
"Apa!!" Ucap Mala dan Bima secara bersaman.
Betapa terkejutnya mereka berdua saat mendapat kabar jika Bintang membutuhkan transfusi darah secepatnya. Bagaimana tidak terkejut, Golongan darah Mala bukan AB-, Apalagi Bima yang sudah jelas jelas bukan ayah kandungnya.
"Golongan darah saya B sus. Dan golongan darah suami saya A" Ucap Mala pad suster itu
Mendengar perkataan Mala membuat suster itu bingung. Bagaimana bisa kedua orang tuanya tidak memiliki golongan darah yang sama dengan anaknya.
"Maksudnya bagaimana bu. Bagaimana bisa salah satu orang tuanya tidak memiliki golongan darah yang sama dengan anaknya" Ucap suster itu
"Karna dia bukan anak kandung saya suster. Tapi saya akan mencari golongan darah tersebut di rumah sakit lain" Ucap Bima cepat
"Baiklah. Secepatnya ya pa, Bu. Kalau bisa jangan sampai 1 jam. Karna dia harus segera di berikan transfusi darah"
"Baik sus"
Setelah suster itu masuk. Mala menatap Bima dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca"Bagaimana ini my boy. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Mala sambil terus menatap Bima
"Tenanglah sayang. Aku akan berusaha mencarikan golongan darah itu di rumah sakit lain. Kalau perlu aku akan meminta semua anggota black flowers untuk tes darah. Siapa tau di antara mereka ada yang memiliki golongan darah AB-." Ucap Bima sambil membawa Mala dalam dekapannya.
"Tapi bagaimana jika sampai satu jam kita tidak bisa menemukan golongan darah itu? Aku tidak mau Bintang kenapa-napa" Ucap Mala di sela isak tangisnya.
Bima terdiam untuk beberapa saat. Pria itu masih berusaha memikirkan apa yang baru saja Mala katakan. Benar, Jika sampai dalam waktu satu jam mereka belum menemukan golongan sarah AB- tidak tau apa yang akan terjadi pada Bintang.
"Kita minta tolong sama kak Devan. Sepertinya memang itu adalah jalan satu-satunya" Ucap Bima tiba-tiba
Minta tolong sama Devan? Itu artinya mereka harus siap jika Devan harus tau kebenaran yang sebenarnya. Kebenaran yang selama ini mereka tutupi dari semua orang jika Langit dan Bintang adalah anak dari Devan adiwijaya.
Mendengar perkataan Bima membuat Mala mengangkat wajahnya dan menatap Bima "Tapi itu artinya kak Devan akan tau hal yang sebenarnya" Ucap Mala pelan
"Mungkin ini memang sudah waktunya kak Devan tau sayang. Sudah tidak apa. Demi kebaikan Bintang. Apa kamu mau dia kenapa-napa?'
Mala menggeleng cepat. Karna sebagai seorang ibu, Tentu saja Mala tidak mau sampai terjadi sesuatu pada buah hatinya.
"Kamu yang tenang ya sayang. Berdoa semoga aku bisa mendapatkan donor darah untuk Bintang sebelum jam 6 pagi"
"Iya my moy. Terimakasih ya. Kamu benar benar ayah yang baik"
"Iya sayang sama-sama"
Setelah itu, Bima mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Reno. Tak butuh waktu lama, Reno langsung menjawab panggilan Bima.
π:Halo tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?
π:Kamu tolong minta anak anak untuk mencari golongan darah AB- di seluruh rumah sakit di jakarta. Kalau perlu kamu juga tanyakan sama mereka siapa yang memiliki golongan darah tersebut
π:Untuk apa tuan?
π:Bintang terkena DBD. Dan trombositnya sangat rendah. Oleh karena itu dokter meminta untuk segera melakukan transfusi darah secepatnya. Di rumah sakit ini kosong.
π:Kenapa gak tuan atau nona Mala yang mendonorkan darah untuk Bintang. Kalian kan orang tuanya. Tentu saja di antara kalian berdua ada yang memiliki golongan darah yang sama
π:Tidak perlu banyak tanya. Lakukan saja apa yang baru saja saya katakan
Setelah mengatakan hal itu, Bima langsung memutuskan sambungan telponnya. Dan hal itu tentu saja membuat Reno mengerutkan keningnya.
"Ada apa sebenernya. Kenapa tuan muda langsung memutuskan sambungan telponnya begitu saja. Apa aku salah bicara" Ucap Reno sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
Setelah itu dia masuk ke dalam penginapan dan meminta anggota black flowers untuk berpencar dan mencari golongan darah AB-.
Sifa dan Rani yang mendengar suara bising itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya. Cukup penasaran dengan kebisingan itu.
"Aku juga tidak tau kak. Lebih baik kita liat saja" Jawabnya pelan
Rani turun lebih dulu dari atas Ranjangnya. Matanya memicing saat melihat anggota black flowers dan juga asisten kak Lustama berdiri di depan kamarnya.
"Maaf, Ini ada apa? Pagi pagi berisik sekali?" Tanya Rani pada mereka
"Kami sedang mencari golongan darah AB-. Soalnya Bintang memerlukan darah itu segera" Terang Reno pada Rani
Sifa yang mendengar nama Bintang langsung mempercepat keluar dari dalam kamarnya"Bagaimana maksudnya?" Tanya Sifa setelah tiba diluar
"Bintang terkena DBD dan memerlukan transfusi darah secepatnya. Karna trombositnya terlalu rendah" Terang Reno lagi
"Apa! Di mana mereka sekarang?"
"Rumah sakita BERLIAN"
Setelah mendengar itu, Sifa langsung berjalan menuju kamar Wilson dan Leon. saat ini mereka berdua memang sedang asik lomba tidur.
Tok...tok...tok..
"Mas, Bangun mas. Mas Wilson" Panggil Sifa dari luar kamar
Namun Wilson tidak menjawab. Karna saat ini pria itu memang sedang menikmati mimpinya.
β’
β’
β’
Tanpa terasa 45 menit sudah berlalu. Namun semua anggota black flowers tidak bisa menemukan golongan darah AB- di rumah sakit manapun.
Hal itu tentu saja membuat Mala semakin panik. Karna waktunya sudah tinggal 15 menit lagi. Jika sampai dalam 15 menit mereka belum menemukan golongan darah tersebut, Tidak tau apa yang akan terjadi pada Bintang. .
"Bagaimana ini my boy. Waktunya sudah tinggal 15 menit lagi" Ucap Mala yang terdengar sangat panik
"Tidak ada cara lain sayang. Kita harus segera menghubungi kak Devan dan memintanya untuk segera datang kesini" Ucap Bima sambil menatap Mala
"Tapi bagaimana jika kak Devan tidak mau?"
"Katakan jika Bintang adalah anaknya"
Sifa yang melihat Mala dan Bima bingung seperti itu langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Devan. Karna memang Devan harus tiba di rumah sakit dalam waktu 10 menit.
Di penginapan
Saat ini Devan masih belum bangun. Karna memang beberapa saat yang lalu sempat demam tinggi. Namun untungnya pagi ini suhu tubuhnya sudah kembali normal.
Tak berselang lama, Ponselnya berdering dan membuat Devan menggeliat karna merasa sangat terganggu. Pria itu melirik Nadia yang ternyata ketiduran di sampingnya dengan posisi duduk.
"Ternyata Nadia sudah merawat ku" Ucap Devan sambil menatap Nadia yang terlihat sangat kelelahan. Devan memutuskan untuk memindahkan Nadia pada ranjang.
Setelah memindahkan Nadia. Devan melirik ponselnya yang sejak tadi bergetar. Devan langsung bisa melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya.
Melihat nama Sifa membuat Devan dengan cepat menjawab panggilannya.
π: Halo Sif. Kenapa pagi-pagi kamu telpon? Tumben
π:Kerumah sakit BERLIAN sekarang kak. Urgen