Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Bagaimana caranya


"Diam Lah. Aku hanya ingin membantumu"


Setelah itu. Nadia mengalungkan kedua tangannya pada leher Devan. Nadia menatap wajah Devan yang terlihat sangat tampan di matanya"Tampan" Ucap Nadia tanpa sadar


Sedetik kemudian wanita itu membulatkan kedua matanya saat menyadari apa yang baru saja dia katakan"Astaga. Apa yang sudah aku katakan.Nanti yang ada Devan besar kepala" Nadia bermonolog dalam batinnya


Sedangkan Devan yang mendengar itu tentu saja mengerutkan keningnya. Apa dia tidak sedang salah dengar. Nadia mengatakannya tampan.


"Apa kau bilang, Aku tampan? Ayolah, Kenapa kau baru menyadari hal itu sekarang. Bukankah aku memang sudah tampan sejak kemarin-kemarin"Ucap Devan sambil menata Nadia


Nadia menjadi malu seketika karna ternyata Devan mendengar apa yang baru saja dia katakan"Tidak, Kapan aku mengatakan kamu tampan? Kamu salah dengar paling" Elaknya sambil memalingkan wajahnya ke lain arah


"Salah dengar, Tidak mungkin aku salah dengar, Orang kamu ngomongnya sangat jelas"


"Masa iya, Tapi aku tida merasa mengatakan kamu tampan" Ucap Nadia lagi yang masih terus mengelak


"Bilang aja kalau memang kamu mengatakan aku tampan, Kenyataannya memang seperti itu kan"


"Kepedean kamu tuh"


"Kenapa mukanya merah gitu. Malu ya karna ketahuan muji aku" Ucap Devan sambil menatap wajah Nadia yang memerah


"Nggak. Jangan ngarang. Mana ada wajah aku merah"


Di Tempat Lain


Bima dan Mala sudah sampai di penginapan. Mereka berdua masuk dan meminta semua anggota black flowers juga asisten rumah tangga kakek Lustama untuk pergi makan di luar.


"Terimakasih sudah jagain Langit dama Bintang dan baik-baik saja sampai aku kembali. Sekarang kalian makan atau jalan-jalan terserah" Ucap Bima pada mereka samua


"Baik tuan muda. Terimakasih" Jawab Mereka dan langsung keluar dari sana.


"Kalau begitu saya permisi tuan. Jika membutuhkan bantuan bisa langsung hubungi saya" Ucap Reno sopan


"Iya Reno, Terimakasih ya. Ini buat kamu dan yang lain. Silahkan bersenang-senang. Tapi jangan sampai kembali melebihi jam 23:00 malam" Seru Bima sambil memberikan beberapa lembar uang merah pada Reno


"Baik tuan, Terimakasih. Akan saya pastikan itu. Permisi"


Setelah kepergian Reno, Bima mendekat pada Mala yang sedang memperhatikan kedua anaknya. Tiba-tiba saja dia teringat akan pertanyaan Devan saat di pantai tadi.


"Maafkan aku mas, Bukannya aku mau memisahkan kamu dengan mereka, Tapi aku punya alasan kenapa tidak ingin kamu mengetahui tentang hal ini sekarang. Tapi aku janji. Suatu saat nanti, Aku akan memberi tahu kamu kalau sudah tiba waktu yang tepat. Aku benar-benar minta maaf. Awalnya aku sudah mau memberitahu kami tentang semua ini. Tapi karna kamu sudah menyembunyikan mereka membuat aku tidak yakin jika kamu tidak akan mengambil mereka dariku" Mala bermonolog dalam batinnya sambil menatap kedua bayi itu


Bima yang melihat Mala mematung di sana tentu saja membuat Bima mengerutkan keningnya"Sayang. Are you oke?" Tanya Bima sambil menepuk punggung Mala lembut


Namun Mala masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Wanita itu tidak menggubris suara Bima yang saat ini sedang berdiri tepat di samping tubuhnya.


"Maafkan momy ayang, Bukannya momy mau memisahkan kalian dari ayah kandung kalian, Tapi untuk saat ini, Memang ini lah yang terbaik. Tapi mami janji, Suatu saat nanti akan mengatakan kebenarannya kalau waktunya sudah tepat" Lagi lagi Mala hanya bermonolog dalam batinnya sambil terus menatap kedua anaknya yang sedang tertidur lelap dan terlihat begitu damai.


"Sayang. Kamu baik-baik saja kan? Kenapa diem saja" Tanya Bima lembut sambil membalikkan tubuh Mala


"Iya my. Kamu ngomong apa tadi?"


Bima mengambil nafas pelan"Are you oke? Kenapa aku perhatiin kamu ngeliat mereka seperti itu. Ada apa sayang? Ayo cerita sama aku"Ucap Bima sangat lembut


Siapa sangka keturunan Mafia seperti Bima bisa memperlakukan wanita dengan sangat baik. Mungkin di Aussie Bima terkenal dengan kekejamannya. Tapi tidak ada satu orangpun yang tau, Jika Bima adalah pria lembut dan penuh dengan perhatian.


Pria itu memang sering berlaku kasar terhadap orang yang sudah berusaha mengusik kehidupan keluarganya. Bahkan, Sudah tidak jarang Bima menghilangkan nyawa mereka. Termasuk ayah dari Hanum. Pria yang sudah bekerja sama dengan Lendri untuk menghancurkan keluarga Sunder.


Siapapun yang berusaha mengganggu keluarga Bima, Maka bersiaplah untuk di jadikan sasaran kemarahannya oleh pria itu.


"Sayang. Ayolah katakan padaku. Ada apa?" Tanya Bima lagi pada Mala


Mala tak langsung menjawab. Wanita itu hanya menatap Bima dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. "Aku takut my boy" Gumamnya Lirih


Bima yang mendengar perkataan Mala tentu saja langsung mengerutkan keningnya. Takut? Memangnya apa yang sedang Mala takutkan.


"Kamu takut? Takut kenapa sayang, Coba cerita yang jelas. Ada apa?"


Mala masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Bima. Soal pertemuannya dengan Deva di pantai saat gempa tadi. "Tidak ada my boy. Aku hanya takut kehilangan mereka berdua. Aku takut kejadian waktu itu terulang kembali" Ucap Mala berbohong


Mendengar itu membuat Bima memeluk Mala dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidangnya"Tenanglah sayang. Selama ada aku, Semua akan baik-baik saja. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mengambil mereka dari kita" Ucap Bima sambil membelai lembut rambut Mala.


"Terimakasih my boy. Terimakasih atas apa yang sudah kamu lakukan untukku. Terimakasih atas semua pengorbananmu"


"Tidak perlu mengatakan seperti itu sayang. Ini sudah menjadi tugasku untuk melakukan semua itu. Sebagai seorang suami, Aku memang di haruskan untuk mengorbankan apa yang seharusnya aku korbankan untuk kalian"


"Pokoknya terimakasih ya my boy" Ucap Mala lagi


Di Tempat Lain


"Sifa. Kenapa sejak tadi aku perhatiin kamu diam saja. Apa yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Wilson pada Sifa yang sejak tadi memang lebih banyak diam


Mendengar pertanyaan Wilson membuat Sifa menoleh ke arahnya"Entahlah mas. Wanita tadi siang benar benar mengganggu pikiranku, Aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk mas" Ucap Sifa sambil menatap Wilson


Wilson meletakkan sendok juga garpunya. Pria itu menggenggam tangan Sifa lembut"Percayalah, Tidak akan ada yang terjadi. Kamu harus yakin jika Albima yang dia maksud adalah Albima lain. Bukankah nama boleh sama" Seru Wilson sambil menatap Sifa


"Memang mas, Tapi aku benar-benar takut mas. Aku takut jika Albima yang Bima maksud adalah kak Bima" Ucap Sifa yang terdengar sendu


"Sudah. Jangan terlalu di pikirkan. Bukankah kita ke sini untuk Refreshing. Sudah jangan terlalu di pikirkan, Ayo cepat di makan makanannya, Nanti dingin malah tidak enak"


"Iya mas"


Saat ini Sifa dan Wilson memang sedang makan di salah satu cafe di sana. Namun sejak tadi Sifa hanya mengaduk makanannya tanpa mau memakannya. Perkataan wanita yang dia temui siang tadi selalu terngiang pada indra pendengarannya.


Aku akan membalas apa yang sudah kamu lakukan pada keluargaku Albima


Kata-kata itu selalu terganggu pada indra pendengaran Sifa. Sifa benar-benat takut jika dia benar-benar akan melakukan hal yang tak di inginkan pada Bima.


"Semoga apa yang aku takutkan tidak pernah terjadi" Ucap Sifa dalam batinnya


Meninggalkan Sifa dan Wilson. Saat ini Leon dan Rani sedang duduk di pinggir pantai sambil makan jagung bakar.


"Sayang. Kamu harus cobain punya aku. Ini tuh rasanya enak banget sayang" Ucap Leon pada Rani


Rani mengangkat kedua sudut bibirnya. Leon ini ada ada saja. Yang namanya jagung bakar, Rasanya ya sama saja. Tidak ada yang beda.


"Memangnya rasanya beda ya kak? Bukannya kalau jagung bakar rasanya sama saja" Ujar Rani sambil menatap Leon


"Beda sayang, Punyaku kayak ada rasa dagingnya. Cobain deh"


"Kakak ada-ada saja. Mana ada jagung ada rasa dagingnya" Ucap Rani sambil terkekeh


"Sayang" Panggil Leon sambil menoleh pada Rani


"Iya kak, Kenapa?"


"Aku bahagia banget. Akhirnya aku sudah tidak jomblo lagi. Terimakasih sudah mau memberikan aku kesempatan untuk menjadi bagian dalam hidupmu"


"Sama-sama kak. Aku juga bahagia bisa menjadi pemilik hatinya kak Leon"


Setelah itu, Leon tidur pada pangkuan Rani sambil melihat ribuan bintang yang bertaburan di atas langit. "Bintangnya indah ya kak" Ucap Rano sambil membelai rambut Leon


"Iya sayang, Seperti kamu yang selalu terlihat indah di mata aku" Jawabnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Kakak gombal deh"


***


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 00:00. Namun Mala masih terjaga. Wanita itu sangat susah untuk sekedar memejamkan kedua matanya, Perkataan Devan selalu saja mengganggu di kepalanya.


Mala menoleh ke arah samping, Ternyata Bima sudah tidur dan terlihat sangat nyenyak. Mala menatap Bima yang terlihat sangatlah tampan.


"Maafkan aku yang sudah tidak jujur Bim, Maafkan aku" Ucap Mala sambil membelai wajah Bima lembut.


Kemudian Mala mencium pipi kiri Bima dengan penuh cinta. Tanpa Mala sadari, Ternyata dia sudah begitu mencintai sosok laki-laki yang sudah banyak berkorban untuknya.


"Aku benar benar sudah mencintaimu Bim. Tidak bisa aku bayangkan bagaimana hidupku tanpa kamu, Cintaku sudah mendarah daging" Ucap Mala sambil terus menatap Bima.


Setelah itu, Mala keluar dari dalam kamarnya untuk mencari angin. Mala berjalan ke arah pantai dan duduk merenung di sana.


Di Dalam kamar Devan


Setelah memastikan Nadia sudah benar-benar tidur, Devan keluar dari dalam kamarnya. Pria itu sama sekali tidak bisa tertidur saat semua perkataan Bima berhasil mengganggu pikirannya.


Jangan cintai istri Bima kak. Dia sudah menjadi milik Bima. Lupakan istri Bima kak!


Kata-kata itu selalu terngiang jelas pada indra pendengarannya, Devan keluar untuk mencari ketenangan dan berharap bisa melupakan apa yang sudah Bima katakan.


Devan jalan ke pantai dan bermain air di sana."Aaaaaaa.. Bagaimana caranya agar aku bisa membuang rasa ini"