Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Bima pingsan


Lagi-lagi nama Mala yang tanpa sengaja Devan sebutkan. Jika seperti ini terus bagaimana caranya Devan move on.


Nadia yang mendengar itu hanya bisa menepuk jidatnya pelan"Terlalu bucin sampai susah move on" Ucapnya sambil melirik Devan


Mendengar perkataan Nadia membuat Devan hanya mengambil nafas panjang. Karna apa yang di katakan oleh Nadia memang benar adanya. Devan sangat susah move on. Bahkan tanpa sengaja dia selalu menyebutkan nama Mala.


"Tidak perlu sok bijak. Memangnya kamu sudah bisa move on dari Bima"


"Lagi berusaha sih. Tapi ya memang sulit melupakan pria tampan sepertinya. Secara kan Bima pria yang begitu tampan. Siapapun aku yakin akan dengan mudah memberikan hatinya untuk Bima"


"Sudah tampan. Mapan. Nilai plus plus. Tidak seperti kamu, Menyebalkan"


Ucapan Nadia membuat Devan menatapnya tajam. Entah kenapa Devan merasa tidak suka saat di dinding-dinding kan dengan Bima. Ya walaupun memang benar adanya, Bima lebih segala-galanya dari Devan.


"Apa kamu bilang. Aku pria menyebalkan. Apa kamu tidak sadar dengan ucapan mu itu. Kamu sudah mengatai diri sendiri. Dasar wanita menyebalkan. Udah merepotkan aku terus menerus Sekarang malah membanding-banding kan aku dengan pria itu. Asal kamu tau ya Nad. Kamu juga tidak ada apa-apanya dari pada Mala"


"Diih kenapa malah membandingkan aku dengan wanita itu. Mantan istrimu tang tidak tau diri itu. Bisa-bisanya melaporkan aku ke polisi. Padahal selama anak nya bersamaku, Aku kan selalu memperlakukan mereka dengan baik. Kesel banget aku tuh"


"Lagian kenapa sih waktu itu kamu ada pemikiran menculik kedua anakku? Kok bisa, Apa yang ada di otak kamu?"


Vino yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka suara ketika mendengar perkataan Devan yang mengatakan Anakku. Pria itu tentu saja langsung merasa sangat penasaran dengan apa yang baru saja dia dengar dari Devan.


"Sebentar. Apa maksud kamu mengatakan anakku?" Tanya Vino begitu penasaran. Karna memang belum ada siapapun yang tau soal ini kecuali mereka yang ada di rumah sakit dan juga Nara sama Andra.


Devan menoleh pada Vino yang saat ini sedang menatapnya intens"Ooh iya kamu belum tau ya Vin. Ternyata anak yang Mala lahirkan adalah anak kandung ku"


"Benarkah? Aku benar-benar tidak menyangka hal itu"Ucap Vino yang terlihat begitu terkejut


"Iya Vin. Sebenarnya ada banyak hal yang mau aku ceritakan sama kamu."


"Cerita saja Van. Lagian selama ini kenapa kamu jarang hubungin aku" Ucap Vino sambil terus menatap Devan


"Karna aku tau kamu pasti sedang sibuk dengan urusan perusahaan mu sendiri"


Sekarang Vino memang sudah tidak bekerja dengan Devan lagi. Pria itu sudah memutuskan untuk mengurus perusahaannya sendiri setelah acara pertunangannya dengan Mega beberapa bulan yang lalu.


Sejak saat itu juga Devan dan Vino jarang bertukar kabar. Devan sibuk dengan pekerjaannya. Karna memang Laras sudah mengundurkan diri dari perusahaannya. Wanita itu sudah menikah dan tidak di ijinkan bekerja oleh suaminya.


"Memang sih Van, Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Karna memang mami dan papi sudah menyerahkan perusahan sepenuhnya sama aku"


"Aku paham kok Vin. Tapi berhubung sekarang kita sedang ada waktu, Bagaimana kalau aku sedikit curhat sama kamu. Boleh gak Vin"


Nadia yang mendengar perkataan Devan seketika tertawa. Ternyata laki-laki juga bisa curhat. Pikirnya


Devan yang melihat Nadia tertawa langsung menatapnya tajam."Kenapa kamu ketawa seperti itu? Ada yang lucu" Tanya Devan sambil terus menatap Nadia


Sejenak Nadia menghentikan tawanya"Tidak ada sih. Hanya saja aku baru tau kalau cowok juga suka curhat. Hahah" Ujar Nadia dan melanjutkan tawanya lagi


"Dasar wanita gila menyebalkan!" Umpat Devan kesal


Di kediaman Winarto


Kata-kata itu sudah benar-benar membuat hati Nara patah"Dasar wanita murahan. Jangan pernah berharap aku mau mengakui anak itu. Karna aku yakin, Bukan hanya aku saja yang pernah menikmati tubuhku itu"


Kata-kata itu tiba-tiba saja terngiang dan membuat tangis Nara semakin pecah"Aku sangat membencimu Nathan. Sampai kapan pun, Aku tidak akan pernah memaafkan apa yang sudah kamu lakukan dulu. Sampai aku matipun, Aku tidak akan pernah rela jika sampai kamu menemui Dania. Karna pria sepertimu tidak pantas Dania panggil dengan sebutan ayah" Ucap Nara dengan kedua tangan yang mengepal kuat


Setelah hatinya merasa cukup tenang. Nara membasuh wajahnya dan mengusapnya pakai handuk. Agar tidak ada satu orang pun yang curiga kenapa Nara lama di dalam kamar mandi.


Kemudian Nara keluar dari dalam kamar mandi dengan pelan. Setelah tiba di ruang tengah, Alundra menatap Nara yang menurutnya cukup lama di dalam kamar mandi.


"Kamu baik-baik saja kan sayang?" Tanya Alundra setelah melihat kedatangan Nara


"Nara baik kok ma. Hanya saja tadi lama karna Nara sakit perut"Ucap Nara yang sengaja berbohong


Di Rumah sakit


Mega, Sindy dan Doni baru saja tiba di halaman rumah sakit. Sudah seperti biasa mereka akan menggunakan mobil Doni ketika sedang keluar bersama.


"Meg. Ini benar rumah sakitnya?"Tanya Doni pada Mega


"Iya bener Don. ini kan rumah sakit BERLIAN. Sesuai dengan apa yang Mala katakan tadi di telfon"


"Ooooh yaudah kita masuk sekarang. Apa kamu tau dimana ruangannya?"


"Gak tau. Tadi lupa gak nanya." Jawab Mega di sela langkahnya


"Ya tinggal tanya resepsionis aja kan sayang. Gitu aja kok repot" Timpal Sindy cepat


Sindy dan Doni memang sudah jadian sejak 2 bulan lalu. Entah apa yang membuat mereka memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai kekasih.


"Ada yang bisa saya bantu?"Tanya Resepsionis itu


"Saya mau tanya. Ruangannya Bintang dimana ya?"


"Sebentar say cari dulu"


"Pasien atas nama Bintang ada di ruangan VVIP nomor 5"


"Baik terimakasih"


Di dalam ruangan


Setelah cukup lama menangis. Akhirnya Mala sudah mulai tenang dalam dekapan Bima. Entah kenapa dekapan itu selalu terasa nyaman dan langsung bisa membuat Mala tenang.


Tanpa Mala sadari. Ternyata wajah Bima semakin terlihat pucat karna menahan rasa sakit sejak tadi. Sebab Bima melupakan obat yang Leon berikan untuknya.


Memang semenjak datang ke jakarta, Bima sama sekali tidak minum obat itu. Hal itu tentu saja mempengaruhi kesehatannya yang memang sudah sangat bergantung dengan obat.


Hingga tak berselang lama, Bima pingsan tepat di depan Mala. Melihat itu membuat Mala panik dan langsung memanggil Leon.