Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Pura pura pingsan


"Kamu baik-baik saja kan sayang? Aku sangat menghawatirkan kamu" Ucap Bima yang terdengar begitu lembut


Mendengar suara Bima serta raut wajahnya yang terlihat begitu panik dan khawatir membuat Mala merasa sangat bersalah. Karna apa yang sudah Devan lakukan padanya.


"Maafkan aku my boy. Maafkan aku" Mala bermonolog dalam batinnya sambil menatap Bima sendu


Bima memeluk Mala sangat erat. Pria itu sangat mencemaskan keadaan Mala. Apalagi saat ada gempa tadi"Sayang, Kok malah diam saja. Aku sangat menghawatirkan kamu sayang. Are you oke?" Tanya Bima begitu lembut pada Mala


"Tenanglah my boy. Kamu tidak perlu panik. Aku baik-baik saja kok my boy" Jawab Mala sambil mengangkat wajahnya menatap Bima


"Asal kamu tau sayang. Aku sangat panik tadi saat kembali ternyata kamu tidak ada di sini" Ucap Bima lagi


"Maaf ya sayangku. Tadi aku kebelet pipis. Dan waktu sudah mau balik lagi kesini tiba-tiba saja gempa. Maaf ya sudah membuat kamu khawatir" Ucap Mala lembut


Tak lama kemudian. Semua orang sudah bersiap untuk menerbangkan lampion mereka masing masing. Melihat itu membuat Bima juga ikut menyiapkan lampionnya.


"Sayang. Kita juga siap-siap yuk. Aku sudah dapat lampionnya"Ucap Bima pelan


"Oh ya. Ayo my boy. Aku sudah tidak sabar buat terbangin lampionnya"Gumam Mala penuh semangat


Bukan hanya Mala dan Bima. Namun Leon dan juga Sifa melakukan hal yang sama. Mereka sudah bersiap untuk menerbangkan lampion bersama.


Tak berselang lama. Semua lampion itu di terbangkan dalam hitungan ke 3. "1 2 3" Ucap semua orang secara bersamaan.


"Jangan lupa katakan apa yang kamu harapkan saat ini sayang" Ucap Bima sebelum menerbangkan lampionnya


"Harapan ku hanya satu my boy"


"Apa sayang?"


"Aku ingin kita selalu bersama selamanya. Dan aku juga berharap. Kamu bisa selalu ada untuk aku jan juga kedua anak kita" Ucap Mala lagi sambil menatap Bima


Mendengar itu membuat Bima tersenyum hangat"Aku juga berharap akan hal itu sayang. Semoga Allah akan mengijabah apa yang saat ini menjadi doa kita dalam amin yang sama"


"Amin my boy" Seru Mala lembut


"Sudah siap buat terbangin lampionnya?" Tanya Bima pada Mala


"Iya my boy"


Setelah mendengar jika Mala sudah siap untuk menerbangkan lampoinnya. Bima langsung menghitung mundur. "3 2 1" Ucap mereka berdua secara bersamaan


Mala melihat ke atas langit. Di sana sudah terlihat begitu banyak lampion yang diterbitkan. Melihat itu membuat Mala menutup mulutnya. Lampion itu terlihat begitu indah.


"My boy. Indah sekali" Ucap Mala sambil menoleh ke arah Bima


"Iya sayang, Indah seperti kamu" Pungkas Bima sambil mengangkat kedua sudut bibitnya


"Issssshh. Kamu itu gombal terus my boy" Ujar Mala sambil menyenggol lengan Bima


Melihat Mala tersenyum bahagia seperti itu membuat Bima terus menatapnya tanpa mau memalingkan wajahnya sedetik pun. Pria itu terus menatap Mala dengan senyuman merekah yang terukir jelas sari kedua sudut bibirnya.


"Semoga saja senyuman itu tidak akan pernah memudar sayang. Aku selalu berharap kamu bahagia. Walaupun seandainya tanpa aku di sampingmu. Kamu harus bisa menjadi wanita kuat dan tanggung. Wanita yang bisa berdiri di atas kakimu sendiri" Bima bermonolog dalam batinnya sambil terus menatap Mala dengan tatapan sendunya.


"My boy. Kamu liat itu. Indah sekali ya" Seru Mala sambil menyenggol lengan Bima


Namun ternyata Bima tak menggubris perkataannya. Pria itu terus menatap Mala sambil membayangkan kemungkinan yang akan terjadi dengan hidupnya.


"Iiiiihh my boy. Kenapa kamu diam saja?" Ucap Mala lagi


"My boy" Panggil Mala lagi


Mendengar suara Mala yang seperti manja membuatnya tersadar"Iya sayang. Kamu panggil aku. Kenapa sayang?"Tanya Bima lembut


"Tau ah. Kamu dari tadi aku gak di dengerin" Seru Mala sambil memanyunkan bibirnya


Melihat Mala seperti itu membuat Bima semakin mendekat lalu memeluknya lembut"Maaf ya sayang. Tadi aku tidak dengar. Ada apa sayang?" Tanya Bima sambil menatap Mala


"Tau ah. Aku sudah tidak mood. Lebih baik kita kembali ke penginapan"


Setelah mengatakan hal itu, Mala langsung berlalu dari hadapan Bima. Sedangkan Bima yang melihat Mala cemberut hanya bisa mengambil nafas panjang.


"Sepertinya akan ada perang dunia kedua nih" Goda Leon pada Bima


"Berisik!" Jawab Bima pada Leon


"Kejar tuh ibu negara. Nanti ngamuk" Ujar Leon sambil mengulum bibir menahan tawa saat melihat raut wajah Bima seperti itu.


"Masalah nanti. Ya apa kata nanti bapak negara. Haha"


Leon menatap Bima sambil terus mengulum bibir karna melihat tingkah Bima. Ternyata Bima sudah benar-benar bucin.


Bima mengejar Mala yang sudah terlihat semakin menjauh. Pria itu berjalan setengah berlari agar bisa segera tiba di dekat Mala.


"Sayang. Tunggu, Jangan ngambek seperti itu dong sayang. Aku tadi benar-benar tidak dengar sayang. Maafkan aku. Tolong jangan ngambek ya sayang" Seru Bima sambil mengejar Mala


Wanita itu mengangkat kedua sudut bibirnya saat menyadari Bima sedang berusaha mengejarnya yang saat ini pura-pura ngambek.


"Sayang. Jangan seperti ini dong sayang"


Ketika melihat Mala tak menggubris perkataannya, Tiba-tiba saja satu akan muncul begitu saja dalam benak Bima. Pria itu ingin melihat seperti apa reaksi yang akan Mala berikan saat Bima melakukan aoa yang baru saja terbesit.


Bima pura-pura pingsan. Dan terjatuh tidak terlalu jauh dari posisi Mala. Sedangkan Mala yang sudah tidak melihat adanya bayangan di belakang tubuhnya seketika langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang.


Betapa terkejutnya Mala saat melihat Bima sudah terbaring di belakang. Melihat itu membuat Mala berlari ke arah Bima dengan wajah yang tiba-tiba saja berubah menjadi panik.


"My boy. Bangun my boy. My boy bangun. Aku mohon bangun my boy" Ucap Mala sambil membawa Bima dalam pangkuannya.


Tiba-tiba wanita itu teringat akan ucapan Leon yang mengatakan jika Bima tidak boleh terlalu kelelahan. Karna hal itu dapat menyebabkan tubuh Bima drop.


"My boy. Aku mohon bangun. Maafkan aku yang melupakan satu hal. Aku lupa kalau kamu tidak boleh kelelahan. Aku benar-benar minta maaf my boy. Aku tidak bermaksud melakukan hal itu. My voy bangun"Seru Mala lagi


Bima masih enggan untuk membuka kedua matanya. Pria itu ingin mendengar apa yang akan Mala katakan saat melihat Bima terbaring lemah seperti itu.


"Aku mohon jangan bikin aku takut my boy. Aku belum siap menjadi janda karna kehilangan kamu. Aku mohon my boy" Ucap Mala lagi


Mala terus menatap Bima yang masih terus setia menutup Matanya. Tanpa Bima sadari, Dia sudah mengangkat kedua sudut bibirnya hingga menunjukkan senyum tipisnya.


Mala yang melihat itu seketika langsung tau jika Bima hanyalah pura-pura saja. "Oooh jadi Bima hanya pura-pura. Baiklah. Aku akan mengerjai dia balik" Ujar Mala dalam batinnya


Tak berselang lama. Mala mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat pada Leon. Wanita itu meminta bantuan Leon untuk membalas apa yang saat ini Bima lakukan.


Mala masih menatap Bima dengan tatapan yang tak menentu. Wanita itu mengatakan sesuatu yang langsung mampu membuat Bima membuka kedua matanya.


Di Tempat Lain


Dttt Dttttt Dtttt


Leon yang mendengar ponselnya berdering langsung melepaskan genggaman tangannya pada Rani. Pria itu membuka sebuah pesan yang ternyata dari Mala.


"Sebentar sayang. Sepertinya ada pesan masuk" Seru Leon sambil melepaskan genggaman tangan mereka.


Setelah membaca isi pesan dari Mala membuat Leon langsung mengulum bibir. "Kenapa kak. Kok kamu senyum-senyum seperti itu. Memangnya pesan dari siapa?" Tanya Rani yang langsung penasaran setelah melihat raut wajah Leon


Leon tak menjawab. Pria itu hanya langsung memperlihatkan pesan yabg baru saja dia baca. Pesan yang sudah membuatnya mengulum bibir menahan tawa.


[ Leon. Tolong bantu aku. Disini Bima sedang mengerjaiku dengan pura-pura pingsan. Aku ingin membalas apa yang saat ini dia lakukan. Tapi aku membutuhkan bantuan mu. Posisiku tidak terlalu jauh dari tempat tadi. Aku tunggu ]


Setelah membaca isi pesan itu membuat Rani mengerutkan keningnya. Wanita itu masih tidak terlalu paham dengan isi pesan Mala. Yang Rani pahami hanyalah karna Leon adalah dokter pribadi Bima. Wanita itu mengira Mala membutuhkan bantuan Leon dalam hal medis.


Tapi ternyata rencana Mala bukan itu. Tapi entah kenapa Leon langsung mengerti bagaimana maksud Mala.


"Aku kesana ya sayang. Ayo kita bantuin Mala" Seru Leon sambil menarik tangan Rani


Rani yang melihat raut wajah Leon yang menahan tawa tentu saja menjadi semakin penasaran. Kenapa Leon terlihat menahan tawa saat mendengar jika sahabatnya sedang pura-pura pingsan. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Leon.


Pertanyaan itu sempat terbesit. Namun Rani mengurungkan untuk bertanya. Karna dia tidak mau di anggap kepo.


Tak berselang lama. Leon dan Rani sudah sampai di tempat Mala dan Bima. Mala yang melihat kedatangan Leon langsung memberikan isyarat.


Melihat Mala memberikan sebuah isyarat membuat Leon meminta Rani untuk menunggu di posisinya saat ini.


"Sayang. Kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku mau membantu Mala sebentar" Ucap Leon sambil menatap Rani


"Kenapa kita tidak bantu bersama kak? Bukankah kita kalau bawa kak Bima bersama akan lebih mudah"


"Kamu tunggu saja di sini sebentar ya. Nanti kamu akan tau apa yang aku dan Mala rencanakan. Oke sayang" Ucap Leon lembut


Mendengar perkataan Leon membuat Rani hanya mengangguk. Wanita itu hanya memperhatikan Mala dan Leon dari jarak yang cukup Jauh.


Leon berlari agar bisa segera tiba di tempat Bima dan Mala. Kemudian pria itu memberikan kode pada Mala dan langsung dipahami oleh Mala.


"Wih ada calon istri masa depan disini. Mala kita lebih baik jalan-jalan yuk. Biarin saja Bima yang pingsan disini" Ucap Leon sambil mengulum Bibir