Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rencana Bima


"Apa! Jadi maksud kamu yang sudah membunuh Luis adalah Andika sanjay" tanya Leon sambil menatap Bima


"Iya, Leon. Pelaku sebenarnya adalah Andika sanjaya. Entah apa yang membuatnya melakukan hal itu. Tapi yang pasti, aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri"ucap Bima sambil menoleh pada Leon.


"Sepertinya Andika ini harus di kasih pelajaran Bim..Waktu itu kamu juga bilang jika yang membuat kamu kecelakan dan hanyut hingga ke pantai ifu juga kerjaan dari Andika kan?"


"Iya. Nanti malam aku akan terbang ke Aussie untuk memberikan pelajaran pada Andika. Dia memang Harus segera di bantai. Akan aku tunjukkan siapa Albima sunder"


"Kalau gitu aku ikut Bim. Aku akan membantu kamu kali ini"


"Tidak perlu Leon"


"Pokoknya aku akan tetap ikut. Apa kamu lupa siapa aku, keturunan Gangster"


Leon memang keturunan dari seorang Gangster di Aussie. Kedua orang tua Bima dan Leon sudah bersahabat sejak lama, Namun selama ini Leon memang tidak pernah ikut andil. Pria itu cukup sibuk mengejar cita-citanya sebagai dokter.


"Iya aku ingat itu kok"


Di saat Bima dan Leon masih mengobrol. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara Mala. Mala akhirnya sadar setelah tidur kurang lebih 1 jam.


"My boy" panggil Mala dengan suara seraknya.


Mendengar itu membuat Bima membalikkan tubuhnya dan menoleh pada Mala yang masih mengerjabkan kedua matanya.


"Sayang. Akhirnya kamu sadar juga, Aku sangat menghawatirkan kamu sayang. Kamu kenapa melakukan hal yang membuatmu terluka seperti ini? Hmmm"


"Maafkan aku my boy, Aku melakukan semua itu hanya karna reflek"


"Iya tidak papa sayang. Sudah jangan pikirkan itu lagi, Yang penting kamu sudah baik-baik saja sekarang" ucap Bima lembut sambil mencium kening Mala penuh cinta


"Terima Kasih my boy, Kamu selalu bisa mengerti aku" ucapnya sambil menatap kedua manik mata Bima.


"Sayang. Malam ini aku ada urusan penting di Aussie. Kamu di sini sama Sifa gak papa kan?"


"Iya gak papa. Memangnya urusan penting apa my boy?"


"Soal perusahaan sayang. Tapi kamu tenang saja, Besok atau lusa aku akan segera kembali ke sini lagi. Kamu beneran tidak papa aku tinggalkan sama Sifa?"


"Iya, Kamu hati-hati ya my boy, Jangan melakukan hal yang membuatku takut"


Bima terdiam untuk beberapa saat. Tidak ingin mengatakan alsan yang sebenarnya kenapa Bima harus terbang ke Aussie malam ini juga.


"My boy. Kenapa kamu diam saja? Berjanjilah untuk tidak melakukan hal yang membuat aku takut"


"Iya sayang, Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang membuatmu takut"


"Terimakasih sudah mau berjanji buat aku my boy. Bintang di mana?"


Tiba-tiba saja Mala teringat akan Bintang. Karna terakhir dia memang bersama Bintang sebelum insiden itu terjadi.


"Bintang ada di ruangannya sayang. Sore ini dia sudah boleh pulang"


"Aku juga mau pulang my boy"


"Iya, Tapi nanti setelah dokter mengatakan jika keadaan kamu sudah baik-baik saja ya"


Di saat Bima dan Mala sedang membicarakan tentang Bintang. Tak berselang lama Devan masuk ke dalam ruangan itu"Bintang sama Langit sementara biar mama yang urus. Boleh kan Bim, Mala?"


Bima dan Mala yang mendengar itu menoleh ke arah Devan yang sedang berjalan ke arah mereka"Biarkan mama yang menjaga Bintang dan Langit"ulang Devan lagi


"Tidak perlu. Biarkan mereka berdua di urus sama baby sitter. Tolong kamu carikan baby sitter ya my boy" ucap Mala cepat


Devan mengambil nafas pelan. Terkadang Mala memang sangat keras kepala, itulah yang Devan pahami tentang Mala.


"Sayang, Sepertinya memang apa yang di katakan kak Devan benar. Aku lebih tenang jika mereka bersama dengan tante Yasmine. Biar bagaimana pun kan dia cucunya" .


"Tapi aku gak setuju my boy. Bukan kah kamu sengar sendiri apa yang kemarin mas Devan katakan. Dia bahkan lebih memilih Nadia dari pada anaknya. Jadi lebih baik cari kan mereka baby sitter saja"


"Sayang, Aku tau kamu kecewa karna hal kemaren. Tapi memang sepertinya Bintang dan Langit lebih baik di rumah kak Devan. Biar kita bisa tenang sayang. Aku janji setelah aku kembali dari Aussie. Aku akan langsung mengambil mereka"


"Terserah kamu saja" jawab Mala sambil memalingkan wajahnya ke lain arah.


Devan menatap punggung Mala dalam. Jujur saja, Rasanya sakit saat melihat wanita yang masih sangat di cintanya seperti itu. Ingin rasanya Devan memeluk Mala. Meluapkan rasa rindunya yang begitu menyiksa. Karna ternyata, Merindukan seseorang yang seharusnya di lupakan itu sangat menyakitkan. Benar-benar sakit.


Bima membiarkan Mala menenangkan perasaannya. Karna terkadang seorang wanita memang harus di berikan ruang dan waktu untuk menjernihkan pikirannya.


"Sudah kak, Kita keluar sekarang. Biarkan Mala Menenangkan perasannya dulu. Aku tau kenapa dia seperti itu. Dia pasti merasa sangat sakit saat kamu membebaskan Nadia"


"Alu tau aku salah, Bim. Tapi itu semua akau lakukan karna aku memiliki janji padanya"


"Sudahlah, Tidak perlu di bahas. Nanti malam apa kak Devan benar-benar mau ikut aku ke Aussie. Tapi aku tanya, Apa alasan kakak mau ikut ke sana?"


"Sebenarnya aku ke sana karna ingin membalaskan dendam Nadia terhadap laki-laki yang sudah merusak hidupnya"


Bima mengerutkan keningnya. Karna memang Bima belum tau menahu soal Nadia dengan Andika Sanjaya.


"Memangnya hal apa yang sudah membuat Nadia menaruh rasa dendam?"


"Aku tidak tau pasti, Tapi yang jelas, Nadia pernah berkata jika dia kehilangan kedua orang tuanya karna Andika. Dan bukan hanya itu, Nadia juga berkata kalau dia kehilangan anak mereka"


Lagi-lagi perkataan Devan membuat Bima merasa penasaran. Sebenarnya ada hubungan apa antara Andika sanjaya dan juga Nadia.


"Sebentar kak, Kak Devan mengatakan anak mereka! Itu maksudnya bagaimana?"


"Aku juga tidak terlalu paham. Lebih baik kita temui Nadia dan tanya sama dia semuanya. Mungkin Nadia bisa membantu kita dalam hal ini"


"Baiklah. Tapi sebentar, Aku akan meminta beberapa anak buahku untuk stay disini. Karna aku tidak akan membiarkan hal yang tadi terjadi di alami oleh Mala kembali"


Bima mengambil ponselnya dan langsung menghubungi anak buahnya untuk memperketat penjagaan atas Mala. Bima tidak mau lagi ada hal yang tidak-tidak kembali menimpa wanitanya.


πŸ“ž:Ke rumah sakit sekarang. Kamu jaga dan pastikan tidak ada satu orang pun yang berani mengganggu istri saya.


πŸ“ž:Baik tuan. Saya ke sana sekarang


Setelah itu, Bima langsung memutuskan sambungan telponnya. Saat ini yang ada di dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar bisa menghancurkan Andika sanjaya. Pria yang memiliki seribu rahasia.


Sampai satu akal terbesit dalam benak Bima. Kenapa Bima baru mengingat hal itu sekarang. Bima tau apa yang harus dia lakukan untuk bisa menghancurkan Andika sanjaya.


"Kita lihat saja Andika. Apa yang akan terjadi selanjutnya!" ucap Bima dalam batinnya