Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Dia masih hidup


Bima membawa Mala berjemur di taman belakang rumah orang tua Mala, selama 2 minggu ini hal itu memang sudah menjadi rutinitas pagi buat Mala, namun saat mereka sudah tiba di taman belakang, tiba-tiba Bima kembali merasakan sakit yang selama ini dia rasakan.


"Kamu kenapa my boy?" Tanya Mala saat melihat ada yang beda dari wajah Bima


"Aku gak papa kok sayang, cuma lagi kebelet pipis, aku ke atas dulu ya" Bohong Bima sambil menahan rasa sakitnya.


Setelah mengatakan hal itu, Bima berlalu meninggalkan Mala yang sudah siap untuk melakukan kebiasaan nya pagi ini, "Kebelet pipis, tapi kok wajahnya pucat begitu ya" Ucap Mala sambil memperhatikan Bima yang sudah menghilang di balik pintu belakang rumahnya.


Sedangkan Bima, pria itu berjalan setengah berlari agar segera tiba di kamarnya, saat sudah tiba di kamar, Bima mengambil obat dari dokter leon, obat yang sudah dia bawa dari Aussie buat jaga-jaga selama di indonesia, dan ternyata apa yang sempat di takutkan dokter Leon benar-benar terjadi,


"Mana ya obat itu" gumamnya sambil terus mencari botol obat di dalam koper miliknya.


Namun botol obat yang Bima cari tidak kunjung di temukan, pria itu menjadi panik saat tidak mendapati obat pemberian Leon yang dia taruh di dalam koper miliknya.


"Ya allah kemana obatnya, kok gak ada" Ucap Bima sambil terus mencari botol obat itu.


"Kamu cari ini my boy?"


Suara itu membuat Bima membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya Bima saat melihat Mala memegang botol obat miliknya"Obat apa ini Bim?" Tanya Mala sambil mengangkat botol obat itu


Mendengar pertanyaan Mala membuat Bima sempat bingung, alasan apa yang akan dia gunakan untuk menjelaskan pada istrinya, Sedangkan Bima tidak ingin Mala tau tentang penyakit yang dia derita selama ini.


"Oh, ini bukan obat apa-apa kok sayang, ini hanya Vitamin saja" Ucapnya sambil mengambil botol obat yang ada di tangan Mala


"Vitamin? kamu yakin ini hanya vitamin?"


"Iya sayang, percaya sama aku, ini hanya Vitamin. kalau kamu tidak percaya, bisa browsing di Google, apa manfaat obat ini" ucap Bima lagi.


Beruntung karna Bima memang sempat mengganti botol obatnya dengan botol vitamin milik sang papi.


Flashback beberapa hari yang lalu.


2 minggu yang lalu, tepatnya setelah Mala di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, Bima tidak sengaja melihat Mala sedang memperhatikan botol obat miliknya yang ada di dalam koper, untungnya Bima melihat saat itu. dengan cepat Bima mengalihkan perhatian Mala dengan membawa wanita itu berjemur di taman belakang rumahnya.


"Sayang" Ujar Bima lembut,


suara Bima sempat membuat Mala terkejut, karna wanita itu sedang mau melihat botol obat yang ada di dalam koper milik Bima.


"Eh my boy, kamu mengejutkan aku saja" Ujar Mala sambil membalikkan tubuhnya.


"Maaf ya sayang kalau aku mengejutkanmu. Kamu mau kan berjemur di taman belakang, udara pagi seperti ini sangat bagus buat kamu"


"Boleh deh my boy"


Setelah mendengar jawaban Mala, ada rasa lega dari dalam hati Bima, setidaknya wanita itu belum sempat melihat gambar yang ada di botol tersebut.


Setelah tiba di taman belakang, Bima pura-pura sakit perut agar bisa kembali ke dalam kamarnya dan mengganti botol obatnya.


Flashback off


"Iya deh my boy aku percaya, aku yakin kamu tidak akan pernah berbohong sama aku"


Suara manja itu menyadarkan Bima dari kejadian beberapa hari yang lalu."Sayang, aku packing aja ya, kamu sudah kan berjemur nya?"


"Iya my boy, udah cukup kok, mau aku bantu packing?"


"Tidak usah sayang, kamu istirahat saja ya"


Ditempat lain, lebih tepatnya di kediaman keluarga Rendi. saat ini Sandra sedang mengajak Rendi berbicara secara empat mata bersama putranya, karna beberapa hari ini Rendi memang terlihat mencurigakan, jarang ada di rumah dan saat pulang selalu bau minyak bayi.


" Rendi, duduk dulu sebentar, ada hal penting yang ingin Mama tanyakan sama kamu"


"Duduk dulu"


Rendi duduk bersebelahan dengan sang mama, karna kebetulan sang papa sudah jalan ke rumah sakit terlebih dahulu, karna ada pasien yang sudah membuat janji temu dengannya.


"Ada apa ma?" tanya Rendi yang begitu penasaran.


"Mama perhatiin, akhir-akhir ini kamu sering pulang malam atau bahkan tidak pulang hingga pagi" Tanya Sandra dengan tatapan menyelidik


"Masa sih ma, itu perasaan mama aja paling, orang Rendi selalu pulang tiap hari"


"Rendi, jujur sama mama, biar bagaimanapun mama ini ibu yang sudah melahirkan kamu, jadi mama tau kalau kamu sedang berbohong"


Mendengar ucapan sang mama membuat Rendi mengangkat sebelah alisnya,"Berbohong, tidak, Rendi tidak pernah berbohong sama mama"Ujar Rendi yang masih belum mau menceritakan hal yang sebenarnya pada Sandra.


"Rendi, mama tanya sekali lagi, apa yang kamu sembunyikan dari mama?"


Rendi masih diam, tak ada satu jawaban pun yang keluar dari mulut Rendi, pria itu masih berfikir bagaimana cara nya agar sang mama tidak lagi mencurigainya.


" Rendi!!"


"Oke, kalau kamu tidak mau memberitahu mama, kamu akan menyesal" Pekik Sandra dan langsung berlalu meninggalkan Rendi. Namun langkah kakinya terhenti saat suara Rendi kembali terdengar pada indra pendengarannya "Tunggu ma".


"Ada apa? Apa kamu sudah mau jujur sama mama?"


Rendi tak langsung menjawab, pria itu masih mengambil nafas berat sebelum memberitahu hal yang sebenarnya, hal yang sudah dia sembunyikan dari semua orang, terutama Adelia.


"Ayo cepat bicara, mama gak punya banyak waktu"


"Iya ma, Memang ada sesuatu yang Rendi sembunyikan dari mama dan papa" Ucapnya sendu.


Mendengar ucapan Rendi membuat Sandra semakin mendekat ke arahnya"Apa yang sudah kamu sembunyikan dari mama?"


"Ini soal anak Rendi, cucu mama"


"Cucu, kamu gak lagi bercanda kan Rendi, katakan semuanya sama mama sekarang"


"Iya ma, ini tentang anak Adelia, mama pasti masih ingat kan jika anak Adelia meninggal"


Ucapan Rendi sempat membuat Sandra menangis dan shock, karna yang dia tau anak Adelia adalah anak Devan, bukan anak dari Rendi.


"Astaga, ternyata dia cucuku, kenapa kamu secepat ini meninggalkan oma sayang, huuuu huuuuu huuuuu" Sandra menangis sebelum Rendi menyelesaikan ceritanya.


"Kenapa mama nangis?" Tanya Rendi saat melihat sang mama menangis seperti itu


"Kamu ini bagaimana sih Rendi, cucu mama meninggal, ya mama sedihlah, huuuuu huuuuu"


Mendengar ucapan sang mama membuat Rendi menepuk jidatnya sendiri"Astaga, belum juga mendengarkan semua penjelasan ku, udah main nangis aja" Ucap dalam hatinya


"Yang bilang anak Rendi meninggal siapa ma?"


Perkataan Rendi mampu membuat Sandra terdiam sekaligus menoleh ke arahnya,"Tadi kan kamu sendiri yang bilang. Kami mengatakan anak Adelia itu adalah anakmu, sedangkan anak itu sudah meninggal, hikss...hiks.."


"Makanya kalau orang ngomong di dengerin, jangan main menyimpulkan sendiri"


"Sudah cepat katakan, jangan bertele-tele"Ujar Sandra disela isak tangisnya.


"Dia masih hidup ma"