
"apa maksud kamu Adelia??"
" kamu pura-pura gak ngerti apa gimana Devan, tadi jelas-jelas kamu bilang pada Rendi bahwa kamu masih sangat menyayangi aku, apa itu benar Devan??"
Lirih Adelia dengan sedikit menyelidik..
" Oh soal itu, tadi aku tidak sengaja Lia, gak perlu kamu pikirkan, kita sudah sama-sama menikah, aku tidak mau melukai hati istriku,"
tiba-tiba Devan teringat akan Mala yang sudah tidak ada di dalam mobilnya..
" ya ampun Mala, kemana Mala, bukankah tadi aku lagi sama dia, apa dia mendengar yang aku katakan barusan,"
seketika Devan meminta Adelia untuk turun dari mobilnya dan menaiki taksi .
" maafkan aku Adelia, aku tidak bisa mengantar kami Sampek ke rumah sakit, tolong kamu naik taksi aja ya, karena aku harus cari Mala, pasti dia sudah salah paham dengan perkataan aku tadi"
Adelia masih tidak menyangka jika seorang Devan tega-teganya menurunnya di tengah jalan, di tempat lain mala masih menangis tersedu-sedu. nafasnya naik turun, ada rasa kecewa dalam hatinya, masih tak percaya jika apa yang pernah di katakan suaminya malam itu hanyalah kepalsuan semata..
" bodoh kamu Mala, bisa-bisanya kamu percaya seorang CEO tampan kaya raya jatuh cinta padamu dalam waktu 3blan, kamu tak lebih dari istri di atas kertas, sadar Mala!!"
tangis Mala semakin terisak, entah kenapa hatinya benar-benar terluka mendengar perkataan suaminya tadi. tiba-tiba ada suara yang membuat Mala sedikit terkejut..
" mbak, MBK kenapa nangis disini sendirian?? apa mbaknya lagi ada masalah?"
suara itu membuat Mala menoleh dan mencari sumber dari suara tersebut,
" loh Mala!!! ternyata wanita yang dari tadi menangis adalah kamu"
ternyata pria itu adalah Wilson sahabat nya waktu masih SMA, namun karena perubahan yang begitu drastis membuat Mala tidak terlalu ingat jik dia adalah sahabatnya dulu.
" kok kamu bisa tau nama aku, memangnya kita pernah kenal sebelumnya??"
" apa kamu sudah lupa sama sahabat yang selalu ada buat kamu saat masih SMP"
ucapnya pelan
" hah, sahabat? tapi aku gak kenal sama kamu, Wilson sahabat aku dulu gak seperti ini"
lirih Mala dengan nada lemas dan mata yang mulai sebam karena menangis dari tadi.
" iya mala, aku wilson Sahabat kamu, apa kamu sudah lupa sama aku mala??"
" yang benar kamu Wilson, maafkan aku Wilson, aku benar-benar pangling dengan perubahan kamu yang begitu drastis,"
" iya mala, semua ini ini berkat seseorang yang sudah berhasil merubah aku 3tahun yang lalu"
" memangnya siapa yang sudah berhasil merubah seorang Wilson menjadi seperti ini?"
" Kamu mala, kamu adalah wanita yang sudah merubahku menjadi seperti ini"
lirihnya dalam batin ..
" itu gak penting Mala, kamu kenapa menangis sendirian di sini, apa ini masih tetap menjadi tempat favorit kamu menyendiri?"
tempat itu memang selalu menjadi tempat bagi Mala untuk meluapkan kesedihan nya, di tempat ini wanita cantik itu bisa merasakan ketenangan,, begitu juga dengan Wilson, pria itu sering datang kesini setiap perasaan nya lagi kalut, dia juga selalu berharap bisa bertemu lagi dengan sahabat lamanya.. tiba-tiba ada panggilan masuk yang membuat Mala harus segera pergi dari danau itu.
" maafkan aku wilson, aku harus segera pergi"
" tapi mala, masih banyak hal yang mau aku omongin sama kamu"
" kapan-kapan saja Wilson. nanti kita ketemu lagi. sekarang aku harus pergi,"
tanpa menunggu jawaban dari sahabat lamanya, wanita cantik itu segera pergi meninggalkan Wilson yang masih terdiam di tempat,
ditempat lain Devan masih bingung mencari keberadaan Mala, di kantor juga tidak menemukan sosok istrinya. di telfon juga gak diangkat.
" dimana kamu Mala, tolong angkat telepon aku,"
" mas kamu gak usah cari aku, aku lagi mau nenangin diri dirumah bunda, tolong ngertiin aku"
membaca pesan singkat yang dikirim oleh Mala membuat Devan semakin merasa bersalah..
" maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud bicara seperti itu tadi"
setelah sore pria tampan itu langsung pulang karena sudah tidak mungkin lagi balik ke kantor dalam keadaan seperti ini,
setelah sampai dirumahnya pria tampan itu masih bingung apa yang harus dia jelaskan pada orang tuanya, karena tidak mungkin jika Devan memberitahu apa yang sebenarnya sudah terjadi, namun disaat Devan mau menjelaskan tentang Mala mamanya pun sudah lebih tau kemana perginya sang menantu..
" ma, maaf ya Mala tidak ikut pulang bersama Devan, soalnya"
belum juga Devan selesai bicara namun sudah terpotong oleh sang mama.
" Iya Devan mama sudah tau jika Mala sedang di rumah orangtuanya, tadi dia sudah minta ijin sama mama"
" ternyata mala sudah memberitahu mama. maafkan aku sayang, aku sangat menyesal sudah berkata seperti itu, Tampa berfikir panjang,"
lirih Devan dalam batin, seketika Yasmine memanggil Devan yang masih mematung di tempatnya..
" Devan, kamu baik-baik saja kan"
tingkah laku Devan membuat mamanya curiga...
" oh iya ma, Devan baik-baik saja kok, tadi Devan cuma sedikit kepikiran soal kerjaan aja, soalnya kerjaan Devan lagi numpuk ma,"
ucap Devan yang sengaja membohongi mamanya.. sedangkan Adelia yang di turunkan di tengah jalan tiba-tiba pingsan. namun untungnya ada orang yang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit...
" mbak bangun,"
suara laki-laki yang berusaha membangunkan Adelia, namun wanita itu tak kunjung bangun, hingga harus di bawa ke rumah sakit..
" tolong dokter,"
dokter itu pun memeriksa Adelia yang sedang tidak sadarkan diri.
" bagaimana keadaannya dokter??"
" bapak tidak perlu khawatir. istri anda tidak apa-apa, hanya saja dia lagi hamil,"
" oh maaf dokter dia bukan istri saya, tadi saya menemukannya tergeletak di pinggir jalan"
dokter itupun pergi dari ruangan Adelia.. beberapa menit kemudian akhirnya Adelia sadar dan memanggil- manggil nama Devan,
" Devan, tolong selamatkan aku Devan"
perkataan Adelia membuat laki-laki yang menolong nya tadi kaget dan menghampiri nya..
" mbak, mbk baik- baik saja?"
" iya saya baik-baik saja, terimakasih sudah menolong saya mas"
" iya sama-sama MBK, perkenalkan saya Wilson"
" Adelia"
sahut Adelia singkat..
" oh iya mbak untung saja kandungan MBK tidak apa-apa"
mendengar soal kandungan, seketika bola matanya membulat sempurna..
" Hah, hamil!"