Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Keputusan yang sangat tepat


Setelah sampai di depan pengadilan agama, andra menanyakan pada mala apakah keputusannya sudah benar-benar bulat ingin menggugat cerai devan, karna sebenarnya andra tau jika sang adik malih terlihat sangat menyayangi sahabatnya,


" Apa kamu yakin dengan keputusan ini dek?"


" Iya kak, mala yakin, semoga ini yang terbaik buat semuanya, biar bagaimanapun mas devan harus bertanggung jawab atas anak yang ada dalam kandungan adelia,"


" Baiklah jika memang itu yang terbaik menurutmu, apapun keputusan kamu akan selalu kakak dukung,"


Sebelum masuk, mala mengambil nafas panjang, dan menghembuskan nya kasar, " Semoga ini yang terbaik ya allah, jika memang mas devan jodoh hamba, semoga suatu saat kami bisa di persatu kan kembali, hamba percaya, takdirmu tak pernah salah, Bismillah" Ucapnya dan langsung melangkah kan kakinya masuk ke dalam gedung itu dan di ikuti oleh andra yang mengekor di belakang.


" Bagaimana pa, apa sudah ada kabar tentang keberadaan menantu kita" tanya yasmine pada sang suami


" Belum ma, anggota papa belum ada yang bisa melacak keberadaan mala,"


Mendengar penuturan sang suami, Yasmine menghembuskan nafasnya, sejenak wanita paruh baya itu sempat berfikir untuk menanyakan sang menantu kepada aludra, bunda dari mala, namun niat itu dia urungkan karna takut mala tidak datang ke sana, apa yang akan yasmine katakan jika seandainya kedua orang tua mala menanyakan balik kepada dirinya.


Setelah itu, yasmine mengambil ponselnya dan menelfon seseorang, wanita itu menanyakan tentang apa yang kemarin dia perintahkan.


[" Bagaimana hasil penyidikan kalian?"]


+6223245xxxxx


[ Seperti yang sudah saya katan sebelumnya nyonya, jika rendi di nyatakan tidak bisa memiliki keturunan, saya ada surat pemeriksaannya nyonya, nanti akan saya fotokan]


[ Jadi maksudnya anak itu beneran anak kandung devan?]


+6223245xxxxx


[ Analisa saya sementara itu nyonya, kemungkinan besar jika tuan devan ayah biologisnya]


Setelah mendengar hal itu yasmine langsung mematikan sambungan telfonnya. memang selama ini dia selalu menginginkan seorang cucu, tapi bukan seperti ini caranya.


" Ck, Sampai kapan pun aku tidak akan menerima anak itu sebagai cucuku,"


Wijaya yang melihat istrinya sudah naik pitam, secepat mungkin menghampiri dan menenangkan istrinya.


" Sabar ma, ini ujian buat keluarga kita, kita pasti bisa melewati semua ini"


" Tapi pa, mama memang menginginkan seorang cucu, tapi bukan seperti ini caranya pa, bagaimana jika kelurga besar tau, mama bisa malu pa, Hiks..." Tiba-tiba Yasmine menangis dalam dekapan suaminya. Entah apa yang akan dia katakan pada semua keluarga besar,


" Jangan sampai ada orang lain yang tau soal ini ma"


" Tapi bagaimana jika wanita ****** itu yang membeberkan semuanya pa, mau di taruh dimana muka mama, Terlebih lagi bagaimana dengan perusahaan kita"


" Serahkan semuanya sama papa ma,"


Sesaat yasmine terdiam, masih sibuk dalam pikirannya sendiri, hingga sebuah ide terbesit dalam benaknya. Sebuah ide yang akan membuat adelia berkata jujur sebelum semua orang mengetahui akan hal ini, bibir yasmine mengembang membentuk senyum tipis. wijaya yang melihat senyum yasmine yang tiba-tiba sontak langsung penasaran, Perasaan beberapa detik yang lalu sang istri masih terisak dalam tangisnya, lah ini kenapa bisa senyum-senyum sendiri, Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya, hal itu membuat wijaya hanya geleng-geleng kepala,


" Iya kak, terimakasih sudah membantu aku untuk mengutus semuanya,"


" Santai saja dek, Kakak yang akan bantu kami mengurus semuanya, kamu hanya perlu fokus belajar selama di ausi. Jadilah lulusan terbaik disana, Oia dek, ini sudah jam 10:3p maaf ya kakak gak bisa lagi temenin kamu, setengah jam lagi kakak ada pasien"


" Tidak apa-apa kak, terimakasih atas semua bantuan kak andra"


Setelah keluar dari gedung pengadilan agama, andra pergi lebih dulu, karna jarak dari gedung ke rumah sakit cukup jauh, andra melambaikan tangannya saat mobilnya hendak keluar dari area gedung. sedangkan mala masih stay untuk menunggu taksi online yang sudah dia pesan lewat aplikasi, Hingga tak lama taksi itu pun tiba. dengan cepat mala naik dan menyuruh sang supir untuk membawanya ke alamat yang sesuai aplikasi, yaitu tempat pemakaman umum jakarta selatan.


Butuh waktu 1 jam untuk tiba di sana, selama perjalanan mala hanya memandang ke arah luar jendela, hingga tak sengaja wanita itu menangkap dua sosok laki-laki bersama dengan perempuan di sebuah cafe, Melihat itu mala meminta kepada sang supir untuk memperlambat kecepatannya.


" Ternyata pilihanku memang tepat mas, keputusanku untuk menggugatmu adalah keputusan terbaik yang pernah aku buat," Lirihnya dalam batin.


Dada mala sudah mulai sesak, air matanya sudah siap untuk segera turun, namun dengan cepat mala tepis, sudah cukup menangisi laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.


" Jalan pak" Pungkasnya dan langsung memalingkan wajahnya ke lain arah.


Jika di tanya sakit, Tentu bukan hanya ras


a sakit yang saat inj mala rasakan, kecewa,? tentu mala sangat kecewa dengan devan. Disaat pikiran mala masih melayang kemana-mana, suara supir taksi memecahkan konsentrasinya.


" Mbk kita sudah sampai di alamat tujuan"


" Baik pak, terimakasih, tunggu sebentar ya, saya hanya sebentar"


Supir taksi itu hanya mengangguk patuh, setelah tiba di makam kedua orang tuanya, tiba-tiba tangis mala pecah, air mata yang dia bendung sejak setengah jam yang lalu sudah tidak bisa lagi dia tahan, mala terisak di tengah-tengah makam kedua orang tua angkatnya.


" Ma, maafkan mala. mungkin ini kali terakhir mala ziarah ke makam mama dan papa, mama akan pergi untuk sementara waktu"


" Maafkan mala yang belum sempat membuat kalian bahagia dan bangga sama mala, Hiks...hiks... Tapi mala berjanji, mala akan mewujudkan keinginan papa untuk menjadi wanita karir yang bisa dalam segala hal, mala juga berjanji, Akan mengambil kembali perusahaan yang sudah papa dirikan dengan jerih payah papa, "


Mala menatap kedua nisan papa dan mamanya, saat merasa cukup, wanita itu bangkit dari duduknya. lalu beranjak untuk segera pergi dari sana, namun sebelum itu mala mengusap air matanya.


" Pak nanti mampir dulu ke TPU depan sana ya"


" Baik mbk"


Setelah mengatakan hal itu, mala kembali menatap jalanan lewat jendela, netranya masih mengingat jelas akan devan yang sedang memegang perut adelia di cafe beberapa saat yang lalu. Mengingat akan hal itu, dadanya kembali terasa sesat, namun dia sudah berjanji akan dirinya sendiri, untuk tidak menangisi laki-laki plin-plan seperti devan,


" Jangan nangis mala, Air matamu terlalu berharga buat menangisi laki-laki sepertinya" Batin mala yang mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Kling.... Ada satu pesan masuk dari andra,


[" Mala, jangan lupa setelah dari makam mama papa kamu ambil barang-barang kamu yang masih di apartemen devan ya, aku akan memastikan devan untuk tidak datang ke apartemen, Karna penerbangan kami di majukan pukul 08:30" ]


[" Baik kak, Terimakasih"]