
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Namun devan belum juga kembali, setelah pertemuannya dengan adelia pria itu merasa sangat frustasi, Pria itu pergi ke club untuk menghilangkan rasa stress yang membuat kepalanya mau pecah. terlalu bingung dengan apa yang harus dia lakukan, Apalagi saat bayangan mala melintas dalam fikirannya. Rasa bersalah semakin mendominasi. Hingga jam menunjukkan pukul 08:30 malam
fino sendiri pun yang melihat keadaan devan yang sudah tak karuan, dan sudah setengah sadar. akhirnya pria itu memaksa devan untuk segera pulang. Karena sudah mendapatkan bujukan dari fino, devan pun menurut beranjak dan keluar dari dalam club.
" Astagfirullah van, elo sudah mabuk parah. Ayo gue anter elo pulang sekarang" Lirih fino dan tangannya segera memapah devan untuk segera keluar dari tempat itu.
Setelah sampai ke kediaman adiwijaya. fino meminta satpam untuk ikut membantu memapah tubuh devan yang sudah melemas, karna terlalu banyak minum
" Ya allah. den devan kenapa den?" Tanya satpam yang ikut membantu vino
" Dia terlalu banyak minum sampai mabuk berat pak" Jawab fino pelan.
Setelah sampai di ruang tamu, ternyata di sana ada kedua orang tua devan yang sedang menonton siaran televisi.
melihat devan datang dengan keadaan seperti itu, membuat yasmine terlonjak kaget..
" Devan kenapa vin, kenapa dia jadi begini, apa yang membuat dia sampai mabuk vin?"
" de...devan frustasi tante, saat dia mengetahui bahwa adelia....._"
" Hamil" selang yasmine dan membuat fino mengerutkan keningnya.
" Kok tante tau,?"
" Tante tau semuanya fino, sekarang tolong tante dan om untuk bawa devan ke kamarnya"
Fino dan adiwijaya pun membawa tubuh devan yang sudah tak sadarkan diri karna mabuk, Setelah sampai di lantai 2, yasmine mengetuk pintu, sekali,dua kali. tiga kali. namun tetap tak ada sahutan dari dalam. Hal itu membuat yasmine panik, akhirnya wanita paruh baya itu membuka pintu dan ternyata tidak di kunci. Yasmine masuk terlebih dahulu, namun tidak menemukan keberadaan sang menantu di dalam kamar,
" Mala, kamu dimana sayang, mala" Yasmine memanggil-manggil mala dan mencari keberadaan mala disetiap sudut kamar itu, namun hasilnya nihil, mala tidak ada di dalam kamar.
" Ma, mala kemana ma?" tanya wijaya yang sudah meletakkan tubuh devan di atas tempat tidur. tiba-tiba terdengar teriakan suara fino yang begitu sendu.
" ada apa fin?" Tanya yasmine penasaran. lalu fino menyodorkan secarik kertas yang dia temui di atas nakas di samping tempat tidurnya devan. Yasmine mengambil kertas itu dan membacanya. alangkah terkejutnya yasmine setelah membaca isi dari surat itu. Matanya berkaca-kaca, kakinya melemas hingga tak lama bulir bening itu pun turun membasahi pipinya.
Melihat istrinya istrinya menangis, reflek wijaya mengambil alih kertas yang di pegang oleh yasmine, pantas jika yasmine merasa terpukul setelah membaca isi dari surat itu,
Surat dari mala
Mas, mungkin saat kamu baca surat ini, aku sudah tidak ada di sampingmu lagi, maafkan aku mas, aku sudah lelah dengan semua ini, aku capek, lelah hati, lelah pikiran, itu yang aku rasakan saat ini. Aku memaafkan kamu bukan berarti aku akan terus diam. hatiku terlalu sakit saat melihat foto-foto kamu yang diam-diam masih menemui adelia, apalagi setelah aku mendapatkan sebuah video yang isinya mengatakan bahwa adelia hamil anakmu, Hatiku seperti di tusuk oleh ribuan jarum yang terkena tepat di ulu hati. aku menyerah mas, sudah cukup merasakan sakit yang selama ini aku pendam sendiri, aku terlalu bodoh karna dengan cepat mencintaimu, laki-laki yang menikahi ku hanya karna sebuah desakan dari mama dan papa. Terimakasih atas luka yang kamu gores di hatiku, terimakasih atas kepura-puraan mu selama ini, jangan pernah cari aku mas, aku memilih pergi dari hidupmu, tanggung jawablah atas anak yang di kandung oleh adelia, salam buat mama dan papa, terimakasih sudah memperlakukan ku dengan baik. Mala
" Ma, tenang dulu ya ma, papa akan berusaha mencari menantu kita, papa akan bawa mala buat mama, mama tenang dulu ya" wijaya berusaha menangkan istrinya yang sudah meraung, tatapannya beralih pada sang anak yang masih tak sadarkan diri.
" Anak kurang ajar," umpatnya sambil mengepalkan kedua tangannya, bukan apa-apa, sebab selama ini yasmine tidak pernah menangis sampai meraung seperti saat ini.
saat wijaya hendak menjatuhkan pukulan pada devan yang masih memejamkan mata, dengan cepat fino menahannya, dia tau, bahwa semua ini bukan sepenuhnya salah devan, melainkan kesalahan adelia.
Setelah mendengar penuturan fino, wijaya mengambil ponselnya dari saku lalu keluar dari kamar devan dan menghubungi seseorang, kira-kira siapa yang di hubungi pak wijaya ya?
Ditempat lain. nampak gadis cantik tengah duduk diatas balkon bersama dengan seorang laki-laki, laki-laki itu mencoba menenangkan wanita yang sudah menangis sejak kedatangannya ke apartemen ini sore tadi, sampai mata wanita itu pun sudah membengkak karna terlalu lama menangis.
" Kamu yang sabar ya dek. mulai sekarang kamu gak boleh lemah, jadilah mala yang dulu, mala yang tidak pernah menangis, mala yang tangguh" ucapnya sambil membawa mala dalam dekapannya, mengusap lembut rambut panjangnya yang sudah acak-acakan tak beraturan. namun tak ada tanggapan dari mala, wanita itu masih terus menangis sampai air matanya sudah mengering.
" kakak yakin, kamu pasti bisa, jangan jadi wanita lemah ya"
Hening, mala masih bergeming, masih terlalu sakit saat mengingat akan video yang dia terima sore tadi, hingga mala memutuskan untuk pergi dari hidup devan. laki-laki yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya.
" Apa aku boleh meminta sesuatu kak" lirihnya pilu
" Minta apa sayang, hem,? katakan saja, selama kakak bisa akan kakak turuti"
" Tolong urus perpindahan kuliah ku kak, aku ingin menepati janjiku pada bunda dan ayah, untuk menjadi penerus ayah suatu saat nanti"
" Baiklah, kakak akan segera mengurusnya, kamu ingin pindah kemana?" titah andra sambil melepaskan pelukannya.
" Ke Aussie kak, aku ingin melanjutkan kuliahku di sana"
" Baiklah, kakak akan mengurus secepatnya, kebetulan di sana juga ada teman kakak, kakak akan menitipkan mu padanya"
" Terimakasih kak, dan satu lagi, jangan sampai ada yang tau tentang kepergian ku, terutama bunda, ayah dan kak nara, aku gak mau membuat mereka khawatir,"
" Kakak janji, tidak akan memberi tahu siapapun, kalau gitu, kakak pamit dulu ya dek, ini sudah cukup malam."
Andra pun bergegas untuk segera pulang, laki-laki yang berstatus sebagai dokter umum sekaligus kakak iparnya, Dia orang pertama yang selalu mala temui di saat dirinya sedang ada masalah, hubungannya yang memang sudah seperti saudara kandung membuat mala selalu mencurahkan keluh kesahnya pada andra.
" Jahat kamu mas, kamu liat saja, mulai detik ini, aku akan mencoba membuang semua rasa yang aku punya terhadap mu, aku bukan malaikat yang selalu bisa memaafkan segala kesalahanku, tunggu kepulangan ku mas, tapi bukan sebagai wanita yang mencintaimu, melainkan sebagai wanita pesaing bisnismu"
terimakasih selalu hadir kak, jangan lupa like dan vote ya kak, biar author makin semangat, terimakasih🙏🏻