Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Kita adalah keluarga


"Papa akan segera datang sayang" Ucap Devan dalam batinnya.


Entah kenapa Devan begitu meyakini jika kedua anak Mala adalah darah dagingnya. Biarpun Devan belum pernah melihat seperti apa wajah anak itu, Namun Devan kepikiran jika mereka berdua adalah anaknya saat mendengar jika Mala melahirkan.


Menurut Devan tidak wajar saja jika Mala melahirkan anak Bima.Karna Mala melahirkan tepat 9 bulan perceraian mereka. Hal itu lah yang membuat Devan berfikir jika anak yang Mala lahiran kan adalah anaknya.


"Aku harus segera kembali ke jakarta. Aku harus cepat-cepat melakukan tes DNA pada kedua anak itu" Batin Devan lagi


Setelah itu, Devan kembali lagi masuk ke dalam rumah pak Hendra. Saat sudah tiba di ruang tengah, pria itu tidak sengaja menabrak seorang wanita yang tak lain adalah Nina.


"Hati-hati bisa kan!" Ucap Nina yang hampir saja terjatuh


"Maaf-maaf. Saya tidak sengaja" Ucap Devan sambil kembali melanjutkan langkahnya.


"Tunggu" Ucap Nina pada Devan.


Mendengar suara itu membuat Devan menghentikan langkahnya"Ada apa?" Tanya Devan dingin tanpa melihat ke arahnya


"Kamu siapanya dia?" Tanya Nina yang begitu kepo


"Sepupu" Ucap Devan dan langsung pergi dari hadapan Nina


Nina yang melihat itu ingin rasanya mengumpat pada Devan yang saat ini sudah masuk kembali pada kamar tamu tempat Bima.


"Dasar pria menyebalkan, Dia pikir ini rumahnya siapa!" Geramnya


Damar yang sejak tadi memperhatikan Nina hanya bisa mengulum bibir melihat kelakuan kakaknya."Syukuri, Makanya jadi orang tidak usah kepo sama orang lain. Hahahah"


"Dasar adik kurang ajar!"


Di Tempat Lain


"Rendi. Kamu sudah pulang nak?" Tanya Sandra pada Rendi yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Semalam Rendi memang harus berjaga malam hingga membuatnya pulang pagi seperti ini. Karna Sifa tidak ada di indonesia membuat Rendi harus menggantikan tugas Sifa yang seharusnya menjaga malam.


"Iya ma, Maaf ya ma semalam Rendi tidak bisa pulang, Rendi harus menggantikan Sifa yang kebetulan sedang ada di luar Negri" Terang Rendi pada sang mama


"Iya tidak apa-apa Ren. Memangnya Sifa ngapain ke luar negri Ren?"


"Gak tau juga ma. Sifa tidak mengatakan apa-apa sama Rendi. Sepertinya dia masih begitu kecewa terhadap Rendi" Gumam Rendi yang terdengar begitu pilu


Mendengar perkataan Rendi membuat Sandra meletakkan piringnya dan mendekat ke arah anaknya.


"Ada apa sebenarnya Ren. Mama perhatiin juga Sifa sudah lama tidak datang ke sini, Ada apa? Memangnya kalian bertengkar?" Tanya Sandra yang memang belum tau apa-apa tentang apa yang sudah terjadi pada Rendi dan Sifa.


Rendi tak langsung menjawab. Pria itu membuka jas putihnya sambil duduk di sofa ruang tengah di rumahnya. Sandra yang begitu penasaran hanya mengekor di belakang tubuh anaknya.


"Ada apa Ren. Ceritakan semuanya sama mama, Barang kali saja mama bisa bantu masalah kalian?" Tanya Sandra lagi


"Sifa marah sama Rendi ma"


"Marah! Marah karna apa Ren? Apa yang sudah Kamu lakukan sehingga membuat Sifa marah seperti itu. Pantas saja beberapa hari ini dia tidak ada menghubungi mama"


"Sifa marah karna Rendi mengatakan jika tujuan Rendi mau menikahi Sifa hanya karna ingin menjadikan dia mama buat Tania ma. Rendi tau Rendi salah"


"Apa!!! Dasar bodoh kamu Rendi. Apakah kamu tidak pernah berfikir bagaimana perasaan Sifa saat kamu mengatakan hal itu. Mama benar-benar tidak habis pikir sama jalan pikiran kamu"


"Iya Rendi tau Rendi salah ma. Maafkan Rendi. Tapi Rendi tidak bisa membohongi perasaan Rendi sendiri ma, Rendi sama sekali tidak bisa mencintai Sifa. Rendi sudah berusaha sebisa Rendi ma, Tapi cinta itu sangat sulit untuk tumbuh dalam diri Rendi ma" Terang Rendi


"Rendi Rendi. Sebenarnya mama bingung, Apa sih yang membuat kamu susah untuk sekedar memberikan Sifa cinta. Sifa anaknya baik, Cantik, pintar. Lalu kurang apa lagi Ren! Sekarang mama tanya sama kamu. Apa alasan kamu tidak bisa mencintai Sifa?"


Mendengar perkataan dari sang mama membuat Rendi terdiam. Lidahnya terasa sangat kelu untuk sekedar mengatakan hal yang sebenarnya. mengatakan jika dirinya masih begitu mencintai Adelia dan masih sangat berharap bisa bersama dengan Adelia lagi.


Melihat Rendi hanya terdiam seperti itu, Sandra sudah tau apa jawaban dari pertanyaan yang sudah dia ajukan pada anaknya.


"Tidak perlu menjawab. Melihat ekspresi wajah kamu saja sudah bisa membuat mama tau apa jawabannya"


"Maafkan Rendi ma. Tapi apakah Rendi salah jika Rendi masih mengharapkan Adelia. Biar bagaimanapun, Adelia adalah ibu dari anak Rendi ma. Rendi benar-benar tidak bisa melupakan Adelia"


"Sudah berbulan-bulan Rendi berusaha melupakan dan membuang semua perasaan ini ma. Tapi yang ada Rendi semakin mencintai Adelia" Ucap Rendi yang terdengar begitu sendu


"Terserah kamu saja" Balas Sandra dan langsung berlalu dari hadapan Rendi


Melihat raut wajah sang mama sudah membuat Rendi paham, Jika saat ini Sandra begitu kecewa dengan apa yang baru saja Rendi katakan.


"Maafkan Rendi ma" Ucap Rendi yang terdengar begitu pilu. Namun tidak di hiraukan oleh Sandra


Memang hanya kata maaf yang mampu Rendi ucapkan untuk saat ini. Rendi benar-benar tidak bisa melupakan Adelia. Cintanya sudah begitu dalam.


Di kediaman Adelia


Seperti tidak ada lagi semangat untuk hidup. Semua yang dulu Adelia miliki sekarang sudah hilang. Hidupnya sudah benar-benar hancur.


"Maafkan aku kak, Maafkan aku yang belum bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Maafkan aku yang harus menutupi kenyataan yang sudah aku ketahui" Ucap Rani sambil terus memperhatikan Adelia


Tidak jarang Rani melihat kakaknya meneteskan air mata saat sedang sendiri seperti itu. Melihat keadaan Adelia, Rani juga merasakan apa yang saat ini Rani rasakan.


Setelah itu, Rina datang dan membuat Rani terkejut dengan kedatangannya yang secara tiba-tiba.


"Tidak perlu sok nangis. Jika kamu saja tidak bisa membalaskan sakit hati yang di rasakan kak Adel"Ucap Rina tiba-tiba


"Tidak usah sok tau! Karna segala sesuatu tidak perlu di balas dengan kejahatan. Kamu harus sadar jika ini adalah karma yang harus kak Adelia rasakan" Gumam Rani dan langsung berlalu dari hadapan Rina.


Di Aussie


Devan yang sudah kembali ke kamar tamu tempat Bima saat ini, Pria itu langsung mengatakan pada papa dan mama nya jika harus secepatnya kembali ke jakarta.


Lagi-lagi Devan menundukkan wajahnya saat kedua matanya melihat Bima dan Mala yang saat ini terlihat begitu romantis.


"Jangan melihat ke arah mereka Devan, Jangan!" Gumam Devan dalam batinnya


Pasalnya, Saat ini Mala sedang menguapi Bima makan, Karna pak Hendra mengatakan jika Bima belum sempat makan sejak pagi tadi.


"Ayo buka mulutnya my boy, Kamu harus makan biar bisa cepat sembuh. Katanya mau cari anak kita" Ucap Mala pada Bima


"Tapi aku sedang tidak ingin makan sayang" Ucap Bima dengan suara manjanya


Baru kali ini Mala mendengar suara manja yang keluar dari mulut suami tampan nya."Ayolah my boy. Kamu harus makan. Ingat apa katanya dokter Leon. Kamu harus segera minum obat yang dokter Leon berikan. Iya kan dokter Leon"Ujar Mala sambil melirik ke arah Leon


"Iya Bim. Jika kamu mau segera sembuh, Kamu harus makan lalu minum obat yang sudah aku berikan tadi" Timpal Leon


Bima menatap Mala sambil berbisik sesuatu tepat di telinga Mala. Hingga tidak ada satu orang pun yang mendengar apa yang sudah Bima katakan pada Mala saat ini.


"Tapi aku maunya makan kamu sayang. Aku sangat merindukan semua belayan mu" Ucap Bima tepat di telinga Mala.


Mala yang mendengar itu langsung membulatkan kedua matanya serta mencubit lengan Bima. Tidak habis pikir dengan apa yang baru saja Bima ucapkan.


Melihat raut wajah Mala yang sudah sangat merah membuat Bima mengulum bibir menahan tawa, Sungguh istrinya benar-benar terlihat menggemaskan saat sedang merona seperti itu.


"Kamu cantik sayang. Sangat" Ucap Bima yang terdengar begitu lembut pada indra pendengaran semua orang


"Tidak perlu membual. Ayo cepat buka mulutnya, makan lalu minum obat" Gumam Mala sambil menyuapkan nasi yang sejak tadi masih utuh


"Iya istriku yang bawel"


Yasmine dan Wijaya hanya saling lirik menyaksikan Bima dan Mala yang memang terlihat sudah saling mencintai. Mereka berdua melirik ke arah Devan yang sejak tadi memang sudah melihat ke lain arah.


"Tuhan. Berikan Devan pengganti wanita yang bisa mencintai nya dengan tulus seperti Mala" Batin Yasmine


Saat melihat Mala dan Bima seperti itu, Yasmine sudah tidak terlalu berharap jika Mala bisa kembali lagi pada Devan. Terlebih lagi saat mengetahui jika saat ini Bima sedang mengidap penyakit Ginjal.


Yasmine hanya memiliki satu harapan. Semoga Devan bisa mendapatkan pengganti Mala segera.


"Ma, Pa. Sepertinya Devan harus kembali hari ini ke jakarta. Barusan Alex mengabarkan jika meeting bersama mr, Anderson akan di majukan jadi besok siang" Terang Devan pada Yasmine juga Wijaya


"Kok jadi mendadak Van. Bukan nya masih bulan depan ya?"


"Seharusnya begitu pa. Tapi karna ternyata hari ini mr, Anderson sudah ada di jakarta, Jadi meeting nya dimajukan besok siang. Lebih cepat lebih baik juga kan pa"


"Baiklah, Kamu hati-hati di jalan ya. maaf mama dan papa tidak bisa kembali hari ini Van. Masih ada urusan di sini" Ucap Yasmine


"Iya ma, Kalau gitu Devan pulang sekarang ya ma,pa"


"Iya nak. Hati-hati di jalan"


Sebelum pergi, Devan masih menyempatkan diri untuk pamit pada semua yang ada di sana. Terutama pada Bima, Biarpun Devan merasa hatinya begitu nyeri, Tapi sebisa mungkin Devan menahannya.


"Bim, Maaf ya aki tidak bisa lebih lama lagi di sini. Karna ada meeting penting yang harus aku hadiri besok siang" Ucap Devan sambil menatap Bima dan Mala secara bergantian


"Iya kak. Terimakasih sudah mau menyempatkan diri datang kesini"


"Tidak perlu berterimakasih Bim. Kamu adalah saudaraku. Kita keluarga. Semoga kamu lekas sembuh"


"Sekali lagi terimakasih kak Devan" Ucap Bima lagi


Setelah itu, Devan pamit pada semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Pada Lina, Sunder, Sifa, Leon dan Wilson.


Sesudahnya, Devan keluar dengan membawa sejuta luka yang terasa begitu perih.


"Selamat tinggal Mala, Semoga kamu bahagia selalu bersama dengan Bima" Ucap Devan dalam batinnya.