Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa yang tersisa


"Akan aku pastikan jika aku akan selalu menggagalkan apapun rencanamu Reno. Berani-beraninya kamu menjadi musuh dalam selimut" Ujar Andre dalam batinnya sambil menyeruput kopi di tangan nya.


Melihat Reno seperti itu membuat Andre teringat akan kejadian beberapa bulan yang lalu. Tepatnya saat Andre baru mengetahui jika Reno sudah menukar obat-obat Bima.


Flashback beberapa bulan yang lalu


Saat di apartemen. Andre yang baru saja masuk tanpa sengaja melihat Reno yang terlihat begitu mencurigakan.


Melihat itu membuat Andre bersembunyi di balik tembok. Andre ingin tau apa yang sedang Reno lakukan di dalam kamar Bima. Terlebih lagi Bima sadang tidak ada di sana.


Andre memang datang ke apartemen karna di minta oleh Bima untuk mengambil beberapa berkas penting yang tak sengaja Bima tinggal di ruangan kerjanya.


"Untuk apa Reno di sini. Bukan kah tadi dia mengatakan jika hari ini sedang ada urusan keluarga sehingga tidak bisa datang ke kantor" Ucap Andre dalam batinnya


Andre terus memperhatikan Reno yang masih sibuk di dalam kamar Bima. Entah apa yang sedang Reno lakukan. Tapi tak lama kemudian, Pria itu keluar sambil membawa obat Bima yang asli.


"Aku akan selalu menukar obat-obat mu Bima. Tidak akan aku biarkan kamu sembuh dari penyakit ini. Bahkan kalau perlu secepatnya kamu mati" Ucap Reno dan langsung keluar dari sana.


Reno tidak menyadari keberadaan Andre yang bersembunyi di balik tembok dekat kamar Bima. Setelah memastikan Reno keluar dari Apartemen Bima, Andre masuk ke dalam kamar Bima. Pria itu melihat obat Bima yang ada di atas nakas.


Sejenak pria itu memperhatikan obat-obat Bima yang menurutnya aneh. Andre mengambil satu kapsul lalu dia buka. Betapa terkejutnya Andre saat melihat isi kapsul itu.


"Astaga ini kan bubuk cabe" Ucap Andre sambil mencium isi kapsul itu


"Ada apa dengan Reno. Kenapa dia menukar obat tuan Bima dengan obat palsu seperti ini" Ucap Andre


"Aku harus menukar lagi obat ini dengan obat yang asli" Ucapnya sambil keluar dari sana dan memesan obat pada dokter Leon dengan menyuruh orang.


Sambil menunggu orang suruhannya, Andre masuk ke dalam ruang kerja Bima dan mengambil berkas-berkas yang Bima minta.


Sejenak Andre mengamati ruang kerja Bima. Tanpa sengaja dia menemukan sebuah buku catatan yang ada di atas meja kerja Bima. Melihat itu entah kenapa membuat Andre penasaran dengan isi buku itu.


Andre mengambil buku itu dan membaca lembaran pertama di buku itu. Sebuah buku dairy yang kemungkinan besar adalah isi hati Bima.


Dairy 13 Agustus 2022


Malam. Ajarkan aku bagaimana caranya membuat wanita yang amat berharga dalam hidup ku bisa mencintaiku. Rasa cinta yang hingga detik ini belum bisa aku miliki


Izinkan aku bisa merasakan kasih sayangnya dengan sisa hidup yang masih aku punya.


Biarkan aku merasakan perasan yang terbalas sebelum kematian itu datang. Apa aku salah jika aku ingin bahagia? Apa aku salah jika mengharapkan kebahagian atas cinta dari wanitaku?


Cinta ini terlalu dalam. Tanpa aku sadari, Ternyata aku sudah mencintainya sebesar ini. Dia sudah seperti menjadi duniaku saat ini. Dunia yang menjadi salah satu alasan ku untuk hidup lebih lama lagi.


Jika boleh berharap. Aku ingin merasakan cintanya, Kasih sayangnya sebelum kematian itu datang.


You are is my life 'Mala'


Membaca itu membuat Andre tanpa sadar meneteskan air matanya. Dia baru tau jika Albima sudah begitu dalam mencintai istrinya. Tidak pernah menyangka seorang mafia sepertinya ternyata juga bisa memiliki perasaan sebesar ini.


"Berjuanglah tuan Bima. Karna pada dasarnya, Perjuangan tidak akan pernah sia-sia" Ucap Andre dan langsung keluar dari dalam ruangan kerja Bima


"Semoga cepat sembuh tuan. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik buat tuan Bima" Ujar Andre dan langsung keluar dari sana


"Kamu kenapa liatin aku seperti itu Dre?" Tanya Reno pada Andre


Suara itu tentu langsung berhasil membuat Andre tersadar dari ingatan beberapa bulan yang lalu. "Eh nggak. Gak papa" Ujar Andre sambil kembali menyeruput kopinya


****


"Sayang, Dari tadi kan kamu belum makan. Aku belikan kamu makan dulu ya. Kamu mau makan apa?" Tanya Bima yang terdengar sangat lembut pada telinga Mala


"Aku belum lapar my boy" Jawabnya


Bima mendekat sambil menatap Mala"Ayolah sayang. Kalau kaku tidak makan, Nanti kamu sakit bagaimana. Kan kasina Bintang kalau sampai kamu sakit" Gumamnya lembut


"Yaudah. Kamu belikan apa saja my boy"


"Kamu tunggu dulu sebentar ya sayang. Aku ke bawah beli makan buat kita"


Setelah kepergian Bima. Mala menatap wajah Bintang yang terlihat sangat lelap dalam tidurnya. Dadanya benar-benar sesak saat teringat akan perkataan Devan.


"Jahat kamu mas. Bagaimana bisa kamu membela wanita yang sudah menculik anak mu sendiri. Aku kecewa sama kamu mas. Aku benar-benat kecewa"


"Melihat kamu melakukan itu membuat aku tidak yakin jika kamu menyayanginya. Aku seperti tidak melihat rasa sayang dari raut wajah mu"


Mala terus menatap Bintang. Bayangan Devan saat lebih memilih Nadia masih terekam jelas dalam ingatannya. Tanpa sadar satu butir bening itu berhasil lolos begitu saja.


Cukup sakit dengan apa yang sudah terjadi hari ini. Karna mau bagaimanapun, Masih ada sedikit rasa yang tersisa dalam relung hati Mala yang paling dalam.


Nama Devan masih samar-samar terukir di sana.


"Bagaimana caranya aku membuang sisa rasa ini. Sisa rasa yang masih tertinggal" Ucap Mala pelan sambil terus membiarkan air matanya meluruh


Setelah itu, Mala mengusap kedua matanya saat mendengar suara langkah kaki dari luar. Mala sudah bisa menebak siapa yang datang. Tentu saja itu adalah Bima.


Setelah memastikan sudah tidak ada air mata yang tersisa, Mala membalikkan tubuhnya sambil menatap Bima yang sedang berjalan ke arahnya sambil membawa paper bag dengan kedua sudut bibir yang terangkat. Menunjukkan deretan gigi putihnya.


Melihat itu membuat Mala bermonolog dalam batinnya"Maafkan aku Bim. Maafkan aku yang masih memiliki sisa rasa untuk mas Devan. Maafkan aku yang belum sepenuhnya bisa mencintai kamu. Aku tau, Kamu adalah pria yang sangat sempurna. Jauh dari pada mas Devan. Tapi entah kenapa, Hatiku masih memiliki sedikit sisa perasaan untuk mantan suamiku. Tapi aku akan selalu berusaha untuk membuangnya Bim. Karna dia hanyalah masa lalu ku, Sedangkan kamu adalah masa depan ku" Ucap Mala dalam batinnya


"Maaf ya sayang. Aku bikin kamu nunggu lama ya" Ujar Bima sambil mempercepat langkah kakinya


"Nggak kok my boy. Justru kamu datangnya cepat sekali. Aku pikir tadi kamu baru sampai di bawah"


"Demi istriku, Aku rela berjalan setelah berlari. Karna aku tidak mau kamu menunggu lebih lama sayang. Because, You are my everything" Ucap Bima lembut sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


Perkataan Bima seakan menampar hati Mala. Ingin rasanya menangis karna merasa bersalah akan pria itu. Namun sebisa mungkin Mala tahan agar tidak tumpah di hadapan Bima.


"Maafkan aku yang masih memiliki sisa rasa ini Bim" Batinnya sambil menatap Bima yang terlihat benar-benar tulus mencintainya