Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Tampan


Setelah itu. Devan juga ikut turun dari Rooftop. Pria itu terus menatap Mala dan Bima dengan rasa sakit yang teramat sakit hingga tembus ke relung hati. "Kenapa hubungan kita harus berakhir seperti ini Mala. Menjadi kakak dan adik ipar. Sungguh menyedihkan" Ucapnya sendu


Setelah keluar dari restoran. Devan tidak langsung kembali ke penginapan, Pria itu masih ingin mencari keberadaan Nadia yang tadi keluar dengan perasaan yang sangat marah.


Mengingat raut wajah Nadia membuat Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal"Ada apa dengan wanita itu. Kenapa terlihat marah saat tadi mengatakan jika Mala adalah wanita yabg sangat aku cintai. Aku tidak paham dengan sikap nya" Ujar Devan sambil terus berjalan menuju pantai


Setelah melihat keberadaan Nadia. Devan memperlambat langkahnya. Tiba-tiba dia mendengar perkataan Nadia yang membuatnya merasa sangat terkejut.


"Aaaaarrrrgggh. Kenapa tidak ada satu orang pun yang mau mengerti perasaan aku. Mereka semua egois. Tidak ada yang bisa mengerti bagaimana perasaan ku" Ucap Nadia dengan suara serak


"Kenapa dunia begitu kejam dan tidak adil untukku. Aku juga ingin bahagia. Tapi apakah kata bahagia itu tidak pantas untukku. Untuk wanita yang hina sepertiku. Aarrrrgghh"


Nadia berteriak sambil terisak. Entah apa yang membuat wanita itu merasa benar-benar luka dan menganggap jika dunia sudah tidak adil untuknya.


Nadia terduduk di atas pasir sambil menatap gelapnya malam dengan ribuan bintang yang sangat indah. Mereka terlihat tenang dan damai.


Setelah itu. Nadia bangun dan berjalan menuju pantai dengan pandangan yang terlihat kosong. Devan yang sejak tadi mematung tidak jauh dari tempat Nadia seketika langsung berlari saat melihat Nadia berjalan ke arah pantai.


"Astaga. Mau ngapain itu cewek. Apa dia sudah tidak waras" Ucap Devan sambil berlari menyusul Nadia


"Nadiaaa. Berhenti di situ. Nadia itu bahaya" Teriak Devan sambil berlari mengejar Nadia yang sudah tidak menghiraukan panggilannya.


"Nadiaaa.. Astaga! Kenapa dia jadi seperti itu. Nadia" Panggil Devan semakin panik saat melihat Nadia sudah semakin berjalan ketengah pantai


Sedangkan Nadia yang merasa hidupnya tidak adil sudah tidak menghiraukan panggilan Devan. Yang ada dalam benaknya adalah bagaimana caranya agar bisa lenyap dari bumi ini. Meninggalkan dunia yang sangat tidak adil untuknya. Dunia yang begitu kejam.


Nadia memejamkan kedua matanya saat melihat ombak besar yang sudah semakin mendekat ke arahnya"Selamat tinggal semuanya" Seru Nadia sambil memejamkan kedua matanya.


Beruntung karna Devan datang tepat Waktu. Pria itu berlari cepat dan langsung menarik tangan Nadia saat ombak besar itu datang.


"Sadar Nadia. Nadia bangun" Ucap Devan sambil menepuk kedua pipi Nadia


"Nadia bangun" Panggil Devan lagi


Namun Nadia masih enggan untuk membuka kedua matanya. Wanita itu membuat Devan menjadi sangat panik. Apalagi denyut jantungnya seperti berhenti berdetak.


"Astaga. Kenapa denyut jantungnya berhenti. Bagaimana ini" Ucap Devan panik sambil mencoba menekan dada Nadia. Namun usahanya nihil. Karna Nadia tidak ada reaksi apa-apa.


Hanya ada satu cara untuk membantunya, Yaitu memberi Nadia nafas buatan. Devan menatap wajah Nadia yang semakin terlihat pucat."Sudah tidak ada cara lain" Ucap Devan sambil mendekatkan bibirnya pada bibi Nadia untuk memberikannya nafas buatan.


Uhuuukk


Nadia berbatuk setelah beberapa saat menerima nafas buatan yang di berikan oleh Devan. Wanita itu mengerjab untuk beberapa saat untuk menyesuaikan penglihatannya yang masih sedikit samar.


"Kenapa kamu ada disini Van. Apa kamu juga sudah mati?" Tanya Nadia saat melihat sosok Devan di samping tubuhnya


Devan yang mendengar suara Nadia seketika langsung menatapnya Dan membawa Nadia dalam pelukannya"Kamu sudah sadar Nadia" Ucap Devan sambil menggenggam tangan Nadia yang terasa begitu dingin


"Apa! Sudah sadar? Bukankan aku sudah mati karna ombak itu?" Tanya Nadia dengan suara serak sambil menatap Devan


"Apa katamu! Jadi aku belum mati? Kenapa kamu harus menolong ku Devan. Kenapa kamu tidak membiarkan ombak itu membawa tubuhku"


"Kamu itu sudah tidak waras ya. Jangan pernah merencanakan kematianmu sendiri"


"Kenapa kamu harus menolongku Van. Kenapa! Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati. Aku sudah lelah dengan dunia yang sangat tidak adil untukku" Ucap Nadia yang terdengar sangat pilu


"Berhenti mengatakan hal itu Nadia. Aku tau bagaimana perasaanmu. Aku tau apa yang sudah membuatmu seperti ini. Kamu terluka? Aku tau itu. Tapi apa yang kamu lakukan bukanlah jalan terbaik" Seru Devan sambil menangkup kedua pipi Nadia


"Oke. Kamu akan terbebas dengan dunia yang kamu bilang tidak adil untukmu. Tapi apakah kamu yakin jika setelah kematian mu, Kamu akan masuk surga? Hah! Apa kamu yakin tentang hal itu Nadia?"


"Berhentilah mengatakan jika dunia tidak adil untukmu, Karna dunia hanya tentang bagaimana kamu menyikapinya. Semua hanya tentang dirimu sendiri. Tidak ada dunia yang tidak adil. Bukan kah kamu sendiri yang mengatakan hal itu"


"Bijak dalam menasehati orang lain tapi lupa bagaimana menasehati diri sendiri" Ucap Devan dan melepaskan tangannya dari kedua pipi Nadia


Mendengar perkataan Devan membuat Nadia semakin terisak" Tapi aku sudah lelah dengan hidupku yang begitu menyedihkan ini" Ucap Nadia di sela isak tangisnya


Melihat Nadia seperti itu membuat Devan merasa sangat iba. Pria itu membawa tubuh Nadia dalam dekapannya"Menangislah jika itu bisa membuat hatimu tenang Nad. Satu hal yang harus selalu kamu ingat. Kamu tidak sendiri, Ada aku yang juga merasakan hal yang sama sepertimu" Ucap Devan lembut sambil membelai rambut Nadia


"Kenapa kamu mau menolongku Van?"Tanya Nadia yang masih ada dalam dekapan Devan


"Karna kamu juga pernah melakukan hal yang sama terhadapku Nad. Kamu juga pernah memberikan bahu untuk tempat ku bersandar, Dan aku tidak akan melupakan hal itu" Ucap Devan pelan


Mendengar perkataan Devan membuat Nadia mengangkat wajahnya. Wanita itu menatap Devan yang saat ini juga sedang menatapnya. Tiba-tiba Nadia teringat akan ciuman yang Devan berikan saat memberikan nafas buatan untuknya.


"Apa itu artinya tadi bukan mimpi. Devan benar-benar mencium ku" Ujar Nadia dalam batinnya sambil terus menatap Devan


"Sebenarnya apa yang ada di otakmu Nad? Kenapa sampai harus melakukan hal bodoh seperti tadi" Tanya Devan sambil menatap Nadia


"Karna aku sudah tidak memiliki tujuan hidup Van. Hidupku sudah benar-benar hancur" Jawabnya sendu


Setelah itu Devan melepaskan dekapannya."Aku ingin kembali ke penginapan, Kalau kamu masih mau disini atau mau lanjutkan bunuh diri silahkan, Tapi jangan harap aku akan menolong mu lagi"Ucap Devan dan langsung melangkahkan kakinya


Namun langkahnya terhenti saat suara Nadia terdengar pada indra pendengarannya"Tunggu Van. Aku ikut" Ucap Nadia pelan


Mendengar itu membuat Devan membalikkan tubuhnya."Katanya sudah bosan hidup" Seru Devan sambil mengulum bibir


"Sudah tidak lagi. Setelah aku pikir-pikir, Ternyata apa yang kamu katakan memang benar. Dunia hanya tentang bagaimana kita menyikapinya" Ucap Nadia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Ya sudah. Ayo kita kembali ke penginapan, Kenapa kamu masih duduk disitu?"


"Kakiku kram Van. Aku kedinginan"


Mendengar perkataan Nadia membuat Devan mendekat dan langsung mengangkat tubuh Nadia dalam gendongannya" Mau ngapain kamu Van?" Tanya Nadia begitu terkejut saat Devan menggendong tubuhnya


"Diam Lah. Aku hanya ingin membantumu"


Setelah itu. Nadia mengalungkan kedua tangannya pada leher Devan. Nadia menatap wajah Devan yang terlihat sangat tampan di matanya"Tampan" Ucap Nadia tanpa sadar