
Saat sudah tiba di ruang rawat Bintang. Betapa terkejutnya Bima saat melihat ada begitu banyak darah berserakan disana. Leon, Sifa, Rani dan Wilson juga sudah mengumpul disana. Bahkan bukan hanya mereka, Ada beberapa suster dan juga tim medis lainnya. Ruangan itu terlihat begitu banyak orang yang mengerubungi disana.
Melihat itu membuat Bima semakin merasa penasaran. Bima mempercepat langkahnya dan menyusup masuk pada kerumunan itu. Betapa terkejutnya Bima saat melihat keadaan Mala yang sudah tak sadarkan diri dalam dekapan Devan dengan darah yang terus saja mengalir deras dari perutnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Bima sambil duduk dan menatap Mala yang sudah tak berdaya
Wajahnya pucat serta kedua mata yang masih tertutup rapat. Namun tidak ada satu orangpun yang menjawab pertanyaan Bima
Mereka semua seakan bungkam.
"Leon,.Apa yang sudah terjadi?" tanya Bima sambil menatap Leon
"Mereka sudah menusuk Mala, Bim."
Bima mendorong tubuh Devan sambil mengambil alih tubuh mala. Kedua matanya menjadi sangat merah, Terlihat kemarahan yang tersirat dari kedua sorot matanya.
"Kenapa kalian hanya diam saja. Kenapa tidak melakukan tindakan! Menunggu sampai istri saya kehilangan nyawanya! hah" sentak Bima pada mereka semua sambil menggendong tubuh Mala
"Ayo cepat tangani istri saya. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya, Cepat!" sentak Bima lagi
"Sifa, Tolong kamu jaga Bintang, Tetaplah di sini"
"Ita kak"
Bima membawa tubuh Mala dengan langkah lebarnya. Darah itu semakin mengalir deras dan membuat wajah Mala semakin pucat."Bertahan sayang. Tolong bertahan demi aku" ucapnya yang terdengar sangat lirih
Para tim medis mengekor di belakang Bima, Bima memang akan membawa Mala ke ruangan IGD untuk mendapatkan penanganan. "Tolong buka pintunya, Saya mau kalian melakukan yang terbaik buat istri saya, Berapapun biayanya akan saya bayar, Yang penting istri saya selamat"
Setelah tiba di ruangan IGD, Bima langsung merebahkan tubuh Mala di atas ranjang di sana. "Tolong keluar sebentar ya pak, Saya akan berusaha melakukan yang terbaik buat istri anda" ucap dokter di sana
Akhirnya dengan langkah yang sangat berat Bima keluar dari ruangan itu. Rasa takut mulai menghantui hati Bima."Tolong bertahan demi aku sayang. Aku mohon!" ucap Bima yang terdengar sangat lirih
"Kami kemana saja Bima? Kenapa kamu tidak ada di sini sejak tadi" tanya Leon sambil mendekat pada Bima
Bima mengambil nafas berat. "Aku tadi sedang ada urusan penting yang tak bisa aku tinggal Leon. Tapi aku meminta Andre untuk datang kesini dan menjaga Mala. Tapi kemana dia? Kenapa aku tidak melihatnya"
"Andre mengejar orang yang sudah menusuk Mala. Memang urusan penting apa sampai membuat kamu membiarkan Mala di sini Bim"
"Ada lah. Bagiamana ceritanya. Kenapa Mala bisa sampai terluka seperti itu?" tanya Bima lagi
"Aku juga tidak tau pastinya seperti apa Bim, Karna saat aku datang kesini keadaan Mala sudah di tusuk. Mungkin kamu bisa tanya pada Devan. Karna saat aku sampai di ruangan Bintang, Devan suda ada di sana"
"Kenapa kamu harus berkorban buat aku Mala. Kenapa tadi tidak kamu biarkan saja aku yang tertusuk. Kenapa kamu harus korbankan dirimu sendiri" ucap Devan dalam batinnya sambil menundukkan wajahnya merasa luka saat melihat keadaan Mala seperti itu hanya karna melindunginya.
Bima yang mendengar perkataan Leon langsung menoleh dan berjalan ke arah Devan yang masih menundukkan wajahnya sendu"Kak Devan. Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi" ucap Bima sambil memperhatikan Devan.
Namun ternyata pria itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menggubris apa yabg baru saja Bima tanyakan.
"Kak Devan. Apa yang sudah terjadi, Kenapa Mala sampai seperti itu? ulang Bima lagi
Devan menatap Bima namun tak langsung menjawab pertanyaan. Masih teringat jelas bagaimana tadi Mala berusaha melindungi Devan dan membiarkan dirinya tertusuk oleh benda tajam yang mereka bawa.
"Kak, Tolong jawab pertanyaan Bima! Apa yang sebenarnya terjadi?" ulang Bima lagi
Devan terdiam, Ingatannya kembali pada kejadian beberapa saat yang lalu. Tepatnya saat Devan sudah mau melangkahkan kakinya pergi dari sana, Karna memang Mala sudah tidak mengizinkan untuk menemui Bintang setelah apa yang Devan lakukan kemarin.
"Jadi"
"Lebih baik aku pergi saja, Lagian di sini sudah ada orang suruhan Bima yang akan menjaga Mala. Tapi Bima kemana? Kenapa hanya anak buahnya yang berjaga di sini"
Devan sudah bersiap untuk pergi dari sana, Dengan langkah yang sangat berat akhirnya Devan menyusuri koridor di sana. Namun tak berselang lama, Devan melihat ada beberapa orang yang mencurigakan.
Melihat itu membuat Devan menghentikan langkahnya, Pria itu membalikkan tubuhnya serta mengerutkan keningnya"Ada apa dengan mereka. Kenapa terlihat sangat mencurigakan. Apa yang mau mereka lakukan" ucap Devan sambil terus memperhatikan beberapa orang itu.
Orang yang menggunakan pakaian serba hitam dengan topi di kepala dan juga kaca mata serta masker. "Siapa mereka sebenarnya. Kenapa tingkahnya sangat mencurigakan" batin Devan lagi
Akhirnya Devan memutuskan untuk mengikuti mereka yang berjalan menuju ruangan Bintang. "Kenapa mereka malah masuk ke ruangan Bintang. Apa memang mereka adalah orang suruhan Bima" ucap Devan di sela langkahnya.
"Hei. Siapa kamu? Ngapain kamu masuk ke ruangan ini?" Tanya Andre saat orang-orang itu sudah masuk ke dalam ruangan Bintang.
Tak banyak bicara, Mereka langsung menyerang Andre serta kedua temannya. Wilson yang sedang asik makan besama Sifa akhirnya meletakkan makanannya dan ikut maju membantu Andre. Namun sayang, Ternyata anggota mereka membuat Wilson serta Andre kewalahan untuk menghadapi mereka.
Devan yang melihat itu langsung masuk dan ikut membantu menghadapi mereka semua. Hingga terjadilah baku hantam di sana. Suara riuh menggema di ruangan yang kedap suara itu.
Satu persatu orang yang datang menyerang tumbang. Dan hal itu membuat Andre, Wilson serta Devan merasa sangat senang. Tanpa mereka sadari, Salah satu dari orang itu bangun dan langsung mengeluarkan pisau yang terlihat sangat tajam.
Orang berjalan menuju Devan yang memang jaraknya cukup dekat dengannya. "Hebat kamu Wil, baru tau jika ternyata kamu jago dalam bela diri" puji Devan pada Wilson
"Biasa saja pak Devan. Malah pak Devan yang jauh lebih jago" puji Wilson balik
Mereka yang sedang saling memuji tidak menyadari jika salah satu orang berpakaian serba hitam itu bangun dan mengeluarkan pisau dari dalam jaketnya.
Mala yang melihat orang itu berjalan dan mengangkat pisaunya menuju Devan langsung menaruh Bintang dan berlari ke arah Devan"Awaasss" teriak Mala sambil mendorong tubuh Devan dan membiarkan dirinya yang tertusuk.
Devan yang di dorong tentu saja merasa sangat terkejut. Pria itu membalikkan tubuhnya dan menoleh ke arah Mala yang sudah memegang perutnya dengan banyak darah yang keluar dari bekas tusukan. Bahkan pisaunya juga masih menempel sempurna di perut Mala.
Melihat itu membuat Devan merasa sangat panik"Mala, Kenapa kamu harus mendorong aku dan membiarkan kamu tertusuk. Seharusnya kamu tidak melakukan ini!" ucap Devan sambil membawa Mala dalam dekapannya.
"Yang penting kamu baik-baik saja, Mas!" ucapnya dan langsung tidak sadarkan diri.
Andre yang melihat itu langsung mengejar pelaku yang sudah kabur. Bagaimana hal ini bisa terjadi. Kenapa Mala sampai terluka.
"Kurang ajar! Berhenti kamu. Berani-beraninya melakukan hal ini!" ucap Andre sambil mengejar orang itu.
Melihat Mala berkorban untuknya membuat Devan tanpa sadar menjatuhkan air katanya. "Kenapa kamu harus lakukan ini Mala. Kenapa!" ucap Devan sambil membawa Mala dalam dekapannya
Sedangkan Leon yang melihat riuh dari ruangan Bintang langsung mengajak Rani untuk kembali ke sana. "Sayang. itu ada apa rame-rame ya" ucap Leon sambil menarik tangan Rani
"*Gak tau kak, Kayaknya itu dari ruangannya Bintang deh. Lebih baik kita kesana sekarang saja" jawab Rani dan langsung melangkah ke ruangan Bintang.
Ternyata setelah mereka sampai di sana, Sudah terlihat banyak orang serta tim medis di sana. Dan tak lama kemudian Bima datang dengan raut wajah panik*.
"Apa!! Jadi maksud kak Devan, Mala terluka karna melindungi kakak?"
Devan tak menjawab. Pria itu hanya mengangguk sambil menundukkan wajahnya sendu. Jika sampai terjadi apa-apa terhadap Mala, Devan tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. "Maafkan aku Bim" ucapnya lagi.
Tak berselang lama, Pintu ruangan IGD terbuka. Suster yang keluar dari sana berjalan dengan sangat terburu-buru. Melihat itu membuat Bima menghentikan suster itu"Maaf sus, Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Bima panik
"Mohon maaf pak, Istri bapak harus segera di operasi"
"Apa!!"