Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Harapan Rendi


" Maksudnya" ucap mereka secara bersamaan.


Mala yang mendengar itu menjadi sedikit gugup. wanita itu masih memikirkan alasan apa yang pas buat menyambungkan ucapannya.


" Em, itu maksudnya Delisa tidak kok. iya kan my boy. gitu tante"


Bima yang mendengar itu langsung membantu Mala untuk segera keluar dari situasi seperti ini, " Iya tante, Delisa benar, kita baru juga sampai" lanjut Bima meyakinkan.


Wijaya mengangguk paham, tapi tidak dengan Yasmine, wanita paruh baya itu masih merasa janggal dengan jawaban Delisa yang terlihat seperti di buat-buat.


" Ya sudah ayo kita belanja sayang" ucap Yasmine dan menggandeng tangan Mala. Yasmine memperlakukan Mala seperti dia memperlakukan istri Devan.


" Iya tante." balas Mala sambil melirik gandengan tangan Mala. Hal ini yang Mala rindukan dari seorang Yasmine.


Mereka Berjalan menyusuri Mall dan langsung ketempat perbelanjaan. kali ini Yasmine membawa Mala untuk belanja baju dan lain-lain.


" Bim, bagaimana kabar orang tua kamu?" tanya Wijaya pada Bima.


" Alhamdulilah baik om, papi sehat." pekik Bima sopan


" Kalau kabar Lani bagaimana Bim?"


Mendengar nama Lani membuat Bima menghentikan langkah kakinya, lututnya terasa lemas. lidahnya seakan kelu untuk sekedar sekedar menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Wijaya,


Kejadian beberapa tahun yang lalu kembali terngiang jelas di ingatan Bima. Kejadian yang menyebabkan sebuah goresan luka yang teramat pedih. Luka yang sudah belasan tahun Bima kubur dalam-dalam.


Biarpun Lukanya sudah sembuh. Namun bekasnya masih sangat terasa jelas, " M...ami sudah tidak ada om" ucap Bima sendu


Mendengar itu membuat Wijaya ikut menghentikan langkahnya," Maksud kamu apa Bim?"


" Iya om, Mami sudah meninggal tiga belas tahun yang lalu. mami di bunuh oleh salah satu musuh besar papi,"


" Waktu itu. Papi koma dan Mami terbunuh sehari setelah insiden yang menimpa papi."


" Maksudnya insiden?"


" Iya insiden, Tiga belas tahun yang lalu. musuh papi melakukan serangan mendadak di saat keluarga kami sedang berkumpul di hari weekend. papi tertembak karna mereka datangnya tiba-tiba."


" Karna tembakan itu mengenai tepat di ulu hati papi, oleh karena itu papi mengalami koma selama delapan tahun lamanya" terang Bima lagi.


" Innalilahi, lalu" ucap Wijaya


" Karna papi koma, Bima berencana membalas menyerang markas musuh papi, Namun di saat Bima mau berangkat ke tempat markas itu, Tiba-tiba om erik mendapatkan sebuah pesan gambar yang tak lain adalah mami."


" Melihat itu, dunia Bima seakan berhenti berputar om. papi koma lalu mami ninggalin Bima untuk selamanya," Lirih Bima sangat pilu.


" Dan sejak saat itu. Bima di tuntut menjadi seorang direktur di usia Bima yang masih sangat belia, Bima juga menjadi pengganti papi sebagai ketua geng black flowers.untung saja ada sifa dan mami Lina yang selalu ada buat Bima"


" Mami Lina?" tanya Wijaya lagi


" Iya om, Mami Lina adalah saudara kembar mami Lani, Papa menikah dengan mami Lina karna permintaan terakhir yang mami Lani ucapkan kepada Bima"


Mendengar penuturan Bima membuat Wijaya mendekat dan memeluk sang keponakan. " Yang sabar ya Bim, Doakan saja mami kamu tenang di alam sana."


Meninggalkan Bima dan Wijaya, saat ini di rumah sakit Adelia sudah selesai menjalani operasi cesar, Namun wanita itu belum sadarkan diri. Devan memilih pergi ke kantin untuk menenangkan pikirannya yang begitu kacau.


Sepeninggalan Devan. Rendi diam-diam masuk ke dalam ruangan Adelia, pria itu mengusap lembut kepala wanita yang di cintainya, " Sebenarnya aku masih sangat mencintaimu Adelia. tapi terkadang rasa sakit yang ku rasakan memaksaku untuk melupakan semua tentangmu, Hati dan pikiranku tidak sejalan Adelia, hatiku mencintaimu. namun pikiranku selalu memaksa untuk melupakanmu"


" Aku masih berharap. semoga suatu saat nanti kita masih di persatukan dengan sebuah ikatan pernikahan."


" Dan aku masih berharap semoga pada saat itu kamu bisa mencintaiku" ucap rendi lagi,


Tak lama kemudian pintu ruang rawat Adelia terbuka. Ada seseorang yang datang namun Rendi belum menyadari kedatangan mereka. " Rendi" Ucap wanita paruh baya yang baru memasuki ruangan itu.


Mendengar namanya di panggil, Rendi langsung membalikkan tubuhnya, dan ternyata yang datang adalah keluarga Adelia. " Ibu" ucap Rendi dan langsung mencium punggung tangan mantan mertuanya.


Ya, Rendi lah yang sudah memberitahu keluarga Adelia beberapa menit yang lalu. Saat Rendi mendengar bahwa Devan tidak punya nomor orang tua Adelia. Pria itu langsung memberikan nomor ponsel ibu Adelia kepada petugas rumah sakit. " Ngapain kamu di sini?"


" Maaf bu. Rendi hanya ingin melihat keadaan Adelia saja. kalau begitu saya permisi."


" Oh iya bu, saya minta jangan pernah memberitahu Adelia atau suaminya jika saya datang menjenguk keadaan Adelia" ucap Rendi dan langsung berlalu dari hadapan Ibunya Adelia, Namun langkah kakinya terhenti saat mendengar suara berat Hermawan. Ayah dari Adelia.


" Apa kamu masih mencintai putri ayah Rendi?"


Mendengar suara itu membuat Rendi menghentikan langkahnya. ingin sekali rasanya Rendi menjawab jika dirinya masih sangat mencintai Adelia, tapi untuk apa? bahkan semuanya sudah selesai.


Rendi menghentikan langkahnya untuk beberapa saat, namun pria itu enggan untuk melihat ke arah belakang. Saat ini terbesit dalam benak Rendi untuk melihat anak Adelia yang kemungkinan besar adalah anaknya.


Rendi kembali melangkahkan kakinya ke arah ruangan dokter yang tadi sudah menangani Adelia. Dokter bella, dia adalah dokter yang membantu Adelia menjalani operasi Cesar. dokter itu juga merupakan sahabat Rendi.


Rendi membuka knop pintu ruangan dokter bella, Dan di sana memang sudah ada dokter itu yang sedang menunggu kedatangan Rendi.


" Akhirnya kamu datang juga Rendi" ucap dokter bella yang saat ini sedang memeriksa keadaan seorang baby kecil.


" Bagaimana keadaan baby ini bella.?"


" Alhamdulliah keadaannya sudah baik-baik saja rendi. Ini benar-benar sebuah keajaiban. Baby ini masih diberikan kesempatan oleh allah,"


" Apa kamu sudah mengambil sempelnya buat menjalani tes DNA?"


" Sudah. kemungkinan hasilnya akan keluar satu minggu lagi"


" Baiklah. jangan pernah memberitahu soal ini pada siapapun."


" Kamu tenang saja Rendi, bukankah yang mereka tahu bahwa anak Adelia sudah meninggal dunia"


" Aku percaya padamu bella. Lalu bagaimana jika Adelia menanyakan jenazah babynya?"


" Kamu tidak perlu khawatir soal itu, Tadi ada orang melahirkan dan meninggal bersamaan dengan anaknya, dan kebetulan dia tidak punya satupun keluarga"


" Syukurlah, kalo gitu aku permisi dulu ya bella," Pekik Rendi dan mengambil alih bayi yang ada di gendongan dokter bella.


Bella mengambil nafas berat, wanita itu harus menjaga rahasia sebesar ini, rahasia tentang anak Adelia yang ternyata masih hidup" Hufff"