Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Bercerita pada Nara


Satu jam kemudian mobil Bima sudah tiba di kediaman kelurga Mala, rumah itu nampak kosong, tidak ada satu orang pun di luar rumah itu, Mala turun dari dalam mobilnya, Wanita itu memang sengaja tidak mengabari kedua orang tuanya jika dirinya sedang ada di indonesia.


Tok....tok....tok...


Mendengar suara ketukan pintu membuat mereka yang ada di dalam langsung menghentikan obrolannya. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tengah sambil membicarakan tentang Mala juga Bima, dan ternyata yang mereka bicarakan malah datang tiba-tiba.


" Kayaknya ada tamu, tapi siapa ya sore-sore begini" Ucap Alundra pelan.


" Yaudah bunda, biar Andra saja yang buka pintunya"


Karna ini adalah hari minggu, jadi Andra tidak ada jadwal kerumah sakit, setiap hari weekend, keluarga winarto memang lebih memilih menghabiskan waktu bersama di ruang tengah rumah mereka.


" Iya nak, terimakasih ya" ucap Alundra lembut.


Andra melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah itu, di sat Andra membuka pintu, pria itu dikagetkan dengan kehadiran dua sosok seseorang yang tak lain adalah adik juga sahabatnya.


" Bima, Mala" ucap Andra dan membuat Mala langsung memeluknya erat.


" Kak Andra" ucap Mala dan langsung memeluk Andra dengan sangat erat, " Aku sangat merindukan kak Andra" ucap Mala lagi.


Andra membalas pelukan Mala, " Kakak juga sangat merindukanmu Mala"


" Ayo masuk, pasti ayah sama bunda sangat senang kalian datang"


Bima dan Mala masuk mengekori langkah Andra. " Siapa yang datang ndra?" tanya pak Winarto pelan.


Andra tak menjawab, karna memang Mala yang meminta agar Andra tidak mengatakan siapa yang datang bertamu sore itu.


" Assalamualaikum Ayah, Bunda, kak nara" Suara khas itu membuat mereka menoleh secara bersamaan. Suara yang begitu familiar terdengar jelas pada indra pendengaran mereka.


Mendengar suara itu, membuat semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah sumber suara, " Mala" ucap Alundra dan langsung bangkit dari duduknya.


" Bundaaa, Mala kangen banget sama Bunda"


" Apalagi bunda sayang, bunda juga begitu kangen sama kamu nak, bagaimana kabar kamu?"


" Mala alhamdulilah sehat bunda?"


" Syukurlah, bunda senang dengarnya. kapan kalian sampai?. kenapa gak minta jemput sama ayah" suara berat Winarto melepaskan pelukannya pada sang bunda.


" Sebenarnya Mala sama Bima sudah dua hari di jakarta, Tapi kita bermalam di rumah kakeknya Bima"


" Kakeknya Bima, memangnya Bima punya keluarga di jakarta?'


" Ada yah, papi Bima orang jakarta, tapi menetap di aussie sejak umurnya masih sepuluh tahun"


Winarto mengangguk paham dengan apa yang Bima ucapkan.


" Aduuh Dania keponakannya aunty, sudah besar ya sayang. sudah makin aktif saja ya, tambah gembul lagi. gemes banget Aunty." Ucap Mala sambil mengambil alih bayi itu dara tangan Nara.


" Mala. sekarang kandungan kamu sudah berapa bulan?" tanya nara pada Mala


" Baru bulan ke tuju sih kak" mendengar itu membuat Nara mengangkat sebelah alisnya.


" Ikut kakak ke kamar yuk Mala, kakak kangen pengen ngobrol berdua"


Mala mengangguk paham dengan ajakan kakaknya. Wanita itu bisa menebak apa yang akan Nara bicarakan. ini pasti tentang kehamilannya yang memang tak wajar,


Karna sebelumnya memang keluarga Mala tidak ada yang tau, jika pada saat acara pernikahan ternyata Mala sudah hamil beberapa bulan. hanya keluarga Bima yang gau tentang hal itu.


Lima menit kemudian Mala dan Nara sudah tiba di balkon kamar Mala, Nara mengambil nafas sebelum memulai pertanyaan yang terbesit dalam benaknya.


" Aku tau, kakak pasti merasa janggal dengan kehamilan aku bukan,"


" Iya, itu yang akan kakak tanyakan sama kamu, kok bisa usia kandungan kamu sudah tujuh bulan, bukankah kalian menikah hanya tiga bulan yang lalu?"


" Iya kak. saat acara pernikahan sebenarnya aku sudah hami empat bulan" ucap Mala lirih


" Iya kak" jawaban Mala terdengar Ambigu.


" Jadi kamu beneran hamil duluan?" tanya Nara memastikan.


" Ini anaknya mas Devan kak"


" Apa!!!! Anaknya Devan. Kok bisa?"


" Iya bisa lah kak, aku sama mas Devan kan pernah menikah"


" Astaga, maksud kakak bukan gitu, kalau itu kakak tau. maksudnya kok bisa"


" Iya kak. aku tau kalau aku hamil satu bulan setelah aku pergi dari kehidupan mas Devan."


" Tapi Bima tau soal ini?"


" Tau, tapi Bima tidak tau jika laki-laki itu adalah sepupunya sendiri" ucap Mala sendu.


Nara yang mendengar itu langsung terlonjak kaget, apa maksud dari perkataan sang adik, sepupu? Hal itu tentu saja membuat Nara menyimpan lebih banyak pertanyaa.


" Apa maksud kamu dek, sepupu?"


Mala masih mengambil nafas berat sebelum menjawab pertanyaan sang kakak, " Iya kak. ternyata Bima dan mas Devan adalah sepupu"


" What!!! kamu serius kan dek?"


" Iya kak. aku serius. dan aku baru tau hal itu setelah aku tiba di kediaman kakeknya Bima"


" Kakak masih gak paham deh dek"


" Iya kak. jadi gini. dua hari yang lalu, saat aku tiba di rumah kakeknya Bima. tak lama kemudian ada tamu dan aku cukup familiar dengan suaranya. setelah aku melirik ke arah kaca. ternyata yang aku lihat adalah mas devan juga papa dan mama. "


" Iya, terus?"


" Aku mencari alasan agar bisa pergi dari sana sebelum mas Devan melihat keberadaan ku, dan setelah itu. aku mengintip mereka dari balik gorden, satu hal yang sempat membuat aku kaget"


" Apa?" tanya Nara penasaran.


" kebenaran tentang identitas keluarga mas Devan, ternyata papa Wijaya dengan papi Sunder adalah saudara beda ibu"


" Astaga, kakak masih gak percaya deh dek"


" Makin rumit kan kak perjalanan cinta Mala"


Mala mengambil nafas berat, masih sangat sulit untuk di percaya. tapi itulah kenyataannya. kenyataan yabg sebenarnya jika Bima dan Devan adalah saudara sepupu.


" Lalu, apa Devan sudah tau kalau kamu adalah Mala?


" Kayaknya gitu sih kak" ucap Mala sendu.


" Waduh, bukan cuma rumit sih dek, itu kalau sinetron pasti judulnya, ternyata suamiku sepupu dari mantan suamiku sendiri" ucap Nara sambil terkekeh


" Kak nara ada-ada saja, yaudah ayo kita kebawah, kasian Bima,"


" Oh iya kak, jangan pernah kasih tau hal ini pada ayah dan bunda ya," ucap Mala lagi sebelum mereka keluar dari kamar itu.


" Kamu tenang saja, semua aman sama kakak"


" Terimakasih ya kak, kak nara memang yang terbaik" pekik Mala sambil memeluk sang kakak.


" Iya dek" ucap Nara sambil membalas pelukan Mala


Setelah tiba di ruang tengah, Mala memutuskan untuk memasak buat makan malam mereka, kali ini Mala memasak di bantu oleh Nara dan bundanya. bayi Dania di gendong oleh pak winarto.


Bima dan Andra masih asyik mengobrol setelah lama tidak bertemu. terakhir mereka bertemu hanya pada saat pernikahan mereka beberapa bulan yang lalu