Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Jahat kamu


"Anakku. Ternyata Feeling ku selama ini tidak pernah salah, Kamu benar-benar anak kandung papa" Ucapnya sambil terus menatap Bintang


Sedetik kemudian, Devan baru tersadar kenapa Bintang bisa ada di tangan Mala dan juga Bima. Padahal kan Bintang hilang beberapa hari yang lalu dari tangan Devan dan juga Nadia.


"Kenapa Bintang bisa ada sama mereka. Apa itu artinya jika anak buah Bima yang sudah mengambil mereka dari ku. Lalu bagaimana bisa golongan darah Bintang sama denganku dan mereka mengatakan jika Bintang ini anak kandungku. Lalu bagaimana dengan hasil tes DNA waktu itu?" Devan bermonolog dalam batinnya sambil terus menatap Bintang


Ada rasa bahagia dari dalam hatinya. Tapi juga ada juga rasa penasaran dengan semua pertanyaan yang mulai terbesit dalam benaknya. Semua pertanyaan itu benar-benar mengganggu pikirannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi. Aki benar-benar bingung"Ucap Devan sambil terus menatap Bintang yang saat ini sedang melakukan transfusi darah oleh dokter Rendi


Rendi yang mendengar perkataan Devan langsung mendekat. Pria itu mendekat pada Devan dan duduk di sampingnya sambil terus menatap Devan.


"Bagaimana keadaannya dokter Rendi?" Tanya Devan pada Rendi


"Kita tunggu sampai transfusinya selesai ya pak Devan. Semoga saja setelah ini trombosit Bintang normal kembali"


"Oh iya, Saya masih belum paham, Kenapa Bima dan Mala mengatakan jika Bintang bukan anak kandung Bima. Apa itu artinya Bintang adalah anak kandungnya pak Devan?" Tanya Rendi sambil menatap Devan


Devan tak langsung menjawab. Pria itu juga masih terlalu bingung dengan apa yang akan dia katakan pada Rendi. Apalagi saat mengingat hasil tes DNA waktu itu. Sungguh Devan benar-benar bingung karna hal ini.


"Yang mereka katakan seperti itu sih Dokter Rendi. Tapi saya sendiri masih cukup bingung"


"Bingung? Bagaimana bisa bingung pak Devan?" Tanya Rendi sambil menatap Devan


"Entahlah dok. Saya cukup bingung dengan keadaan ini. Soalnya beberapa hari yang lalu, Saya pernah melakukan tes DNA pada mereka, Tapi hasilnya negatif. Dan sekarang tiba-tiba saja Bima mengatakan jika Bintang adalah anak kandung saya. Lalu bagaimana dengan hasil tes DNA itu?"


"Memangnya oak Devan melakukan tes DNA di rumah sakit mana?" Tanya Rendi lagi


"Di rumah sakit ini dokter. Rumah sakit BERLIAN" Jawab Devan


Mendengar perkataan Devan membuat Rendi terdiam untuk beberapa saat. Karna setau Rendi. Laboratorium di rumah sakit miliknya akurat, Dan tidak mungkin salah.


Saat mendengar apa yang Devan katakan, Membuat Rendi juga ikut bingung. Hingga akhirnya dia menyimpulkan jika hasil tes itu bisa saja ada yang menukarnya. Entah hasilnya atau sampelnya.


"Apa jangan-jangan ada seseorang yang menukar hasil tes itu atau malah sampelnya yang di tukar. Apa saat menaruh sampel ada seseorang yang mengikuti pak Devan?"


Devan masih memikirkan apa yang baru saja Rendi katakan. Jika dipikir, apa yang baru saja Rendi katakan memang ada benarnya juga. Kemungkinan besar memang ada seseorang yang sudah menukar sampelnya.


"Dokter Rendi benar juga. Tapi saat itu bukan saya yang datang ke rumah sakit ini. Ada seseorang yang membantu saya untuk melakukan tes DNA terhadap Langit dan juga Bintang"


"Karna saya melakukannya tanpa sepengetahuan Mala dan juga Bima" Ucap Devan lagi


"Bagaimana ceritanya pak Devan melakukan tes DNA pada mereka. Apa yang membuat pak Devan berfikir akan hal itu?"


"Entahlah dokter. Tapi yang pasti saya seperti memiliki ikatan batin dengan mereka berdua"Ucap Devan lagi


"Memang begitulah pak, Ikatan batin antara anak dan orang tua itu kuat"


30 Menit kemudian. Proses transfusi sudah selesai. Rendi pamit sama Devan untuk pulang duluan. Karna memang sebenarnya jadwal praktek Rendi sudah selesai sejak pagi tadi. Hanya saja dia tidak jadi pulang karna melihat Mala dan Bima datang membawa anaknya yang sedang membutuhkan pertolongan segera.


Melihat pintu IGD terbuka, Bima dan Mala langsung mendekat. Mereka berdua tentu sangat penasaran dengan keadaan Bintang saat ini. Apalagi beberapa saat yang lalu sempat kejang-kejang karna suhu tubuhnya yang sangat tinggi.


"Transfusi nya sudah selesai Mala. Hanya saja saat ini Bintang masih tidur. Biarkan saja dulu dia istirahat ya. Kalau mau jenguk bisa langsung masuk. Aku permisi dulu" Ucap Rendi dan langsung berlalu dari hadapan Mala dan Bima.


Namun langkahnya kembali terhenti saat melihat Rani di sana. Bukan hanya itu, Langkah Rendi terhenti juga karna melihat Sifa sedang bercanda tawa dengan Wilson.


Hal itu tentu saja membuat Rendi penasaran ada hubungan apa dengan mereka berdua. Pasalnya sangat terlihat dari senyuman Sifa dan juga Wilson yang terlihat sangat bahagia.


"Rani. Kamu di sini juga?" Tanya Rendi pada Rani


"Iya kak Rendi. Sifa di sini bersama dengan kak Leon" Ucap Rani pada Rendi


"Kenalin, Saya Leon, Pacarnya Rani" Gumam Leon sambil mengangkat kedua sudut bibirnya dan mengulurkan tangannya pada Rendi


"Rendi. Mantan kakak ipar Rani"Jawab Rendi sambil membalas uluran tangan Leon


Setelah itu, Rendi mendekat pada Sifa dan Wilson yang mana posisi mereka memang tidak terlalu jauh dari Rani dan Leon.


"Hai Sifa, Apa kabar?" Sapa Rendi pada Sifa


Mendengar suara Rendi membuat Sifa menoleh padanya"Aku baik Ren. Kamu sendiri bagaimana?" Tanya balik Sifa yang merasa sangat canggung


"Aku juga baik. Kenapa kamu tidak pernah menghubungi ku lagi Sifa?"


"Maaf Rendi. Akhir-akhir ini aku memang sedikit sibuk"


"Oh ya. Apa kamu tidak merindukan Tania?"


"Tentu saja aku merindukannya. Hanya saja akhir-akhir ini aku sering sibuk dengan urusan ku bersama mas Wilson. Maafkan aku, Karna aku akan segera menikah dengan mas Wilson" Terang Sifa sambil menatap Wilson


"Selamat ya Sifa. Semoga acaranya lancar sampai hari H ya. Jangan lupa undang aku" Ucap Rendi sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Tentu dokter Rendi. Aku akan mengundang dokter dalam acara sakral aku nanti"


"Yasudah, Aku permisi dulu ya" Ucap Rendi dan langsung berlalu dari sana.


Di Dalam IGD


Bima dan Mala masuk ke dalam ruangan IGD dan langsung berjalan menuju ranjang Bintang. Dari ambang pintu mereka berdua sudah bisa melihat jika saat ini Devan sedang menatap Bintang begitu dalam.


Sedangkan Devan yang melihat kedatangan Bima dan Mala langsung bangun dari duduknya. Pria itu menatap Bima dan Mala dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh mereka berdua.


"Aku masih bingung. Bagaimana bisa Bintang ada bersama dengan kalian. Apa malam itu kalian berdua yang sudah mengambil Langit dan Bintang dari tempatku? Tanya Devan sambil menatap Bima dan Mala secara bergantian.


"Memang aku yang meminta mereka untuk mengambil Langit dan Bintang. Aku tidak habis pikir sama kamu mas, Bisa-bisanya menyembunyikan mereka berdua dari aku dan Bima. Padahal kamu tau sendiri bagaimana perjuangan aku dan Bima untuk bisa menemukan mereka. Tapi dengan teganya kak Devan menyembunyikan hal ini" Ucap Mala tiba-tiba


"Kamu juga tega sudah menyembunyikan identitas mereka dari aku Mala. Jika sudah butuh seperti ini kamu mengatakan yang sebenarnya, Apa aku hanya kamu jadikan tempat butuh saja?"


"Jahat kamu!" Ucap Devan dan langsung berlalu dari hadapan Bima dan juga Mala