Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rencana


"Kita lihat saja Andika. Apa yang akan terjadi selanjutnya" ucap Bina dalam batinnya sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.


Setelah itu, Bima kembali menoleh pada Devan yang masih ada di sampingnya. "Kak, Apa kamu sudah mengatakan pada tante Yasmine perihal Bintang dan juga Langit?"


"Belum, Bin. Bahkan mama juga belum tau hal ini. Nanti aku akan langsung membawa Bintang ke rumah. Dan kamu bisa antar Langit ke rumahku"


"Baiklah. Kalau begitu aku samperin Mala dulu. Sepertinya ini udah cukup memberikan dia waktu untuk menenangkan diri"


"Aku juga akan mengurus administrasi Bintang. Aku mau langsung membawanya pulang"


"Iya. Nanti barang-barangnya aku antar sekalian sama Langit"


Setelah membicarakan hal itu. Bima dan Devan berpencar. Bima kembali ke ruangan Mala, Sedangkan Devan langsung ke tempat resepsionis untuk membayar biaya tagihan rumah sakit Bintang.


"Permisi mbk. Saya mau bayar tagihan administrasi atas nama Bintang Aldebaran"


"Sebentar ya pak, Biar saya cari dulu"


"Bintang Aldebaran. Ruangan VVIP nomor 3. Total biayanya 8 juta ya pak"


Devan mengeluarkan black card dan dia berikan pada suster itu. Rasanya Devan sudah tidak sabar ingin membawa Bintang pulang dan mengatakan kepada kedua orangtuanya jika Bintang adalah anak kandungnya.


Setelah selesai pembayaran, Devan Kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Bintang yang ada di pantai dua. Di sana masih ada Sifa yang setia menjaga Bintang dan mengajak anak kecil itu bermain. Kedua mata bulatnya serta jari-jari kecilnya sudah bermain seperti biasanya.


Sifa mengangkat kedua sudut bibirnya. Akhirnya keponakannya sudah kembali menampakkan senyuman manisnya. Senyuman yang sempat pudar beberapa hari ini.


"Halo keponakannya Aunty. Akhirnya kamu sudah bisa senyum lagi ya sayang. Aunty seneng banget liat kamu kayak gini" ucap Sifa sambil mengusap lembut pipi Bintang yang sedang menatapnya.


"Sif" panggil Devan dari arah pintu


Mendengar suara Devan membuat Sifa menoleh ke arahnya"Iya kak. Ada apa?"


"Sifa. Aku sudah membayar biaya tagihan rumah sakit Bintang. Sekarang kakak mau bawa dia pulang ke rumah. Untuk sementara waktu biar Bintang tinggal bersama mama dan papa di rumah, Setidaknya sampai Mala benar-benar pulih. Begitu juga dengan Langit. Karna malam nanti aku dan juga Bima akan terbang ke Aussie untuk membalaskan pada pelaku yang sudah melukai Mala"


"Memangnya harus seperti itu ya kak?"


"Iya Sif. Kakak dan juga Bima sudah sepakat akan hal itu. Dan kakak minta tolong, Kamu jagain Mala selama Bima ke aussie ya. Pastikan jika kejadian hari ini tidak akan terulang kembali. Nanti aku juga akan meminta Alex mengawasi ruangan Mala dari arah jauh"


"Ya sudah jika menurut kakak itu yang terbaik, Sifa akan jagain kak Mala dengan baik. Apa kita bawa Bintang pulang sekarang?"


Devan mengambil Bintang dan dia baw dalam gendongannya. Menatap sejenak kedua mata bulatnya"Selamat sore anak papa. Akhirnya papa bisa tau jika kamu adalah anak kandung papa" ucapnya sambil mencium kening Bintang.


"Kak Devan yakin mau pulang sendiri?"


"Iya, Sif. Kakak bisa kok. Kalau gitu kakak duluan ya" Devan keluar dengan membawa Bintang dalam gendongannya.


***


Aku pandang sosok istriku dari ambang pintu. Pedih rasanya melihat dia seperti itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan, Karna memang untuk saat ini yang baik Bintang dan Langit ada di rumah kak Devan. Aku tau jika istriku sangat tidak setuju akan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, Tidak ada pilihan lain selain menyetujui usulan. kak Devan.


"Sayang" ucapku sambil mendekat padanya


Dia tetap diam tak bergeming. Tak menggubris perkataanku sedikit saja. Aku tau pasti dia sedang merasa kecewa terhadapku yang tak mau mendengarkan perkataannya.


"Sayang, Maafkan aku" ucapku lagi sambil membelai lembut kepalanya.


"Aku tau kamu pasti kecewa, Tapi mau bagaimanapun, Ini yang terbaik buat mereka berdua sayang. Sementara kamu di rumah sakit, Dan aku menyelesaikan urusan ku di Aussie. Sebaiknya mereka berdua memang bersama dengan tante Yasmine" ucapku lagi sambil terus membelai rambut panjangnya.


Istriku tetap saja diam tak menanggapi. Aku mengambil nafas pelan, Aku tau apa yang saat ini istriku rasakan. Mungkin memang berat menitipkan kedua anak itu pada tante Yasmine. Aku tau mungkin istriku merasa takut, Takut kalau nanti tante Yasmin tidak akan mengembalikan mereka ke dalam pelukan istriku lagi. Karna mau bagaimanapun, Tante Yasmine memang sangat menginginkan kehadiran seorang cucu dalam rumahnya.


Suara tangisan bayi yang akan menggema dalam rumahnya. Sudah sejak lama memang Tante Yasmine menginginkan hal itu, Aku berkata seperti ini karna memang waktu itu Tante Yasmine mengatakannya padaku. Tepatnya saat aku dan Mala pertama kali menginap di tempat kakek.


Setelah cukup lama aku membujuknya, Akhirnya Mala luluh. Dia membalikkan tubuhnya sambil menatapku"Aku mohon kamu segera kembali ya my boy, Aku takut jika kamu terlalu lama di sana akan membuat Langit dan Bintang merasa nyaman dalam dekapan tante Yasmin" ucapnya dengan wajah sendu


Melihat itu membuat aku membawanya dalam dekapan ku, Membelai lembut rambutnya. Karna aou tau, Hal itu bisa selalu menenangkannya"Sayang, Percayalah padaku, Aku akan membawa mereka dalam dekapan kita kembali setelah keadaan kamu sudah membaik ya. Jadi, Untuk saat ini biarkan saja mereka merasakan dekapan hangat dari tante Yasmine. Ya, Aku harap kamu mengerti maksud aku sayang"


Akhirnya Mala kembali luluh. Dia mengangguk pelan sambil menatapku. "Senyum ya! Percayalah, Semua akan segera baik-baik saja. Aku akan kembali buat kamu dan juga mereka" titahku sambil mengusap air matanya dari kedua sudut matanya. Ya, Istriku kembali menitikan air matanya.


"Sayang, Malam ini aku, Kak Devan dan juga Leon akan terbang ke Aussie. Kamu doakan ya, Semoga semuanya baik-baik saja" ucapku sambil mencium pucuk kepala nya dengan penuh cinta.


"Tanpa kamu minta pun, Doaku akan selalu menyertaimu my boy"


Tanpa aku sadari. Hari sudah berlalu dengan sangat cepat. Sebelum ke bandara, Aku masih menyempatkan diri untuk pamit pada wanitaku. Wanita yang selalu mamou menjadi penyemangat hidupku. Sosok yang selama ini sering membuat aku merasa ketakutan. Takut akan rasa kehilangan.


Di dalam jet pribadi milikku. Aku, Kak Devan, Nadia juga Leon sudah merencanakan taktik untuk memberikan pelajaran terhadap Andika. Ya, Nadia memang ikut terbang ke Aussie. Karna sesuai yang di rencanakan sore tadi, Nadia akan menjadi umpan untuk membuat Andika datang pada tempat yang akan kami gunakan untuk memberikan Andika pelajaran yang tak kan pernah bisa dia lupakan selamanya.