Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa panik mereka


Betapa terkejutnya Rani dengan apa yang sudah Rendi katakan. Rani tidak pernah menyangka sebelumnya jika keponakannya masih hidup dan tinggal bersama dengan ayahnya.


"Ijinkan aku untuk bertemu dengan anaknya kak Adelia kak. Aku janji tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun" Ucap Rani memohon.


"Nanti aku akan atur kan waktu yang tepat untuk kamu bertemu dengan Tania ya. Wajahnya cantik sekali, Sama persis seperti Adelia" Ucap Rendi sambil memperhatikan Adelia


Melihat Adelia seperti itu membuat Rendi memejamkan kedua matanya yang terasa panas. Masih tidak menyangka jika saat ini Adelia sudah menerima karma atas semua perbuatannya.


"Aku pergi dulu Ran. Ingat, Jangan sampai ada orang lain yang tau mengenai hal ini ya Ran" Ucap Rendi sebelum berlalu dari hadapan Rani


"Kak Rendi tenang saja. Aku akan selalu menjaga Rahasia ini sampai kapan pun. Jangan lupa ya kak, Pertemukan aku dengan anak kak Adel"


"Tentu Rani" Ucap Rendi dan langsung naik ke dalam mobilnya


Setelah mobil Rendi sudah berlalu dari hadapannya. Rani masuk kedalam rumahnya. Wanita itu menghampiri Adelia yang saat ini duduk termenung di sebuah taman samping rumah mereka.


"Kak, Ayo kita masuk kak. Ini mataharinya sudah mulai naik" Ucap Rani pada Adelia


"Biarkan aku disini Ran. Biarkan kakak merasakan panasnya matahari pagi ini" Ucap Adelia sendu


Melihat kakaknya seperti itu membuat Rani mengambil nafas berat. Tak pernah menyangka sebelumnya jika hidup kakaknya berakhir menyedihkan seperti saat ini.


"Kasian kak Adel. Karna ambisinya sendiri dia jadi seperti ini" Ucap Rani dalam batinnya


Rani memandang Adelia yang terlihat begitu menyedihkan. Rani benar-benar perihatin dengan keadaan Adelia saat ini.


"Ayo masuk kak. Mau sampai kapan kakak berjemur seperti ini?" Ucap Rani lagi


"Aku bilang biarkan aku disini Ran!" Sentaknya


"Baiklah jika memang itu yang kak Adel mau. Nanti kalau mau masuk panggil aku ya kak"


"Jangan pikir karna aku buta, Aku harus selalu bergantung pada orang lain. Aku bisa sendiri. Aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Aku bisa! Jangan pernah meremehkan aku yang buta seperti ini" Sentak nya lagi sambil meneteskan air mata


Lagi-lagi Rani menatap Adelia dengan penuh rasa iba. Kakaknya yang dulu selalu terlihat penuh semangat sekarang harus menjadi seperti ini.


Setelah kepergian Rani. Adelia semakin meraung dalam tangisnya. Bukan kehidupan seperti ini yang Adelia inginkan. Bukan juga kehilangan yang Adelia harapkan. Semua yang Adelia impikan hanya akan menjadi sebuah bayangan yang tak kan pernah bisa menjadi nyata.


"Kenapa hidupku harus seperti ini. Hiks....hiks..."


Di Tempat lain


Mala keluar dari rumah sakit itu sambil terus terisak. Saat ini yang ada dalam pikiran Mala hanyalah Bima. Kemana Mala harus mencari lelakinya. Lelaki yang selama ini selalu ada untuk menjadi tempatnya bersandar.


"Kemana aku harus mencari kamu Bim?" Ucap Mala yang terdengar begitu lirih"


Tujuan Mala saat ini hanya satu, Yaitu pantai. Wanita itu memutuskan untuk berjalan ke arah pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Hanya memerlukan waktu kurang lebih untuk tiba di pantai itu.


"Mau kemana neng. Sepertinya neng sedang bersedih" Ucap seorang ibu-ibu saat Mala sudah berada di luar rumah sakit.


"Saya mau mencari suami saya bu" Jawab Mala tanpa mau melihat ke arah ibu itu


"Kakak itu kenapa bu?" Tanya anaknya


"Suami kakak itu hilang sayang. Kita doakan semoga mereka cepat bertemu ya" Ucap Ibu itu pada anaknya


"Amin bu. Semoga mereka bisa di pertemukan lagi"


Setelah mendengar jika Mala keluar dari rumah sakit membuat Leon langsung berlari menyusulnya. Biar bagaimanapun Mala adalah istri yang sangat di cintai Bima. Sahabatnya.


"Astaga aku harus cari Mala kemana" Ucap Leon sambil menoleh ke kanan dan ke kiri


"Apa Mala akan menyusul ke pantai" Ucap Leon sambil terus mencari Mala


"Bodoh kamu Leon. Untuk apa kamu katakan pada Mala jika kemungkinan besar Bima ada di sekitar pantai" Pekiknya sambil mengusap kasar wajahnya


"Iya. Tadi kakak itu naik taksi dan kesana" Ucap anak kecil sambil menunjuk ke arah pantai


"Baiklah. Terimakasih ya buk, Dek"


Setelah mendengar itu, Leon langsung mengambil mobilnya dan mengemudikan mobilnya menuju ke arah pantai. Satu hal yang Leon takutkan. Pria itu takut jika Mala akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.


1 Jam kemudian. Mala sudah tiba di pantai itu. Mala turun dan langsung berjalan menyusuri pinggiran pantai sambil memanggil nama Bima.


Saat ini keadaan Mala terlihat begitu menyedihkan. Rambutnya berantakan serta pandangan nya kosong.


"Bimaaaaa. Kamu dimana Bim. Tolong kembali untuk aku Bim, Bimaaaaaaaaa" Teriak Mala sambil melhat ke kanan dan ke kiri


"Bimaaa. Jangan pernah tinggalkan aku sendiri Bim. Aku gak sanggup hidup tanpa kamu Bim. Aku mohon kembalilah untukku" Teriak Mala di sela isak tangisnya


"Bim. Kenapa semua ini harus terjadi pada kita, Kenapa semua ini harus terjadi Bim. Aku merindukan kamu my boy" Ucap Mala lagi


"Bimaaaaaaaaaaaaa" Teriak Mala yang terdengar begitu lirih


Saat mengingat Bima. Mala merasa tubuhnya melemas seketika. Matanya memanas, Serta lagi-lagi air matanya jatuh semakin deras.


"Jangan tinggalkan aku Bim. Kembalilah untukku" Ucap Mala lagi


Tak lama kemudian, Leon datang dan langsung turun dari atas mobilnya. Pria itu menatap Mala yang saat ini sudah terduduk lemah di atas pasir pantai.


Leon yang melihat Mala seperti itu langsung teringat akan Bima. semua perkataan Bima tiba-tiba terngiang jelas pada indra pendengarannya.


'Asal kamu tau leon. Mala bukan hanya istriku. dia sudah seperti separuh dari jiwaku. Duniaku seakan berhenti berputar saat melihatnya menjatuhkan air matanya yang begitu berharga di mataku. Mala sudah menjadi duniaku Leon. Aku tidak perduli sekalipun saat ini Mala belum mencintaiku. Aku percaya, suatu saat nanti cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya'


Semua kata-kata itu masih terekam jelas pada ingatan Leon."Benar apa yang sudah kamu katakan Bim. Cinta itu memang akan tumbuh. Seandainya saja saat ini kamu ada disini Bim. Pasti kamu akan merasa sangat bahagia saat mendengar apa yang sudah Mala katakan" Ucap Leon sambil terus memperhatikan Mala


"KEMBALILAH BIM. AKU MOHON KEMBALILAH UNTUK KU. KAMU SUDAH SANGAT BERPENGARUH DALAM HIDUPKU BIM, AKU BISA MATI TANPA KAMU DI SISI KU"


Deg.


Devan yang mendengar perkataan Mala langsung terdiam di tempat. Pria itu memejamkan kedua matanya saat perkataan Mala berhasil menusuk relung hatinya dan terasa begitu nyeri.


Beberapa saat yang lalu saat Devan dan Wilson melihat dokter Leon keluar dari rumah sakit dengan berburu-buru. Membuat Devan ikut melajukan mobilnya mengikuti mobil Leon. Karna Devan bisa menebak kemana Leon akan pergi. Dan dugaannya ternyata memang benar. Leon menghampiri Mala.


"Sabar Van. lebih baik kamu move on. Masih banyak wanita di luaran sana yang menantikan cintamu. Sepertinya Mala saat ini sudah benar-benar mencintai suaminya" Ucap Wilson sambil menepuk pundak Devan


"Apa aku bisa melupakan wanita yang begitu aku cintai Wil?" Ucap Devan begitu lirih sambil melihat ke arah Mala


"Berusaha. Kalau kamu berusaha pasti bisa Van. Aku saja bisa move on dari Mala" Ucap Wilson


Devan memandang Mala dengan menyimpan seribu luka. Ada sebuah penyesalan yang terbesit dalam benaknya. Penyesalan kenapa waktu itu harus bertemu kembali dengan Adelia.


"Bimaaaaaa. Aku mohon kembalilah. Hiks..hiks.." Teriak Mala sambil terus berjalan hingga hampir ke tengah pantai


Leon yang sejak tadi hanya memperhatikan Mala sambil mengingat Bima sampai tidak menyadari jika wanita itu sudah berjalan hampir ke tengah Pantai.


"Astaga Mala" Ucap Leon sambil berlari mengejar Mala saat kesadarannya sudah kembali


"Mala. Diam disitu Mala. Jangan terus berjalan. Itu bisa membahayakan keselamatan kamu sendiri. Mala. Astaga" Ucap Leon dan terus melangkahkan kakinya dengan langkah lebar


Sedetik saja Leon terlambat, Mungkin Mala sudah tidak bisa tertolong. Tiba-tiba ombak datang dan hampir membawa tubuh Mala. Untung saja Leon datang tepat waktu dan menarik tangan Mala.


Devan yang melihat itu menjadi panik seketika itu. Karna mau bagaimanapun Devan masih sangat mencintai Mala. Walaupun perasaan wanita itu sudah berubah dan hanya menganggapnya sebagai kakak tidak lebih.


Devan ikut panik dan berlari ke arah Mala yang saat ini sudah ada dalam gendongan dokter Leon dengan keadaan tidak sadarkan diri.


Leon membaringkan tubuh Mala di atas pasir putih itu. Kemudian Leon memencet dada Mala untuk mengeluarkan air yang sudah masuk pada wanita itu.


"Sadar Mala. Aku mohon sadarlah" Ucap Leon sambil terus berusaha