Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Masih permulaan


Bima semakin mempererat dekapannya saat Mala semakin terisak, tak kuasa rasanya melihat wanita yang begitu di cintai nya terpukul seperti itu, hingga tak lama. air mata itu jatuh membasahi kedua pipinya.


" Kamu gak sendirian sayang, ada aku disini. aku akan selalu menemani kamu. aku percaya, suatu hari nanti kamu pasti bisa sembuh seperti semula" ucap Bima sambil terus mendekap Mala.


" Aku wanita gak berguna my boy, aku lumpuh, lalu bagaimana caranya aku membesarkan anak dalam kandunganku. mereka pasti malu memiliki seorang ibu yang lumpuh sepertiku, hikss.hikss"


Ucapan Mala membuat Bima menatap kedua manik mata sang istri yang sudah di banjiri air mata, " Hey, sayang lihat aku, mereka tidak akan pernah malu memiliki ibu hebat seperti kamu, kamu wanita hebat. kamu wanita kuat, percayalah. ini hanya sementara, hujan tak kam selamanya melanda bumi, akan ada saatnya pelangi indah itu datang, bahkan lebih indah dari pelangi yang kita harapkan"


Mala menatap mata Bima dalam. wanita itu bisa merasakan bagaimana dalamnya rasa cinta Bima untuknya, semua yang di ucapkan Bima memang benar adanya. pelangi akan datang, karna hujan tidak akan terus-terusan mengguyur bumi.


" Apa kamu tidak malu memiliki istri cacat sepertiku?" tanya Mala dengan suara seraknya


" Untuk apa aku malu sayang, kamu duniaku, kamu segalanya untukku, aku tidak pernah perduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentangku, yang aku tau hanya satu. aku sangat, sangat mencintaimu"


Devan yang dari tadi ikut mendengarkan semua percakapan antara pasangan suami istri ini langsung menundukkan wajahnya, terlalu sakit saat mendengar Bima mengatakan bahwa Mala adalah dunianya.


Jantungnya terasa berhenti berdetak, seperti di tusuk oleh ratusan duri yang rasanya begitu perih.


" Kenapa rasanya harus sesakit ini, kenapa begitu sakit saat mendengar orang lain mengatakan, bahwa dia adalah dunianya" Devan bermonolog dalam batinnya.


Di saat ruangan kembali hening, suara langkah kaki mengalihkan perhatian semua orang dari Bima dan Mala. kondisi Mala juga sudah mulai tenang,


Tak lama, pintu ruangan itu kembali terbuka. ternyata yang datang adalah Sunder beserta Lina dan juga kakek Lustama. karna memang kakek Lustama ikut menjemput anak sulungnya.


" Papa, kakak" ucap Wijaya sambil menatap Sunder dan Lina secara bergantian.


" Wijaya" balas Sunder dan langsung memeluk sang adik yang sudah begitu lama terpisah dengannya.


" Aku sangat merindukanmu kak"


" Aku pun Wi, aku juga begitu merindukanmu"


Saat Sunder dan Wijaya sedang melepas rasa rindu, Lina berjalan ke arah Mala dan Bima. wanita paruh baya itu langsung memeluk menantu yang sudah dia anggap seperti anak sendiri, " Sayang, kamu yang kuat ya nak, ada mami disini" ucap Lina sambil memeluk Mala dan membelai rambut Mala.


" Kenapa semua ini harus terjadi mi, kenapa Mala harus mengalami mimpi buruk seperti ini" ucap Mala yang terdengar begitu lirih.


" Sabar sayang, ini hanya sementara. percaya sama mami. kamu pasti bisa melewati mimpi buruk ini. ada kita semua yang akan selalu mendampingi kamu nak" ucap Lins yang terdengar begitu lembut.


Karna terlalu sakit, Devan memilih pergi dari kamar inap Mala, pria itu berlalu dengan membawa perasaan luka yang begitu dalam. masih teringat jelas dalam benak Devan saat di dalam bioskop beberapa jam yang lalu.


*Flashback bioskop


Beberapa jam yang lalu, saat film sudah mulai di putar. Devan menatap Mala yang terlihat begitu menikmati alur cerita yang sedang mereka tonton. filmnya begitu mengandung bawang, membuat wanita yang sedang hamil itu langsung menitikkan air matanya karna terlalu mendalami film.


Entah di sengaja atau tidak, tapi yang pasti ada satu hal yang membuat Devan mengangkat kedua sudut bibirnya. " Aku begitu merindukanmu mas, aku masih menjadi pemilik hati ini, kenapa semua harus seperti ini. apa suatu saat nanti masih ada harapan untuk kebersamaan kita?" ucap Mala tanpa sadar.


Mendengar itu membuat Devan mengukir senyum tipis, setidaknya dia sudah tau bagaimana perasaan wanita yang ada di sampingnya saat ini,


Di saat Devan masih menikmati aroma tubuh khas Mala yang sudah dia rindukan, tiba-tiba tanpa terasa filmnya berakhir begitu saja, terasa begitu cepat, padahal acara film itu 3 jam lamanya.


" Kenapa filmnya harus berakhir sih, kan aku masih menikmati aroma yang selama ini aku rindukan, aroma parfum itu ternyata masih sama seperti dulu" ucap Devan dalam batinnya.


Namun sebisa mungkin Devan bersikap biasa saja, masih bersikap seolah-olah dirinya masih belum tau hal yang sebenarnya*,


" Eh Van, elo kok bengong disini?" suara Vino membuyarkan lamunan Devan dari kejadian beberapa jam yang lalu.


" Kamu Vin, bisa gak kalo datang jangan kayak jelangkung, "


" Enak aja lo bilang gue jelangkung"


"Eh, elo kok disini, gak liat keadaan Mala?"


" Enggak Vin, sakit gue ngeliatnya seperti itu" lirih Devan sendu


" Makanya, move on dong Van"


" Susah Vin, dia satu-satunya wanita yang bisa membuat aku kembali merasakan apa itu cinta"


" Yang sabar bos, jodoh gak akan kemana" ucap Vino sambil menepuk pundak Devan dan langsung berlalu dari hadapannya.


Di saat semua orang sedang sedih karna bencana yang dialami oleh Mala, lain dengan seorang wanita yang saat ini sedang tertawa penuh kemenangan di sebuah kamar di rumahnya,


" Kenapa kamu melakukan itu nak?" tanya wanita paruh baya padanya


" Itu memang pantas bu, gara-gara dia. hidupku hancur seperti ini" balasnya.


" Kamu tidak bisa menyalahkan siapapun atas hidup mu Adelia, semua ini terjadi karna ulah mu sendiri. kamu sendiri yang sudah menghancurkan semuanya"


" Cukup bu, sudah cukup menyalahkan aku terus menerus, semua ini gara-gara ibu dan ayah. karna kelian menikahkan aku dengan Rendi, aku kehilangan cinta Devan. laki-laki yang sangat aku cintai"


" Sadar kamu Adelia, jangan senyalahkan siapapun, itu semua ibu lakukan demi kebaikan ayah kamu, apa kamu mau ayah kamu terbunuh karna tidak mampu bayar hutang! hah!"


" Sudahlah bu, Adelia minta ibu keluar dari kamar Adelia" ucap Adelia mengusir ibunya agar segera keluar dari kamarnya.


Setalah sang ibu keluar, Adelia kembali menangis, wanita itu mengingat akan anaknya yang sudah pergi, " Maafkan mama sayang, maafkan mama, karna mama. kamu harus pergi dari dunia ini. seandainya mama tidak selalu mengalami tekanan batin, kamu tidak akan menjadi korban. semua ini gara-gara wanita itu. karna dia Devan tidak mencintaiku, dan karna itu juga, mama kehilangan kamu nak"


" Lihat saja, ini masih permulaan" ucap Adelia sambil menatap gambar Mala yang sengaja dia pasang di dalam kamarnya, agat bisa selalu mengingat siapa penyebab semua ini.