
"Aku mohon bangun Bim, Jangan seperti ini. Hiks....hiks..." Ucap Mala sambil tidur di atas dada bidang Bima
"Asal kamu tau. Aku hampir saja mati karna terlalu menghawatirkan kamu Bim. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu Bim. I Love you so much" Ucap Mala lagi.
Wanita itu belum menyadari jika Bima mendengar semua yang sudah dia katakan. Mendengar semua ucapan Mala membuat Bima mengangkat kedua sudut bibirnya sambil membelai lembut rambut Mala.
"Jadi kamu mau mengakui jika sudah benar-benar jatuh cinta pada suamimu yang sangat tampan ini sayang" Ucap Bima yang terdengar begitu lembut seperti biasa.
Suara lembut yang selalu Mala dengar, Akhirnya kembali menerpa indra pendengarannya setelah beberapa hari ini tidak terdengar oleh Mala.
Wanita itu mengangkat wajahnya saat mendengar suara lembut Bima. Apa ini hanyalah sebuah mimpi? Pikirnya.
Mala mencubit pipinya sendiri dan langsung terasa sakit."Jadi ini bukan mimpi? Aku benar-benar sudah bisa melihat kami dalam keadaan baik-baik saja my boy" Ujar Mala sambil kembali memeluk Bima
Tangis Mala pecah di dalam pelukan suaminya. "Jangan pernah pergi lagi ya Bim. Aku benar-benar tidak sanggup kehilangan kamu, Aku akui jika aku sudah benar-benar mencintai kamu Bim. Kamu sudah seperti belahan jiwaku" Ucap Mala dalam dekapan Bima
Mendengar itu membuat Bima tak henti-hentinya mengangkat kedua sudut bibirnya. Jika di tanya apakah Bima bahagia? Maka jawabannya adalah sangat. Bima sangat sangat bahagia saat mendengar jika dunianya sudah mencintainya.
Akhirnya penantian yang selama ini Bima berikan untuk Mala berbuah manis. Bima sudah benar-benar mendapatkan cinta istri tersayangnya.
"Sayang, Aku berjanji, Tidak akan pernah membuat mu cemas dan menghawatirkan ku. Maafkan aku yang sudah membuat mu mengeluarkan air mata yang begitu berharga" Ucap Bima sangat lembut sambil mengusap kedua mata Mala yang sudah basah.
"Aku tidak mau janji my boy, Aku ingin kamu membuktikan semua yang sudah kamu katakan. Terimakasih sudah bertahan untuk kita semua" Ucap Mala sambil terus memeluk Bima sangat erat.
Leon yang melihat itu ikut merasakan apa yang saat ini Bima rasakan. Akhirnya setelah berbulan-bulan. Cinta itu tumbuh dalam diri Mala.
Biarpun Leon memang mengakui jika dia juga sudah mulai mencintai Mala, Namun saat melihat senyum merekah yang terukir jelas dari bibir Bima membuat Leon memutuskan untuk mengubur perasaan yang sudah mulai dia rasakan terhadap istri sahabatnya sendiri.
"Akhirnya kamu sudah bisa merasakan balasan cinta dari duniamu Bim. Aku ikut merasa bahagia melihat kamu seperti itu. Aku janji akan mengubur semua rasa yang mulai tumbuh dari hati ini. Aku benar-benar bahagia bisa melihat kalian bersama lagi" Leon bermonolog dalam batinnya sambil terus menatap Bima dan Mala yang masih berpelukan begitu erat.
Merek berdua sampai lupa jika saat ini sedang ada banyak orang yang juga begitu menghawatirkan keadaan Bima.
Tak lama kemudian. Terdengar suara Sunder yang sengaja mau menggoda Bima juga Mala. Melihat anaknya tak henti-henti tersenyum membuat Sunder juga ikut merasakan hal yang sama.
Eheemmm.
"Berasa dunia milik berdua nih ya" Ucap Sunder dingin namun terdengar begitu hangat
"Tau nih pi. Palingan yang lain di anggap ngontrak sama mereka berdua" Timpal Lina
Bima dan Mala yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya. "Emang dunia sedang milik kita berdua, Iya kan sayang. Yang lain pada ngungsi" Ucap Bima sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, Senyum itu kembali menjadi tangis saat Bima menanyakan kabar tentang kedua bayi mungil yang saat ini sedang ada di tangan Nadia.
"Sayang. bagaimana tentang pencarian Langit dan Bintang. Apa mereka sudah di temukan?" Tanya Bima dan langsung berhasil membuat suasana yang tadi sempat rame seketika menjadi hening.
Tidak ada satu orang pun yang mau menjawab pertanyaan Bima. Begitu juga Mala yang langsung menundukkan wajahnya dan terlihat begitu sedih.
Mala pandang kedua sorot mata Mala yang tersimpan begitu banyak luka. Melihat wajah sendu itu membuat Bima sudah tau pasti apa jawaban dari pertanyaan nya.
Bima menangkup kedua pipi Mala sambil menatap dalam kedua mola mata hitam itu"Aku janji, Akan membawa mereka kembali dalam keadaan baik-baik saja sayang" Ucap Bima lembut banget.
Air mata Mala kembali jatuh entah untuk yang ke berapa kalinya. Tapi yang pasti, Bima tidak suka melihat dunianya menjatuhkan berlian berharga bagi Bima.
"Aku berjanji sayang. Tidak akan membiarkan kamu menjatuhkan air mata itu lagi"Ucap Bima lagi sambil membawa Mala dalam dekapannya.
"Siapapun yang sudah membawa pergi mereka, Akan aku pastikan jika dia akan menerima balasan atas apa yang sudah dia lakukan. Karna dia, Mala ku harus membuang air matanya, Akan aku Pastikan itu!" Ucap Bima dalam batinnya.
Mungkin bagi semua orang ekspresi yang bima tunjukkan saat ini hanyalah ekspresi biasa. Tapi tidak dengan Sunder dan Lina. Kedua paruh baya itu tau jika saat ini Bima sedang menahan sebuah amarah.
Lina dan Sunder yang begitu mengerti Bima hanya bisa saling pandang. Biarpun Lina hanyalah ibu sambung, Namun wanita paruh baya itu sudah sangat mengenal bagaimana kepribadian Bima.
Bima yang begitu lembut terkadang berubah menjadi sangat jahat saat merasa dunianya terganggu. Seperti singa tidur yang akan sangat marah jika ada yang mengusik tidurnya.
Sejak tadi Wilson hanya fokus memperhatikan Devan yang saat ini sedang ada di hadapannya. Melihat raut wajah Devan membuat Wilson paham, Apa yang sedang Devan rasakan saat ini.
Terluka. Itulah satu kata yang pas untuk menjabarkan perasaan Devan saat ini. Cinta Devan terhadap Mala entah kenapa semakin hari malah semakin besar.
Semakin Devan berusaha melupakan Mala. Maka perasaan itu akan semakin besar dalam hati Devan. Intinya, Devan gagal move on.
Pria itu mengusap dadanya serta menundukkan wajahnya saat melihat Mala terisak dalam dekapan Bima. Rasanya begitu pedih dengan pemandangan yang saat ini ada di depan matanya.
"Ya allah, Ajakan padaku bagaimana caranya melupakan Mala. Kenapa rasanya begitu sakit saat melihat wanita yang aku cinta menangis dalam dekapan pria lain. Pria yang tak lain adalah suaminya sendiri. Ajarkan aku bagaimana caranya membuang semua perasaan ini" Devan bermonolog dalam batinnya.
Wilson yang melihat raut wajah Devan langsung mendekat ke arah pria itu sambil membisikkan sesuatu yang hanya terdengar oleh Devan.
"Move on. Kalau kamu terus-terusan mencintai wanita yang sudah menjadi istri orang, Yang ada itu hanya akan menyakiti batin mu sendiri" Ucap Wilson pelan dan hanya terdengar oleh Devan.
Devan yang mendengar itu langsung berbalik membisik pada Wilson"Memangnya situ sudah bisa move on!" Ucap Devan dan berhasil membuat Wilson mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Sepertinya begitu" Balas Wilson.
"Ajari aku bagaimana caranya?"
"Nanti akan aku kasih tips bagaimana caranya mudah move on" Balas Wilson lagi
"Baiklah"
Di saat suasana sudah kembali hening, Tiba-tiba Sifa datang dengan melontarkan beberapa pertanyaan yang mampu membuat semua orang mengulum bibir. Terkadang Sifa ini benar-benar lucu dan menggemaskan. Apalagi di mata Wilson.
Pria itu sudah benar-benar benar move on dari Mala pada Sifa.
"Kak Bima. Kakak baik-baik saja kan. Tidak ada luka yang serius kan. Kalau ada luka yang serius biar Sifa obati kakak ya. Sifa yuh khawatir sekali sama kak Bima. Kak Bima kemana saja, Asal kakak tau, Kak Mala benar-benar terpuruk saat mengetahui jika kak Bima hilang" Cerocos Sifa yang baru saja datang.
Bima mendengar itu langsung mengulum bibir menahan Tawa. Adiknya ini memang terkadang terlewat bawel. Tapi sebelumnya tidak ada yang tau jika Sifa memiliki kepribadian se bawel ini. Kecuali keluarga Bima.
"Iya Sifa tau kenapa kakak sudah merasa baik-baik saja" Ucap Sifa
"Kenapa memangnya?"
"Ya itu sudah pasti karna kak Mala yang membuat luka kakak tidak berasa sakit. Iya kan! Secara kak Bima kan bucin parah"
"Dasar anak kecil"
Sifa belum menyadari jika di sana juga ada Wilson yang sejak tadi sudah memandangnya tanpa mau berkedip. Menurut Wilson. Sifa benar-benar gadis yang menggemaskan.
Devan yang menyadari tingkah aneh Wilson sambil terus menatap Sifa membuatnya curiga dan langsung bisa menebak jika Wilson kemungkinan besar sudah move on pada adiknya, Sifa.
Devan menyenggol tangan Wilson saat melihat Wilson terus memandang Sifa sejak tadi tanpa mau berkedip sedetik pun.
"Biasa saja liatnya. Nanti kamu jatuh cinta" Ucap Devan pelan nyaris berbisik.
"Tidak perlu menunggu nanti. Sepertinya sekarang memang sudah mulai jatuh cinta" Balas Wilson.
"Kak, Bagaimana ceritanya kenapa kakak bisa sampai hanyut hingga ke pantai?" Tanya Sifa pada Bima.
Mendengar pertanyaan Sifa membuat Bima melirik ke arah semua orang. Masih bisa Bima ingat jelas kejadian yang membuatnya hanyut dibawa arus hingga ke pantai.
"Seingat ku, Saat aku mendapat kabar di mana keberadaan Langit dan Bintang. Aku langsung mengambil kunci mobil serta langsung menuju ke lokasi yang menurut black flowers kemungkinan besar ada Bintang dan Langit" Terang Bima
"Lalu kak"
"Setelah di tengah perjalanan. Aku melihat ada sebuah mobil yang melaju sangat cepat hingga membuat aku mau tak mau harus menghindar. Tapi saat aku mencoba mau menginjak rem, Ternyata remnya blong. Sepertinya kecelakaan itu memang sudah di rencanakan" Ucap Bima lagi.
Sunder yang mendengar penuturan Bima langsung merasa begitu kaget. Pria paruh baya itu tidak pernah menyangka sebelumnya jika peristiwa yang di alami Bima dan Mala adalah sebuah kesengajaan.
"Apa!! Siapa yang sudah berani melakukan ini Bim?" Tanya Sunder yang terlihat begitu marah.
"Bima tau siapa orangnya pi. Tapi papi tenang saja. Bima juga bisa melakukan hal yang sama pada orang itu" Ucap Bima pelan.
"Siapa orangnya Bim?"
"Andika sanjaya"
"Andika Sanjaya. Siapa dia Bim?" Tanya Sunder yang memang tidak pernah tau menahu soal Andika sanjaya. Karna dia adalah lawan bisnis Bima dari perusahaan yang Bima dirikan sendiri tanpa sepengetahuan Sunder juga Lina.
"Musuh lawan bisnisku pi. Dia tidak terima karna selalu kalah jauh dari perusahaan MELANI Group"
"MELANI GROUP! apa hubungannya kamu dengan perusahaan itu?" Tanya Sunder yang memang belum tau apa-apa tentang perusahaan Bima yang itu.
"Sebenarnya, MELANI GROUP adalah perusahaan yang aku dirikan sejak 5 tahun yang lalu pa. Maaf karna Bima belum sempat cerita soal itu pada papa"
"Apa! Jadi dugaan mami selama ini benar, Jika MELANI GROUP memang perusahaan kamu. Sesuai dengan nama Alm, Mami melani ya"
"Iya pi, Maafkan Bima. Bukan maksud Bima menutupi semuanya dari papi, Tapi Bima sudah bertekad tidak akan memberitahu papi sebelum perusahaan itu jaya"
"Tidak masalah boy. Papi bangga sama kamu"
"Lalu kak. Yang bikin Sifa penasaran, Kenapa kakak bisa sampai di pantai?"
"Ini semua juga karna ulah Andika sanjaya. Waktu itu kakak sudah selamat dari arus sungai. Kakak mencoba mencari jalan untuk bisa naik ke atas, Tapi ada seseorang yang memukul kakak dari belakang. Biar pun sudah setengah sadar, Tapi kakak masih ingat jelas jika suara itu adalah suara Andika sanjaya" Terang Bima lagi
"Astaga. Orang itu sudah benar-benar bosan hidup"
"Aku akan memberikan balasan atas apa yang sudah dia lakukan. Andika harus membayar mahal atas semua ini" Ucap Bima lagi.
Tak lama kemudian. Ponsel Devan tiba-tiba berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari orang suruhannya yang di indonesia.
Beberapa hari yang lalu. Devan memang sempat ke tempat di mana dia dengar jika kedua anak Mala ada di sebuah rumah pinggir sungai. Pria itu menemukan sebuah lembar kertas yang menunjukkan nama Nadia.
Dengan cepat Devan melacak keberadaan serta transaksi terakhir yang di lakukan Nadia. Sejak saat itulah Devan tau jika kedua bayi itu sudah di bawa ke indonesia.
Devan menghubungi Alex dan memintanya untuk menyuruh orang buat melacak keberadaan Nadia.
Melihat ada sebuah panggilan masuk dari Alex membuat Devan harus keluar dari rumah itu.
π:Halo Alex, Ada apa kamu menelpon. apa sudah ada kabar mengenai Nadia?
π:Iya tuan. Saat ini orang yang bernama Nadia sedang ada dalam genggaman kami.
π:Perketat penjagaan. Jangan biarkan dia sampai lolos. Apa wanita itu membawa 2 bayi kembar?
π:Baik tuan. Akan saya pastikan jika Nadia tidak akan pernah bisa kabur dari penjagaan kami. Iya tuan, Wanita itu membawa dua bayi kembar laki-laki yang sangat lucu.
π:Aku akan segera kembali ke jakarta. Kami pastikan wanita itu tidak bisa kemana-mana
Tut...tut...tut
Setelah mengucapkan hal itu, Devan langsung memutus sambungan telponnya. Pria itu bisa bernafas lega saat mendengar jika kedua bayi itu baik-baik saja.
Biarpun Devan sudah tau jika kedua anak Mala sudah di temukan. Namun pria itu masih tutup mulut karna Devan masih mau melakukan tes DNA pada kedu bayi itu.
Devan meyakini jika kedua bayi itu adalah anaknya, Darah dagingnya.
"Papa akan segera pulang sayang"Ucap Devan dalam batinnya
TERIMAKASIH YANG SELALU SETIA SUPPORT. SEMOGA KALIAN SEHAT SELALU. DUKUNG TERUS KARYA AUTHOR YA. MAAF JIKA ADA BANYAK TYPOππ»
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, RATE. BACA JUGA KARYA AUTHOR YANG LAIN YAπ₯°ππ»