Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Perubahan Bima


"Kamu memang benar, Wilson. Hingga detik ini aku masih belum bisa sepenuhnya melupakan mas Devan, entah kenapa rasanya begitu sulit walaupun hanya sekedar untuk membuang sisa rasa yang masih aku miliki. Padahal Bims jauh dari segalanya, tapi kenapa Bima tidak bisa sepenuhnya menggantikan posisi mas Devan," lirih Mala sembari menoleh ke arah pintu, dimana masih terlihat Wilson yang sudah semakin menjauh..


Mala menggeleng serta memejamkan kedua matanya"Ini tidak boleh, ini benar-benar tidak boleh. Aku harus bisa membuang semua ini, aku tidak boleh mengecewakan Bima, karna selama ini Bima yang sudah banyak berkorban untukku," kata Mala lagi.


...****************...


Di negara yang berbeda, saat ini Bima, Devan, Leon dan juga Nadia sudah bersiap untuk kembali ke jakarta, sebenarnya mereka sudah mau kembali sejak malam tadi, hanya saja tiba-tiba saja ada masalah pada jet pribadi milik keluarga Sunder dan membuat mereka harus menunda penerbangan.


"Apa semuanya sudah baik-baik saja, Pak?" tanya Bima yang menghampiri sang pilot.


Pria paruh baya yang bernama pak Ahmad itu mengangguk, setelah hampir lima jam memastikan jika jet pribadi itu sudah baik-baik saja, Pak Ahmad akhirnya sudah mengatakan jika mereka bisa kembali siang ini ke jakarta.


"Sudah, tuan muda. Semua sudah saya pastikan baik-baik saja. Tapi ada hal yang harus saya sampaikan pada anda"


"Tentang apa,?" balas Bima sambil menatap pada pak Ahmad.


Pria tua itu menatap lekat sang tuan muda, sudah hampir sepuluh tahun pak Ahmad bekerja di keluarga Sunder, membuat pak Ahmad menyayangi Bima.


"Berhati-hatilah, tuan muda. Karna ada seseorang yang sedang mengawasi mu." Bima mengerutkan keningnya, apa maksud pak Ahmad berkata demikian, sungguh Bima tidak mengerti.


"Maksud pak Ahmad apa? Siapa yang sedang mengawasi saya?"


Pak Ahmad tak menjawab, pria tua itu hanya mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan singkat pada Bima.


Dtttt.....Dtttt...


Bima mengangkat sebelah alisnya saat melihat jika pak Ahmad yang mengirimkan pesan itu untuknya.


[ Berhati-hatilah, karna tuan Sanjaya tidak terima dengan kematian anaknya, dia akan membalas apa yang sudah anda lakukan malam itu, tadi malam orang suruhan Sanjaya yang sudah menyabotase jet pribadi keluargamu, tapi beruntung karna saya mengetahui semuanya, mungkin kalau tidak kita semua ada dalam bahaya. Dan satu lagi, tuan Sanjaya orang yang sangat licik, dia bisa menghalalkan segala cara untuk menjalankan rencananya ]


Bima menoleh pada pak Ahmad, pak Ahmad yang paham menganggukkan kepalanya.


"Kurang ajar, Sanjaya. Jadi dia yang menjadi dalangnya, kalau sampai dia berani melakukan sesuatu, akan aku pastikan dia bernasib sama dengan anaknya" batin Bima sambil mengatupkan giginya, rahangnya sedikit mengeras serta kedua tangannya mengepal kuat. Sungguh Bima tidak akan pernah membiarkan Sanjaya melakukan apapun.


Dari kejauhan sejak tadi Devan dan yang lain memperhatikan Bima, dari raut wajah Bima saja mereka sudah tau jika saat ini Bima sedang menahan marah.


"Dia orangnya memang sangat keras jika sudah menyangkut orang terdekatnya, apalagi orang yang paling berarti dalam hidupnya" ucap Leon yang paham akan ekspresi wajah Devan.


Devan menoleh pada Leon"Apa kamu sudah sangat mengenalnya?" balas Devan"Tentu, kita bersahabat sudah sejak lama, bahkan aku sudah dangat tau bagaimana watak dan karakternya. Dia keras seperti singa, tapi dia bisa berubah seperti kelinci di depan orang yang paling berharga dalam hidupnya, seperti Mala"


"Leon benar, Van. Bahkan aku seperti melihat orang lain dalam diri Bima. Sangat berbeda dengan sosok yang aku kenal dulu." Nadia membuang nafas


"Dan saat melihat bagaimana kemarahan Bima pada Andika membuat aku benar-benar mengerti jika cinta Bima terhadap Mala begitu besar, dia bahkan kembali menjadi singa saat merasa ada sosok yang mengganggu ketenangan hidup keluarganya" lanjut Nadia lagi


Devan hanya diam sembari terus memperhatikan Bima yang masih berbincang dengan pak Ahmad, entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi yang pasti masih terlihat serius.


"mungkin apa yang dikatakan oleh mereka benar, bahkan akupun juga merasakan hal yang sama, sejak dari kemarin aku perhatikan sepertinya Bima memang memiliki rasa hang begitu besar untuk Mala, sangat terlihat jelas. Mungkin menang sudah saatnya akau ikhlaskan Mala untuknya," batin Devan serta langsung mengalihkan pandangannya.


Devan memutuskan pergi dari sana dan entah kemana dia akan pergi, tapi yang pasti Devan keluar dari tempat itu. Leon melirik pada Nadia"Ada apa dengannya?" tanya Leon, Nadia hanya mengangkat kedua bahunya. biarpun sebenarnya dia tau jika Devan pasti sedang memikirkan tentang Bima dan juga Mala.


"Kak Devan mana?" tanya Bima saat sudah kembali bergabung dengan Leon dan juga Nadia"entahlah, tadi dia pergi gitu aja" balas Leon


"Ya sudah, coba kamu telpon Nad, sebentar lagi kita akan take off ke jakarta"


Nadia mengangguk lalu mengambil ponselnya dari dalam tas, menghubungi nomor Devan yang ternyata ponselnya ada di meja di depan mereka.


"Lah, ini ponselnya si Devan" kata Leon sambil menunjuk pada ponsel Devan yang ada di atas meja itu, entah Devan sengaja ninggalin atau memang ketinggalan.


...----------------...


Di sebuah balkon apartemen, seorang pria paruh baya tengah menatap kedua pria bertubuh kekar yang menundukkan kepalanya takut,


"Bagaimana bisa kalian harus gagal! dasar bodoh dan gak bisa di andalkan! Kalau sudah seperti ini bagaimana? pokoknya saya tidak mau tau, kalian harus bisa menggagalkan penerbangan mereka. bagaimanapun caranya, mereka tidak boleh pergi dari sini sebelum saya balas kematian anak saya" sentak Sanjaya pada mereka berdua. Membuat kedua orang itu menjadi semakin takut.


Dtttttt.....Dttttttt


Suara dering ponsel berhasil mengalihkan perhatian Sanjaya, dia menoleh ke arah ponselnya lalu melihat nomor yang tertera di sana. Ternyata ada panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Karna penasaran akhirnya Sanjaya langsung menjawab panggilan itu.


๐Ÿ“ฑ:Halo, siapa ini?


๐Ÿ“ฑ:Jangan mengganggu keluarga Sunder apalagi anaknya, kalau anda masih ingin hidup aman, hentikan niat busuk itu, karna dengan sekali tekan, saya pastikan anda akan kehilangan segalanya, dipikirkan baik-baik!


Tut.....Tut....Tut...


Belum sempat Sanjaya menjawab, orang di ujung telpon sudah menutup panggilannya, membuat Sanjaya mendesah kesal. "Sial!" umpatnya sambil membanting ponselnya