Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Sebuah Harapan


"Kenapa aku sebahagia ini. Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta sama Wilson" Ucap Sifa sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya.


Entah kenapa setiap kali teringat akan wajah Wilson. Sifa selalu mengangkat kedua sudut bibirnya. Wanita itu merasa begitu bahagia saat mengingat wajah calon suaminya.


"Aku pasti benar-benar sudah mencintai Wilson. Kenapa bisa secepat itu ya" Ucap Sifa sambil terus memperhatikan ponselnya.


Sepertinya memang Sifa sudah benar-benar mencintai Wilson. Entah apa yang membuat nya bisa secepat itu memberikan hatinya pada Wilson. Pria yang hanya beberapa kali Sifa temui.


Sedangkan Wilson. Setelah sambungan telponnya terputus, Pria itu menatap foto Sifa yang sudah dia jadikan sebagai Wallpaper di layar ponselnya.


"Aku tidak pernah menyangka jika akan mengatakan hal itu di depan semua keluarga Sifa. Aku benar-benar tidak nyangka untuk itu" Ucap Wilson sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


Wilson begitu bahagia saat mendengar respon yang sudah di berikan oleh semua anggota keluarga Sifa. Semua yang sudah Wilson katakan benar-benar di luar dugaannya.


"Akhirnya. Aku bisa memiliki Sifa seperti apa yang aku harapkan. Aku akan segera mengatakan jika aku akan melamar Sifa dan menikahinya dalam waktu dekat ini" Ucap Wilson sambil terus menatap gambar Sifa.


"Iya. Aku harus segera melakukan hal itu" Ucap Wilson lagi


Di Tempat Lain


Rendi mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel Rani. Pria itu akan menghubungi mantan adik iparnya untuk mengajak nya bertemu. Seperti yang sudah pernah Rendi katakan. Jika dia akan mempertemukan Rani dengan anak nya, Tania. Tak berselang lama. Rani langsung menjawab panggilannya.


πŸ“ž:Halo kak Rendi..Ada apa?


πŸ“ž:Katanya kamu ingin bertemu dengan keponakan mu. Kamu bisa datang ke alamat yang akan aku kirimkan


πŸ“ž:Iya kak, Aku mau. Aku tunggu alamatnya ya kak


πŸ“ž;Iya Ran. Jangan sampai ada yang tau. Ini belum waktu yang tepat untuk memberitahu mereka semua


πŸ“ž:Kak Rendi tenang saja. Aku akan sangat hati-hati


Setelah itu, Rendi langsung memutuskan sambungan telponnya, Pria itu meminta ijin pada sang mama untuk membawa Tania ke suatu tempat. Hanya sebentar saja.


"Ma. Rendi ijin mau bawa Tania keluar sebentar" Ucap Rendi sambil mendekat ke arah Sandra yang saat ini sedang menggendong Tania.


Mendengar itu membuat Sandra menoleh ke arah Rendi yang berjalan mendekat ke arahnya dengan pakaian yang sudah terlihat rapi.


"Mau kemana kamu Ren. Kok sudah rapi aja. Memangnya kamu ada acara yang mengharuskan membawa Tania. Ini kam sudah gelap Ren" Balas Sandra sambil memperhatikan Rendi yang memang sudah terlihat siap ingin keluar.


"Rendi ada urusan ma. Dan kemungkinan besar Rendi malam ini sama Tania nginap di Apartemen. Mama jangan khawatir, Rendi bisa menjaga Tania dengan baik"


"Apa! Kamu mau bawa Tania sampai nginap di Apartemen. Memangnya kamu bisa pastikan dia baik-baik saja" Ucapnya sambil menatap Rendi tajam


"Iya ma. Untuk kali ini Rendi memang harus membawa Tania. Ini penting ma" Ucap Rendi sambil mengambil alih Tania


"Mama heran deh sama kamu Ren. Bukan kah kalau kamu membawa Tania nanti yang ada malah bikin kamu ribet ya"


"Terserah kamu saja. Tapi jangan sampai Tania kenapa-napa ya. Karna kalau sampai hal itu terjadi, Mama akan memberi pelajaran sama kamu"


"Iya ma, Iya"


"Rendi permisi dulu ya ma. Assalamualaikum"


"Wassalamualaikum salam"


Setelah itu, Rendi keluar dari dalam kamar Tania dengan membawa beberapa barang yang di perlukan oleh Tania selama di luar. Kali ini Rendi pergi dengan meminta supir untuk mengantarnya. Karna memang tidak mungkin jika Rendi mengemudi sambil menggendong Tania.


Karna jarak rumah ke Apartemen cukup jauh. Oleh karena itu Rendi memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk tiba di sana. Sang supir juga mengendari mobilnya dengan sangat pelan. Tidak seperti saat Rendi mengemudi.


"Pak, Bisa lebih cepat sedikit gak pak. Soalnya saya juga ingin segera sampai di Apartemen"


"Baik tuan muda"


"Oh iya pak. Jangan sampai mama dan papa tau soal ini. Jangan sampai bapak bilang jika malam ini saya menemui adiknya Adelia"


"Iya tuan muda. Tuan muda tenang saja"


DI TEMPAT LAIN


Jet pribadi yang akan membawa Bima Mala dan Leon ke indonesia sudah take off. Saat ini Mala sudah memejamkan kedua matanya sambil bersandar pada pundak Bima. Sedangkan Bima masih enggan untuk menutup kedua matanya.


Pria itu terus menatap wajah damai istrinya yang terlihat begitu lelap."Aku berharap kamu akan selalu bahagia sayang. Aku akan selalu berdoa, Semoga kamu selalu ada dalam lindungan yang maha kuasa" Ucap Bima sambil membelai lembut rambut Mala penuh sayang


Tanpa terasa, Bima menjatuhkan air matanya saat mengingat kondisinya yang semakin tidak baik-baik saja. Bukan karna Bima takut akan kematian. Namun pria itu masih belum siap meninggalkan wanita yang amat dia cintai.


Bima merasa begitu terluka setiap mengingat apa yang saat ini dia derita. Bukan karna sakit, Tapi karna Bima belum siap meninggalkan Mala yang sudah terlihat sangat bergantung padanya.


"Bagaimana jika waktu itu datang. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mu sayang" Ucap Bima yang terdengar begitu pilu


Bima mengira jika Leon juga sudah tertidur. Tapi ternyata dia salah, Karna Leon hanya memejamkan kedua matanya. Namun kedua telinganya masih bisa mendengar jelas apa yang sudah Bima katakan.


"Jangan pernah mengatakan hal yang tidak-tidak Bim. Karna apapun yang akan terjadi padamu, Itu tergantung dirimu sendiri. Jika kamu memiliki keinginan untuk bisa sembuh, Pelan tapi pasti hal itu akan terjadi. Di selingi doa dia setiap usaha mu" Ucap Leon tiba-tiba


Bima yang mendengar hal itu langsung mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Leon yang ada di samping nya. Pria itu menatap Leon dengan tatapan sendu.


"Tapi apakah harapan itu masih ada Leon. Apakah aku masih bisa berharap. Sedangkan rasanya tidak ada kemungkinan kata sembuh itu ada untukku" Jawab Bima yang terdengar begitu pilu


Leon menoleh ke arah Bima yang sedang menundukkan wajahnya. Pria itu menepuk punggung Bima dan menguatkan sahabatnya yang saat ini terlihat begitu down saat menyadari keadaannya sendiri.


"Bukan kam kamu dulu pernah mengatakan Bim. Jika di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Selama kita berusaha dan ikhlas menerimanya. Percayalah, Kun fayakun. Yakinlah jika suatu saat nanti kamu pasti bisa sembuh seperti dulu lagi. Aku percaya, Kesempatan itu pasti ada" Ucap Leon sambil menepuk punggung Bima