Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Pantai


"Yakinlah jika kamu bisa Van. Setiap ada kemauan, Disitu pasti selalu ada jalan" Ucap Nadia lembut sambil menatap Devan dalam


Setelah itu Devan membalas pelukan Nadia"Ajarkan aku bagaimana caranya untuk bisa melupakan dia" Ucapnya pilu


Nadia yang mendapat balasan pelukan dari Devan entah kenapa terpaku untuk beberapa saat. Wanita itu merasakan ada yang berbeda dengan detak jantungnya. Detak jantung yang berdetak lebih cepat dari pada detak normal pada umumnya. "Ada apa denganku" Ucap Nadia dalam batinnya


Entah kenapa Devan merasa ada kenyamanan dari pelukan Nadia. Pria itu seperti merasakan pelukan dari Mala."Apa kamu mau melakukan hal yang akan membuat mu melupakan rasa sakit itu sejenak?"


"Bagaimana caranya?" Pungkas Devan sambil menatap raut wajah Nadia


"Tapi aku mohon. Jangan bunuh aku Van. Aku masih ingin hidup dan bisa merasakan bagaimana rasanya bahagia"


"Tenang saja. Aku bukan orang jahat yang akan melakukan hal itu. Ajarkan aku bagaimana caranya melupakan rasa sakit ini? Biarpun hanya sesaat"


"Follow me"


Nadia berjalan ke arah pantai. Wanita itu mengajak Devan untuk memandang arus ombak dan juga air pantai yang terlihat begitu tenang.


"Kemarilah. Ayo lebih cepat lagi" Ucap Nadia sambil menarik tangan Devan agar mempercepat langkahnya.


"Kenapa kita malah kesini?"


"Pernahkah kamu melihat arus Ombak dari kejauhan? Jika belum, kamu bisa mencobanya." Ucap Nadia sambil menatap Devan


"Memangnya kenapa?"


" Karna memandang luasnya pantai dan pasir yang tersentuh dengan arus ombak, mampu membuat kita merasa tenang sejenak" Ujar Nadia sambil menoleh ke arah Devan


"Memangnya kamu pernah melakukan hal itu?"


"Dulu. Waktu aku masih umur 7 tahun. Bima yang sudah mengajarkan aku tentang ini semua" Jawab Nadia pelan


"Coba kamu lintaskan sejenak di pikiran mu, andai kita jadi ombak yang bisa kesana kemari sesukanya, meluapkan kekesalan, Rasa sakit juga luka dengan menjadi arus ombak yang besar, yang kemudian arus ombak menyentuh lembutnya pasir sehingga kekesalan pun hilang. Walaupun hanya sejenak" Ucap Nadia lagi


"Dan yang paling penting. Kamu berteriak sekeras-kerasnya. Katakan apa yang sudah mengganggu pikiranmu"


Devan tak lagi menjawab perkataan Nadia. Pria itu hanya melakukan instruksi yang sudah Nadia katakan. Devan menatap luasnya pantai sambil membayangkan jika dia yang menjadi ombaknya.


"AKU INGIN BAHAGIA. AKU INGIN MERASAKAN APA YANG SELAMA INI MENJADI HARAPANKU. AKU INGIN BAHAGIA" Teriak Devan sambil terus menatap luasnya pantai


"Sekarang giliran mu" Seru Devan pada Nadia.


Nadia mengangguk"AKU JUGA MASIH INGIN BAHAGIA. INGIN MERASAKAN APA YANG SELAMA INI AKU IMPIKAN. AKU INGIN BAHAGIA" Teriak Nadia sambil memejamkan kedua matanya


Setelah itu, Devan menoleh ke arah Nadia yang saat ini juga sedang menoleh ke arahnya. Kedua manik mata mereka bertemu. Baik Devan atau Nadia tidak ada yang mau melepaskan tatapan itu.


"Ada apa denganku? Kenapa jantungku terasa berdetak cepat begini" Ucap Nadia dalam batinnya


Wanita itu mengalihkan pandangannya sambil menoleh ke lain arah untuk menetralkan detak jantungnya kembali. Wanita itu tidak mau jika sampai Devan mendengar debaran jantungnya.


"Van. Bagaimana kalau kita main air" Tawar Nadia sambil menarik tangan Devan


Di Tempat Lain


Bima dan Mala juga yang lain sudah tiba di pinggir pantai. Kali ini mereka akan berenang-senang untuk melepas rasa penat selama beberapa hari ini.


"Sayang. kita kesana yuuk" Ajak Mala sambil menunjukkan ke tempat yang terlihat sangat indah


"Aku ikut dong" Timpal Leon cepat


"Tidak bisa kah kamu mencari mencari tempat lain. Mengganggu saja. Aku mau romantis-romantisan dengan kekasih halalku. Minggir" Ucap Bima sambil menatap Leon tajam


"Iiiishh. Biasa saja kali tuan Albima. Ayo kita cari tempat lain saja calon pacar"


"Dilarang berduaan dengan orang yang bukan mahram. Karna orang ketiganya adalah setan" Timpal Bima setelah mendengar ucapan Leon


"Disini tempat umum kali tuan Bima. Jadi tidak akan ada setan. Kecuali anda"


"Kurang ajar kau" Jawab Bima kesal


Mala yang melihat Bima menahan kesal seperti itu langsung mengusap lengannya lembut sambil menatap kedua matanya"Sudah sudah. Lebih baik kita kesana my boy. Sepertinya suasana sore ini sangat indah. Aku ingin melihat sunset" Seru Mala sambil menarik tangan Bima


"Iya sayang, Ayo. Sini aku gendong" Ucap Bima yang terdengar begitu lembut


Mala mengangguk. Wanita itu naik pada punggung Bima dan menyusupkan wajahnya pada leher Bima serta mencium khas bau rambut Bima yang langsung membuatnya terasa sangat tenang.


"My boy, Apa kamu tau, Saat ini aku sangat bahagia. Bahagia sekali. Terima Kasih atas apa yang sudah kamu lakukan untukku Bim" Ucap Mala lembut sambil mencium pipi kiri Bima


Bima yang mendengar itu tentu saja langsung mengangkat kedua sudut bibirnya. Karna bukan hanya Mala yang merasakan kebahagiaan saat ini, Bima juga merasakan hal yang serupa dengan wanita itu.


"Aku juga sangat bahagia sayang. Akhirnya, Kita bisa ada di titik ini"


"Aku tidak pernah menyangka, Jika pada akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya di cintai. I Love You so much istriku" Seru Bima sangat lembut


"I Love You more suamiku" Balas Mala tak kalah lembut


Jika di tanya bagaimana perasaan Bima saat ini? Tentu saja jawabannya adalah Bima sangat bahagia. Setelah sekian lama menanti, Akhirnya hari ini datang. Kesempatan itu ternyata benar-benar ada untuknya.


"Sayang. Aku mau kamu berjanji tentang satu hal"


"Berjanji tentang apa my boy?"


"Berjanjilah untuk selalu menjadi wanita kuat dan tangguh. Jangan mudah menyerah dengan apapun yang akan kamu hadapi sayang"


Mendengar kata itu membuat Mala langsung turun dari punggung Bima. Wanita itu menatap Bima yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu my boy?" Tanyanya sambil terus menatap kedua bola mata Bima


Bima tak langsung menjawab perkataan Mala. Pria itu mendekat dan langsung membawa Mala dalam dekapannya. Bima membelai Mala sangat lembut.


"Sayang, dengarkan aku ya. Tapi aku mau kamu jangan sampai menangis. Kamu dengarkan dulu apa alasanku ya" Ujarnya lembut


"Cepat katakan my boy. Jangan buat aku takut dengan kata-kata itu"


"Aku mau kamu menjadi wanita kuat dan tangguh karna satu alasan yang aku miliki"


"Iya apa alasan kamu Bim!?"


"Kamu tau kan kalau aku tidak selalu bisa ada untuk kamu. Aku mau kamu bisa menjadi wanita pemberani dan kuat. Karna aku akan menyerahkan MELANI GROUP pada kamu sayang. Aku mau kamu yang mengelolanya"


"Bukankah kamu pernah mengatakan jika kamu ingin menjadi wanita karir yang hebat. Belajarlah untuk hal itu sayang. Karna dunia bisnis itu kejam. Dan aku mau kamu mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi" Ucapnya begitu lembut sambil membelai Mala