Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Video Call


Mendengar ucapan sang ayah, membuat Mala tak lagi melanjutkan ucapannya. wanita itu memilih untuk sarapan dan menghubungi Bima agar bisa menanyakan langsung tentang apa yang ingin diketahuinya.


Seperti biasa, tidak ada yang berbicara saat sarapan berlangsung, sarapan itu hanya dilalui dengan keheningan saja. hanya terdengar suara bising alat makan di meja itu.


setelah sarapan selesai, Semua orang sudah kembali melakukan aktifitasnya masing-masing, kecuali Andra dan Mala, karna memang Andra yang meminta Mala untuk tetap stay, ada hal penting yang harus Andra katakan pada Mala.


" Dek. ikut kakak sebentar ya, ada hal yang mau kakak tanyakan"


" Iya kak"


Andra berjalan ke arah taman belakang rumah itu, Mala mengikuti Andra yang mengekor di belakang pria itu, setelah tiba di taman belakang, Andra meminta Mala untuk duduk terlebih dahulu.


" Ada apa kak? Kak Andra mau tanya soal apa?"


" Kamu jawab jujur ya, "


Mendengar ucapan Andra membuat Mala mengerutkan kecil keningnya" Iya, mau tanya apa kak?"


" Apa kamu masih mencintai Devan?, jujur dek"


Pertanyaan Andra sempat membuat Mala terpaku dan terdiam beberapa saat, karna tanpa Mala jawab sekalipun. mungkin Andra sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan pada Mala.


" Kok diem" pekik Andra lagi


" Menurut kak Andra bagaimana?"


" Loh dek, kamu di tanya, kok malah balik tanya"


" Iya, menurut kak Andra bagaimana, em maksudnya. menurut pemikiran kak Andra?"


" Sepertinya masih sangat," ucap Andra pelan


" Kenapa kak Andra bilang seperti itu?"


" Itu cuma pemikiran aku, memangnya benar?"


Mala tak lagi menjawab, wanita itu hanya memberi anggukan yang terlihat begitu sendu, " Belajarlah mencintai Bima dek, kakak tau. Bima sangatlah mencintaimu" ucap Andra lagi


" Susah kak, selama ini aku sudah mencoba, tapi rasanya begitu sulit, entah kenapa mas Devan selalu terbayang begitu saja, padahal Bima lebih dari segalanya."


" Bima lebih baik, Bima lebih tampan. Bima lebih perhatian, Bima lebih mencintai Mala, tapi kenapa rasanya begitu sulit untuk sekedar menumbuhkan rasa cinta itu" ujar Mala yang terdengar begitu lirih


Andra mendekat dan menepuk pelan bahu Mala" Kakak percaya kamu bisa, cintailah Bima sebelum penyesalan datang ya dek" pekik Andra dan langsung berlalu meninggalkan Mala yang masih terdiam.


Setelah kepergian Andra, Mala menatap kosong bunga-bunga di depan matanya," Apa maksud kak Andra, Cintai Bima sebelum penyesalan datang?"


Mala masih terus mencoba mencerna perkataan yang terlontar dari mulut Andra, sedetik kemudian. Mala baru sadar jika dirinya ingin membeli ponsel baru untuk bisa menghubungi Bima, mengingat ponsel miliknya hilang entah kemana.


" Ya ampun, sampek lupa kan, " pekiknya sambil menepuk pelan jidadnya.


Wanita itu segera bersiap dan langsung pamit kepada sang bunda untuk keluar sebentar buat membeli ponsel baru,


Satu jam kemudian, Mala sudah tiba di pusat perbelanjaan, Kakinya terus melangkah dan menyusuri pusat pembelanjaan itu.hingga netranya bertemu dengan sebuah kios ponsel yang menjadi tujuannya datang ketempat itu,


" Mau cari ponsel tipe apa mbk?" tanya salah satu karyawan kios.


" Emm sebentar ya mbk, saya liat dulu"


" Baik mbk," ucap sopan karyawan itu


Sepuluh menit kemudian, Mala sudah memutuskan untuk membeli ponsel apa. Kali ini pilihan Mala jatuh pada hp apple yang berwarna gold.


" Saya mau yang ini mbk, warna gold ya"


" Iya boleh mbk, sekalian kuota juga ya"


Karyawan itu hanya memberi anggukan paham. disaat Mala masih menunggu pesanannya, tiba-tiba suara seseorang mengejutkan wanita itu, suara yang cukup familiar pada indra pendengaran Mala.


" Kak Mala, ini kami beneran Mala kan,? ya ampun kamu kemana saja kak, aku kangen banget" ucap wanita itu sambil memeluk tubuh Mala.


Mala sendiri masih diam. wanita itu belum membalas pelukan yang di berikan olehnya. " Laras" ucap Mala dalam batinnya.


" Maaf, siapa ya?' tanya Mala pura-pura tidak tau.


Mendengar itu membuat Laras melepaskan pelukannya, " Apa maksud kamu kak, Kamu kak Mala kan, ini aku Laras"


" Laras? Maaf kami salah orang, aku bukan Mala tapi Delisa" ucap Mala yang bertepatan dengan karyawan kios yang memanggilnya.


" Maaf, saya permisi"


Mala berlalu dari hadapan Laras, Laras masih terus menatap menatap kepergian wanita yang dia yakini adalah Mala. " Kenapa wajahnya begitu mirip dengan kak Mala" ucap Laras sambil menggaruk lehernya.


Setelah keluar dari kios hp, Mala membuka ponsel yang baru saja dia beli, untungnya wanita itu sempat menghafal nomor ponsel suaminya. untuk menjaga di saat seperti ini.


Mala menekan tombol Video call. Nomor itu langsung berdering, namun sampai dua kali seseorang yang di ujung telfon belum juga mengangkat telfon dari Mala.


" Bima kenapa tidak menjawab teleponku ya" ucap Mala sambil kembali menekan tombol video call.


tut....tut....


Tak berselang lama, panggilan itu pun diterima dan langsung terlihat sosok seorang pria tampan dengan senyum tipis yang terukir jelas di layar itu.


πŸ“ž[ Kenapa lama angkat telpon dari aku my boy? ]


πŸ“ž[ Kenapa? sudah mulai kangen tah sayang? ]


πŸ“ž[ Ih my boy, kenapa kamu pergi gak bilang aku ]


πŸ“ž[ Maaf ya sayang, kamu tidurnya sudah nyenyak banget. aku gal tega buat membangunkan kamu ]


πŸ“ž [ Sebenarnya kenapa kamu mendadak kembali ke Aussie mu boy? ]


πŸ“ž [ Nanti kalau sudah pulang ke apartemen aku ceritakan ya sayang, sekarang aku masih mau ke kantornya papi, ada meeting siang ini, aku tutup dulu ya sayang, Love you ]


πŸ“ž [ Yaudah. semangat ya kerjanya ]


Setelah mengatakan hal itu, sambungan telfon terputus, Kali ini rencana Mala ingin bertemu dengan ketiga sahabatnya, wanita itu mengirim pesan pada Mega untuk membawa Doni juga Sindy ke warungnya mang jajang,


Mala memesan taksi online untuk mengantarnya menuju kampus merah putih, tempat yang dulu selalu menjadi tempatnya menuntut ilmu.


Tak menunggu lama, sebuah taksi yang Mala pesan sudah tiba di depan bangunan pusat pembelanjaan itu. Mala meminta pada sang supir untuk mengantarnya menuju kampus merah-putih,


Karna jalanan tidak terlalu macet, akhirnya Mala hanya memerlukan waktu selama empat puluh lima menit untuk tiba di warung mang jajang, dan ternyata di sana sudah ada ketiga sahabatnya yang menunggu kedatangan Mala.


" Honey, akhirnya kita bisa bertemu lagi" ucap Doni heboh dan langsung memeluk Mala seperti biasa


" Emangnya kangen sama aku" ujar Mala sambil membalas pelukan sang sahabat


" Sangat honey, asal kamu tau ya honey. sejak kamu tidak ada, aku selalu meras kesepian, tidak ada yang mau menemaniku, si Mega sibuk sama kak Vino, adanya cuma si petasan honey, hidupku tersiksa" ucap Doni memelas


" Eh elo tuh ya," timpal Sindy kesal


Mega dan Mala yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala, hal ini yang terkadang Mala rindukan dari kedua sahabatnya.


Jangan lupa like, komen sama vote ya kak. baca juga karya Author yang lain ya. terimakasih atas dukungan kalianπŸ™πŸ»