
Dada Andika terasa sangat sakit saat teringat akan Latisa. Mengingat hal itu membuat Andika kembali mengepalkan kuat kedua tangannya.
"Akan aku pastikan, Kamu merasakan apa yang pernah aku rasakan Bim!" Ucap Andika lagi
Ternyata selama ini yang membuat Andika menaruh dendam pada Bima adalah kejadian masa lalunya. Masa lalu yang cukup menyakitkan buatnya.
"Bagaimana pun caranya, Kamu harus hancur Bim!"
Di Tempat Lain
Devan baru saja membuka kedua matanya. Pria itu tidak tau jam berapa dia tidur. Tapi yang pasti, Dia tertidur setelah cukup lama terjaga dan membayangkan wajah Mala saat tadi sedang menangis.
Hari ini Devan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dan melihat keadaan Bintang. Walaupun Devan ingat jika Mala sudah tidak mengijinkannya untuk datang menemui Bintang lagi setelah apa yang sudah Devan lakukan kemarin.
"Hari ini aku harus ke rumah sakit. Mau bagaimanapun, Aku khawatir dengan keadaan Bintang. Siapa tau saja di sana tidak ada Mala. Lebih baik aku hubungi Sifa dulu" Ucap Devan dan langsung mengambil ponselnya. Tak butuh waktu lama, Sifa langsung menjawab panggilannya.
π:Iya halo kak. Ada apa? Tumben telpon Sifa
π:Apa di sana ada Mala?
π:Tidak ada kak. Kak Mala sama kak Bima belum datang sih. Ada apa memangnya
π:Beneran mereka tidak ada di sana. Kalau gitu kakak langsung otw
Setelah itu Devan langsung memutuskan sambungan telponnya. Pria itu tidak mendengarkan jawaban Sifa terlebih dahulu, Padahal Sifa akan mengatakan jika Mala dan Bima ternyata sudah datang.
"Aku harus cepat-cepat ke rumah sakit, Sebelum Bima dan Mala datang" ucapnya dan langsung bangun dari tempat tidurnya.
Saat Devan sudah selesai bersiap, Dia mencium bau masakan yang berasal dari apartemennya. "Kenapa ada makanan disini, Siapa yang sudah masak?"ucap Devan sambil mengerutkan keningnya dan mendekat pada meja makan
Tak berselang lama, Ada Nadia yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa piring di tangannya. Nadia mengangkat kedua sudut bibirnya sambil tersenyum hangat pada Devan.
"Kamu di sini Nad. Sejak kapan? Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Kamu saja yang tidak menghiraukan kedatanganku Van. Semalam aku datang kesini di saat kamu sedang merenung di balkon. Aku panggil tapi kamu tidak respon, Jadinya aku langsung tidur saja" seru Nadia
"Bagaimana caranya kamu masuk kesini?"
"Lupa apa bagaimana, Kan kamu sendiri yang memberikan aku akses masuk"
Sejenak Devan terdiam. Masih berusaha mengingat apa yang Nadia katakan. Memangnya kapan Devan memberikan akses itu pada Nadia, Entahlah.
"Oooh begitu ya. Ya sudah lah, Aku lebih baik makan saja. Ini makanan tidak kamu berikan racun kan?"
"Ya ampun Van. Masa iya aku mau kasih racun makanan ini. Ya kali"
"Ya siapa tau saja"
"Kalau racun sih enggak. Cuma" Nadia menghentikan perkataannya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Cuma apa?"
"Cuma tadi sedikit aku kasih ramuan cepat move on"
"Gak jelas banget sih Nad"
Sedangkan Bima dan Mala yang sudah tiba di rumah sakit langsung berjalan menyusuri setiap koridor di rumah sakit. Mereka berdua menghampiri Sifa yang sedang sarapan bersama dengan Wilson di ruangan Bintang.
"Sifa, Bagaimana keadaan Bintang. Memangnya benar kalau dia sudah boleh pulang?"
"Iya kak, Keadaan Bintang sudah baik-baik saja. Bahkan aku sendiri yang sudah memeriksanya kak, Sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Syukurlah, Jadi hari ini Bintang sudah boleh pulang" ucapnya sambil berjalan mendekat pada Bintang.
"Sayang. Hari ini aku ada urusan sebentar. Kamu gak papa kan aku tinggal sebentar?" tanya Bima sambil menggenggam tangan Mala
Mendengar itu membuat Mala menatap Bima sambil tersenyum"Iya gak papa my boy, Aku gak papa sendiri di sini, Kamu hati-hati di jalan ya."
"Iya sayang. Setelah urusan ku selesai, Aku akan langsung kembali ke sini"
Bima menoleh pada Andre. Karna memang tadi Bima meminta Andre untuk menemaninya. Bima sengaja meminta Reno untuk tetap stay di kediaman kakek Lustama.
"Bagaimana tuan. Apa kita langsung ke sana?" tanya Andre pada Bima
"Iya, Kita kesana sekarang. Jangan lupa kasih tau sama yang lain suruh stay di tempat itu"
"Sudah tuan. Mereka semua sudah ada di sana sesuai dengan yang sudah tuan perintahkan" jawab Andre sambil menundukkan wajahnya.
"Bagus. Kali ini Reno dan Viona akan tau apa yang bisa aku lakukan"
Bima terus menyusuri koridor rumah sakit. Pria itu naik ke dalam mobil hitam milik sang kakek. Setelah itu. Andre langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Sudah. Tidak perlu mencemaskan hal itu, Saya bisa menjaga diri saya sendiri. Kamu nanti langsung kembali ke rumah sakit dan jagain Mala di sana" titah Bima sambil memainkan ponselnya.
"Tapi tuan, Bagaimana bisa saya melakukan hal ini, Sedangkan tuan Bima sendiri sedang ada dalam bahaya"
"Sudah saya katakan, Tidak perlu mencemaskan saya, Buat saya yang paling penting adalah Mala. Mala tidak boleh sampai kenapa-napa. Kalau hanya soal Reno dan Viona, Serahkan semuanya sama saya"
"Tapi jangan sampai ada yang tau jika kamu sedang di rumah sakit. Biarkan orang suruhan Reno dan Viona mengira tidak ada siapapun di rumah sakit, Kecuali Mala"
"Baik tuan, Akan saya lakukan seperti apa yang tuan mau"
"Bagus"
Bima dan Andre memang sudah tau dengan rencana Reno dan Viona. Mereka berdua ternyata sudah memasang alat penyadap suara pada baju Reno. Sehingga apapun yang Reno dan Viona katakan bisa terdengar oleh Bima juga Andre.
Dari alat yang mereka pasang, Mereka berdua bisa mendengar apa yang saat ini sedang Reno dan Viona bicarakan.
"Hari ini kita harus bisa membuat Bima benar-benar hancur. Rencana kita kali ini tidak boleh gagal Ren, Jebakan kali ini harus berhasil" ucap Viona pada Reno
"Tentu kak, Albima harus bisa merasakan apa yang pernah kita rasakan. Dia harus tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kita sayang"
"Iya, Karna Albima, sekarang hidup kakak jadi seperti ini"
"Sepertinya apa yang di katakan Andik memang benar adanya"ucap Viona lagi
"Perkataan Andika. Memangnya apa yang sudah dia katakan kak?"
"Kita bunuh Mala" ujar Viona sambil menatap Reno
"Bukankah hal itu akan langsung membuat Bima hancur. Karna yang aku tau, Dunia Bima sepenuhnya untuk istrinya yang tidak seberapa itu."
Kedua orang itu terus saja berbicara tentang apa yang menjadi rencana mereka, Tanpa mereka sadari, ternyata Bima sudah mendengar semuanya.
Bima semakin mengepalkan kuat kedua tangannya, Ingin rasanya langsung merobek kedua mulut orang itu. Apalagi saat mendengar mereka membawa nama Mala, Membuat Bima semakin murka.
"Awas saja kamu Reno, Kalau sampai kalian berani menyakiti Mala, Aku tidak akan segan-segan membunuh kalian. Persis seperti apa yang sudah aku lakukan pada Lendri dan juga Luis yang telah mencoba membunuh papi waktu itu" ucap Bima sambil mengepalkan kuat tangannya.
Di Apartemen
"Kamu mau kemana sih Van. Kok sudah rapi saja, Aku ikut ya" ucap Nadia pada Devan saat Devan sudah menghabiskan makanan di piringnya.
"Tidak ada, Aku hari ini sedang ada urusan penting. Lebih baik kamu di sini atau kemana saja. Yang penting kamu tidak mengganggu ku"
"Tapi Van. Aku bosan jika terus-terusan di tempat ini. Aku mohon ikut ya Van"
"Gak ada Nad. Awas aku harus buru-buru ke rumah sakit"
Mendengar kata rumah sakit membuat Nadia mengerutkan keningnya. "Astaga. Pasti mau bucin lagi sama Mala. Mau sampai kapan sih Van kamu berhenti dari semua ini. Apa tidak lelah?"
Perkataan Nadia berhasil membuat Devan menghentikan langkah kakinya"Aku tidak akan lelah selama kesempatan itu ada. Karna memang benar apa yang di katakan oleh orang itu. Aku harus bisa menjaga hati untuk cintaku" jawab Devan sambil menoleh pada Nadia
"Tapi cintamu itu sudah tidak lagi mencintaimu Van. Dia sudah mencintai pria lain, Jangan buang-buang waktu untuk hal yang tidak pasti"
"Aku tidak perduli akan hal itu Nad, Yang penting hatiku selalu untuknya"
Setelah mengatakan hal itu Devan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Nadia yang masih mematung di tempat makan.
"Semoga saja kamu tidak akan menyesal Van. Karna berjuang sendiri itu menyakitkan" ucap Nadia sambil menatap tubuh Devan yang sudah menghilang di balik pintu apartemen.
Devan masuk ke dalam lift. Pikirannya berhasil terganggu dengan apa yang Nadia katakan. Jika di pikir-pikir, Apa yang Nadia katakan memang benar adanya. Semua yang Devan lakukan hanya akan berakhir sia-sia.
"Apa aku memang harus move on. Tapi bagaimana caranya, Kenapa rasanya sangat susah melupakan semua tentang Mala. Mala ternyata sudah benar-benar menguasai hati dan juga pikiran ku" ucap Devan dalam batinnya.
"Tapi tidak, Aku akan selalu menjaga hatiku untuk Mala, Tidak perduli jika pun aku harus menua sambil menjaga perasaan ini. Yang penting, Aku akan selalu memberikan cintaku untuknya, Wanita yang ternyata sudah menjadi istri dari sepupuku sendiri, Benar-benat menyedihkan" Batin Devan lagi
Tak berselang lama, Ponsel Devan berdering, Ada sebuah panggilan masuk yang ternyata dari sang mama. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya membuat Devan langsung menjawab.
π:Halo ma, Ada apa?
π:Devan, Mama sama papa sudah sepakat untuk mencarikan kamu pengganti Mala, Sepertinya memang ini sudah saatnya kamu move on.
π:Apa maksud mama.
π:Mama dan papa sudah membuatkan janji temu antara kamu dengan anak teman papa. Kalian akan melakukan kencan buta malam ini.
π:Apa! Apa Devan tidak salah dengar. Untuk apa melakukan kencan buta ma. Tidak, Devan tidak mau
π:Ayolah Van, Ini kan hanya sebatas kencan buta saja. Kalau kamu tidak cocok, Kalian bisa saling mengenal saja