Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Hanya mimpi kan


Mendengar Mala kecelakaan, Entah kenapa membuat Devan ikut merasakan sakit. karna bagaimanapun, Devan masih sangat mencintai Mala. sekalipun tidak bisa memiliki, Namun, Cinta Devan masih begitu besar untuk wanita itu.


Devan membawa Mobilnya dengan sangat cepat, beruntung. pria itu pandai dalam menyalip setiap kendaraan yang menghalangi jalannya untuk segera tiba di rumah sakit, walaupun sesekali memang hampir nabrak orang karna terlalu panik, Devan membiarkan dirinya di marahin setiap pengendara yang hampir celaka dibuatnya.


karna menurut Devan, yang terpenting untuk saat ini adalah melihat kondisi wanita yang di cintai nya. kalau sudah melihat kondisi Mala baik-baik saja, Devan baru bisa bernafas lega.


" Hati-hati dong mas, bawa mobilnya jangan seenaknya!" teriak pengendara motor saat Devan melewatinya dan hampir membuatnya celaka.


" Maaf mas, saya buru-buru " teriak Devan dari dalam mobilnya.


Satu jam kemudian, mobil Devan sudah tiba di depan rumah sakit BERLIAN, dengan cepat pria itu memarkirkan mobilnya dan berjalan sedikit berlari agar segera tiba di depan ruangan operasi tempat Mala saat ini yang masih berbaring lemah, Karna sebelumnya Devan sudah di beritahu Vino tentang keadaan Mala saat ini.


Vino lebih dulu tiba di rumah sakit, Sebab adiknya juga ikut dalam kecelakaan itu, tapi Doni dan Sindy tidak ada luka yang serius, hanya perlu di rawat satu hari saja.


Saat melihat adanya Vino, Mega, andra juga nara di depan ruangan operasi, hal itu membuat Devan semakin mempercepat langkahnya dan segera tiba di sana.


" Bagaimana keadaannya Vin?" tanya Devan panik


" Mala masih di ruang operasi Van, kita berdoa saja, semoga operasinya berjalan dengan lancar"


Tak lama, datang kedua orang tua Mala yang tadi masih sholat di masjid rumah sakit, dan disusul oleh Yasmine juga Wijaya yang mengekor di belakangnya.


Setelah mendengar kabar tentang kecelakaan yang dialami oleh Mala, membuat Yasmine terkejut dan langsung mengajak Wijaya untuk datang ke rumah sakit BERLIAN. ada rasa bahagia dalam benaknya, setidaknya hal itu membuat dirinya tau, bahwa Delisa memang benar-benar Mala.


🌸


" Sabar ya sayang, mami tau ini pasti berat buat kamu, kamu berdoa saja ya. semoga istri kamu baik-baik saja" ucap Lina lembut.


" Iya mi," jawabnya singkat.


Selama perjalanan ke indonesia, Bima menatap kosong ke arah jendela, Bayangan Mala terlintas jelas dalam pikirannya, Karna masalah yang ada di perusahaannya membuat Bima meninggalkan Istrinya di jakarta. jika saja waktu itu Bima membawa Mala, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Mala tidak akan mengalami kecelakaan seperti saat ini.


Rasa penyesalan mulai menyelimuti hati Bima, " Seandainya kemarin itu aku membawanya kembali, semua ini tidak akan terjadi" ujarnya dengan penuh penyesalan.


" Ini semua salah Bima mi, seandainya waktu itu Bima membawanya, semua ini tidak akan pernah terjadi"


" Sudah nak, tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, semua ini sudah takdir"


Sebagai ibu sambung, Lina memang selalu ada untuk Bima, karna bagi Lina, Bima bukan hanya amanah dari saudara kembarnya, tapi sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup Lina. apalagi dia tidak bisa memiliki anak karna sebuah kecelakaan yang membuatnya kehilangan rahimnya.


Tanpa Bima sadari, ternyata jet pribadi yang mengantarnya sudah Landing di tanah indonesia, dengan cepat pria itu turun terlebih dahulu dan langsung naik taksi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih mengambil koper dan barang bawaan mereka,


" Bima kemana?" tanya Sunder yang baru menyadari jika anaknya sudah tidak ada di sana.


" Loh, mami juga gak tau pi. Bukannya tadi sudah turun duluan ya?"


" Anak itu, pasti sudah berangkat duluan ke rumah sakit"


Sunder dan Lina memasuki mobil jemputan yang baru saja tiba, karna waktu sebelum dalam perjalanan Sunder sudah memberitahu kakek Lustama untuk menjemputnya saat sudah tiba di bandara.


Setelah tiba di rumah sakit BERLIAN, Bima berjalan cepat agar segera tiba di meja resepsionis. karna memang kedua orang tua Mala hanya mengabari bahwa anak mereka kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit BERLIAN, pak Winarto belum sempat mengatakan jika kaki Mala lumpuh dan harus di operasi. Sebab Bima langsung memutus sambungan telfonnya begitu saja.


" Iya mas, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita penjaga resepsionis


" Saya mencari pasien kecelakaan, namanya Mala"


" Baik, tunggu sebentar ya mas. akan saya carikan terlebih dahulu"


" Pasien bernama Mala maharani putri sudah di pindahkan dari ruang operasi ke ruang rawat inap mas, kamarnya ada di lantai 3 kamar melati nomor 2."


" Operasi! maksudnya?" tanya Bima yang memang belum mengetahui bagaimana kondisi Mala saat ini.


" Iya mas operasi, Pasien mengalami tulang patah di bagian kakinya dan harus di operasi, bukan hanya itu. pasien juga dinyatakan lumpuh sementara oleh dokter"


" Apaa!!"


Mendengar itu membuat Bima kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Mala yang ada di lantai 3, pria itu berjalan dengan langkah lebar agar bisa segera tiba di sana. mendengar kata lumpuh membuat Bima semakin khawatir dan semakin merasa bersalah.


Setelah tiba di lantai 3, Bima membuka kamar nomor 2 yang sudah ada di hadapannya, pria itu sempat terkejut dengan adanya Devan juga kedua orang tuanya di dalam sana. Namun Bima mencoba bersikap biasa saja.


Setelah pintu terbuka lebar, Bima segera menghampiri Mala yang saat ini masih belum sadarkan diri, wanita itu masih menutup rapat kedua matanya, karna masih tersisa obat bius saat menjalani operasi setengah jam yang lalu.


" Assalamualaikum"


Suara Bima mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam kamar itu, terutama Devan.


" Waalikumsalam nak, kamu sudah sampai?" balas Alundra lembut


" Sudah Bunda, bagaimana keadaan istri Bima?"


Mendengar pertanyaan Bima membuat Alundra terdiam beberapa saat, " Istri kamu lumpuh nak"


" Astagfirullah," ucap Bima dan langsung menghampiri Mala yang masih menutup kedua matanya.


Devan memandang Bima tanpa mau berkedip sedetikpun, pria itu memperhatikan saudara sepupunya yang memang terlihat begitu mencintai Mala, sangat terlihat jelas dari raut wajah Bima jika sangat menghawatirkan keadaan Mala" Apa kamu sudah secinta itu dengannya Bim, kenapa kita harus mencintai satu wanita yang sama" ucap Devan sendi dalam batinnya


" Sayang bangun, aku sudah disini untuk kamu, " pekik Bima sambil mencium lembut kening Mala. hingga tak lama wanita itu membuka kedua matanya.


" My boy, kamu disini?" ujar Mala dengan suara pelan sambil memegang pipi Bima


" Kamu sudah sadar sayang, iya aku disini. aku datang buat kamu sayang" balas Bima yang terlihat begitu lembut.


Mala tersenyum dan menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu, ternyata wanita itu belum menyadari tentang kakinya yang lumpuh, namun. sedetik kemudian Mala menangis saat tidak bisa merasakan apa-apa pada bagian tubuh bawahnya.


" My boy, kenapa aku gak bisa merasakan apa-apa pada kakiku, kenapa kakiku tidak bisa di gerakkan."


Ucapan Mala membuat Bima mendekapnya erat, " Aku tau ini berat, tapi kamu pasti bisa sayang"


" Maksud kamu apa Bim?"


Bima masih terus mendekap erat Mala, pria itu tidak sanggup untuk sekedar memberitahu tentang kenyataan yang sebenarnya pada wanitanya, Bima menatap Alundra dan membuat wanita paruh baya itu paham, apa maksud dari tatapan menantunya.


Alundra mendekat ke arah Mala. " Bunda tau ini berat sayang, tapi ini sudah takdir"


" Apa maksud bunda, tidak usah bertele-tele. kasih tau Mala apa yang sebenarnya"


" Karena kecelakaan itu, kaki kamu mengalami kelumpuhan sayang"


" A....apa"


Mendengar penuturan dari sang bunda, membuat dada Mala terasa begitu sesak, matanya memanas, hingga tak lama bulir bening itu jatuh perlahan membasahi kedua pipinya" Gak mungkin, ini hanya mimpi kan my boy, aku gak lumpuh kan, Hiks...hiks.."


Bima semkin mempererat dekapannya pada Mala, " Aku tau ini berat sayang, tapi aku yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini, ada aku yang akan selalu ada untuk kamu" ucap Bima yang terdengar begitu lembut menerpa indra pendengaran semua orang.