
" Kenapa kamu begitu membenciku Van?"
" Aku memang sangat sangat membencimu Adelia brengsek" ucap Devan sambil membanting keras pintu kamar mandi kamar mereka.
Melihat Devan membanting pintu begitu keras membuat Adelia menundukkan wajahnya sambil mengusap pelan dadanya. " Kenapa rasanya begitu sakit seperti ini, Hiks..hiks.." Adelia semakin terisak
Meskipun hatinya selalu sakit saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Devan, entah kenapa ras cintanya tidak pernah berubah, Rasa cinta Adelia masih begitu besar untuknya.
Tak lama setelah Devan keluar dari kamar mandi, ternyata Adelia sudah tidak ada lagi di sana, Pria itu keluar dari dalam kamarnya dengan menggunakan baju santai. Ternyata di ruang tengah sudah ada keluarga yang lain tapi tidak dengan Bima dan Mala. karna mereka berdua belum tiba ke kediaman kakek lustama.
Devan duduk berdampingan dengan sang mam, dan tepat saat itu juga Bima dan Mala baru tiba di rumah kakek lustama, " Kalian sudah pulang?" tanya kakek lustama lembut.
" Iya kek, tadi hujan deras, makanya kita memutuskan untuk pulang saja,"
" Kok pakaian kalian gak basah?" tanya wijaya pelan
" Oh iya om, tadi sebelum pulang Bima dan Mala mampir membeli pakaian, karna tidak mungkin Bima membiarkan istri Bima yang lagi hamil kedinginan" balas Bima sambil menggenggam tangan Mala.
Devan melirik Tangan Bima yang menggenggam erat tangan istrinya, Entah kenapa hal itu selalu mampu membuatnya menahan rasa sakit, " Kenapa hatiku selalu terasa sakit saat melihat mereka bermesraan. padahal mereka kan suami istri, karna kemiripannya dengan Mala membuat aku selalu menganggapnya sebagai Malaku" Devan bermonolog dalam batinnya.
Tanpa Devan sadari ternyata Yasmine juga Adelia selalu memperhatikannya, Melihat anaknya Hati Yasmine juga merasakan hal yang serupa. " Segitu cintanya kamu dengannya Van. sampai-sampai kamu selalu memperhatikan istri sepupumu sendiri yang hanya memiliki paras yang sama" lirih Adelia dalam batinnya
Tiba-tiba suara kakek lustama mengalihkan perhatian Devan dari Bima dan Mala.
" Mumpung kita semua sedang berkumpul, bagaimana jika malam ini kita adakan acara BBQ, Kakek juga sudah minta pelayan buat menyiapkan semuanya" ucap kakek lustama lembut.
"Ide bagus itu kek. Sifa sangat setuju. apa Sifa boleh mengajak Rendi?" ucap sifa dengan raut wajah bahagia.
Mendengar nama Rendi membuat Adelia kaget seketika. Rendi akan ikut dalam acara itu?" Sebenarnya mereka ada hubungan apa?" Adelia bertanya-tanya dalam batinnya, hingga tak lama wanita itu mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya
" Kenapa tidak cucuku, kamu boleh mengajak calon tunanganmu itu"
Ucapan kakek lustama berhasil membuat Adelia terpaku mendengarnya, " Apa. jadi Rendi adalah calon tunangan Sifa, Apa itu artinya aku akan sering bertemu dengannya" Lagi-lagi Adelia hanya bisa bermonolog dalam batinnya sendiri.
•
•
•
•
Siang berlalu, seperti yang sudah di rencanakan jika malam ini akan di adakan acara BBQ di kediaman kakek lustama, semua orang sudah berkumpul di taman belakang kediaman kakek lustama, begitu juga dengan Rendi, pria itu sudah tiba sejak setengah jam yang lalu.
" Rendi, Aku bahagia banget kamu bisa hadir malam ini" ucap sifa lembut dan terdengar jelas pada indra pendengaran Rendi begitu juga Adelia yang memang posisinya tidak terlalu jauh dari mereka berdua.
" Aku senang jika kamu bahagia, oh iya Sifa. aku ada sesuatu buat kamu" balas Rendi dan mengeluarkan kotak merah bludru dari saku celananya.
" Ini dari mama" ucapnya lagi sambil memberikan kotak merah itu
" Apa ini Rendi?"
" Bukalah" ucap rendi pelan.
Sifa mengambil kotak merah itu dan langsung membukanya saat itu juga," Ini kalungnya bagus sekali Rendi"
" Sangat. Aku sangat menyukainya. terimakasih ya"
Acara BBQ sudah di mulai, semua yang ada di sana merasakan bahagia apalagi kakek Lustama, Malam ini pria tua itu yang merasa bahagia di antara yang lain, Semua orang menikmati acaranya kecuali Devan dan Adelia,
Devan dari tadi hanya sibuk memperhatikan Bima dan Mala, sedangkan Adelia sibuk melirik Rendi dan sifa juga Devan. " Kenapa aku terlihat seperti orang asing di tempat ini" ucap Adelia dalam batinnya.
" My boy. Aku ingin mendengarkan kamu nyanyi. kamu mau kan nyanyi untukku" ucap Mala dengan nada manjanya.
Entah kenapa akhir-akhir ini wanita itu sering bermanja-manja pada Bima, Itu sudah menjadi kebiasaan baru untuknya.
" Kenapa tidak sayang, sebentar ya aku ambil gitar dulu" ucap Bima dengan sangat lembut, dan bukan hanya Mala yang mendengarnya, Devan juga sangat mendengar jelas suara lembut itu.
" Apa Bima sesayang itu pada istrinya. kenapa ucapan yang keluar dari mulutnya selalu terdengar begitu lembut" pekik Devan dalam baginnya.
Sepuluh menit kemudian Bima sudah kembali dengan membawa gitar juga bunga mawar putih di tangannya," Ini buat kamu sayang" ujar Bima lembut dan memberikan satu tangkai bunga mawar putih yang sudah dia pesan beberapa menit yang lalu.
" Kok kamu tau kalau aku suka mawar putih my boy?"
" Apa sih yang nggak aku tau tentang kamu sayang"
" Sini duduk deketan sama aku" pinta Bima pada Mala.
Wanita itu tak lagi menjawab, dia hanya menuruti permintaan Bima untuk duduk lebih dekat dengannya. " Kamu sudah siap dengar aku nyanyi sayang" ucap Bima lagi.
Mendengar itu membuat Mala mengangguk semangat sambil terus tersenyum bahagia, Malam ini Mala benar-benar merasa sangat bahagia, Bima yang melihat raut bahagia dari wajah istrinya tentu saja membuat pria itu mengukir senyum dari kedua sudut bibirnya.
" Kamu begitu cantik saat lagi tersenyum seperti itu istriku, Aku janji tidak akan pernah meruntuhkan senyuman itu" Bima bermonolog dalam batinnya sambil terus memperhatikan Mala yang saat ini tak berhenti tersenyum.
🎶 Selama jantung ini berdetak.
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu🎶
🎶 Selama nafas ini berhembus..
Takkan ada cinta yang lain
Hingga tua bersama🎶
Bima menghentikan nyanyiannya, dan hal itu membuat Mala mengangkat sebelah alisnya" Kok berhenti my boy?" tanya mala pada Bima
Pria itu melirik Mala sambil sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal," Maaf ya sayang. hanya itu lirik yang aku hafal"
" Apa! hanya itu lirik yang kamu hafal, kamu sudah memberi harapan palsu padaku my Boy, padahal baru saja aku menikmati lagu yang kamu nyanyikan." ungkap Mala sambil mengerucutkan bibirnya.
" Jangan ngambek gitu dong sayang, Lain kali aku akan menghafal penuh buat kamu ya. tapi janji jangan ngambek kayak gitu ya sayang" balas Bima lembut sambil membawa Mala dalam dekapannya,
Semua perlakuan mereka tak pernah lepas dari perhatian Devan, Pria itu selalu memperhatikan adik sepupunya yang sedang terlihat romantis di depan matanya.
" Kenapa hatiku terasa sakit begini menyaksikan keromantisan mereka, kenapa wajahnya harus mirip dengan wajah Malaku," Lirih Devan pilu sambil mengusap dadanya yang terasa begitu nyeri.
Perkataan Devan tentunya hanya bisa terdengar jelas oleh Adelia. Karna wanita itu ada tepat di samping suaminya, " Kenapa kamu mengatakan seperti itu Van, Padahal kamu tau, Ada aku di sampingmu. tapi kenapa kamu tidak pernah menganggap keberadaan ku," Adelia bermonolog sambil menahan air matanya agar tidak jatuh di depan semua orang