
"Aku berangkat dulu ya sayang, I Love You" Ucap Bima d
begitu lembut.
"I Love You More my Husband" Balas Mala sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Mala membuat Bima mengangkat kedua sudut bibirnya. Ini pertama kalinya Bima mendengar Mala mengatakan hal itu. Sungguh Bima sangat merasa bahagia mendengar ucapan itu.
Di sepanjang koridor Apartemen. tak henti-hentinya Bima mengukir senyum yang terlihat begitu manis.
Setelah tiba di basement Apartemen. Bima masuk ke dalam mobilnya. Pria itu mengambil ponsel dari saku jasnya, Bima menghubungi Rio untuk mempersiapkan berkas yang akan di gunakan meeting pagi ini.
π: Halo Rio
π: Iya tuan, Ada apa?
π: Kamu persiapkan berkas untuk meeting sama pak Handoko. Meeting nya di majukan pagi ini.
π: Baik tuan
Setelah sambungan telponnya terputus. Bima melajukan mobilnya keluar dari gedung Apartemen miliknya.
30 menit kemudian. Bima sudah tiba di perusahaan Sunder Company. Sudah hampir satu bulan Bima tidak menginjakkan kaki di perusahaan ini.
Melihat kedatangan Bima. Semua karyawan menunduk sopan serta memberi salam pada pria itu. Karna semua karyawan begitu menghormati seorang Albima Sunder.
"Selamat pagi pak" Ucap salah satu karyawannya.
"Pagi" Balas bisa sambil sedikit mengangkat sudut bibirnya.
Di saat Bima sedang menyapa para karyawannya. Tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang. "Bima" Ucap wanita itu sambil memeluk tubuh Bima.
Mendapat pelukan seperti itu membuat Bima membalikkan tubuhnya. "Siapa ya" Ucap Bima terdengar begitu dingin sambil melepaskan tangan wanita itu dari perutnya.
Mendengar itu membuat Nadia mengerutkan keningnya."Kamu lupa sama aku Bim, ini aku Nadia. teman kecil kamu"
Bima masih terdiam. pria itu masih mencoba mengingat nama Nadia."Oh kamu nadia yang dulu suka nangis ya" Ucap Bima pada Nadia
"Ih kamu masih ingat saja kalau waktu kecil aku suka nangis, eh kamu apa kabar Bim?"
"Ya masih lah, kamu kan cengeng. ayo kita ngobrol di ruangan aku saja"
Nadia tak menjawab. wanita itu hanya mengangguk dan mengekor di belakang Bima.
Setelah tiba di ruangan Bima. Ternyata Bima mendapat telpon dari Rio jika pak Handoko sudah tiba di perusahaannya.
"Kamu duduk dulu Nad"
"Iya Bim"
Nadia duduk sambil terus menatap Bima tanpa mau berkedip sedikitpun. "Ternyata kamu menjadi pria setampan ini Bim"
Nadia adalah Salah satu teman kecil Bima yang pergi dengan membawa janji akan kembali setelah berumur 15 tahun.
Dulu mereka sempat membuat sebuah janji. Nadia berjanji akan kembali setelah berumur 15 tahun. sedangkan Bima berjanji akan selalu setia menunggu kedatangan Nadia. Janti itu terucap saat mereka masih berumur 9 tahun. Mereka berencana akan menikah setelah dewasa nanti.
Namun, Bima melupakan janjinya pada Nadia karna Nadia tidak datang sesuai janjinya. Hingga bima berumur 17 tahun pun Nadia tetap tidak ada kabar. Hingga Bima melupakan janji itu.
Apalagi, setelah kepergian sang mami dan koma yang di alami papinya membuat Bima hidup hanya dengan sebuah balas dendam yang selalu menjadi obsesinya.
Tok...tok...tok..
Suara ketukan pintu mengurungkan Bima untuk berbicara pada Nadia. "Masuk"
"Selamat pagi pak. Pak Handoko sudah menunggu di ruang meeting" Ucap Rio sambil menunduk kan tubuhnya
"Saya akan segera ke sana"
"Oke Bim"
Setelah itu, Bima keluar dari dalam ruangannya. pria itu akan meeting bersama dengan pak Handoko yang selama ini Bima tunggu.
Setelah memastikan Bima benar-benar pergi. Nadia berjalan ke arah meja kerja Bima. Mata Nadia memicing saat melihat sebuah foto pernikahan..yang tak lain adalah foto pernikahan Bima dan Mala.
Deg! Melihat itu membuat lutut Nadia terasa begitu lemas. ada rasa sakit saat melihat pria yang di cintai nya ternyata sudah menikah dengan wanita lain.
"Apa-apaan ini! Bima sudah menikah?"Lirihnya pilu.
Tak berselang lama, ada sebuah panggilan masuk dari pa itu.
π: My boy, kenapa kamu lama sekali angkat telponnya. apa kamu lagi sibuk?
Terdengar suara wanita dengan nada manja seperti itu sudah bisa Nadia tebak. Jika wanita di ujung telpon pasti adalah istri Bima.
π: Halo
Sambungan langsung terputus begitu saja setelah Nadia berbicara.
Di Apartemen
"Kenapa yang angkat telfon Bima perempuan? Apa aku salah telfon!" Ucap Mala setelah memutuskan sambungan telponnya.
"Tapi ini benar nomornya Bima kok! Tapi kenapa yang angkat malah perempuan. Apa jangan-jangan Bima sedang bersama seorang wanita. hingga tidak mau mengangkat telpon dari ku"
Saat mendengar suara perempuan dari nomor ponsel Bima,.Entah kenapa hati Mala terasa panas. hal itu membuat Mala Bad mood dan gak mau ngapa-ngapain sebelum Bima pulang.
"Awas saja nanti ya! Akan aku beri pelajaran kalau sampai kamu selingkuh dari aku Bim!" Geramnya sambil menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
Saat mendengar suara wanita membuat Mala sakit. Apa Mala sedang cemburu?
Di jakarta
"Van apa kamu sudah tau siapa dalang dari kecelakaan kemarin?" Tanya Vino pada Devan saat Devan baru tiba di kantornya.
"Belum" Ucapnya dingin, datar tanpa ekspresi
"Memangnya kamu belum melihat CCTV di tempat itu?"
"Belum sempat"
"Kamu kenapa sih Van, kok kayak gak semangat begitu! apa kamu tidak penasaran pada pelaku yang sudah membuat wanita yang kamu cintai lumpuh seperti itu?"
Mendengar ucapan Vino membuat Devan menghentikan langkahnya."Buat apa Vin. Mala saja sudah melupakan ku" Ucap Devan sendu
Vino mengerutkan keningnya."Siapa yang bilang kalau Mala sudah melupakan kamu?"
"Dia sendiri yang bilang, Sudahlah Vin. jangan terus-terusan bicara soal Mala, hatiku rasanya begitu sakit."
Setelah mengatakan hal itu Devan kembali melanjutkan langkahnya. "Dasar laki-laki tidak punya pendirian. begitu saja langsung di percaya. Aku saja masih gak yakin jika Mala sudah melupakan Devan" Gerutu Vino pada Devan
Hari ini hanya raga Devan yang ada di kantor. Namun jiwanya melalang buana entah kemana. Tapi yang pasti saat mengingat perkataan Mala, Devan merasa batinnya begitu sakit. Seperti luka yang di siram oleh air garam, Sangatlah pedih.
"Kenapa rasanya sesakit ini tuhan. Kenapa lebih sakit dari pada dulu saat Adelia pergi meninggalkan ku"
"Kenapa begitu sulit untuk sekedar melupakan kamu Mala, kenapa"
Devan mengacak rambutnya sendiri saat bayangan Mala terus-terusan melintas di ingatannya.
"Kenap senyuman kamu begitu membekas, sehingga aku begitu sulit untuk menghapusnya" Ucap Devan lagi.
Vino yang mendengar itu melihat iba kepada Devan. Baru kali ini Devan benar-benar patah hati seperti ini.
"Ternyata cinta kamu terhadap Mala sudah sedalam itu Van" Ucap Vino sendu