Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Sama-sama terluka


Saat ini semua sudah berkumpul di kediaman kakek Lustama. Rani dan Wilson juga seluruh anggota black flowers yang ada di indonesia juga ikut berkumpul di sana.


Seperti yang sudah di rencanakan. Hari ini mereka akan pergi berlibur ke pantai selama 2 hari.


"Kita berangkat sekarang" Instruksi Bima dan langsung naik ke dalam mobilnya.


Sifa dan Wilson satu mobil dengan para asisten kakek Lustama yang memang sengaja mereka bawa biar bisa ikut healing. Mumpung kakek Lustama juga sedang tidak ada di indonesia.


Sedangkan Mala dan Bima satu mobil dengan Leon dan juga Rani.


"Leon. Jangan terlalu ngebut ya. Jalannya sedang saja" Ujar Bima pada Leon yang memang di minta untuk mengemudi mobil yang mereka tumpangi


"Iya Bos Bima" Jawab Leon sambil melirik Bima dari kaca spion


Saat ini Bima dan Mala duduk di kursi penumpang, Sedangkan Rani duduk di samping Leon. Wanita itu melirik ke arah Leon sambil terus menatapnya.


"Ternyata dia pria yang sangat tampan. Kenapa aku baru menyadari itu"Ujar Rani dalam batinnya sambil terus memperhatikan Leon yang sedang fokus mengemudi


Hingga tanpa sengaja Leon menoleh ke arah Rani yang juga masih menatapnya intens. Dan membuat manik mata mereka bertemu dan membuat Leon menginjak pedal rem.


"Ada apa Leon?" Tanya Bima panik saat Leon tiba-tiba menghentikan laju mobilnya


"Iya Leon ada apa?" Ujar Mala yang juga ikut merasa panik karna tiba-tiba saja Leon menginjak Rem


Namun orang yang mereka tanyakan tidak menjawab. Pria itu masih menatap Rani begitu dalam. Hingga tanpa Leon sadari dia sudah menghentikan laju mobilnya.


"Benar-benat seperti bidadari tak bersayap" Ucapnya tiba-tiba dan membuat Rani tersadar


Wanita itu membulatkan kedua matanya sambil melirik pada Bima dan Mala yang kini sudah memperhatikan Leon dan Rani yang sedang saling pandang.


"K...kak Leon, Kok berhenti mobilnya?" Tanya Rani dan langsung menyadarkan Leon dari pandangannya


"Oh, Maaf maaf. Aku tidak fokus" Seru Leon sambil bersiap untuk melanjutkan kembali perjalanannya.


Mala hanya mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat Leon seperti itu, Tapi tidak dengan Bima. Pria itu tentu sudah bersiap untuk menggoda Leon yang kini sudah kembali melajukan mobilnya.


"Sayang" Panggil Bima pada Mala


"Iya my boy. Ada apa?" Jawabnya sambil menoleh ke arah Bima


"Sepertinya aku mencium bau-bau yang gimana gitu"


"Bau-bau gimana maksudnya my boy?"


"Biasalah sayang. Sepertinya ada yang lagi jatuh cinta. Kelamaan jomblo, Sekali jatuh cinta langsung bucin. Hahahh" Ujar Bima sambil melirik Leon


Mala juga ikut tertawa. Karna dia sudah cukup paham siapa yang saat ini Bima maksud. Siapa lagi kalau bukan Leon yang memang sudah mulai suka terhadap Rani


"Sepertinya ada yang lagi ngomongin diri sendiri"Timpa Leon cepat


"Apa maksud anda?"


"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja saya sedang berbicara jika tadi ada orang yang sedang membicarakan diri sendiri" Ucap Leon lagi sambil membalas lirikan Bima


"Menyebalkan memang kau"


Setelah itu, Suasana di dalam mobil kembali hening. Tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berempat. Mala yang sejak tadi diam tak bersuara tiba-tiba saja memperhatikan wajah Rani dari kaca spion yang terlihat tidak asing baginya.


"Rani. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Ucap Mala tiba-tiba dan membuat Rani menoleh ke belakang.


"Boleh, Mau bertanya apa memangnya kak?"


"Oooh nggak. Kamu sekolah sudah kelas berapa?"


"Aku sudah kelas 3 kak. Sebentar lagi ujian" Jawabnya sambil tersenyum


"Kalau sudah lulus nanti, Apa planning kamu selanjutnya?"


"Eeemm kalau aku sih pengennya kuliah kak. Aku pengen jadi dokter kandungan"


"Dokter kandungan? Cita-cita yang bagus. Dulu aku kuga sempat punya keinginan menjadi dokter. Tapi ya sudah terlupakan begitu saja" Seru Mala pelan


"Kenapa memangnya kak? Kok bisa terlupakan begitu saja?" Tanya Rani Penasaran


"Ya begitulah. Ada keinginan lain yang masih ingin aku wujudkan. Oh iya, Apa kamu memiliki saudara? Soalnya wajah kamu itu seperti tidak asing untukku"


Akhirnya Mala menanyakan hal yang sejak tadi mengganggu kepalanya. Wanita itu memberanikan diri bertanya pada Rani apakah dia memiliki saudara atau tidak.


Rani yang mendengar perkataan Mala seketika menatap wanita itu. "Ada kak. Aku punya kakak dan juga saudara kembar" Jawab Rani pelan


"Adelia" Jawab Rani cepat


Mendengar nama Adelia membuat Mala terdiam untuk beberapa saat. Wanita itu seketika teringat akan sosok wanita bernama Adelia yang sudah menghancurkan rumah tangganya bersama dengan Devan. Sosok pria yang ternyata ayah kandung dari kedua anaknya.


"Kakak kenal?" Tanya Rani pada Mala


Mala menggeleng cepat"Tidak. Aku tidak mengenalnya" Jawab Mala dan langsung menoleh ke arah luar jendela


"Ternyata aku tidak salah. Dia memang benar-benar adiknya Adelia. Wanita yang sudah menghancurkan rumah tanggaku bersama dengan mas Devan" Mala bermonolog dalam batinnya


Ancol


Tanpa terasa mereka sudah tiba di pantai Ancol. Bima dan Mala turun dari dalam mobilnya. Mereka memberikan kedua anaknya pada asisten rumah tangga yang memang sengaja Mala dan Bima bawa agar bisa membantunya menjaga kedua anaknya.


"Mbk. Saya nitip mereka dulu ya" Ujar Mala sambil memberikan anaknya pada asisten kakek Lustama


"Iya nona. Selamat bersenang-senang. Biar saya yang akan menjaga baby twins"


"Terimakasih ya mbk" Ucap Mala lembut


Setelah itu Bima memanggil Reno juga anggota black flowers yang lain untuk mengantarkan asisten itu pada penginapan. Karna memang Bima sudah berencana akan menginap di sana malam ini dan akan kembali besok sore.


"Ren, Tolong kamu antar ke penginapan mereka. Dan tolong minta anggota lain untuk bergantian menjaga Langit dan juga Bintang. Jangan sampai hal yang tidak-tidak terjadi" Titah Bima sambil menatap Reno


"Baik tuan muda. Semua akan saya pastikan aman"


"Bagus"


Kemudian Reno dan anggota black flower yang lain sudah pergi ke tempat penginapan yang sudah Bima siapkan sejak tadi sebelum mereka berangkat.


"Bima, Mala. Ayo kita bersenang-senang ke pantai. Sifa sama Wilson kemana?"Tanya Leon yang belum melihat keberadaan Sifa dan Wilson di sana


Bima dan Mala yang baru menyadari itu langsung menoleh ke kanan dan juga ke kiri untuk mencari keberadaan Sifa dan Wilson. Namun ternyata mereka berdua memang belum ada di sana. Mobil Wilson pun belum terlihat di tempat itu.


Hingga tak berselang lama mobil Wilson baru saja sampai. Melihat Wilson dan Sifa turun dari dalam mobilnya membuat mereka semua menoleh ke arah Sifa dan Wilson yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Kemana saja kalian. Kenapa baru saja tiba?" Tanya Leon cepat


Antara Sifa dan Wilson yang mendengar itu tidak langsung menjawab. Mereka berdua hanya saling lirik untuk beberapa saat. "Iya. Kenapa kalian baru saja tiba?" Tanya Mala yang juga ikut penasaran


"Oohh. Tidak ada apa-apa. Hanya saja tadi ban mobilnya mas Wilson bocor. Iya ban mobilnya mas Wilson bocor" Ucap Sifa ragu-ragu


Entah apa yang sebenarnya terjadi. Tapi yang pasti jawaban yang Sifa berikan terdengar sangat ambigu."Iya. tadi aku masih harus ganti ban mobil" Timpal Wilson cepat


"Oooh, Yasudah. Ayo kita bersenang-senang di sana" Ajak Leon sambil menunjukkan ke arah bibir pantai


Di tempat yang sama


Sedangkan Devan dan Nadia yang sudah tiba lebih dulu saat ini sudah duduk di pinggir pantai sambil menatap ombak pantai yang bergelombang.


Sejak sampai ke tempat ini Devan hanya terdiam. Entah kenapa rasanya begitu sakit saat kenyataan tidak sesuai dengan harapannya.


"Aaaaaaarrrrgghhh" Teriak Devan tiba-tiba dan membuat Nadia terlonjak kaget


"Kenapa semua terjadi tidak seperti yang aku harapkan! Kenapa dunia ini tidak adil untukku. Kenapa aku harus merasakan pahitnya hidup yang seperti ini" Ujar Devan sambil terus menatap air pantai yang terlihat sangat tenang.


"Apa aku salah jika seandainya aku ingin bahagia. Kenapa dunia harus tidak adil untukku? Kenapa!!!"


Devan menundukkan wajahnya saat merasakan sesak di dadanya. Pris itu memejamkan kedua matanya sejenak. Entah kenapa wajah kedua bayi itu selalu saja terbayang. Bahkan bukan hanya wajah mereka berdua, Wajah Mala juga selalu terbayang jelas dalam benak Devan.


"Seandainya saja pernikahan konyol itu tidak pernah terjadi. Mungkin semua ini tidak akan pernah aku rasakan. Aku sudah terjebak dengan sebuah pernikahan yang aku rencanakan sendiri. Aku baru menyadari jika dia sudah benar-benar menguasai hatiku" Ucap Devan lagi


Nadia yang sejak tadi hanya memperhatikan Devan akhirnya memutuskan untuk mendekatinya. Biarpun sebenarnya Nadia masih cukup was-was saat teringat akan ucapan Devan yang ingin membunuhnya karna hilangnya kedua bocah itu.


Namun, Entah kenapa Nadia merasa begitu iba ketika melihat Devan sangat terluka seperti saat ini. Wanita itu memeluk Devan dati belakang.


"Aku tau bagaimana perasaan mu saat ini Van. Rasanya memang begitu sakit saat melihat orang yang kita cintai sudah mencintai orang lain" Ujar Nadia yang terdengar begitu lembut


"Karna aku juga merasakan apa yang saat ini sedang kamu rasakan Van. Aku juga sangat terluka Van. Sakit! Tapi apa yang bisa kita lakukan selain mengikhlaskan. Bukankah cinta itu tak harus memiliki?" Ucap Nadia dan berhasil membuat Devan membalikkan tubuhnya


"Apa aku bisa untuk mengikhlaskan dia bahagia bersama dengan saudaraku sendiri? Apa aku kuat Nad?" Ujar Devan yang terdengar begitu lirih


"Yakinlah jika kamu bisa Van. Setiap ada kemauan, Disitu pasti selalu ada jalan" Ucap Nadia lembut sambil menatap Devan dalam


Setelah itu Devan membalas pelukan Nadia"Ajarkan aku bagaimana caranya untuk bisa melupakan dia" Ucapnya pilu


Nadia yang mendapat balasan pelukan dari Devan entah kenapa terpaku untuk beberapa saat. Wanita itu merasakan ada yang berbeda dengan detak jantungnya. Detak jantung yang berdetak lebih cepat dari pada detak normal pada umumnya. "Ada apa denganku" Ucap Nadia dalam batinnya