Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Wanita tercantik


"Kenapa liatin aku seperti itu?"Tanya Nadia pada Devan yang saat ini sedang menatapnya.


"Kesel aja. Kenapa aku harus bertemu dengan wanita gila dan menyebalkan seperti dirimu" Ucap Devan santai


Mendengar itu membuat Nadia membalas tatapan Devan dengan sebuah tatapan yang tak kalah tajam.


"Apa kamu bilang, Kesel karna bertemu dengan wanita gila sepertiku! Kalau aku gila lantas anda bagaimana tuan Devan. Bersama dengan wanita gila, Itu sama saja anda juga sama gilanya seperti saya" Ucap Nadia sambil terus menatap Devan


"Ogah aku mau di sama-samakan dengan wanita sepertimu. Lebih baik aku pulang saja. Kamu tidak usah pulang bersamaku, Naik taksi saja" Ujar Devan dan langsung bangkit dari duduknya sambil membawa undangan yang baru saja Vino berikan


"Kok gitu sih Van. Tadi aku kesini kan bareng sama kamu, Ya pulangnya kita juga harus bareng dong. Mana Bisa pulang sendiri-sendiri seperti itu" Ucap Nadia sambil mengekor di belakang Devan.


"Eh Van. Kalau boleh tau nanti kamu datang ke pernikahan dia bareng sama siapa? Kalau tidak ada temannya, Aku mau sih temani kamu"


Pertanyaan Nadia tentu berhasil membuat Devan menghentikan langkahnya. Pria itu membalikkan tubuhnya dan menatap Nadia dari" ujung rambut sampai ujung kaki.


Pria itu menatap sejenak wajah Nadia sambil mengangkat kedu sudut bibirnya. Melihat Devan seperti itu membuat Nadia menyimpulkan jika Devan pasti tidak menolak tawarannya.


"Bagaimana, Kamu mau kan aku temani ke pesta pernikahan sahabat kamu. Gak mungkin kan kalau kamu datang sendiri. Nanti yang ada kamu akan terlihat sangat menyedihkan"


Mendengar itu membuat Devan semakin mengangkat kedua sudut bibirnya. "Tentu" Ucapnya pelan


Nadia langsung tersenyum mendengar jawaban Devan. Namun senyum itu seketika luntur saat Devan melanjutkan perkataanya kembali.


"Tentu saja tidak" Ucap Devan lagi dan langsung melangkahkan kakinya kembali.


"Yaaah. Kok kamu gitu sih Van. Gak menghargai kebaikan aku deh"


"Bodo amat"


Setelah itu Devan naik ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobil itu menjauh dari restoran. "Lah Van. Tega amat aku beneran di tinggal" Ucap Nadia saat melihat Devan melajukan mobilnya


Devan melihat raut wajah Nadia dari kaca spion. Wanita itu benar-benar terlihat lucu saat memanyunkan bibirnya.


Setelah itu Nadia membalikkan tubuhnya untuk kembali duduk sambil memesan taksi. Nadia tidak menyadari jika mobil Devan sudah putar balik.


"Dasar cowok tidak fau diri. Bisa-bisanya meninggalkan wanita secantik diriku di sini sendiri" Umpat Nadia sangat kesal


"Aku doakan. Semoga jomblo seumur hidup" Ucapnya lagi sambil terus menundukkan wajahnya


"Ehemm. Siapa yang kamu doakan mbk?" Ucap Devan setelah turun dari mobilnya


"Cowok kurang ajar memang. Itu si Devan mas. Aku doakan dia menjomblo seumur hidup" Ucap Nadia lagi yang masih sibuk dengan ponselnya sampai tidak sadar jika itu adalah Devan


"Ooooh kurang ajar y. Tampan gak orangnya?"Tanya Devan lagi sambil memperhatikan Nadia yang masih sibuk dengan ponselnya


"Tampan sih mas. Tapi ngeselin. Masa saya di tinggal disini. Menyebalkan memang itu orang ya" Ucap Nadia


"Ternyata kamu sadar juga kalau aku tampan Nad"


"Memang. Tapi aku balik lagi karna ada yang ketinggalan"


"Apa memangnya?" Tanya Nadia sambil melihat ke atas meja


"Kamu" Jawab Devan dan langsung menarik tangan Nadia"Ayo cepat naik mobil" Ucapnya


Di Rumah sakit


Saat ini di rumah sakit hanya ada Bima dan Mala di ruangan Bintang. Karna yang lain sudah pulang setelah melihat keadaan Bima baik-baik saja.


"Sayang" Panggil Bima sangat lembut


Mala menoleh ke arah Bima yang kini sedang menatapnya sangat lembut"Iya my boy. Kenapa?" Jawabnya


"Acara pernikahan sahabat kamu itu kapan sayang?"


"2 Minggu lagi my boy. Kenapa memangnya?"


"2 minggu lagi ya. Yaudah kalau begitu kita kembali ke aussie setelah pernikahan sahabah kamu saja"


Mendengar itu membuat Mala berjalan mendekat pada Bima"Kamu serius my boy. Tapi kenapa kamu berubah pikiran. Bukankah tadi kamu mengatakan jika kita akan kembali ke Aussie setelah keadaan Bintang membaik?" Tanya Mala sambil duduk si samping Bima


"Memang awalnya gitu sayang. Tapi setelah aku pikir-pikir. Sepertinya kamu memang perlu datang ke acara pernikahan itu. Kalau soal urusan aku di Aussie. Nanti aku akan meminta Reno untuk mengurus semuanya"


"Terimakasih my boy. Terimakasih kamu sudah mengerti aku" Jawab Mala sambil memeluk Bima sangat erat dengan senyum merekah yang terukir jelas dari kedua sudut bibirnya.


Bima yang melihat itu juga ikut merasa sangat bahagia. Buat Bima kebahagiaan Mala adalah segalanya. Melihat Mala tersenyum seperti itu langsung membuat hati Bima terasa sangat hangat.


Pria itu membalas pelukan Mala dengan sangat erat. Membelai lembut rambut panjangnya. Sejenak Bima mencium wangi rambut wanitanya yang sudah menjadi candu untuk nya.


Mencium lama rambut Mala dengan aroma bunga Lily yang terasa menenangkan pikirannya. "Terimakasih tuhan. Terimakasih sudah memberikan waktu untuk ku membahagiakannya. Terimakasih atas rasa cinta yang engkau tumbuhkan di dalam hati istriku. Aku janji akan menggunakan kesempatan dengan sangat baik. Tidak akan pernah aku biarkan wanitaku menjatuhkan air matanya kembali" Bima bermonolog dalam batinnya sambil terus membelai rambut Mala dengan penuh rasa sayang.


"Aku sangat mencintaimu sayang" Ucapnya sambil mendaratkan kecupan singkat di kening Mala.


"Aku juga mencintai mu my boy. Jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pernah membuat aku merasa takut. Takut akan kehilangan mu" Ucap Mala sambil memeluk Bima sangat erat.


Mendengar perkataan Mala membuat Bima memejamkan kedua matanya. Dadanya terasa sangat sesak. Seakan pasokan oksigen sulit untuk sampai ke paru-parunya.


Namun Bima berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata itu di hadapan Mala. Karna bukan hanya Mala yang merasakan takut. Bima pun juga merasakan takut yang sangat mendalam.


Bukan takut akan kematian, Namun Bima belum siap untuk meninggalkan Mala juga kedua anaknya "Izinkan aku hidup lebih lama lagi tuhan. Setidaknya sampai aku bisa melihat Mala berdiri di atas kakinya sendiri." Batin Bima lagi


"Aku tidak akan pernah kemana-mana sayang. Aku akan selalu disini menemani kamu dan juga kedua anak kita. Aku akan melihat mereka tumbuh dewasa dan bisa menggantikan ku untuk menjaga kamu" Ucap Bima sambil mengusap rambut Mala lembut


"Nanti aku akan membelikan kamu gaun terbagus untuk kamu gunakan di acara pernikahan teman kamu nanti. Akan aku pastikan jika istriku menjadi wanita tercantik di sana" Ucap Bima sambil melepaskan dekapannya.