
Setelah memutuskan sambungan telfonnya. wijaya kembali melajukan mobilnya, kira-kira siapa yang sudah di hubungi oleh pria paruh baya itu ya.
Di rumah sakit BERLIAN saat ini rendi sedang menyusuri lorong rumah sakit sambil sesekali melihat ponselnya yang terdapat pesan masuk dari dokter sifa.
" Dokter sifa "
[ Rendi, nanti jam makan siang temui aku di taman belakang ]
" Rendi grahama "
[ Oke ] send. pesan itu langsung centang dua dan biru saat itu juga.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 11:30, Rendi mendatangi taman belakang rumah sakit sesuai perjanjiannya dengan sifa. dan ternyata di taman belakang sudah dokter sifa yang menunggu di sana.
Melihat ke datangan rendi, ada rasa bahagia yang terpancar dari raut wajah dokter muda itu, " Ada apa dokter sifa?" ucap rendi sopan
" Tidak ada apa-apa dokter rendi. saya hanya ingin mengajakmu makan bersama, kebetulan saya sudah menyiapkan makanannya, ini masakan saya sendiri loh dokter"
Sifa mengeluarkan dua kotak yang berisi makanan dari dalam paperbag yang iya bawa, " Ini dokter. silahkan dimakan, semoga suka ya dokter" ucap sifa lembut
Rendi tak menjawab, pria itu hanya memberi satu anggukan saja sambil membuka kotak yang di berikan oleh dokter sifa, " Ayam saus lada hitam" ucap rendi sambil menyuapkan makanan itu pada mulutnya
" Iya dokter. semoga dokter rendi menyukainya ya"
" Enak" ucap rendi sambil menikmati ayah saus lada hitam itu"
Mendengar pujian yang keluar dari mulut rendi. tentu saja membuat dokter sifa mengukir senyum bahagia, pasalnya dia batu saja mendapatkan sebuah pujian dari orang yang spesial dalam hatinya. rendi sudah menjadi seseorang yang spesial buat dokter muda itu.
Setelah selesai sarapan. rendi pamit terlebih dahulu pada sifa, karna memang rendi mendapatkan pesan jika sudah ada pasien yang menunggu, " Maaf dokter sifa, saya duluan ya. sudah ada temu janji dengan pasien" ucap rendi dan langsung bangkit dari duduknya. pria itu mulai melangkahkan kakinya keluar dari taman itu. namun langkahnya terhenti saat suara lembut sifa kembali memanggilnya" Iya ada apa dokter sifa?"
" Terimakasih untuk waktunya dokter" pekik sifa sambil menundukkan kepalanya. " Terimakasih juga atas makanannya dokter, saya menyukainya" balas rendi dan langsung melanjutkan langkahnya kembali.
Setelah rendi selesai memeriksa dua pasien yang sudah menunggunya. entah kenapa dokter muda itu tiba-tiba kepikiran dengan ucapan adelia tempo hari, " Apa benar anak yang di kandungnya adalah anakku. darah dagingku" ucapnya dalam kesendiriannya.
Pertanyaan seperti itu selalu terbesit dalam benak rendi.dan itu menjadi salah satu alasan rendi tidak memperjelas hubungannya dengan dokter sifa.
Tanpa terasa siang berganti sore, dan jam kerja dokter sifa juga sudah selesai, wanita muda itu memutuskan untuk tidak pulang ke kontrakannya, melainkan ke kediaman sang kakek. karna memang semenjak hari itu sifa tidak datang menemui kakeknya, dia mulai menghawatirkan kakeknya yang hanya tinggal seorang diri, ada rasa bersalah dari dalam hatinya sudah menyalahkan sang kakek dalam hal ini. padahal sifa sendiri tau jika ini semua adalah yang terbaik untuknya,
Kakek lustama benar-benar menjaga sifa dengan sangat baik, hingga anak itu tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat baik berkat bantuan sunder dan istrinya.
Sebelum pulang, sifa mengambil ponselnya di dalam tasnya. entah siapa yang akan dia hubungi.
Tut......tut.... Telpon pun berdering, hingga tak lama terdengar lembut seseorang dari ujung telpon, seseorang yang selama ini sudah menjadi kakaknya, menjadi tempatnya berlindung sebagai ganti kakak laki-lakinya. dia adalah albima sunder, saudara sepupu yang sudah seperti kakaknya sendiri.
[ Halo kak bima, bagaimana kabar kak bima juga mami dan papi? ]
[ Yang bener kak bima mau ke indonesia? Kapan?]
[ ••••••••••••••• ]
[ Aku tunggu di rumahnya kakek ya kak. See you ]
Setelah mengatakan hal itu, sifa memutus sambungan telponnya, senyumnya merekah dari kedua sudut bibirnya. Sifa dan bima memang sangat dekat semenjak 15 tahun yang lalu. Setelah sifa di asuh oleh kedua orang tuanya. dari saat itu juga sifa menjadi adik perempuannya. bahkan sunder dan lina tidak pernah membedakan antara bima dan sifa. Mereka berdua sama-sama mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama.
1 jam kemudian sifa sudah tiba di kediaman kakek lustama, wanita itu memperhatikan sang kakek yang sedang berdiam diri di kursi dekat kolam renang. ada kesedihan yang mendalam dari raut wajah pria tua itu. sifa mendekat ke arah sang kakek, " Kakek " ucap sifa lembut
Mendengar suara lembut cucunya membuat kakek lustama membalikkan tubuhnya, sudut bibirnya sedikit terangkat. " Akhirnya kamu datang sayang, kakek sangat merindukanmu" titah kakek lustama sambil memeluk tubuh sang cucu.
" Maafkan sifa kek, tidak seharusnya sifa menyalahkan kakek seperti itu. maafkan sifa, sifa tau jika yang kakek lakukan demi kebaikan sifa" ucap sifa sambil membalas pelukan kakek lustama.
" Tidak sayang, kakek memang salah, ini semua memang kesalahan kakek, karna kakek kamu kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuamu"
" Tidak kek, biarpun sifa tidak mendapatkan kasih sayang dari papa dan mama, tapi sifa mendapatkan kasih sayang dari papi, mami juga kak bima, mereka bertiga sangat menyayangi sifa seperti anak sendiri"
" Suatu hari nanti, kakek janji akan mengatakan hal yang sebenarnya pada kedua orang tuamu, tunggu hingga masa itu tiba ya sayang"
Sifa tak menjawab. wanita itu hanya mengangguk patuh dengan ucapan yang terlontar dari sang kakek, tanpa mereka sadari ternyata dari tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua, bahkan orang itu sudah mengambil beberapa gambar tuan lustama dengan cucunya.
" Malam ini kami nginep disini kan sifa?"
" Iya kek, sifa akan menginap disini sampai kak bima datang."
" Kok kamu tau kalau bima akan datang?"
" Iya kek, tadi sifa habis telfon kak bima, dan katanya tiga hari lagi kak bima mau datang ke sini"
Mendengar penuturan sifa, membuat kakek lustama kembali mengukir senyum bahagia. akhirnya pria tua itu bisa tinggal bersama cucunya lagi, walaupun hanya dalam beberapa hari saja.
Setelah merasa cukup, orang itu mengirimkan semua gambar yang iya dapat pada orang yang sudah menyuruhnya.
Kling...kling...kling...
ponsel wijaya berdering, ada beberapa pesan masuk dari orang yang iya suruh tadi pagi,
[ Saya sudah mengintai kediaman tuan lustama sesuai perintah yang di berikan tuan, dan ternyata tak lama setelah saya mengintai di sana, ada seorang perempuan yang menggunakan pakaian dokter datang dan memeluk tuan lustama, dan sepertinya mereka sangatlah dekat. saya akan mengirimkan gambar kebersamaan mereka ]
Setelah wijaya melihat pesan gambar yang dikirim oleh orang suruhannya, kedua mata wijaya membulat sempurnya, " I..ini kan"