Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Ku ikhlas melepaskanmu


Saat ini Bima dan Andra sedang asyik mengobrol setelah lama tidak bertemu, sedangkan pak Winarto sedang fokus menemani Dania yang sudah semakin aktif.


" Bim, apa aku boleh tanya sesuatu?" ucap Andra pada Bima


" Boleh, mau tanya soal apa kak?"


Dari awal kenal, Bima memang memanggil Andra dengan Embel-embel kakak di depan namanya. karna memang Andra lima tahun lebih tua dari pada Bima.


" Seberapa besar rasa sayang kamu terhadap Mala?"


" Sangat besar" ucap Bima cepat.


Mendengar jawaban Bima, membuat Andra tersenyum, karna yang Andra tau seorang Albima tidak pernah tertarik pada seorang perempun, selama kebersamaan mereka, Bima tidak pernah menyimpan nomor perempuan kecuali Maminya juga Sifa.


" Benarkah, sejak kapan kamu mencintainya?"


" Sejak awal pertemuan kita di bandara waktu itu, kak Andra tau, sejak pertama kali aku melihat senyuman Mala dari bibirnya, itu sudah mampu membekas jelas di ingatanku."


Andra tak menjawab, pria itu hanya mengangguk paham dengan apa yang Bima katakan. Bima tersenyum sambil melanjutkan kembali ceritanya


" Asal kak Andra tau, senyuman Mala sudah menjadi candu untukmu, candu yang teramat memabukkan. karna Mala, Aku bisa tau, bagaimana rasanya mencintai, walaupun aku belum tau bagaimana rasanya dicintai" lirih Bima sendu


" Apa maksud kamu Bim?" Tanya andra penasaran saat mendengar ucapan terakhir Bima yang terdenger begitu lirih


Bima mengambil nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Andra, " Iya kak, untuk saat ini, Mala belum bisa mencintai Bima"


" Kenapa bisa kamu mengatakan seperti itu. memangnya kamu tau kalau Mala belum mencintai kamu?"


" Iya kak, Tadi Mala sendiri yang mengatakan, jika dia meminta aku untuk mengajarinya agar bisa mencintaiku"


" Itu artinya Mala mau berusaha memberikan cinta buat kamu, kamu harus sabar. akan ada saatnya cinta itu datang" pekik Andra sambil menepuk pelan punggung Bima.


" Iya kak, Aku tau itu. cinta itu ada atau tidak. tapi yang pasti Mala sudah berhasil menjadi separuh dari jiwaku, Mala adalah duniaku kak"


" Aku gak tau, bagaimana hidupku tanpanya, biarpun Mala belum mencintaiku, tapi aku sudah bahagia, karna dia sudah mau aku jadi bagaian dalam hidupnya, itu sudah lebih dari cukup kak" lirih Bima sendu


" Aku percaya, suatu hari nanti, akan ada masanya mala mencintai kamu, bahkan sangat takut kehilanganmu"


" Saran kakak ya Bim, kamu harus bicara dari hati ke hati sama Mala. karna pada dasarnya Mala adalah wanita yang sangat baik, aku sudah mengenalnya sejak kecil."


" tolong jagain dia ya Bim, jangan sampai hal lima bela tahun yang lalu terulang kembali"


Mendengar perkataan Andra membuat Bima mengangkat sebelah Alisnya" Kejadian lima belas tahun yang lalu?" tanya Bima memastikan.


" Iya, lima belas tahun yang lalu Mala pernah di culik dan di taruh di tempat gelap, hal itu membuat Mala trauma dan pobia pada kegelapan" terang Andra


Deg! mendengar kata-kata diculik membuat wajah Bima menjadi pias, pria itu mengingat kejadian saat Mala di culik dan dirinya tidak bisa apa-apa karna sedang berbaring lemah di rumah dokter leon.


" Pobia kegelapan? pantas saja waktu itu Mala sempat ketakutan dan nyaris pingsan saat mati lampu di apartemen nya"


" Kapan itu Bim?"


" Dua hari setelah Mala datang ke Aussie"


" Iya, Mala memang pobia pada kegelapan, gara-gara peristiwa itu. Mala menjadi wanita yang selalu bergantung kepada kedua orang tuanya" ujar Andra lagi.


Saat Bima ingin menanyakan hal yang lebih lanjut pada Andra, tiba-tiba suara Mala menghentikan obrolan mereka. " Iya sayang, ada apa?" tanya Bima dengan suara lembutnya.


" Kita ke kamar dulu my boy. kamu kan belum ganti baju. sekalian nanti sholat magrib"


" Yusudah, kak Andra, aku ke kamar dulu ya"


Bima dan Mala pergi dari ruang tengah, setelah kepergian mereka berdua, Andra menatap Bima dan Mala secara bergantian. dan hal itu membuat Nara yang melihatnya menimbulkan beberapa pertanyaan yang harus dia tanyakan pada suaminya.


Karna memang sudah masuk waktu magrib, Nara mengambil alih Dania dari ayahnya dan mengajak Andra untuk naik ke atas,


Setelah tiba di dalam kamar, ternyata Nara benar-benar menanyakan hal yang dari tadi ingin diketahuinya. " Mas " ujar Nara pelan.


Mendengar Nara memanggilnya, membuat Andra menghentikan langkahnya" Iya ada apa sayang?"


" Ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu"


Mendengar ucapan Nara, Andra tersenyum dan langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi kembali" Nanti ya sayang, sekarang kita sholat dulu, aku tau apa yang akan kamu tanyakan" ucapnya dan langsung menutup pintu kamar mandi.


Nara menjadi bingung dibuatnya, Bagaimana bisa Andra mengetahui hal yang akan dirinya tanyakan. Wanita itu menggaruk lehernya yang tidak gatal" Aneh" hanya itu yang bisa Nara ucapkan.


Satu jam kemudian. tepatnya jam 19:00, semua orang sudah berkumpul di meja makan. termasuk Bima dan Mala juga ada disana.


Malam ini, makan malam pertama yang Bima rasakan bersama keluarga dari wanitanya. " Makan yang banyak ya nak Bima, jangan sungkan-sungkan. anggap saja rumah sendiri ya" pekik Alundra yang terdengar begitu lembut


" Iya bunda, terimakasih"


Mereka semua makan malam tanpa ada satupun yang berbicara, karna pak Winarto memang membuat peraturan untuk tidak mengobrol disaat lagi di meja makan,


Akan ada saatnya waktu mengobrol santai dirumh mereka, biasanya setelah makan malam, Pak winarto juga meminta untuk Quality time di ruang keluarga, agar semakin membuat keluarganya semakin hangat.





" Adelia kamu makan ya nak" ucap ibunya pada Adelia. karna memang sejak dari tadi siang Adelia belum mau makan, rasa berduka masih sangat Adelia rasakan. biar bagaimanapun. Adelia sudah menyayangi anaknya.


" Nggk bu, Adelia gak ada nafsu makan" ucapnya sendu.


Disaat Adelia menatap kosong ke arah jendela, tiba-tiba Devan datang dan langsung membawa Adelia dalam dekapannya.


" Maafkan aku Adelia, maafkan aku" ujar Devan sendu


Mendengar Devan mengucapkan kata maaf, membuat Adelia menatap ke arahnya" Untuk apa kamu minta maaf mas, semuanya sudah berakhir" lirihnya pilu sambil meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa di bendung lagi.


" Maafkan aku" ucap Devan lagi.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan mas, semua sudah berlalu, aku bebaskan kamu menentukan pilihan, aku sudah lelah mas, Aku capek, karna dengan mencintaimu tanpa aku sadari sudah membuatku begitu terluka"


" Maafkan aku Adelia" Lagi-lagi itu yang bisa Devan ucapkan.


" Asal kamu tau mas, Karna mencintai mu aku kehilangan anakku, harta terbesar yang aku miliki, pergilah, aku ikhlas untuk melepakanmu" ucap Adelia yang terdengar begitu pilu