Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Siapa Reno sebenarnya


"Leon.. Leon" Panggil Mala panik saat melihat tubuh Bima tergeletak di atas lantai rumah sakit dengan wajah yang sangat pucat


"Leon" Panggil Mala lagi karna Leon tak kunjung datang


Leon yang mendengar namanya di panggil langsung bangun dan masuk ke dalam ruangan Bintang. Pria itu mempercepat langkah kakinya saat mendengar suara Mala yang begitu panik.


"Ada apa ya, Kok kak Mala teriak-teriak manggil kak Leon" Ucap Sifa pada Wilson


"Aku juga tidak tau. Lebih baik kita kesana saja" Pungkas Wilson sambil menarik tangan Sifa


Leon benar-benar langsung panik saat melihat Bima sudah tergeletak di atas lantai rumah sakit dengan wajah yang terlihat begitu pucat.


Melihat itu membuat Leon semakin mempercepat langkahnya"Astaga Bima" Pungkasnya dan langsung duduk di samping Bima


"Mala, Ada apa dengan Bima?" Tanya Leon panik sambil mencoba menepuk pipi Bima


"A...aku juga tidak tau Leon. Barusan dia masih baik-baik saja dan menenangkan aku yang tadi sedih"


"Astaga. Ini pasti karna Bima lupa tidak minum obat yang aku berikan. Wilson tolong bantu aku bawa Bima ke sofa itu" Ucap Leon sambil melirik pada Wilson


Wilson mengangguk dan langsung mengangkat tubuh Bima ke atas sofa si sana. Setelah itu, Leon menoleh pada Mala yang saat ini sedang mengekor di belakangnya.


Wajah Mala benar-benar terlihat sangat panik dan khawatir saat melihat Bima yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri.


"Apa kamu bisa hubungi seseorang untuk mengantarkan obat-obat Bima ke sini?" Tanya Leon pada Mala


"Aku tidak punya nomor mereka" Jawab Mala cepat


Mala memang tidak memiliki nomor telpon anak buah Bima. Karna selama ini, Mala tidak pernah ikut campur apa yang sedang Bima lakukan di luar. Wanita itu juga tidak tau perihal Bima yang ternyata seorang mafia besar yang cukup kejam.


Siapa sangka pria selembut dan setulus Bima bisa membunuh orang dengan cara yang begitu menyedihkan. Tapi hal itu hanya Bima lakukan terhadap mereka yang sudah dengan berani mengusik kehidupan pribadi keluarga Bima.


Jika sudah bersangkutan dengan keluarga, Bima yang lembut seketika bisa langsung menjadi sangat jahat. Karna trauma masalalu sudah benar-benar merubah Bima menjadi sosok yang sangat kejam.


Apalagi peristiwa yang sudah menewaskan mami kandungnya beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itulah Bima benar-benar berubah. Seperti singa tidur yang akan sangat marah jika ada seseorang yang mengusik tidur nyenyak nya.


"Coba kamu buka ponselnya Bima. Cari nomor nya Reno lalu minta dia untuk antarkan obat-obat itu ke sini" Ucap Leon sambil melirik Mala


Mala mengangguk dan dengan cepat langsung mengambil ponsel Bima untuk mencari nomor Reno. Tak butuh waktu lama, Wanita itu sudah langsung bisa menemukan nomor Reno yang memang masih terdaftar di panggilan keluar.


Melihat nama Reno yang tertera di sana membuat Mala dengan cepat menekan tombol panggil. Dan tak butuh waktu lama, Reno langsung menjawab panggilan itu.


πŸ“ž:Iya halo tuan. Ada yang bisa saya bantu?


πŸ“ž:Saya bukan Bima. Tapi istrinya. Tolong kamu ambilkan obat-obat Bima di kamar saya ya. Lalu kamu antarkan ke rumah sakit BERLIAN. Sekarang, Urgen


πŸ“ž:Baik nona. Saya langsung kesana


Setelah sambungan telponnya terputus. Reno langsung memutar haluan dan kembali ke penginapan. "Lah, Kok putar balik?" Tanya temannya pada Reno


"Kita harus kembali ke penginapan, Karna nona Mala meminta untuk mengantarkan obat-obat milik tuan muda" Ucapnya sambil terus fokus mengemudi


Mendengar itu membuat Andre mengerutkan keningnya"Maksudnya tuan muda kambuh di sana?" Tanya Andre penasaran


"Sepertinya begitu" Jawab Reno sambil terus melajukan mobilnya semakin cepat


Tak butuh waktu lama, Mobil yang Reno bawa sudah tiba di depan penginapan mereka. Reno turun dari mobilnya dan dengan langkah lebar dia masuk ke dalam kamar Mala juga Bima untuk mengambil obat yang sudah Mala minta.


"Bantu aku cari obatnya Dre" Ucap Reno pada Andra


"Hmm" Jawab Andre tanpa menoleh pada Reno


Reno dan juga Andre terus mencari obat Bima yang sudah di siapkan oleh Leon. Setelah cukup lama mencari, Akhirnya mereka bisa menemukan sebuah kotak obat yang Bima simpan di dalam tasnya.


Mendengar perkataan Andre membuat Reno menoleh cepat ke arahnya. "Sepertinya iya. Ayo cepat kita antar obat ini ke rumah sakit berlian" Ucap Reno dan langsung keluar dari sana


Di rumah sakit


"Bagaimana Leon?" Tanya Mala sama Leon


"Kita tunggu sampai Reno datang dan membawa obatnya"


Mala menatap wajah Bima yang terlihat semakin pucat"Aku mohon sadarlah Bim. Jangan seperti ini. Jangan buat aku merasakan takut seperti yang pernah aku rasakan beberapa hari yang lalu" Ucap Mala dalam batinnya


Melihat Bima seperti itu membuat Mala merasa dadanya sesak. Hingga tanpa sadar satu butir bening itu berhasil lolos begitu saja. Rasa takut yang pernah dia rasakan kini sudah kembali menyelimuti hatinya.


Tak berselang lama. Mega, Sindy dan juga Doni baru saja tiba di sana. Melihat Mala menjatuhkan air matanya membuat Mega mempercepat langkahnya"Ada apa?" Tanya Mega begitu penasaran.


Mendengar suara itu membuat Mala mengusap air matanya dan membalikkan tubuhnya"Mega, Kamu sudah sampai?" Tanya Mala dengan suara seraknya


"Iya, Kamu kenapa nangis?" Tanya Mega lembut


Mala tak menjawab. Wanita itu hanya melihat ke arah Bima yang saat ini masih belum membuka kedua matanya"Suami kamu kenapa Mala?" Tanya Mega lagi


"Dia tiba-tiba saja pingsan Meg. Sepertinya Bima melupakan obatnya"


"Obat? Memangnya suami kamu sakit?" Tanya Mega yang memang belum tau jika suami sari Mala sedang sakit gagal ginjal


"Iya. Bima sakit gagal ginjal. Dan kondisi ginjalnya sudah sangat parah. Tapi hingga saat ini masih belum ada ginjal yang cocok untuknya"Ucapnya yang terdengar sangat sendu


Setelah itu Mala mendekat dan menggenggam tangan Bima"Bangun Bim. Tolong jangan seperti ini, Tolong bangun Bim" Ucap Mala sendu


Tak lama kemudian, Pintu ruangan Bintang kembali terbuka. Ternyata itu adalah Reno yang baru saja tiba. Reno memang mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Hingga hanya memakan waktu 10 menit untuk tiba di rumah sakit berlian.


Leon langsung merasa sangat lega saat melihat kedatangan Reno di sana."Mana obatnya?" Tanya Leon


Reno hanya memberikan obat itu. Sejenak Reno menatap wajah Bima yang terlihat sangat pucat. Hingga satu hal terbesit dalam benaknya. "Apa aku harus mendonorkan ginjalku untuknya. Tapi untuk apa, Bukan kah melihatnya tiada adalah keinginanku. Melihat kehancurannya adalah keinginan terbesarku. Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu. Karna dia, Aku kehilangan kedua orang tuaku" Reno bermonolog dalam batinnya.


Sebenarnya ginjal Reno cocok untuk Bima. Namun pria itu tidak mau memberikan ginjalnya karna ingin melihat kematian Bima yang sudah dia tunggu sejak lama.


Rasanya sudah sangat lelah jika harus terus berpura-pura di depan mereka semua. Sudah lima tahun lamanya Reno harus terus menggunakan topengnya di depan semua orang.


Siapa Reno sebenarnya? Apa dia memiliki dendam tersendiri yang yang dia pendam untuk Bima. Entahlah, Hanya Reno yang tau semuanya.


Leon kembali memberikan minyak kayu putih untuk Bima, Dan membuatnya membuka kedua matanya. Bima mengerjab beberapa saat untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada indra penglihatannya.


Setelah kesadarannya terkumpul sempurna, Bima menatap Mala yang terlihat sangat sedih. Dia tatap kedua mata sendunya. "Kamu kenapa nangis sayang?" Tanya Bima sambil menarik tangan Mala


"Kamu tanya kenapa aku nangis Bim. Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan Bim. Tentu saja aku nangis karna kamu. Kenapa bisa-bisanya kamu melupakan obat yang Leon berikan buat kamu. Apa memang kamu tidak mau sembuh Bim. Hahh!" Ujar Mala sambil menatap Bima


Bima berdiri dan langsung memeluk Mala erat. "Maafkan aku sayang. Maafkan aku. Aku benar-benar lupa untuk minum obat itu"Ucap Bima sambil membelai lembut rambut Mala


"Sudah Bim. Kamu minum obat ini dulu. Bisa-bisanya kamu melupakan obat ini. Apa kamu sudah bosan hidup hah!" Timpal Lein cepat


Bima tak menjawab. Bima hanya melepaskan dekapannya terhadap Mala. Lalu pria itu mengambil obat yang Leon berikan"Iya dokter Leon" Jawab Bima sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


Reno yang melihat Bima sudah sadar langsung memutuskan untuk keluar dari sana. Pria itu menatap tidal suka dengan keadaan ini. Reno mengepalkan kuat kedua tangannya. Namun tidak ada satupun dari mereka yang menyadari ekspresi Reno saat ini. Begitu juga dengan Andre yang masih belum paham dengan partnernya.


"Harus sampai kapan aku melihat pria itu. Bukan kah selama ini aku sudah selalu menukar obat-obat nya. Tapi kenapa dia belum juga mati" Ucap Reno sambil mengepalkan kuat tangannya.


Memang selama ini Reno selalu menukar semua obat Bima dengan obat yang dia siapkan sendiri. Bentuk kapsulnya sangat sama persis dengan obat kapsul yang di berikan oleh Leon selama ini. Sehingga tidak ada yang bisa membedakan obat itu.


Padahal isi dari kapsul itu hanyalah bubuk cabe yang Reno siapkan sendiri. Sebenarnya siapa Reno. Ada masalah apa yang membuatnya harus melakukan hal itu pada Bima.