
" Iya istri, bima sudah mempunyai istri, dan sekarang istrinya sedang tidur karna kelelahan, maklum lagi hamil" ucap kakek lustama pelan
" Oh, jadi bima sudah punya istri, aku pikir belum"
" Iya kak aku sudah menikah, dan sekarang istriku sedang tidur. karna tadi bilang sakit pinggang. makanya aku pijitin sampai dia ketiduran," Terang bima memperjelas.
" Bagaimana kuenya kak, enak tidak? itu yang buat istrinya kak bima" timpal sifa
" Memangnya siapa nama istri kamu bim?"
" M... " bima menghentikan ucapannya saat menyadari jika mala sudah memintanya untuk memanggil dengan sebutan delisa jika sedang ada di indonesia, kecuali hanya berdua
" M...siapa bim?"
" Maksudnya delisa tante," Lanjut bima dengan sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
Tanpa mereka sadari ternyata hari sudah semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 11:30. akhirnya malam ini semua keluarga wijaya bermalam di kediaman kakek lustama tanpa terkecuali. mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing. malam ini sifa tidur di tengah-tengah papa dan mamanya, mengulang hal yang selalu dia lakukan waktu masih kecil. tidur di tengah kedua orang tuanya
" Ma,pa, sifa bahagia sekali, akhirnya kita bisa berkumpul lagi seperti ini, hal ini yang selalu sifa rindukan selama lima belas tahun, selama itu sifa harus bertahan menahan rasa rindu yang kian hari semakin mendalam" lirih sifa sendu
" Bukan hanya kamu nak, papa juga mama merasakan lebih dari itu, setelah kehilangan kamu, dunia papa seakan berhenti berputar, papa sampai membenci kakek selama lima belas tahun ini. bahkan papa tidak pernah mau mendengar kabar tentang kakek kamu. semua itu karna keegoisan papa" wijaya berucap sambil menggenggam tangan kiri sifa,
" Maaf kan papa dan mama yang tidak pernah menyadari jika kamu selalu datang ke rumah untuk mengobati rasa rindumu nak" kini yasmine yang bersuara dengan nada sendunya.
" Tidak masalah ma, semua sudah berlalu, hal yang selama ini sifa nantikan akhirnya terjadi. sifa sudah bisa kembali berkumpul bersama mama dan papa"
Di saat sifa merasakan kebahagiaan yang selama ini dia rindukan, berbeda dengan Devan, pria itu saat ini sedang berdiri termenung di atas balkon kamarnya seorang diri, karna adelia sudah tertidur lebih dulu setelah masuk ke dalam kamar ini, devan membiarkan wajahnya di terpa angin malam yang semakin menusuk hingga relung hati,
Memandangi ribuan bintang yang bertaburan diatas langit yang terlihat sangat indah malam ini, entah kenapa hal itu membuatnya mengingat wanita yang selalu menjadi ratu di hatinya, wanita yang amat dia rindukan. devan mengusap dadanya yang mulai terasa sesak saat mengingat kepergian wanita itu, tanpa sadar butiran bening itu jatuh begitu saja tanpa permisi. bersamaan dengan gerimis yang mulai membasahi kota jakarta.
" Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini, kenapa begitu sakit merindukan seseorang yang aku sendiri tidak tau keberadaannya," lirihnya sendu
" Aku merindukannya, sangat merindukannya"
Tanpa dia sadari, ternyata di atas balkon sebelah kamarnya juga ada seorang wanita yang sedari tadi ikut menikmati indahnya ribuan bintang yang kini hilang karna datangnya gerimis yang tiba-tiba datang tanpa memberi peringatan terlebih dahulu.
Wanita cantik berambut hitam pekat dengan di jepit menggunakan jedar dan menggunakan piyama berwarna hitam. dia kembali mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. kejadian dimana dia masih merakan cintanya yang begitu hangat, kejadian jauh sebelum mimpi buruk itu terjadi.
Beberapa bulan yang lalu. tepatnya satu bulan setelah pernikahannya dengan devan. mala merasakan adanya benih-benih cinta yang sudah mulai dia rasakan kepada laki-laki yang menjadi suaminya, lebih tepatnya suami di atas kertas. malam itu mala diajak devan untuk bermalam di kediaman kedua orang tuanya agar bisa menikmati indahnya bintang di malam hari.
Mala mengangguk patuh dengan ajakan itu, biarpun rencana awal hanya untuk sekedar menikah kontrak. Namun entah kenapa seiring berjalannya waktu rasa itu tumbuh dan semakin hari semakin mengembang di hati mala.
" Mala, malam ini kita nginep di rumah mama ya, kan besok weekend. jadi malam ini kita bisa tidur sampai larut" ucap devan pada mala.
Mendengar itu membuat mala mengukir senyum" Memangnya kenapa harus tidur sampai larut?" tanyanya.
" Aku akan menunjukkan keindahan bintang dari atas balkon kamarku. Ribuan bintang yang terlihat sangat indah jika melihatnya dari atas sana,"
" Disini kam sama saja mas"
" Beda, bintang-bintang itu terlihat semakin indah jika di lihat dari balkon kamarku dirumah mama"
" Yasudah"
Yang di katakan devan memang benar adanya, mala begitu menikmati pemandangan ribuan bintang yang ada di atas langit, hingga tanpa mereka sadari hari sudah semakin larut dan membuat keduanya tertidur dengan posisi berpelukan. itu pertama kalinya selama menikah devan dan mala tidur dengan posisi mala ada di atas tangan kanan devan. Karna memang mereka melihat bintang sambil tiduran di atas balkon.
flashback off
Mala menunduk disaat merasa kedua matanya sudah mulai memanas, keindahan yang sempat terbesit dengan cepat dia buang karna terlalu sakit saat mengingat mimpi buruk itu datang dalam hidupnya, " Kenapa begitu sulit untuk sekedar melupakanmu mas, kenapa cinta ini begitu besar, kenapa semuanya jadi seperti ini" lirihnya pilu
Mala sudah tidak bisa lagi membendung air mata itu. akhirnya wanita itu membiarkan air matanya meluruh dan membasahi kedua pipi putihnya. " Kenapa mimpi buruk ini harus terjadi. kenapa harus ada hujan di tengah adanya bintang yang bersinar indah, Apa pelangi itu akan datang.? apa pelangi benar-benar akan datang setelah hujannya reda?" lirih mala sangat pilu
" Pelangi memang akan selalu datang walaupun tidak tepat setelah hujannya reda sayang" Suara lembut itu kembali terdengar syahdu di indra pendengaran mala.
Mendengar suara bima dengan cepat mala mengusap kedua matanya yang sudah mulai basah, " Bim, kamu bangun?" tanya mala dengan suara seraknya
" Iya sayang, tadi aku haus, aku cari kamu. eh taunya ada disini. masih suka jadi penunggu balkon, hmmm?"
" Iya bim, tadi aku terbangun dan gak bisa tidur lagi. akhirnya aku memilih keluar dan melihat bintang. bintang yang sangat indah, tapi keindahan itu hanya bertahan sesaat, karna gerimis sudah membuatnya hilang dan pergi begitu saja" ucap mala dengan tatapan kosong yang melihat ke arah derasnya hujan.
Melihat mala seperti itu membuat bima ikut merasakan sakit, pria itu membawa mala dalam dekapannya, dekapan yang selalu terasa nyaman buat mala. " Menangis lah jika itu bisa membuat hatimu tenang sayang, aku tau berat rasanya menghadapi badai besar yang menjadi mimpi terburuk yang pernah kamu alami." Suara lembut bima selalu mampu membuat mala tenang dalam sekejab