Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Langit dan Bintang menghilang!


Di saat dokter Leon sudah pergi dari ruangan ICU. Tiba-tiba ada Nadia yang langsung masuk begitu saja tanpa permisi dan mengucapkan salam.


"Bim. Bangun Bim. Jangan seperti ini, Aku mohon bangun. Aku tau kamu kuat. Kamu pasti bisa melewati semua ini"Ucapnya tanpa memperdulikan keberadaan Mala di sana


Melihat wanita yang datang tiba-tiba dan menangis sambil menggenggam tangan Bima, Entah kenapa membuat Mala merasa panas dan tidak terima suaminya di sentuh oleh wanita lain. Apalagi wanita yang tidak pernah Mala kenal sebelumnya


"Kamu siapa?" Ujar saat Nadia sudah mengusap kedua matanya yang sudah basah karna air mata


Suara Mala berhasil membuat Nadia menoleh ke arahnya dan memperhatikan Mala dari ujung rambut hingga ujung kaki


"Kamu sendiri siapa?" Jawab Nadia balik tanya


Mendengar itu membuat Mala mengangkat sebelah alisnya sambil menatap tajam Nadia yang juga sedang menatapnya tak kalah tajam


"Kenalin, Aku Mala istrinya Bima"


"Ooooh istrinya Bima. Aku pikir tadi asistennya" Ucap Nadia sambil terus menatap tajam Mala


Mendengar itu membuat Mala semakin kesal di buatnya. Mala masih mencoba tenang agar tidak terlihat jika saat ini dirinya sedang menahan Amarah karna ucapan Nadia


"Jadi ini istrinya Bima. Cantik banget sih. Lebih cantik dari pada di foto. Pantas saja Bima begitu menyayangi dan mencintainya. Ternyata dia begitu sempurna" Nadia bermonolog dalam batinnya


Wanita itu sempat menatap iri pada Mala yang sempurna dan bisa mendapatkan cinta dari seorang Albima. Seorang pria yang selama ini tidak pernah memberikan hatinya pada siapapun


Walaupun tanpa


"Siapa sebenarnya perempuan ini. Apa dia Nadia. Wanita yang waktu itu pernah Bima ceritakan" Ucap Mala dalam batinnya


Mala memperhatikan Nadia yang menatap Bima begitu dalam. Dengan begitu membuat Mala paham jika ada rasa cinta dari sorot mata Nadia


"Maaf ya. Bisa keluar sekarang kan. Suami saya sedang butuh istirahat"


"Kamu ngusir aku!?"


"Tidak. Tapi ya kalau kamu beranggapan seperti itu terserah kamu sih"


Perkataan Mala membuat Nadia merasa begitu marah. Wanita itu keluar dari ruangan Bima dengan membawa rasa kesal karna ulah Mala.


"Kurang ajar wanita itu. Bisa-bisanya dia mengusirku. Awas saja dia. Aku akan membalas dan akan membuat dia merasakan sakit yang teramat sakit"


Setelah keluar dari ruangan Bima. Nadia berjalan pelan sambil memikirkan rencana untuk menghancurkan Mala. Hingga netranya tidak sengaja melihat ke arah ruangan bayi yang kebetulan pintunya tidak di tutup.


Melihat itu membuat membuat Nadia menumbuhkan satu akal jahat dalam benaknya. Wanita itu masuk ke dalam ruangan bayi. Namun sebelumnya dia masih menghubungi seseorang untuk membantunya melancarkan apa yang sedang dia rencanakan.


πŸ“ž: Halo. Ada apa?


πŸ“ž: Ke Muara Hospital sekarang


πŸ“ž: Oke


Tut...tut...tut...


Setelah itu sambungan telponnya terputus. Nadia masuk ke dalam kamar bayi sambil menunggu kedua orang yang sudah dia hubungi.


Wanita itu mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat bayi dengan nama Langit dan Bintang. dengan perlahan Nadia mendekat ke arah dua bayi itu. Namun sebelumnya Nadia sudah mematikan semua cctv rumah sakit agar memperlancar aksinya.


Beberapa saat yang lalu, sebelum menghubungi 2 orang yang akan datang membantu. Nadia sudah masuk ke dalam ruangan cctv dan menonaktifkan beberapa bagian.


"Kita lihat saja Mala. Apa yang akan kamu rasakan saat kedua anakmu yang lucu ini tidak ada di tempatnya" Ucapnya sambil tersenyum licik


Di Tempat Lain


Yasmine yang menyadari itu pun langsung menepuk punggung Devan pelan. Wanita paruh baya itu ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi Devan. Mantan istri yang masih sangat di cintanya malah menikah dengan sepupunya sendiri


Tidak pernah terbayang sebelumnya jika semua ini benar-benar terjadi. Bagaikan mimpi buruk yang singgah dalam hidup Devan


"Kamu kenapa Van?" Tanya Yasmine pada anaknya


"Mama pasti tai Devan kenapa. Rasanya sakit sekali ma. Bagaimana nanti jika Devan kembali bertemu dengan Mala. Perasaan ini pasti akan semakin besar lagi" Ucapnya sendu


"Mama tau Van. Tapi kamu harus sabar. Ini semua sudah takdir. Mau tidak mau, Mala saat ini sudah menjadi milik adikmu sendiri. Kamu tidak mungkin bersaing dengan saudaramu sendiri bukan" .


"Iya ma. Devan tau. Tapi rasanya begitu berat dan begitu sakit ma. Baru kali ini Devan merasakan sakit sedalam ini"


"Kalau jodoh tidak akan kemana kok Van" Timpal Wijaya tiba-tiba


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 18:00. Pesawat yang di tumpangi Devan sudah Landing di negeri Sidney.


Devan dan kedua orang tuanya turun dari pesawat dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya. Mereka semua langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Bima terlebih dahulu


Di Rumah sakit


Mala yang sejak tadi menemani Bima di ruangannya. Tiba-tiba wanita itu teringat akan kedua anaknya yang sudah sejak tadi dia tinggal.


"Ya ampun. Aku lupa belum kasih asi Langit dan Bintang. Sebaiknya aku ke sana dulu. Kasian mereka sudah sejak tadi aku tinggal" Ucap Mala dan langsung keluar dari dalam ruangan ICU


Di saat Mala sudah mau keluar dari ruangan Bima. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat suara lembut Bima terdengar jelas pada indra pendengarannya


"Sayang. jangan pergi. Jangan tinggalkan aku" Ucap Bima yang langsung membuat Mala menghentikan langkahnya


Mendengar suara Bima, Mala langsung membalikkan tubuhnya dan mendekat ke arah suaminya yang saat ini sudah bisa membuka kedua matanya.


"Kamu sudah sadar my boy" Ujar Mala sambil memeluk Bima begitu erat


"Aku seneng banget kamu sudah sadar Mu boy. Jangan pernah seperti ini lagi. Aku takut kehilangan kamu Bim, Aku benar-benar takut kehilangan kamu Bim. Aku mohon jangan seperti ini lagi. Kenapa kamu tidak pernah mengatakan tentang ini sebelumnya Bim. Kenapa kamu harus menyimpan semuanya sendiri" Ucap Mala di sela isak tangisnya


Melihat itu membuat Bima mengangkat kedua sudut bibirnya. Rasanya begitu bahagia saat mendengar semua kata yang sudah Mala ucapkan padanya.


Ini pertama kalinya Bima mendengar Mala mengatakan hal itu. Hal yang selama ini Bima nantikan.


"Aku tidak akan kemana-mana istriku. Aku akan selalu di sini bersama kamu dan kedua anak kita" Ucap Bima lembut seperti biasa


Akhirnya Mala bisa mendengar lagi suara lembut yang sudah biasa terdengar pada indra pendengarannya


"Janji ya Bim. Jangan pernah meninggalkan aku juga Langit dan Bintang"


"Iya sayang aku janji. Aku mau ketemu sama mereka"


"Iya nanti kita ketemu mereka ya. Tapi tunggu kondisi kamu lebih baik lagi"


"Tapi sayang"


Di saat Bima dan Mala sedang membicarakan untuk bertemu dengan Langit dan Bintang. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah luar.


"Bu pak. Baby Langit dan Bintang tidak ada di tempatnya" Ucap suster yang baru saja masuk


"Maksudnya bagaimana suster?" Tanya Bima dan Mala secara bersamaan


"Mereka hilang"


"Apa!!"