
" Sejak kapan dia gemar jadi penguntit, bersembunyi di balik pohon lagi" batin mala.
Setelah tiba di dalam mobil, Mala meminta Bima untuk putar haluan. Hari ini tidak jadi ziarah ke makam kedua orang tuanya, karna ada Devan yang mengikuti mereka.
" Untung saja aku masih sempat melihat keberadaan Devan, kalau tidak. mungkin saat ini devan akan tau hal yang sebenarnya, Aku tidak bisa bayangkan bagaiman jadinya" batinnya lagi
" My boy kita gak usah lanjutin perjalanan ke makam mama papa ya, Tiba-tiba saja aku ingin pergi ke taman kota, ini kan hari weekend. pasti akan banyak orang yang piknik bersama keluarga mereka disana" ucap Mala pada bima.
" Iya sayang" jawab Bima lembut
Bima memang selalu menuruti apapun perkataan Mala, jangankan hanya ke taman kota, kemanapun akan Bima turuti, Karna rasa cinta yang di Bima miliki amatlah besar.
Bima mencintai Mala seperti dia mencintai mendiang maminya, Cinta yang begitu besar dulu pernah pergi bersamaan dengan kepergian maminya, Hingga sejak saat itu seorang Albima tidak lagi bisa memberikan cintanya kepada siapapun,
Namun cinta itu tumbuh kembali setelah pertemuannya dengan Mala, Wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan cinta yang begitu besar dari seorang Bima.
Bima memang sudah mencintai Mala sejak pertemuannya yang pertama kali di bandara beberapa waktu yang lalu. intinya Bima mencintai Mala saat pandangan pertama.
30 menit kemudian mobil Bima sudah tiba di taman pusat kota, Mala keluar dengan wajah berbinar, Taman itu sudah menjadi tempatnya setiap hari weekend bersama ketiga sahabatnya juga Devan pastinya.
Mala Berjalan beriringan dengan Bima, pria itu menggenggam tangan mala yang terlihat begitu kecil pada tangan kekar Bima.
Tanpa mereka sadari ternyata sudah banyak pasang mata yang memperhatikan langkah kaki mereka, Yang perempuan cantik dan yang laki-laki sangatlah tampan. benar-benar pasangan yang sangat serasi.
Mereka berjalan sambil bercanda tawa, dan Bima sesekali mengelus perut buncit istrinya, Biarpun yang dikandung mala bukanlah anaknya, Namun Bima begitu menyayangi anak yang masih dalam kandungan istrinya.
Di saat mala tertawa lepas seperti itu, ada seseorang yang merasa hatinya begitu nyeri, Dia adalah Devan. Pria itu memang masih setia menjadi penguntit Bima dan Mala yang saat ini sedang tertawa lepas di depan matanya,
" My boy aku mau es crem" ucap Mala dengan nada manjanya. Dan Bima menyukai nada manja itu,
Melihat wajah Mala yang begitu bahagia, tentu saja membuat Bima selalu mengukir senyum dari kedua sudut bibirnya, Hatinya begitu bahagia melihat istrinya bisa tertawa lepas seperti itu. " Baiklah sayang, kamu tunggu di sini ya, aku akan membelikannya untukmu"
Setelah mengatakan hal itu. Bima langsung berdiri dan menghampiri pedagang es crem yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka, Pria itu membeli dua buah es crem dengan rasa yang berbeda, yang satu rasa coklat dan satunya rasa greentea
" Kamu mau yang mana sayang?" ujarnya lembut
" Aku mau yang greentea aja my boy"
Mendengar jawaban yang keluar dari Mala membuat Bima langsung memberikan es crem rasa greentea yang ada di tangannya. " Ini es cremnya enak sekali my boy, terimakasih ya"
" Sama-sama sayang" balas Bima lembut sambil membelai lembut rambut Mala. tepat di saat itu juga Mala meletakkan kepalanya pada dada bidang Bima, hal itu tentu saja membuat mereka terlihat sangat romantis.
Devan yang melihat pemandangan di depan matanya entah kenapa membuat hatinya terasa teramat sakit, padahal wanita itu hanya memiliki paras yang mirip dengan mantan istrinya, " Kenapa wanita itu begitu mirip dengannya, dan kenapa melihat kemesraan Bima dengan istrinya membuat hatiku terasa sakit begini," ucap devan tanpa sadar.
Tanpa terasa ternyata sudah satu jam lebih Bima dan Mala menghabiskan waktu di taman itu, saat ini mala membuka ikat rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai. Hal itu membuat Mala terlihat semakin cantik.
" Kenapa wanita itu begitu mirip dengan Mala ku" ucap Devan lagi
Hari yang begitu terik akhirnya berubah menjadi hitam, awan kelam sudah menutupi kecerahan hari ini. Namun Bima dan Mala masih enggan untuk beranjak dari tempat itu. Mereka berdua masih terus menikmati indahnya taman kota yang entah kenapa hari ini begitu ramai orang yang datang,
Devan akhirnya memilih untuk beranjak dari tempat itu, Tidak ada gunanya juga berada di keramaian sedangkan hatinya terasa begitu sepi, Dari banyaknya orang yang berlalu-lalang Devan masih merasa begitu hampa. " Mengapa hidupku jadi seperti ini" lirihnya begitu sendu.
Saat Devan hendak meninggalkan tempat itu, Tak sengaja ada pasangan yang menabrak tubuhnya, Hampir saja devan mau mengumpat pada orang tersebut. Namun pria itu mengurungkan niatnya saat mengetahui siapa yang sudah menabraknya.
" Maaf Maaf, saya tidak sengaja" ucap salah satu dari mereka
" Kalau jalan pakek Ma-" Ucapan Devan terpotong setelah melihat wajah orang itu
" Vino? Kamu yang sudah nabrak tubuhku"
" Eh Van. sorry banget ya Van, gue gak sengaja."
" Hmmm" balas Devan dan langsung berlalu dari hadapan Vino dan Mega, Melihat itu membuat Vino mengangkat sebelah alisnya" Ada apa dengannya?" pekik Vino sambil mengejar Devan, karna Vino yakin jika saat ini sahabatnya sedang tidak baik-baik saja,
" Sayang, aku kejar Devan sebentar ya, kamu tunggu di sana sebentar" ujarnya pada Mega, Wanita itu tak menjawab hanya memberi anggukan pelan dan langsung menuju ketempat yang di tunjukkan oleh Vino,
Setelah Mega sampai di tempat itu, Kedua mata Mega memicing saat melihat sepasang suami istri yang begitu dia tau, " I..itukan Mala sama suaminya. iya itu mereka. Aku gak mungkin salah" ucap Mega sambil berjalan dan mendekat ke arah Mala dan Bima.
Memang selama ini ketiga sahabat Mala sudah tau tentang pernikahannya. Bahkan bukan hanya Mega, Vino juga sudah mengetahui hal itu,
" Mala" ujar Mega dengan raut wajah yang sangat bahagia, bagaimana tidka bahagia. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah kepergian Mala beberapa bulan yang lalu,
" Mega, kamu di sini juga?" balas Mala dan langsung memeluk tubuh sahabatnya.
" Aku kangen banget sama kamu Mala, Apa kabar kamu?"
" Apalagi aku Mega, Aku begitu merindukan kamu juga yang lain, kapan-kapan kita makan siang bareng di tempat mang ujang ya, kayaknya aku menginginkan bakso dia"
" Siap bumil. eh Mal, ini suami kamu ganteng bangeet sih Mal, bagaimana ceritanya bisa dapat mahluk tuhan yang paling sempurna seperti itu" pungkas Mega dengan suara pelan dan hanya terdengar oleh Mala
" Kapan-kapan aku ceritakan ya"
Mala mendekat ke arah Bima yang masih setia duduk di kursi taman yang berwarna putih. " My boy kenalin, Ini Mega sahabat aku"
" Mega" ucapnya
" Albima" Balas Bima sedikit mengangkat sudut bibirnya.
Di tempat yang sama saat ini Vino sedang mengejar Devan yang terlihat begitu menyedihkan, Bagaimana tidak di bilang menyedihkan, Baju dan rambutnya begitu berantakan.