Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Merasa bersalah


Namun ternyata gempa itu bukannya berhenti malah semakin besar dan membuat tubuh Mala cukup oleng. Hingga tanpa Mala sadari, Gempa itu sudah membuatnya berlari ke arah yang salah.


Mala yang begitu panik tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang dan membuatnya hampir terjatuh. Namun dengan cepat orang itu menangkap tubuh Mala dan membuatnya membawa tubuh Mala dalam dekapannya.


Berada dalam dekapan seorang pria membuatnya mengangkat wajahnya.Namun sebelum itu, Mala masih terdiam sejenak saat merasa tidak asing dengan wangi orang yang saat ini sedang mendekapnya.


"Mala, Mas Devan" Ucap Mereka secara bersamaan


Melihat wanita yang ada di dalam dekapannya adalah Mala. Membuat Devan semakin mengeratkan pelukannya. Mala yang merasakan dekapan Devan semakin erat berusaha untuk melepaskan. Namun Devan semakin mengeratkan dekapan itu.


"Lepas kan aku mas. Aku tidak mau Bima melihat kita seperti ini" Ucap Mala sambil terus berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Devan


"Aku mohon Mala. Biarkan kita seperti ini sebentar saja"Ucap Devan yang terdengar begitu pilu


"Tolong jangan seperti ini kak. Status kita saat ini sudah berubah. Kamu sudah menjadi kakak iparku" Ujar Mala pelan


"Memang status kita sudah berubah. Tapi satu hal yang harus selalu kamu ingat, I Am so love you Mala. Because you are the only one in my heart" Ucap Devan yang terdengar begitu tulus


Mendengar itu membuat Mala bungkam. Wanita itu bingung harus menjawab apa. Dia bisa merasakan jika rasa cinta Devan masih sangat besar untuknya.


"Tapi cinta itu salah kak! Cinta itu tidak boleh ada, Aku mohon, Forget me mas. Masih begitu banyak wanita baik yang mau sama kamu"


"Memang. Tapi aku hanya mau kamu Mala. Hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku nyaman" Ucap Devan sambil terus memeluk Mala erat


Mala terdiam. Ingin rasanya mengatakan jika saat ini perasaannya terhadap Devan sudah benar-benar hilang. Dalam hati Mala hanya ada Bima.


"Aku mohon Mala. Jangan minta aku untuk membuang perasaan ini, Karna aku sendiri pun tidak tau bagaimana caranya" Ucap Devan sendu


"Caranya mudah mas. Kamu hanya perlu memberikan perasaan itu pada wanita lain"


"Tapi melakukan tidak semudah kamu mengatakan." Seru Devan lagi


"Aku percaya kamu bisa melakukan itu mas, Seperti dulu dengan mudah kamu mengkhianati ku dengan Adelia" Ucap Mala dan langsung berhasil membuat Devan melepaskan dekapannya.


"Harus berapa kali aku katakan Mala. Semua itu hanya salah paham. Aku sama sekali tidak pernah mengkhianati kamu"


"Sudahlah mas. Semua itu sudah berlalu. Kita lupakan apa yang telah berlalu" Gumam Mala dan langsung berlalu dari hadapan Devan.


Namun langkah Mala terhenti saat suara Devan kembali menerpa indra pendengarannya "Aku tanya sama kamu. Apa Langit dan Bintang adalah anakku,?"Ucap Devan sambil menarik tangan Mala


Pertanyaan Devan berhasil membuat Mala sangat terkejut. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan menatap Devan dengan perasaan yang tidak menentu. Mala tidak ingin jika sampai Devan tau hal yang sebenarnya.


"Kenapa kamu bisa tanya seperti itu?" Tanya Mala sambil menatap Devan tajam


"Karna aku merasa ada ikatan batin dengan mereka. Seperti ikatan batin antara papa dan anak"


Mendengar itu membuat Mala mengerutkan keningnya. Dia baru teringat akan perkataan Bima yang mengatakan jika Devan pernah menyembunyikan kedua anaknya.


"Merasa seperti ada ikatan batin? Memangnya kapan mas Devan bertemu dengan mereka. Bukan kah kamu sama sekali belum pernah bertemu dengan kedua putraku?"Ucap Mala sambil terus menatap Devan tajam


Devan yang baru menyadari perkataannya seketika langsung bungkam. Apalagi setelah mendengar perkataan Mala. Pria itu menjadi bingung apa yang harus dia jawab pada Mala.


"Hanya Feeling? Bagaimana bisa kamu menduga hanya dengan feeling mas"


"Siapa tau saja dugaan aku benar. Mereka berdua adalah anak-anakku"


"Jangan ngaco mas. Wajah mereka saja begitu mirip dengan Bima" Ucap Mala dan langsung melangkahkan kakinya kembali


Namun lagi-lagi langkah Mala terhenti saat Devan tiba-tiba menarik tubuhnya dan membuat mereka terjatuh di atas pasir pantai dengan posisi Mala di atas tubuh Devan dan tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan seperti orang berciuman.


Melihat Mala ada adi atas tubuhnya. Tentu saja Devan tidak akan membuang-buang kesempatan kali ini. Pria itu menarik leher Mala agar semakin mendekat padanya. Kemudian Devan me lu ma t bibir Mala dengan penuh cinta.


Mala yang mendapatkan ciuman seperti itu tentu saja terkejut bukan main. Wanita itu membulatkan kedua matanya sambil menatap Devan yang saat ini terus menikmati setiap inci mulutnya. Herannya Mala seperti terhipnotis dengan ciuman itu.


"Mala. Kamu di mana?"


"Sayang. Jangan bikin aku khawatir. Kamu di mana sayang?"


Suara itu berhasil membuat Devan langsung melepaskan pangutan bibir mereka. Devan sudah tau pasti jika suara itu adalah suara khas dari Bima.


Dengan cepat Mala bangun dari tubuh Devan. Wanita itu menatap Devan yang saat ini tersenyum ke arahnya"I Love you Mala" Ucap Devan sambil terus menatap Mala


"Ternyata kamu masih semesum dulu mas" Seru Mala sambil mengusap bibirnya dan langsung berlalu dari hadapan Devan.


Devan masih terus menatap Mala sambil mengangkat kedua sudut bibirnya. Setidaknya malam ini dia sudah melepaskan rindu yang selama ini menggebu dalam batinnya.


"Semoga kamu selalu bahagia Mala. Maafkan aku yang tidak akan pernah bisa membuang perasaan ini. Kamu terlalu berarti untuk ku" Ucap Devan sambil terus menatap Mala yang semakin menjauh.


Devan mengusap bibirnya. Ternyata sensasi yang dia dapat saat mencium Mala beberapa saat yang lalu sama persis seperti saat pertama kali mencium Mala di dalam kantornya.


Di saat Devan masih menatap punggung Mala yang semakin menjauh. Tiba-tiba saja Nadia kembali dengan membawa Lampion di tangannya.


Devan yang melihat datangnya Nadia langsung bernafas lega. Setidaknya wanita itu tidak melihat apa yang baru saja dia lakukan bersama dengan Mala. "Untung Nadia baru kembali" Batinnya


Di Tempat Lain


Bima semakin bingung saat tidak menemukan keberadaan Mala di mana-mana. Pria itu merasa sangat panik serta khawatir.


"Kamu kemana sayang. Harus mencari kamu kemana lagi" Ucapnya yang terdengar begitu lirih


Hingga tak berselang lama. Mala kembali dan langsung memeluk Bima erat. "Aku disini my boy. Maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir" Ucap Mala sambil memeluk Bima dari belakang


Mendengar suara Mala serta tangan yang melingkar di perutnya membuat Bima membalikkan tubuhnya dan langsung menangkup kedua pipi Mala serta langsung memeluknya.


"Kamu baik-baik saja kan sayang? Aku sangat menghawatirkan kamu" Ucap Bima yang terdengar begitu lembut


Mendengar suara Bima serta raut wajahnya yang terlihat begitu panik dan khawatir membuat Mala merasa sangat bersalah. Karna apa yang sudah Devan lakukan padanya.


"Maafkan aku my boy. Maafkan aku" Mala bermonolog dalam batinnya sambil menatap Bima sendu