Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Mengatakan pada Rani


'Menangis lah jika itu bisa membuat hatimu tenang sayang. Jangan pernah merasa sendiri, Ada aku yang akan selalu setia menemanimu'


Kata-kata itu tiba-tiba saja terngiang pada indra pendengaran Mala. Bayangan Bima langsung melintas pada ingatannya.


"Kemana kamu Bim. Tolong kembali untuk aku Bim. Aku masih sangat membutuhkan kamu, Aku mohon cepat kembali Bim" Lirihnya yang terdengar begitu pilu.


Leon yang mendengar itu semakin mempererat dekapannya. Pria itu benar-benar merasa iba terhadap Mala.


"Percayalah, Bima akan kembali untukmu Mala" Ucapnya sambil membelai rambut Mala


Tak lama kemudian, Devan datang seorang diri. Melihat Mala ada dalam dekapan Leon membuatnya menghentikan langkahnya. Rasanya begitu sakit saat melihat wanita yang di cintanya ada dalam dekapan pria lain.


"Sampai kapan aku harus selalu merasa sakit seperti ini." Batin Devan


Setelah menyadari datangnya Devan. Dokter Leon melepaskan dekapannya pada Mala. Kemudian menoleh ke arah Devan yang baru saja masuk ke dalam ruangan ICU.


"Saya permisi dulu ya. Kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan. Percayalah, Bima akan segera kembali" Ucap Leon sambil mengusap air mata Mala.


Entah apa yang membuat Leon sampai melakukan hal itu. Tapi yang pasti, Ada rasa sakit tersendiri saat melihat Mala menjatuhkan air matanya.


"Mari pak" Ucap Leon pada Devan


Setelah kepergian Leon, Devan mendekat ke arah Mala. Pria itu menatap Mala dengan begitu dalam sambil melihat kedua sorot mata Mala yang terlihat begitu saya. Seperti ada luka yang mendalam.


"Kamu yang sabar ya Mala. Aku tau, Ini pasti sangat berat buat kamu. Benar apa kata dokter Leon, Bima akan kembali buat kamu" Ucap Devan sambil menahan rasa sakit dari relung hatinya.


Karna hingga saat ini, Devan masih sangat mencintai Mala. Rasa itu tidak pernah bisa luntur sedikitpun. Biarpun Devan sudah mencoba dan berusaha melupakan Mala, Tapi rasa itu yang ada malah semakin besar.


"Iya kak, Terimakasih" Ucap Mala tanpa melihat ke arah Devan.


Mendengar panggilan Mala yang berubah kakak membuat Devan menundukkan wajahnya. Rasanya begitu pedih saat panggilan sayang yang sering Mala katakan kini sudah menjadi sebuah kenangan yang tidak akan pernah bisa Devan lupakan.


Tiba-tiba Devan melihat Mala membuka selang infusnya dan langsung berjalan keluar dengan tertatih-tatih.


"Kamu mau kemana Mala?" Tanya Devan sambil mengekor di belakang Mala


"Aku tidak bisa terus menerus ada disini kak. Aku juga harus ikut mencari Bima. Aku benar-benar tidak sanggup kehilangan Bima kam, dia sudah menjadi separuh dari duniaku" Ucap Mala sambil terus berjalan keluar dari rumah sakit itu.


Deg! Lagi-lagi perkataan Mala membuat hati Devan terasa pedih. Lututnya terasa begitu lemas, Serta kakinya terasa begitu berat untuk sekedar melangkah mengikuti Mala.


"Kenapa rasanya harus sesakit ini"Ucap Devan sambil mengusap dadanya.


Akhirnya Devan memilih untuk membiarkan Mala pergi, Devan tidak lagi mengikuti langkah Mala yang masih tertatih-tatih.


Pria itu memandang punggung Mala dengan penuh luka. Bukan ini yang Devan harapkan. Tak lama kemudian, Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Devan dan langsung membuatnya menoleh ke arah pria itu.


"Wilson. Kamu kenapa ada disini juga?"


"Aku sedang menunggu ayah yang di rawat di rumah sakit ini" Ucap Wilson sambil menoleh ke arah Devan yang masih memperhatikan tubuh Mala yang sudah semakin menjauh.


"Kenapa kamu memandang Mala seperti itu Van" Pekik Wilson lagi


Mendengar ucapan Wilson membuat Devan melirik ke arahnya."Seperti itu bagaimana Wil?"


"Ya seperti itu. Kami memandangnya seperti menyimpan banyak luka. Aku tau ini pasti sangat berat buat kamu Van. tapi mau tidak mau, Kamu harus bisa move on. Dari yang aku lihat, Sepertinya Mala sudah sangat mencintai Bima"


"Iya Wil. Aku tau. Tapi kenapa rasanya harus sesulit ini! Aku sudah berusaha melupakan Mala, Tapi rasanya semakin aku berusaha, Rasa cintaku semakin tumbuh besar. Aku sudah tidak tau harus bagaimana lagi Wil"


"Aku tau bagaimana caranya Van. kamu harus bisa mencari pengganti Mala. Move on, Seperti aku Van" Ucap Wilson lagi.


Di indonesia


Tanpa terasa sudah 2 hari Nadia membawa kedua bayi Mala pergi dari negara itu. Saat ini Kedua bayi itu sudah ada di negara Indonesia karna ulah Nadia.


Saat mendengar jika anggota black Lion sudah menemukan tempat persembunyiannya, Nadia memutuskan untuk membawa kedua bayi itu menjauh dari sana. Satu hal yang tidak pernah Nadia ketahui. Wanita itu tidak pernah tau jika Langit dan Bintang bukanlah anak kandung dari Albima.


Ueeeekkkkk.....ueeeeekkkkk. Kedua bayi itu menangis dan membuat Nadia hampir gila mengurus mereka berdua. Dari Aussie hingga ke indonesia, Langit dan Bintang selalu saja menangis tanpa mau berhenti. Kecuali mereka tidur.


"Aduuuuh, Bayi ini kenapa lagi sih. Kerjaannya cuma nangis terus, Bikin kepala ku mau pecah" Ucap Nadia sambil memberikan susu formula pada mereka berdua.


"Nad. Emangnya lo yakin mau merawat dua bayi ini?" Tanya salah satu temannya


"Iyalah. Kenapa tidak. Mereka berdua begitu mirip dengan Bima ku. Siapa tai saja suatu saat aku bisa bersama dengan Bima lewat mereka berdua" Jawab Nadia


"Lo beneran yakin Nad. Lalu bagaimana jika sampai Bima tau kalau lo yang sudah menculik anaknya"


"Bara dan Bisma. lalu bagaimana jika Bima tau akan hal ini?"


"Kalau kalian gak ember, Gak bakal ada yang tau tentang hal ini. Gue yang akan merawat mereka, Gak papa lah biarpun gue tidak mendapatkan Bima. Setidaknya aku memiliki Copy paste nya Bima"


"Terserah lo saja lah Nad. Lalu apa lo mau stay di indonesia?"


"Sepertinya iya. Gue sudah tidak mungkin lagi kembali ke Aussie. Gue akan memulai hidup baru bersama mereka berdua. Kalau tidak bisa memiliki Bima, Aku sudah tidak perduli lagi. Sepertinya Bima memang begitu mencintai istrinya"


"Kenapa kamu bilang tidak mungkin kembali ke Aussie lagi Nad. Memangnya kenapa?"


"Entahlah. Negara itu sudah tidak aman untuk aku tempati. Lebih baik aku menetap disini bersama Bara dan Bisma. Aku akan mencoba menyayangi mereka berdua seperti anakku sendiri" Ucap Nadia sendu


Sebenarnya ada hal lain yang membuat Nadia memilih untuk kembali ke indonesia. Namun, Sampai detik ini wanita itu masih diam tidak mau bercerita kepada orang lain mengenai apa yang selama ini Nadia rasakan selama di sana. Kira-kira apa yang membuat Nadia harus kembali ke indonesia?


Di Tempat Lain


Setelah mendapat kabar jika Adelia mengalami kebutaan. Rendi diam-diam selalu memperhatikan Adelia dari kejauhan. Ada rasa iba dari dalam hati Rendi. Karna biar bagaimanapun, Adelia adalah mama dari anaknya Tania.


Setiap pagi sebelum berangkat ke rumah sakit, Rendi selalu memperhatikan Adelia yang selalu berjemur di taman samping rumahnya.


Rendi tidak mengurus Tania sendiri. Anak itu sudah di asuh oleh Sandra sejak beberapa hari yang lalu. Karna memang Sandra begitu menginginkan seorang cucu. Saat mendengar jika dia memiliki cucu dari Adelia dan belum meninggal, Membuatnya merasa begitu bahagia.


"Adelia. Kenapa kamu malah jadi seperti ini. Aku ikut terluka melihat keadaan kamu yang sangat menyedihkan Adelia. Seandainya bisa, Aku ingin kembali lagi bersamamu dan membesarkan anak kita bersama-sama. Biar Tania hidup seperti semestinya. Memiliki kedua orang tua yang lengkap" Ucap Rendi sambil terus memperhatikan Adelia


Saat melihat Adelia seperti itu, Entah kenapa membuat Rendi juga ikut merasa sakit hingga ke relung hatinya.


"Seandainya kamu tidak terobsesi pada Devan, Mungkin saat ini kita sudah hidup bahagia Adelia" Ucapnya lagi.


Di saat Rendi masih fokus memperhatikan Adelia. Tiba-tiba ada suara seseorang yang berhasil membuat Rendi menoleh ke arahnya.


"Apakah kak Rendi masih mencintai kak Adelia?" Tanya Rani yang memang sejak tadi sudah memperhatikan kehadiran Rendi


"Rani. sejal kapan kamu disini?"


"Setidaknya aku sudah bisa mendengar semua yang kak Rendi ucapkan. Aku tau, Selama beberapa hari ini kak Rendi sering datang kesini dan melihat kak Adel dari arah kejauhan. Kak Rendi masih mencintai kak Adel kan?"


"Entahlah Ran. Tapi yang pasti aku merasa begitu terluka saat melihat Adelia seperti itu" Jawab Rendi sendu


"Aku juga merasakan hal yang sama kak. Terkadang aku merasa sangat kecewa dengan apa yang sudah kak Adel lakukan. Tapi di sisi lain aku baru menyadari jika selama ini kak Adel hanya terobsesi pada kak Devan. Semua ini sudah karma untuk kak Adelia"


"Iya Ran. Tapi aku masih berharap, Semoga suatu saat aku masih bisa bersatu dengan Adelia lagi dan membesarkan anak kita bersama" Ucap Rendi tanpa sadar


"Apa maksud kamu Kak! Anak?"


Rendi yang baru saja menyadari ucapannya langsung menoleh ke arah Rani yang saat ini berdiri tepat di sampingnya.


"Aku mau kamu berjanji satu hal Ran. Jangan sampai mengatakan hal ini kepada siapapun, Termasuk semua keluarga kamu. juga Adelia"


"Iya kak, Aku janji. Memangnya ada apa?"


"Ini rahasia besar. Tidak banyak yang tau tentang hal ini Ran. Aku mengatakan hal ini sama kamu karna kakak tau kamu berbeda, Kamu tidak seperti saudara kembar mu"


"Iya kak. Apa yang mau kak Rendi katakan padaku. Apakah ini adalah suatu hal yang pentin"


"Sangat. Ini sangatlah penting. Sebenarnya anak Adelia belum meninggal" Ucap Rendi sambil menatap Rani.


Mendengar fakta itu membuat Rani terlihat begitu terkejut. Fakta apa yang saat ini Rani dengar. Apa dia sedang bermimpi! Rani mencubit tangannya saat mendengar apa yang Rendi katakan.


"Awaw sakit" Ucap Rani


"Apa yang kamu lakukan Rani. Ini bukanlah mimpi, Ini adalah sebuah fakta dan kebenaran. Jika anak kami belum meninggal" Ucap Rendi lagi


"Aku masih tidak paham kak. Apa maksud kak Rendi mengatakan jika anak kami belum meninggal?"


"Iya. Anak yang Adelia lahir kan bukanlah anak Devan, Tapi anakku, Darah daging ku. Tapi aku kau kamu berjanji jangan mengatakan hal ini pada Adelia"


"Iya kak, Aku janji tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun. Lalu kenapa kak Rendi begitu yakin jika anak itu bukanlah anak dari kak Devan?"


"Aku sudah melakukan tes DNA dengannya. Dan hasilnya cocok"


"Apa!! Lalu di mana anak itu kak. Dimana dia jika memang dia masih hidup?"


"Dia ada bersama ku Rani"