Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa takut Andika sanjaya


"Sekarang saatnya" ucap Bima sambil menoleh pada Leon dan juga Devan


Mereka berdua yang paham langsung mengangguk dan ikut masuk ke dalam rumah Andika dengan mengekor di belakang Bima.


"Sepertinya rumah ini kosong. Apa Andika sanjaya tidak ada di sini?" ucap Leon sambil menoleh pada Bima.


"Sebaiknya kita berpencar sekarang. Biar bisa lebih cepat menemukan keberadaan Andika" ucap Bima


"Baiklah. Aku sama Nadia ke sana. Kalian berdua cari di atas" timpal Devan cepat


Akhirnya mereka berempat berpencar. Bima bersama dengan Leon mencari di bagian lantai atas, Sedangkan Nadia dengan Devan mencari di bagian setiap kamar di bawah.


Rumah itu sangat luas, Sehingga membuat mereka cukup kesulitan untuk menemukan keberadaan Andika sanjaya.


Devan dan Nadia naik ke lantai atas dan memeriksa semua ruangan yang ada di sana. Namun ternyata hasilnya nihil, Karna tidak ada siapapun di setiap ruangan itu.


"Sial! Kemana sebenarnya Andika" ucap Nadia yang terlihat sangat kesal karna tidak bisa menemukan keberadaan Andika.


"Bagaimana. Apa kamu menemukan orang yabg bernama Andika?" tanya Devan setelah Nadia kembali ke tempat semula.


"Tidak ad siapapun di sini. Kemungkinan besar Andika tidak ada di rumah" ucap Nadia pada Devan.


"Apa! Jadi maksud kamu kita sia-sia datang ke rumah ini?"


Nadia mengangkat kedua bahunya dengan wajah lesu" Entahlah, Lebih baik sekarang kita turun dan menanyakan pada Bima juga Leon" titah Nadia dan langsung turun dari sana.


Mereka berdua menyusuri setiap anak-anak tangga di sana dan kembali bergabung dengan Bima dan juga Leon yang sudah berdiri di bawah.


"Bagaimana. Apa kalian berdua menemukan keberadaan Andika?"


"Tidak. Kami berdua juga tidak menemukan keberadaan pria itu" jawab Leon


Cukup lama mereka hanya terdiam di sana. Sampai Nadia teringat akan suatu tempat yang selama ini sering Andika gunakan untuk bersembunyi dari setiap lawan yang mencarinya.


"Sebentar, Sepertinya aku tau di mana keberadaan Andika saat ini" ucap Nadia sambil menoleh pada mereka bertiga.


"Dimana memangnya?"


"Kalian ikuti aku saja. Devan biar satu mobil bersama dengan ku"


"Kayaknya ada yang mau modus" ucap Leon sambil melirik pada Nadia.


"Ck! di saat seperti ini masih saja memikirkan hal begituan kau ini"


"Tapi apa yang aku katakan benar kan. Kau itu mau modusin Devan"


"Ya gak dapat adeknya, Kakak nya pun bolehlah" jawab Nadia dan langsung keluar dari sana.


Mobil Bima dan juga Devan melesat menjauh dari kediaman Andika sanjaya. Kali ini Nadia yang akan menjadi penunjuk arah buat mereka.


"Memangnya tempatnya dimana Nad. Kenapa kamu bisa sangat yakin jika Andika ada di tempat itu?" tanya Devan pada Nadia


"Ya kan aku mantan istrinya. Tentu aku tau kemanapun Andika pergi. Termasuk tempat itu. Karn dulu aku pernah mengikuti dia"


"Semoga saja dia ada di sana"


*****


Andika mengangkat kedua sudut bibirnya. Merasa sangat puas saat mendengar kabar dari orang suruhannya yang mengatakan jika istri dari Albima terluka.


Bukan hanya itu, Andika juga meras sangat puas karna bisa membuat Reno salah paham dan mengira jika Bima yang sudah membunuh ayahnya beberapa tahun yang lalu.


"Bodoh karna sudah bekerja sama dengan musuh yang sesungguhnya. Hahhahah"ucap Andika yang terlihat tersenyum puas.


Andika benar-benar merasa bahagia dengan semua ini. Karna secara tidak langsung, Reno dan juga Viona dia bodohi mentah-mentah.


"Dasar wanita bodoh!" ucapnya sambil menghisap rokok yang ada di tangannya.


Andika menatap foto wanita yang ada di depannya. Seseorang yang hingga detik ini masih begitu dia cintai. Andika memejamkan kedua matanya sejenak. Mengingat setiap kenangan yang sudah dia lewati bersama dengan Latisha.


"Kenapa kamu harus lakukan itu padaku, Latisha. Apa kelebihan Bima tak bisa aku miliki. Kenapa kamu sampai rela mati hanya karna Bima" ucapnya sambil terus menatap foto Latisha di depannya.


Ruangan itu memang di penuhi dengan foto Latisha. Latisha adalah segalanya buat Andika. Dunianya seakan runtuh saat melihat wanita yang amat di cintanya meninggal dengan bunuh diri.


"Semua ini gara-gara Albima. Seandainya saja Latisah tidak mencintainya, Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi" ucap Andika dengan kedua tangan yang mengepal kuat.


***


"Selamat pagi kak Mala. Bagaimana keadaan kakak hari ini. Apa masih merasakan sakit pada bekas tusukan itu?" tanya Sifa sambil berjalan mendekat pada Mala


"Sifa, Masih sedikit nyeri sih, Tapi sudah tidak seperti kemarin. Aku boleh pulang hari ini kan?"


"Insya allah ya kak. Kita lihat kondisi kakak siang ini"


"Aku sudah sangat merindukan mereka Sif"


"Iya kak. Sifa paham apa yang kakak rasakan. Tapi kakak tidak perlu khawatir. Karna mereka baik-baik saja. Katanya mama mereka tidak rewel sama sekali"


"Syukurlah kalau begitu Sif. Kakak benar-benar takut mereka berdua rewel"


Setelah mengatakan hal itu. Sifa keluar dari dalam ruangan Mala, Karna pagi ini Sifa masih ada jadwal visit pasien.


Sedangkan Mala. Setelag kepergian Sifa, dia mengambil ponselnya. Menatap foto dirinya dengan Bima yang dia jadikan sebagai wallpaper di layar ponselnya.


"Sebenarnya ada urusan apa kamu di sana, my boy. Kenapa harus mendadak seperti itu. Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku. Tapi apa" ucap Mala sambil terus memperhatikan layar ponselnya.


Sejenak Mala terdiam. Wanita itu tiba-tiba saja teringat akan kejadian kemarin. Entah atas dasar apa Mala mendorong Devan fan membiarkan tubuhnya sendiri yang terluka.


"Ada apa denganku. Kenapa kemarin aku seperti tidak rela jika sampai mas Devan terluka. Aku benar-benar tidak paham dengan diriku sendiri" ucap Mala pelan.


Entah kenapa Mala memang tidak ingin melihat Devan sampai terluka karna perlakuan orang-orang yang tiba-tiba saja datang hari itu.


"Tapi sebenarnya siapa mereka. Apa alasan mereka kemarin melalukan hal itu" ucap Mala yang mulai penasaran dengan siapa yang sudah menjadi dalang hal kemaren.


Di Aussie


Andika mengambil ponselnya yang tiba-tiba saja berdering. Sejak salam pria itu memang mematikan ponselnya, Karna tidak ingin ada yang mengganggu ketenangannya di sana.


Kedua mata Andika memicing saat melihat nama yang tertera di sana. Karna penasaran, Akhirnya Andika menjawab panggilan itu.


πŸ“ž:Halo, Ada apa?


πŸ“ž:Gawat tuan. Saya baru saja mendapatkan kabar jika Bima akan datang ke Aussie dan membalaskan apa yang sudah tuan lakukan terhadap istrinya.


πŸ“ž:Apa! Kenapa kamu baru mengatakan hal itu sekarang. Bangsat!


Setelah mendengar akan hal itu. Andika langsung memutuskan sambungan telponnya. Jujur saja, Andika mulai was was saat mendengar jika Andika akan membalaskan apa yang dia lakukan kemarin. Karna mau bagaimanapun, Sebenarnya Andika takut akan sosok Albima. Seorang mafia berdarah dingin nan kejam.


"Bagaimana ini" ucapnya mulai panik