
Tanpa terasa hari sudah semakin sore. Namun sampai detik ini belum ada tanda-tanda keberadaan Bima ada di mana.
Sudah setiap sudut sungai di periksa oleh anggota black flower. Namun mereka masih belum juga bisa menemukan dimana keberadaan Bima.
"Bagaimana, Apa kalian menemukan petunjuk tentang keberadaan Bima?" Tanya Sunder pada mereka semua
"Belum tuan. Semua anggota sudah menelusuri setiap sudut sungai hingga ujung. Namun sama sekali kami tidak bisa menemukan dimana keberadaan tuan muda. Tidak ada sedikitpun petunjuk" Jawab Alex
Karna hari sudah semakin gelap. Para tim sar akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencarian dan akan di lanjutkan kembali hari esok. Di samping itu hujan tiba-tiba saja datang tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
"Bagaimana tuan. Apa pencariannya tetap kita lanjutkan?"
"Kita hentikan saja, Kalian semua pulang lalu istirahat dan memulihkan tenaga untuk pencarian besok pagi"
"Baik tuan"
Setelah itu, Alex memberitahu kepada yang lain jika Sunder meminta mereka untuk kembali terlebih dahulu, Karna hujan yang semakin deras sehingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan pencarian.
"Kalau begitu kami pamit tuan" Ucap Alex sebelum undur diri dari sana
Sunder menatap sungai dengan arus yang semakin besar, Apalagi di tambah hujan yang begitu deras. Rasa takut Sunder semakin menjadi. Pria paruh baya itu begitu mengkhawatirkan keadaan Bima yang entah ada dimana saat ini.
"Di mana kamu Bim. kenapa semua ini harua terjadi" Ucap Sunder yang terdengar begitu lirih
Karna hujan sudah semakin deras. Mau tidak mau Wijaya dan Devan membawa Sunder pergi dari tempat itu. Biarpun dengan langkah berat, Akhirnya Sunder mau mendengarkan apa yang sudah Wijaya katakan padanya.
"Sebaiknya kita pulang dulu Kak. Hari sudah semakin gelap serta hujan juga semakin reda. Kalau kamu terus-terusan disini. Yang ada nanti kamu malah sakit dan tidak bisa ikut mencari keberadaan Bima" Ucap Wijaya yang mencoba membujuk kakaknya
"Baiklah" Ucap Sunder dan langsung pergi dari sungai itu
•
•
•
Tanpa terasa jam terus berputar. Hari sudah berganti hari. Sudah 2 hari melakukan pencarian, Namun hingga detik ini Bima belum juga bisa di temukan.
Bima benar-benar menghilang. Yang Wijaya takutkan adalah, Bima dibawa arus sungai hingga ke pantai!
Sudah seperti biasa, Jika pak Hendra akan pergi memancing malam bersama dengan partner kerjanya yang bernama Darwin. Mereka berdua sudah biasa mancing di tengah malam seperti ini setiap kali memenangkan tender besar.
"Pak Hendra, Apa bapak sudah mendapatkan ikan?" Tanya Darwin pada pak Hendra
"Belum Win. Malam ini ikan-ikan tidak pad lapar paling ya. Dari tadi tidak ada satu ikan pun yang mau di pancing" Jawab pak Hendra pada Darwin.
Di saat pak Hendra dan Darwin masih memikirkan bagaimana caranya agar mancing malam ini mendapatkan banyak ikan. Tiba-tiba mereka merasa perahunya sedikit oleng.
"Kenapa nih pak perahunya?" Ucap Darwin yang menyadari
"Palingan juga karna angin. Sudah lanjut lagi mancingnya" Ucap pak Hendra
"Tunggu deh pak. Pak Hendra dengar suara minta tolong gak?"
"Mana ada suara minta tolong. Kamu salah dengar kali Win. Sudah mancing lagi"
Ada rasa takut yang terbesit Dalam benak pak Darwin. Pasalnya malam ini mereka hanya memancing berdua. Teman-teman yang lain sedang ada urusan masing-masing.
"Tolong"
Lagi-lagi Darwin mendengar suara orang minta tolong yang terdengar dari perahu yang mereka gunakan. Hal itu berhasil membuat bulu kuduk Darwin berdiri. Merinding tiba-tiba setelah mendengar suara orang minta tolong.
"Aduuuuh, Kenapa malam ini jadi horor begini ya" Ucap Darwin sambil mengusap leher belakangnya
"Horor bagaimana sih Win. Kamu jangan nakut-nakutin" Ucap pak Hendra pada Darwin.
Setelah itu, Darwin memutuskan untuk melakukan pengecekan pada setiap sudut kapal yang saat ini dia gunakan.
Bagian depan aman, Tidak ada apa-apa di sana. Bagian kanan kiri juga masih aman. Sekarang bagian belakang yang harus Darwin periksa.
Saat senter yang Darwin bawa di arahkan ke bagian belakang, Betapa terkejutnya saat melihat ada tangan yang memegang kuat pada kapal. bagian belakangnya.
"Astagfirullah" Ucap Darwin saat melihat ada sosok pria yang berpegangan kuat pada kapal belakangnya.
"Ya allah, Ternyata suara yang tadi aku dengar bukanlah suara dedemit. Tapi memang benar-benar ada orang yang sedang membutuhkan pertolongan" Ucapnya sambil berusaha mengangkat tubuh orang itu
"Ada siapa di sana Win?" Tanya pak Hendra yang masih asik memancing
"Tolong pak Hendra. Disini ada orang" Teriak Darwin panik
Mendengar ucapan Darwin membuat pak Hendra langsung meletakkan pancingnya dan berjalan ke arah Darwin yang ada di bagian belakang kapal.
"Astagfirullah. Ini kan tuan muda Sunder" Ucap pak Hendra setelah melihat wajah orang itu
"Benarkah, Pantas saja tadi aku merasa tidak asing dengan wajahnya. ternyata dia anak dari penguasa mafia itu ya pak?" Tanya Darwin
"Iya. Lebih baik kita bawa dia ke rumah saya" Ucap Pak Hendra lagi
Setelah itu, Darwin membalikkan kapalnya dan membawanya ke pinggiran pantai. Mancing malam ini tidak mendapatkan apa-apa kecuali manusia.
20 Menit kemudian, Kapal pak Hendra sudah tiba di pinggir pantai. Dengan cepat pak Hendra juga Darwin turun dari kapal itu dan membawa tubuh Bima ke dalam mobil miliknya.
Pria yang di temukan oleh pak Hendra adalah Bima. Albima Sunder. Seorang pria tampan yang memiliki sejuta pesona yang sudah hilang sejak 2 hari yang lalu.
30 Menit kemudian. Pak Hendra sudah tiba di rumahnya yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai
Tok....tok...tok...
"Nina, Damar. Tolong buka pintunya" Teriak pak Hendra yang memanggil kedua anaknya
Tak butuh waktu lama pintu rumahnya langsung terbuka lebar dan keluarlah kedua anak pak Hendra yang bernama Nina dan Damar.
Bapak Hendra memang hanya tinggal bersama kedua anaknya. Karna istrinya sudah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu karna sakit keras. Sedangkan pembantu di rumah itu hanya bisa kerja dari pagi hingga sore.
"Astaga. Siapa dia pa?" Tanya Nina yang begitu terkejut karna sang papa pulang membawa orang asing ke rumah mereka
"Ceritanya panjang. Nanti akan papa ceritakan pada kalian berdua.Sekarang bantu papa bawa orang ini masuk ke dalam" Ucap pak Hendra pada mereka
Bapak Hendra membaringkan tubuh Bima di dalam kamar Tamu. Pria paruh baya itu juga sudah mengganti pakaian Bima dengan pakaian milik Damar. Karna selain basah. Pakaian Bima juga sudah tidak layak di pakai. Ada cukup banyak sobekan di beberapa bagian.
"Pa, Sebenarnya dia itu siapa pa?" Tanya Nina yang begitu penasaran
Pak Hendra tak langsung menjawab. Pria paruh baya itu masih melirik ke arah Nina yang saat ini sedang duduk tak jauh dari tempatnya.
"Papa dan Darwin menemukan dia di perahu belakang milik papa saat kami sedang memancing"
"Apa! Jadi papa dan mas Darwin menemukan dia sedang berpegangan pada kapal?"
"Terus pa, Bagaimana lagi ceritanya" Ujar Nina yang meminta kelanjutan cerita
"Ya singkat cerita akhirnya papa memutuskan untuk membawanya kemari. Sudah lebih baik kalian tidur, Orang itu juga masih belum sadar. Ini sudah malam"
"Iya pa" Jawab mereka secara bersamaan.
Tanpa terasa malam sudah berlalu. Pak Hendra sedang pergi keluar rumah. Sedangkan Darwin langsung pulang setelah memastikan keadaan Tuan muda Sunder baik-baik saja. Saat ini hanya ada Nina dan Damar yang menunggu Bima di dalam kamar tamu.
"Ya ampun, Kenapa wajahnya tampan sekali. Apa dia dikirimkan untuk menjadi jodohku" Ucap Nina sambil memandang wajah Bima
Melihat ada sebuah dompet di samping Bima membuat rasa penasaran Nina semakin menjadi. Wanita itu mengambil dompet Bima dan langsung membukanya.
Nina mengambil sebuah kartu nama yang langsung mampu membuatnya geleng-geleng kepala.
"Astaga. Ternyata dia adalah CEO dari SUNDER CORP" Ucap Nina sambil melirik ke arah Bima yang masih belum juga sadarkan diri hingga saat ini.
"Apa yang kak Nina lakukan?" Tanya Damar yang baru kembali dari belakang
Mendengar suara Damar membuat Nina menyembunyikan apa yang baru saja dia lihat. Damar yang menyadari tingkah Nina langsung menaruh rasa curiga. Pasalnya kakak dia itu adalah orang yang super kepo terhadap milik orang lain.
"Apa yang kakak sembunyikan?"
"Gak ada. Memangnya mau menyembunyikan apa?" Ucap Nina berbohong dan berpura-pura seakan tidak apa-apa.
"Kak, Sekali lagi Damar tanya, Apa yang kakak sembunyikan!?"
"Gak ada Damar. Kakak hanya melihat sebuah kartu nama saja. Ternyata dia adalah CEO dari sebuah perusahaan terbesar di kota ini" Ucap Nina sambil menunjukkan sebuah kartu nama yang sudah dia ambil dari dalam dompet Bima.
"Albima Sunder. CEO SUNDER CORP. Astaga, Ternyata dia adalah Keturunan mafia itu kak."
"Iya, Dan kakak harus bisa mendapatkan dia" Ucap Nina dan langsung keluar dari dalam kamar Damar
"Kalau ngimpi jangan ketinggian, Jatuh itu sakit!"
"Yeeee. Terserah gue dong"
"Aku cuma ingetin kak Nina saja. Setau aku CEO SUNDER CORP itu sudah menikah. Jangan jadi bibit pelakor" Ucap Damar tanpa memikirkan perasaan kakaknya
"Itu mulut ngeselin banget ya. Gue kasih cabe baru tau lo. Di dukung kek niat kakaknya"
"Ogah aku bantuin niat gak baik" Jawab Damar dan berhasil membuat Nina merasa begitu kesal
"Dasar adik kurang ajar" Umpatnya
DI TEMPAT LAIN
Sudah 3 hari namun Mala belum juga sadar kan diri. Wanita itu masih begitu setiap memejamkan kedua matanya.
Selama 3 hari ini juga. Leon selalu memeriksa keadaan Mala. Sesekali pria itu menatap wajah damai Mala yang terlihat begitu cantik.
Tak lama kemudian. Jari jemari Mala bergerak. Wanita itu mengerjab untuk beberapa saat untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada indra penglihatannya.
"Alhamdulilah kamu sudah sadar" Ucap Leon pada Mala
"Bima mana?" Tanya Mala sambil memperhatikan sekitar ruangannya
"Bima dimana? Kenapa dia tidak ada disini. Aku di mana ini?"
Mendengar pertanyaan Bima membuat Leon cukup bingung. Apa yang harus dia jawab. Semua anggota keluarga Mala kebetulan sedang pamit pulang. Sehingga tidak ada satu orang pun yang menunggu di sana
"Dokter Leon. Bima dimana?" Tanya Mala lagi
"Bima ada. Kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu. Kondisi kamu masih sangat kurang baik" Ucap Leon lembut
Mala memegang kepalanya yang masih terasa berat. tiba-tiba wanita itu mengingat kejadian apa yang sudah dia alami sebelum ada di tempat ini.
"Sudah berapa hari aku di sini dokter?"
"Sudah 3 hari kami kritis Mala. Alhamdulilah akhirnya kamu sadar juga"
Mendengar kata 3 hari membuat Mala begitu terkejut. Wanita itu masih mengingat jelas apa yang sudah terjadi 3 hari yang lalu.
"Dokter Leon. Bima dimana? Dia baik-baik saja kan dokter. Bima selamat kan!"
"B....bima belum di temukan" Ucap Leon sambil menundukkan wajahnya.
"Apa!! Sampai saat ini Bima belum di temukan? Dokter pasti bercanda kan. Bima pasti selamat dan baik-baik saja kan dokter?" Tanya Mala sambil menahan air mata yang sudah menumpuk di kedua pelupuk matanya
"Jawab dokter Leon. Dokter hanya bercanda kan! Bima pasti baik-baik saja kan?"
"Saya tau ini berat Mala. Tapi memang itulah kenyataannya. Bima saat ini masih belum juga di temukan, Para tim sar juga anggota black flower sudah menelusuri sepanjang sungai. Tapi hingga saat ini tidak ada tanda-tanda dimana keberadaan Bima"
"Bima....Kamu dimana my boy. Hiks....hiks.."
Mala yang sejak tadi berusaha menahan tangis, Akhirnya pecah di kala mengetahui fakta tentang suaminya. Kedua anaknya belum di temukan, Sekarang Bima juga ikut menghilang.
Leon yang melihat itu langsung merasa begitu iba. Entah kenapa Leon merasa ingin sekali menenangkan Mala. Pria itu langsung membawa Mala dalam dekapannya begitu saja.
Melihat Mala seperti itu membuat dokter Leon seperti merasakan hal yang sama. Karna biar bagaimanapun, Leon juga pernah merasakan apa yang saat ini Mala rasakan.
"Menangis lah jika itu bisa membuatmu tenang" Ucap Leon sambil mengusap lembut rambut Mala
Mendengar kata-kata Leon yang begitu sama persis seperti kata-kata Bima membuat Mala semakin terisak. Suara Bima tiba-tiba saja terngiang jelas pada indra pendengarannya.
'Menangis lah jika itu bisa membuat hatimu tenang. Jangan pernah merasa sendiri. Ada aku yang akan selalu ada di sisimu'
Kata-kata itu kembali terngiang pada indra pendengaran Mala dan membuat tangisnya semakin pecah.