Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rencana Reno


"Apa!!" Ujar Adelia yang terlihat sangat terkejut mendengar penuturan Rendi


Bagaimana tidak terkejut. Sebuah fakta yang tak pernah Adelia duga sebelumnya hari ini terdengar menyapu indra pendengarannya. Adelia tertegun sambil mencoba mendekat pada sumber suara Rendi yang ada tak jauh dari posisinya saat ini.


"Jadi selama ini kami sudah menyembunyikan hal ini dari aku Ren. Untuk apa? Bukan kah aku ibunya yabg berhak tau tentang kebenaran semua ini?" Tanya Adelia dengan kedua mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.


Rendi terdiam. Pria itu menatap raut wajah sendu Adelia yang kini sedang menoleh ke lain arah. Melihat itu membuat hati Rendi berdetak nyeri.


"Maafkan aku Del. Maafkan aku yang tidak mengatakan hal ini sejak waktu itu. Karna aku juga tidak menyangka kamu mengatakan jika anak dalam kandungan mu waktu itu adalah anak dari Devan. Padahal itu anak aku kan."


Mendengar perkataan Rendi membuat Adelia terdiam. Tidak tau harus menjawab apa, Karna memang Adelia merasa salah dalam hal ini. "Maafkan aku. Aku melakukan semua itu karna aku ingin memiliki Devan kembali"Jawabnya pelan


"Lalu apa yang kamu dapatkan dari kebohongan itu. Apa kamu bisa mengambil hagi Devan lagi?"


"Tidak, Karna ternyata Devan sangat mencintai Mala. Aku sudah tidak ada lagi di dalam hati Devan walaupun hanya seperti serpihan debu" Ucap Adelia yang terdengar sangat lirih


"Maafkan aku Ren. Aku menyesal karna sudah melakukan semua itu Ren.Karna semua itu, Hidupku sekarang jadi seperti ini. Sangat menyedihkan, Menjadi wanita buta yang selalu menghabiskan waktu di tempat ini" Ucap Adelia Sendu


"Apa boleh aku menggendong anak kita?" Tanya Adelia saat terus mendengar suara tangis anaknya


"Tentu saja boleh. Sepertinya Tania juga ingin di gendong sama kamu"


Tania yang sejak tadi meraung tiba-tiba saja terdiam saat sudah dalam dekapan Adelia. Bocah itu menatap wajah Adelia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


Sangat terlihat jelas jika anak itu merasa sangat nyaman ada dalam dekapan mamanya. Mama yang baru dia temui hari ini.


"Halo sayang anaknya mama. Kamu pasti cantik sekali ya. Sehat-sehat terus ya nak. Jadi wanita yang baik. Jangan seperti mama yang selalu menyusahkan orang lain" Ucap Adelia sambil membelai lembut pipi Tania


"Mama pengen sekali liat wajah Tania. Semoga suatu saat nanti, Tania tidak seperti mama ya. Tania harus menjadi wanita baik dan sholeha" Ujar Adelia lagi sambil mencium pipi kanan Tania


Tania tersenyum. Bagi itu mengangkat tangannya dan mengusap wajah Adelia dengan tangan mungilnya. Seakan menjawab apa yang baru saja Adelia katakan padanya. .


Merasakan jari-jari kecil mengusap wajahnya, Tanpa sadar air mata Adelia berhasil lolos begitu saja. Ada rasa bahagia yang sangat besar. Wanita itu semakin mengeratkan dekapannya.


"Anak mama" Ucapnya pelan


Rendi yang sejak tadi hanya memperhatikan Adelia dan juga anaknya juga ikut menjatuhkan air matanya. Entah apa yang Rendi rasakan saat ini. Tapi yang pasti, Rendi amat bahagia.


Di Kediaman Grahama


Sandra keluar dari dalam kamarnya saat tidak mendapati Tania di samping tubuhnya. Wanita paruh baya itu benar-benar merasa sangat panik saat Tania tidak ada di sana.


"Tania kemana pa?" Tanya Sandra pada Grahama yang saat ini sedang menikmati secangkir kopi dan juga membaca koran seperti hari-hari biasanya.


Mendengar suara istrinya, Grahama menurunkan koran itu dan meletakkan kopinya. "Tania di bawa sama Rendi tadi pagi" Jawabnya


"Dibawa kemana. Pagi-pagi seperti ini?"


"Entah ma. Tadi pagi Rendi hanya bilang mau membawa Tania jalan-jalan saja. Memangnya kenapa sih ma?" Tanya Grahama sambil menatap Sandra yang terlihat panik.


"Kenapa papa tidak bangunin mama sih. Rendi bawa kemana Tania" Ucapnya lagi


"Bagaimana mau bangunin. Mama saja tidurnya kayak kebo begitu"


"Iya ma"


Di saat seperti ini, Ingatan Grahama kembali pada beberapa saat yang lalu. Tepatnya saat Rendi masuk ke dalam kamarnya dan mengambil Tania.


Memang selama ini Tania tidur bersama dengan Sandra dan juga Grahama. Karna Rendi hanya di berikan waktu saat baru pulang kerja. Bukan tanpa alasan Sandra melakukan hal itu. Sandra hanya tidak mau Rendi membawa Tania Keluar dari rumahnya seperti waktu itu.


Flashback beberapa saat yang lalu


Rendi keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian yang sudah terlihat rapi. Hari ini Rendi memang tidak ada jadwal di rumah sakit. Oleh karena itu. Rendi memutuskan untuk membawa Tania bertemu dengan Adelia.


Karna menurut Rendi, Ini adalah waktu yang pas buat dia mengatakan yang sebenarnya pada Adelia. Kebenaran yang tak pernah Adelia ketahui.


Setelah keluar dari dalam kamarnya. Rendi langsung membuka pintu kamar kedua orang tuanya yang memang tidak di kunci.


"Tidak di kunci. Sebaiknya aku bawa Tania sekarang. Dari pada nanti mama keburu bangun dan melarang ku untuk membawa Tania" Ucap Rendi sambil berjalan mengendap-endap


Rendi berjalan dengan sangat pelan. Saat dia sudah mau mengambil Tania, Tiba-tiba saja papanya terbangun dan mengagetkan Rendi yang sudah bersiap mengambil anaknya.


"Mu kamu bawa kemana Tania Ren? Kenapa pagi-pagi seperti ini kamu sudah rapi begitu" Tanya Grahama yang langsung mengejutkan Rendi.


Rendi menoleh pada papanya"Papa. R..rendi mau bawa Tania" Ujar Rendi sambil menoleh pada Grahama


"Rendi mohon pa. Biarkan Rendi membawa Tania. Jangan sampai mama tau Pa. Rendi mohon sama papa" Ucap Rendi pada papanya dengan memohon


Grahama yang mendengar perkataan Rendi mengangguk, "Baiklah. Segera pergi sebelum mama bangun" Ucapnya pada Rendi


"Baik pa. Terimakasih papa sudah mau mengerti


"Untung saja mama tidurnya kayak kebo. Jadi tidak akan sadar kalau kamu ambil Tania. Sudah sana cepat pergi" Ucapnya lagi


Setelah itu, Rendi keluar dengan membawa Tania. Karna masih terlalu pagi, Rendi memutuskan untuk membawa Tania ke apartemennya terlebih dahulu.


Flashback Off


"Makanya ma. Kalau tidur jangan terlalu kayak kebo"


"Iiih papa sama Rendi sama saja. Tidak ada bedanya" Ucap Sandra yang merasa sangat kesal


Di Tempat Lain


Seperti yang sudah di rencanakan. Hari ini Reno dan Viona sudah mempersiapkan sebuah rencana untuk mencelakai Bima. Tanpa Reno sadari, Ternyata semua rencananya sudah di ketahui oleh Bima.


"Kita lihat saja apa yang akan terjadi Reno" Ujar Bima dalam batinnya sambil menatap Reno yang sedang berjalan ke arahnya


"Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu adalah duri yang menusuk daging Ren. Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya jika kamu menjadi kaki tangan ku hanya untuk membalaskan dendam atas orang tuamu"


"Kita lihat Bima. Apa yang akan terjadi terhadapmu hari ini" Ujar Reno dalam batinnya


Entah apa yang sudah Reno dan Viona siapkan. Tapi yang pasti itu sudah di ketahui oleh Bima dan juga Andre.