alur filmnya, karna menurut Devan, itu sudah persis seperti kisah percintaannya dengan Mala. Cinta tapi tidak bisa memiliki, sangat menyedihkan.
Alur filmnya juga begitu mengandung bawang, tanpa sadar, Mala meneteskan air matanya saat film sudah di putaran pertengahan,
Satu jam kemudian, film itu sudah selesai di putar, Setelah tiba di parkiran, Mala naim ke dalam mobil milik Doni bersama dengan Sindy, karna Mega pulang bersama Vino.
Setelah Doni menyalakan mesin mobilnya, pria itu belum menyadari jika ada sesuatu yang aneh dengan mobilnya, dan pada saat sudah di jalan raya. tepatnya saat jalanan turunan, Doni tidak bisa mengendalikan mobilnya, rem mobil itu blong, Dan
" Aaaaa" teriak mereka secara bersamaan saat di depannya ada sebuah mobil yang juga melaju cukup cepat.
Brukkkk
.