
Entah kenapa rasanya sakit saat mendengar mas Devan bilang masih sayang sama wanita yang bernama Adelia. biarpun aku belum tau siapa sebenarnya dia, apa wanita itu adalah mantan kekasih mas yang meninggalkan nya dan menikah dengan laki-laki lain karena hutang orangtuanya. seperti yang pernah mas Devan ceritakan padaku tempo hari..
mendengar suamiku yang begitu membela wanita lain tepat di depan mataku. rasanya aku lemah, hatiku seperti tertusuk duri tajam yang membuatnya luka tanpa berdarah. walaupun aku sadar awal mula pernikahan ini terjadi hanya karena sebuah perjanjian di atas kertas saja. pernikahan kontrak,!!
namun setelah mendengar pengakuan mas Devan malam itu entah kenapa aku jadi banyak berharap padanya, aku ingin menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. namun mungkin yang dia katakan waktu itu hanyalah omongan ngelantur yang tidak bisa aku percaya lagi, dadaku seketika terasa begitu sesak. kelopak mataku pun sudah di penuhi dengan butiran air mata yang jatuh perlahan membasahi pipiku, karena tidak bisa di tahan lagi akhirnya aku memilih untuk pergi dari mobil mas Devan ke tempat dimana aku selalu bisa merasakan ketenangan.. entah kapan suamiku itu menyadari kepergian ku. tapi yang pasti saat aku keluar dia masih sibuk berkelahi dengan laki-laki yang dia panggil Rendi!
setelah sampai di danau tangisku semakin terisak-isak. apalagi saat mengingat ucapan suamiku barusan. rasanya air mata ini semakin deras dan tak bisa aku bendung. tak lama ada suara laki-laki yang membuatku sedikit terkejut..
" Mbak, MBK nangis ya?" tanyanya pelan. tak langsung menjawab aku hanya mencoba mencari sumber dari suara itu berasal..
" mbak kenapa" ucapnya lagi.. namun tak langsung menjawab aku hanya menanyakan siapa laki-laki ini. kenapa sok akrab sekali denganku.
" Mala, kamu mala kah?" lirihnya pelan. aku semakin penasaran di buatnya, siapa kira-kira laki-laki ini. kenapa dia tau namaku, ucapku dalam batin.
" Kamu siapa" tanyaku pelan di sertai tangisan isakku..
" Wilson. aku Wilson sahabat lamamu Mala, ternyata kamu juga masih sering kesini, aku senang bisa bertemu lagi dengan mu, setelah sekian tahun aku menunggu hari ini" jawabannya dengan nada terdengar begitu senang..
mendengar nama Wilson aku sedikit tidak mengingatnya, karena Wilson sahabat lamaku tidak berpenampilan seperti ini. lirihku dalam batin. namun pria itu bisa meyakini ku jika dia memang benar-benar Wilson sahabat nya Waktu masih SMP. tapi di saat aku mau bercerita tentang masalah ku tiba-tiba ada panggilan masuk dari bunda yang mengharuskan aku untuk segera pergi dari danau itu..
" maafkan aku Wilson aku harus segera pergi" kataku pelan dan pergi meninggalkan Wilson yang masih berdiri di sana..
" mala lain kali datanglah, akan aku tunggu di sini" teriknya pelan.. aku hanya tersenyum dan melambaikan tanganku..
" baiklah Wilson," balasku cepat .
setelah sampai di rumah bunda, aku berusaha menahan air mataku untuk tidak jatuh hingga aku berhasil masuk hingga ke dalam kamarku.. tiba-tiba kak Nara datang menghampiri ku yang sudah mulai menangis terisak lagi..
" kamu kenapa dek, apa yang terjadi" Tanya nya pelan.
" aku tidak apa-apa kak" jawabku singkat.. namun sebagai kakak dia selalu bisa memahami tentang perasaanku yang sedang tidak baik-baik saja.
aku dengar permintaan maaf yang keluar dari bibirnya dengan nada parau.. namun aku sudah terlanjur sakit, aku tidak memperdulikan apapun yang dia katakan, dan tak lama ada seseorang yang menelponnya..
" Adelia" katanya pelan.. aku jadi semakin yakin jika mas Devan memang masih menyayanginya. karena setelah menerima telepon dari Adelia raut wajah mas Devan berubah dan langsung pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu kepadaku.. entah kemana dia mau pergi.. tapi yang pasti dia tidak pulang hingga pagi, dan membuat aku harus membohongi orang tuaku kembali..
" Mala ayo kita sarapan sayang" panggil bunda pelan..
" Iya sebentar bunda, Mala masih ganti baju" jawabku lembut.. setelah menggunakan pakaian kerja akhirnya aku menemui bunda juga yang lain yang sudah menungguku di meja makan...
" Mana suamimu nak" ku dengar suara ayah yang menanyakan mas Devan. aku terpaksa berbohong demi melindungi nama baik suamiku di depan orang tuaku..
" oh mas Devan sudah berangkat duluan yah, ada meeting mendadak, jadi dia sarapan sama Klein" kataku sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutku.. aku lihat kak Nara yang memandang ku dengan penuh selidik.. karena hanya dia yang tau tentang masalah ku saat ini..
setelah selesai sarapan akhirnya aku memutuskan untuk segera berangkat ke kantor, sesampainya di kantor aku belum melihat mobilnya mas Devan. apa laki-laki itu belum juga berangkat, tapi biasanya mas Devan tidak pernah telat datang kekantor.. ku lihat ada vino di depan resepsionis, jadi aku menanyakan mas Devan padanya.
" vino apa mas Devan sudah datang?" tanyaku pelan.. mendengar pertanyaan ku. vino sedikit mengerutkan keningnya. terlihat sedikit kebingungan di wajahnya..
" loh memangnya kalian tidak berangkat bersama" jawabannya..
" tidak vino, semalam aku nginep di rumah orang tuaku. dan mas Devan entah jam berapa dia pergi tanpa memberi tahuku mau kemana, tapi sebelum pergi dia sempat menerima telfon dari orang yang bernama Adelia"
mendengar aku menyebutnya nama Adelia tentu saja nama itu sudah tidak asing lagi bagi vino, karena memang vino juga tau tentang hubungan mas Devan juga Adelia di masa lalu.. vino sedikit terkejut..
" Apa!! Adelia" lirihnya dengan nada tinggi.
" kalo boleh tau sebenarnya Adelia itu siapa vin, soalnya kemaren siang mas Devan sempat menolong dia dari laki-laki yang bernama Rendi" tanyaku dengan pura-pura tidak tau..
" hah Devan nolongin Adelia dari Rendi??" tanyanya lagi
" Iya Vin, mas Devan bela-belain nolongin Adelia dari pria yang bernama Rendi sampai-sampai tidak memperdulikan aku" jawabku pelan.. akhirnya vino menjelaskan siapa Rendi juga Adelia. seperti dugaanku sebelumnya. ternyata Adelia memang benar mantan kekasihnya mas Devan yang mungkin masih dia sayang sampai saat ini.. gak tau kenapa mendengar jawaban vino dadaku kembali sesak.. tapi aku berusaha agar air mataku tidak tumpah di depan vino