Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Mengatakan pada Adelia


Bima menatap jalanan yang sudah terlihat banyak kendaraan berlalu lalang di bawah sana. Pria itu memejamkan kedua matanya saat merasa takut akan kata kehilangan.


"Aku benar-benar tidak mau kehilangan kamu sayang. Tidak bisa aku bayangkan, Bagaimana hidupku tanpa kamu" Ucap Bima lirih


Tak berselang lama. Mala baru saja keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu berdiri di samping Bima dan ikut menatap ke arah jalanan. Sejenak ingatan Mala terbawa pada bayangan kedua orang tuanya.


"Bunda, Ayah" Ucap Mala lirih sambil mengambil nafas berat


Kejadian malam tadi sudah benar-benar membuat hatinya luka. Rasa luka yang lebih terasa sakit dan pedih. Terlebih lagi saat teringat akan perkataan Nara yang begitu menyakitkan.


Gara-gara kamu, Mereka pergi Mala. Kamu hanyalah pembawa sial!


Perkataan itu terus saja terngiang dan sangat mengganggu pikiran Mala. Lagi dan lagi. Dadanya terasa sangat sesak, Kedua matanya terasa panas dan juga berat.


Terlalu lama menangis membuat kedua matanya sembab dan sedikit terasa sakit"Kenapa mimpi buruk ini harus kembali aku rasakan my boy. Kenapa harus selalu aku. Kenapa!" Ucap Mala sendu sambil memejamkan kedua matanya


Bima mendekat dan langsung membawa Mala dalam dekapannya."Ini sudah jalannya sayang. Takdir yang telah di gariskan untuk ayah dan juga bunda. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri sayang, Karna aku juga ikut terluka saat melihat kamu seperti ini" Ujar Bima sambil membelai lembut rambut Mala


"Aku tau my boy. Tapi rasanya begitu berat untuk menerima kenyataan ini. Sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya kak Nara satu-satunya keluarga yang aku miliki"


"Tapi, Bagaimana caranya agar kak Nara masih mau menganggap ku sebagai adik. Sedangkan sudah terlihat jelas jika kak Nara menyalahkan aku atas semua kejadian ini" Ucap Mala begitu lirih


"Jangan pernah hiraukan apapun yang kamu dengar dari Nara. Karna semua itu tidak benar. Perlahan tapi pasti, Nara akan menerima kenyataan ini. Untuk saat ini, Biarkan saja Nara seperti itu. Lambat laun, Dia akan menerima semuanya" Ucap Bima


"Tapi harus sampai kapan my boy. Hanya kak Nara satu-satunya keluarga yang aku miliki" Gumam Mala yang masih ada dalam dekapan Bima


"Sudah sayang. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan. Aku tau bagaimana perasaan kamu saat ini. Karna aku juga pernah ada di posisi kamu. Kehilangan mami kandungku. Terlebih lagi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mereka menghilangkan nyawa mami"


Mala yang mendengar Bima mengingat kejadian yang menimpa sang mami langsung memeluk Bima semakin erat. Mala memang tidak mau membuka luka yang sudah susah payah Bima lupakan


"Kamu makan ya sayang. Habis ini kita langsung ke rumah sakit" Ucap Bima sambil membawa Mala duduk di sana


"Iya my boy, Apa Leon ada hubungi kamu?"


"Iya sayang. Tadi Leon memang sempat telpon, Katanya Bintang sudah di perbolehkan pulang hari ini" Jawab Bima lembut sambil menggenggam tangan Mala


Mendengar hal itu membuat Mala mengangkat kedua sudut bibirnya. "Syukurlah kalau memang Bintang sudah boleh pulang hari ini my boy. Lebih baik sekarang kita cepetan sarapan dan nanti mandi lalu siap-siap ke rumah sakit" Ucap Mala sambil mengambil alih makanan di tangan Bima


"Biar aku juga suapi kamu ya. Kita habiskan nasi goreng ini berdua" Ujar Mala pelan


Sedetik kemudian, Bima teringat akan hadian yang sudah dia siapkan. Sebuah kalung dengan liontin berlian. Kalung peninggalan mendiang maminya yang selama ini Bima simpan.


"Sebentar ya sayang. Aku ambil sesuatu dulu"


Mala hanya mengangguk sambil menyuapkan nasi goreng pada dirinya sendiri.


Setelah itu, Bima keluar dari dalam kamarnya dengan membawa kalung di genggamannya"Selamat ulang tahun istriku" Ucap Bima sambil memperlihatkan kalung itu pada Mala


Mala terdiam sejenak, Memperhatikan sebuah kalung dengan liontin yang sangat indah. Permata berlian sunrise red yang terlihat begitu mewah dan Elegan.


Melihat kalung itu membuat Mala menutup mulutnya. Dulu saat masih sekolah, Mala sempat ingin membeli kalung seperti yang Bima tunjukkan. Namun Mala masih memikir berulang kali untuk membeli kalung semahal itu.


"My boy, Ini buat aku?" Tanya Mala sambil membalikkan tubuhnya menatap Bima


"Aku pakaikan kalung ini ya"


"Iya my boy" Jawab Mala pelan


"Kalung ini adalah kalung peninggalan mami sayang. Waktu itu, Mami memberikan kalung ini saat usiaku masih 11 tahun. Mami berkata, Aku harus memberikan kalung ini pada wanita yang teramat berharga dalam hidupku"


"Memangnya aku berharga dalam hidup kamu ya my boy?"


"Tentu sayang, Kamu adalah segalanya. Kamu adalah hal yang tidak bisa aku tukar dengan apapun itu. Bahkan aku rela kehilangan semua yang aku miliki, Kecuali kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu sayang. Kamu adalah harga terbesar yang aku punya" Ucap Bima sambil memeluk Mala dari belakang


"You are my everything" Ucap Bima sambil mencium pipi kiri Mala


DI TEMPAT LAIN


Adelia keluar dari dalam kamarnya. Seperti biasa, Adelia memang akan menghabiskan pagi di taman. Menikmati terik matahari yang selalu mampu menenangkan hati dan pikirannya.


"Kenapa hidupku jadi sangat menyedihkan seperti ini" Ujar Adelia yang terdengar sangat lirih


Cukup lama Adelia terdiam di sana. Selain sinar matahari, Adelia juga menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapu wajahnya.


Hingga tak lama kemudian. Adelia mendengar suara tangis anak kecil yang jaraknya terdengar dekat. "Suara bayi itu. Kenapa hatiku terasa tidak tega mendengar tangisan itu. Aku seperti merasakan sakit" Ucap Adelia sambil terus mendengarkan suara tangis bayi yang semakin dekat.


Merasakan suara tangis bayi yang semakin dekat. Adelia memutuskan untuk bangun dari duduknya. Wanita itu mencoba berjalan ke arah suara bayi itu.


"Siapa di sana. Kenapa anak itu menangis?" Tanya Adelia sambil terus mendengarkan suara langkah kaki yang semakin mendekat


"Adelia"


Mendengar suara yang tidak asing membuat Adelia terdiam. Sejenak wanita itu mengingat suara siapa yang tadi menyapa indra pendengarannya.


"Rendi" Ucap Adelia pelan


"Iya, Ini aku dan anak kita Adel"


Perkataan Rendi membuat Adelia bingung. Apa maksudnya? Karna memang Adelia belum tau jika anak mereka masih hidup. Dan bayi yang waktu itu di makam kan adalah bayi orang lain.


"Apa maksud kamu Rendi?"


"Anak kita belum meninggal Del. Dia masih hidup"


"Jangan bercanda. Sudah jelas-jelas aku sendiri yang melihat pemakanannya" Ucap Adelia yang masih belum percaya


"Memang. Tapi yang di makam kan itu bukan anak kita Del. Dia anak orang lain. Karna aku sendiri yang sudah menukarnya"


"Apa!"


Betapa terkejutnya Adelia mengetahui akan hal ini. Sebuah fakta yang tidak pernah Adelia duga



MAMPIR DI SINI JUGA YUK KAK. like, Komen, Favorite ya๐Ÿ™๐Ÿป